NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:41.8k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Hidup Sebagai Levia

Vivian masih syok. Berkali-kali ia memegang pipinya yang tembam, lalu menepuk dan mencubitnya sendiri.

"Aduh!"

Perih. Berarti ini bukan mimpi.

"Ya Tuhan... ujian macam apa ini?" gumamnya mengusap wajahnya frustrasi.

Wanita paruh baya yang tadi memarahi Vandra tiba-tiba memeluknya erat.

"Syukurlah kamu selamat, Via. Jangan bikin ibu takut lagi."

Vivian membeku. Beberapa detik kemudian, ia perlahan melepaskan pelukan wanita itu.

"Maaf, Bu... saya bukan anak Ibu. Saya juga tidak kenal Ibu."

Keheningan seketika menyelimuti tepian sungai.

Semua orang saling berpandangan.

"Apa katanya?"

"Dia bilang gak kenal Bu Ratih."

"Kok bisa? Padahal Bu Ratih itu sayang banget loh sama dia."

"Iya. Dari kecil juga sudah dianggap anak sendiri."

"Maklum, Bu Ratih sama almarhumah ibunya Levia 'kan sahabatan."

"Sejak ibunya Levia meninggal, Bu Ratih yang paling sering merawat dan nemenin dia."

"Pantas Bu Ratih sedih banget lihat Levia begini."

"Mungkin kepalanya kebentur."

"Kayaknya amnesia deh."

Bu Ratih...

Nama itu membuat Vivian tertegun.

Potongan-potongan cerita dalam novel kembali bermunculan di kepalanya.

Ratih Jayasena. Ibu Vandra.

Sahabat mendiang ibu Levia sejak muda. Karena tidak pernah memiliki anak perempuan, Ratih menyayangi Levia seperti putrinya sendiri. Bahkan setelah Levia menikah dengan Vandra, kasih sayang itu tidak pernah berubah.

Itulah sebabnya Ratih selalu berusaha menjadi penengah setiap kali Levia dan Vandra bertengkar.

Di tengah kerumunan, terdengar suara seorang pria memanggil dengan cemas.

"Via!"

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun menerobos kerumunan, diikuti seorang pria jangkung berkacamata. Napasnya memburu. Begitu melihat Vivian terduduk di tepi sungai, wajah tegangnya sedikit mengendur.

"Syukurlah...."

Tanpa pikir panjang, pria itu berlutut dan memegang kedua bahu Vivian.

"Via, kamu nggak apa-apa? Ada yang sakit? Coba ayah lihat."

Vivian spontan menepis tangannya. "Maaf, Pak. Jangan pegang-pegang saya sembarangan."

Pria itu terdiam. Tangannya menggantung di udara. Sorot matanya berubah kosong, seolah tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.

"Via... ini Ayah."

Vivian menggeleng pelan. "Maaf... saya benar-benar gak kenal Bapak."

Wajah pria itu memucat. Ia menoleh kepada semua orang yang berada di sana, termasuk Vandra dan ibu Vandra.

"Via kenapa?"

Ratih menghela napas pelan. "Kami juga tidak tahu, Pak Gultom. Sejak diselamatkan, bicaranya aneh."

Seorang warga ikut menyahut.

"Mungkin amnesia, Pak Gultom. Soalnya hampir tenggelam."

Pak Gultom...

Nama itu langsung menyentak ingatan Vivian.

Bram Gultom. Ayah Levia.

Pria yang dalam novel digambarkan sangat mencintai istrinya hingga tak pernah menikah lagi setelah sang istri meninggal. Semua kasih sayangnya dicurahkan kepada putri semata wayangnya karena Levia adalah satu-satunya peninggalan wanita yang paling ia cintai.

Meski tidak setuju Levia memaksa Vandra menikah, pada akhirnya ia tetap mengabulkan keinginan putrinya.

Karena terlalu memanjakan Levia, gadis itu tumbuh menjadi sosok keras kepala yang selalu ingin mendapatkan apa pun yang diinginkannya.

"Ya ampun.... Ini bener-bener dunia novel." Ia memegang dahinya. "Ini bener-bener gak lucu."

Ingin rasanya ia menangis. Tetapi harga dirinya sebagai desainer ternama menahannya.

Gultom segera menoleh kepada pria paruh baya jangkung yang berdiri tak jauh di belakangnya.

"Pak Herman, cepat hubungi dokter keluarga. Minta dia langsung datang ke rumah."

"Baik, Pak."

Di sisi lain, Vandra hanya mendengus pelan. "Kalau pura-pura amnesia supaya aku batalin gugatan cerai, sia-sia."

Ucapan itu langsung menyulut emosi Vivian. Ia berdiri, meski sedikit sempoyongan karena masih lemas sekaligus belum terbiasa dengan tubuh obesitas.

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Tatapan Vandra tetap datar. "Aktingmu makin bagus."

