NovelToon NovelToon
Mengungkap Misteri Kematian Sang Putri.

Mengungkap Misteri Kematian Sang Putri.

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:399
Nilai: 5
Nama Author: Virgo kelabu

Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 06

"Nis, Nismara!" Miranti menjadi cemas ketika melihat wajah Nismara memerah.

Nismara memandang Miranti sambil menggigit bibir bawahnya. Miranti dan Nismara sama-sama dalam kebingungan, tapi yang mereka pikirkan berbeda.

"Ada apa, Nis? Wajahmu tegang sekali, apakah ada yang gawat?"

Namun Nismara masih diam. Dia menarik cangkir kopi di depannya dengan cepat, kemudian meminumnya. "Tolong, tinggalkan aku sendiri Mir."

"Oh, Okey." Miranti berbalik. Meskipun dia masih bingung dan kuatir dengan Nismara, tapi dari nada bicara Nismara barusan itu adalah sebuah perintah dari bos kepada bawahannya. Dan semua di kantor ini paham, Nismara tipe orang yang tidak suka dibantah.

Nismara menyeruput kopinya lagi yang masih sangat panas. Tapi dia tidak peduli meski bibirnya menjadi sedikit sakit.

Satu pesan masuk lagi di email pribadi Nismara.

[ Datanglah ke Majafas. Kamu akan menemukan semua faktanya. Itupun jika kamu masih peduli dengan anakmu.]

Belu sempat Nismara membalas. Alamat email dengan nama peduli kamu, mengirim pesan lagi, kali ini dia menyertakan lampiran foto lagi.

[ Banyak yang tidak kamu tahu tentang anak kandungmu yang cantik itu nyonya Nismara. Semua jawabannya hanya ada di Majafas.]

Delapan foto yang Nismara buka satu persatu sukses membuat napasnya sesak seketika.

Sherin yang sedianya akan 18 tahun 3 bulan lagi itu, tertangkap kamera Tengah mengenakan pakaian seksi dan berpose menantang.

Segera Nismara mengetik balasan untuk itu.

[ Buktikan satu hal saja yang bisa membuat aku percaya semua ini bukan kebohongan.]

Tanpa diduga balasannya begitu cepat datang ke email pribadi Nismara.

[ Pakai hatimu, Nyonya! Seribu bukti tidak ada artinya kalau hatimu tumpul.]

Nismara langsung menggenggam tangan dan memukul meja spontan. Lama-lama pengirim pesan ini kurang ajar juga.

Tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi. Nismara melirik panggilan video dari Samudra.

"Apakah sebaiknya aku bicarakan ini dengan Samudra ya?" Nismara mengambil telepon genggamnya. "Tapi kami baru dekat 3 bulan...."

Ah, tiba-tiba insting Nismara mencuragai Samudra.

Laki-laki itu juga kurang suka pada Sherin. Dalam beberapa kesempatan Dia berkata bahwa Gadis itu uraikan dan sama sekali tidak mencerminkan orang yang berpendidikan. Nismara juga ingat Samudra pernah berkata bahwa jika nanti mereka menikah, dia berharap Gerald bersedia mengambil Sherin.

"Ngeri juga kalau satu hari kita punya anak dan anak kita satu rumah dengan kakak yang seperti itu." kata Samudra waktu itu sambil menyeringai.

Saat itu Nismara setuju dengan pemikiran Samudra. Sherin itu selalu seenaknya sendiri, setiap diajak bicara pada akhirnya terjadi debat kusir yang melelahkan hati.

"Sam dan Gege sama-sama kurang bisa dipercaya. Lalu ke siapa aku harus bicara?" Nismara memijit-mijit keningnya. Pikiran nya sudah mentok. Apakah harus mempercayai si peduli kamu atau abaikan saja?

Tok- Tok - Tok.

Miranti nongol lagi di ambang pintu.

Nismara tersenyum lebar. Ya, memang cuma Miranti dari dulu yang dia punya. Soal kesetiaan dan kejujuran, wanita yang telah menjanda itu tidak perlu diragukan lagi.

"Nismara, apakah aku boleh masuk?" Miranti masih di ambang pintu. Dia belum berani masuk, melihat wajah Nismara yang masih tidak jelas. Kadang tersenyum, sedetik kemudian melotot.

"Tidak usah masuk!" seru Nismara sambil memencet lambang telepon berwarna merah pada panggilan kekasihnya. Dan dia tahu konsekuensi sengaja mengabaikan panggilan dari Samudra. Pasti dalam waktu kurang dari 1 jam laki-laki itu akan berada di pintu, di mana sekarang Miranti berdiri. Sedang saat ini Nismara benar-benar butuh bicara dengan Miranti saja.

"Okey!" suara Miranti melemah.

"Hai, mau ke mana?" Nismara berseru lagi ketika Miranti hendak berbalik.

"Loh katanya aku tidak boleh masuk."

"Ya Jangan masuk, biar aku yang keluar. Ayo kita pergi!"

"Kemana?"

"Jangan banyak tanya, ambil tasmu sekarang!" Nismara berkata sambil mematikan laptopnya. "Oh iya pakai mobilmu ya, aku numpang."

"Siap, Bos!"

Miranti melaksanakan perintah Nismara, meski banyak tanya yang bermunculan di kepalanya.

***

"Jadi gimana menurutmu?" Nismara bertanya lagi. Ini sudah kedua kali Nismara melontarkan pertanyaan yang sama, namun Miranti masih tertegun. Dia terlihat begitu syok. "Aku meminta pendapatmu Mir! Apa perlu aku ketok kepalamu dulu, baru kamu ngomong?"

"Apa kamu mempercayai ini, Nis?" Miranti akhirnya menjawab, setelah menandaskan satu alkohol minuman dengan sekali tenggak.

"Untuk itulah aku bicara denganmu, Miranti Oktavia! Jadi tolong jangan balik bertanya."

"Tapi kalau ini cuma kerjaan orang iseng?" Miranti menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa. "Tapi......"

"Tapi apalagi?" Nismara berubah ketus.

"Tanda - tanda yang ada di foto ini seingatku sama yang ada di jenazah Sherin." sahut Miranti lirih. Miranti adalah salah satu orang yang dimintai polisi untuk mengidentifikasi jenazah Sherin. Nismara sendiri karena tidak kuat, dia tidak mau melihat mayat anaknya.

"Bisa jadi ini benar, Mir?" Nismara mencondongkan tubuhnya ke arah Miranti.

"Kita lapor polisi aja ya!" usul Miranti.

"Enggak, nggak. Ribet, Mir, nanti malah kita cuma keluar duit banyak, kamu tahu sendiri kan? Apalagi pegangan kita hanya surat kaleng dari email nggak jelas."

"By the way, Majavas itu apa?"

Nismara menggeleng. "Coba kamu browsing di Google."

Miranti mengetik kata itu di ruang pencarian Google. Dan 2 detik kemudian dia menghadapkan layar teleponnya ke arah Nismara. "Not found!"

Dua perempuan itu menghela nafas kecewa.

Tiba-tiba telepon Nismara ada panggilan masuk. Dengan malas Nismara mengambil teleponnya, dari aplikasi warna hijau. Dia mengira itu adalah panggilan dari kekasihnya lagi, ternyata bukan.

"Mir, Miranti, Mie....." Bibir Nismara bergetaran sambil menunjuk teleponnya.

Miranti mendekat, melongok dan seketika wajahnya pun memucat.

Baik Nismara dan Miranti sama-sama melihat nama Sherin dalam layar telepon itu.

"Angkat lah, loudspeaker saja." bisik Miranti.

Nismara menurut. Beruntung mereka tadi memilih ruang non smoking yang tertutup rapat, dan tidak ada pengunjung lain.

"Help me! Please help me. Arrrrgh....." suara tangis perempuan di ujung telpon terdengar dengan nafas memburu. Seperti nya si penelpon dalam kondisi menelpon sambil berlari. Sedetik kemudian terdengar suara teriakan laki-laki dalam bahasa Inggris. Sebelum akhirnya panggilan itu terputus.

"Mati, Mir." Nismara menatap Miranti dengan mata masih membelalak.

"Coba telepon!" Miranti tak sadar setengah berteriak.

Nismara bergegas memanggil balik nomor Sherin itu. Tapi tidak bisa dihubungi. Nismara mencoba berkali-kali dan hasilnya tetap sama.

"Siapa gadis itu? Tadi itu bukan suara Sherin kan, Mir?" Nismara memandang Miranti. Dia meletakkan teleponnya, sudah menyerah.

Wajah Miranti pias. "Bukan, itu bukan suara Sherin. Tapi, itu orang lagi kenapa ya? Di kejar penjahat? Mau diculik? Terus apakah dia akhirnya ketangkap?"

"Yang paling penting dari itu semua adalah kenapa telepon Sherin ada sama orang itu Mir!" tukas Nismara.

"Iya, ya. Kok bisa sama dia?" Miranti meringis, menyadari kebodohannya. Sebab dia malah sibuk menganalisasi penelpon. "Apakah dia teman Sherin? Jangan-jangan......"

"Eh, tunggu dulu." Nismara memandang Miranti dalam-dalam. Dia memiringkan kepalanya. "Seingat ku telepon Sherin ada di kardus bersama Popo waktu itu."

"Popo siapa?"

"Boneka Sherin. Jadi......Ah, ayo kita ke rumahku! Kelamaan kalau aku harus menjelaskan di sini." Nismara bergegas berdiri. "Cepat, Mir!"

"Ya, kamu ambil dulu mobilku, aku bayar minuman kita." Miranti menyahut sembari melemparkan kunci kontak, yang segera ditangkap dengan tangkas oleh Nismara.

Dua perempuan itu bergerak gesit menuju bagian masing-masing.

1
Maria
penuh dengan teka teki tp seru. Ada pelajaran yg BS kita ambil dr cerita ini. penyesalan pasti akan datang di belakang, kalau di depan itu namanya pendaftaran.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!