Vivian sampai ingin menjambak rambutnya sendiri. "Ini orang kenapa pede banget sih? Apa tiap hari mandi pakai deodoran rasa percaya diri?"

Bram Gultom mengusap wajahnya yang mulai basah oleh air mata. "Sudah."

Ia menatap Ratih dengan wajah penuh rasa bersalah. "Maaf, Bu Ratih. Saya akan bawa Via pulang dulu. Biarkan dokter memeriksanya."

Ratih tampak ragu. "Tapi... bagaimana kalau kondisinya memburuk di jalan? Sebaiknya langsung ke rumah sakit saja."

"Dokter keluarga kami akan datang," kata Gultom. "Setelah itu, kalau memang perlu dirawat, saya sendiri yang akan membawanya ke rumah sakit."

Ratih akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Tolong kabari kami bagaimana keadaan Via."

Vandra tidak mengatakan apa pun. Ia hanya berbalik, seolah keadaan Levia sudah bukan urusannya lagi.

Melihat sikap pria itu, Vivian justru merasa lega. "Syukurlah," batinnya. "Semoga dia cepat nyeraiin aku... eh, maksudnya Levia. Aku takut nge-freeze dan jadi boneka salju kalau deket-deket sama dia."

Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan.

Vivian duduk di kursi belakang mobil dengan tubuh masih lemas. Sesekali ia melirik pria paruh baya yang duduk di sampingnya.

Bram Gultom terus menggenggam ponselnya dengan gelisah. Beberapa kali pria itu hendak bertanya, tetapi mengurungkannya.

Vivian justru tenggelam dalam ingatannya. Sedikit demi sedikit isi novel yang pernah dibacanya kembali bermunculan.

Ia diam-diam melirik Gultom. "Levia beruntung banget punya ayah kayak beliau...." Bibirnya melengkung pahit. "Beda banget sama aku."

Ayah kandung Vivian masih hidup. Namun pria itu lebih suka berjudi dan bermalas-malasan daripada bekerja. Setiap kali Vivian mendapat proyek besar sebagai desainer, ayahnya selalu datang meminta uang tanpa pernah memedulikan lelahnya mencari nafkah.

Sejak kecil, Vivian sering berandai-andai memiliki seorang ayah yang benar-benar menyayanginya.

Ia segera menggeleng pelan. "Sudahlah.... Kehidupan itu udah tamat. Yang harus aku pikirin sekarang adalah gimana caranya bertahan hidup di dunia ini."

Ia kembali mengingat alur novel.

Setiap Vandra mau mengajukan gugatan cerai, Levia kehilangan harapan. Berkali-kali mengancam bunuh diri demi menggagalkan perceraian hingga akhirnya benar-benar menceburkan diri ke sungai.

Vivian menarik napas panjang. "Kalau aku ngikutin alur novel, ujung-ujungnya aku juga bakal mati."

Tidak. Ia sudah mati satu kali. Ia tidak ingin mengulanginya.

Mobil perlahan memasuki halaman sebuah rumah. Vivian yang semula melamun langsung membelalak.

Pagar besi tinggi terbuka otomatis. Di baliknya berdiri sebuah rumah bergaya klasik modern dengan taman yang luas dan terawat. Air mancur menghiasi halaman depan, sementara beberapa mobil mewah terparkir rapi di garasi.

"Lho...." Vivian spontan menoleh ke kanan dan kiri. "Bukannya di novel cuma dibilang anak pengusaha biasa? Ini... biasa dari mananya?"

Rumah ini bahkan lebih mewah daripada rumah beberapa kliennya.

"Apa penulis novelnya lupa menjelaskan? Atau memang ada banyak hal yang tidak pernah ditulis?"

Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi kepalanya.

"Via, ayo masuk."

Suara Gultom membuyarkan lamunannya.

Vivian mengikuti pria itu hingga tiba di sebuah kamar. Begitu pintu terbuka, Gultom berkata dengan nada lembut, "Kamu ganti baju dulu. Jangan sampai masuk angin atau flu."

Vivian mengangguk. Sedangkan Gultom berbalik pergi.

Vivian masuk dan menutup pintu dibelakangnya. Ia menyapukan pandangannya ke kamar luas itu. Langkahnya langsung terhenti di depan cermin yang berdiri setinggi badan.

Perlahan ia mendekat. Wanita di dalam cermin ikut mendekat. Pipi bulat. Dagu berlapis. Lengan besar. Pinggang nyaris tak terlihat.

Vivian menelan ludah. "Ya Tuhan...."

Ia memutar tubuhnya perlahan. Dari samping... Sama. Dari belakang... Tetap sama.

"Ini bener-bener aku?"

Pandangan Vivian jatuh ke sebuah timbangan digital di sudut kamar. Dengan ragu ia menaikinya.

Beep! Angka di layar menyala.

112, 5 kg.

Vivian membeku. Beberapa detik kemudian ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Ya Tuhan... ini bukan diet lagi." Ia mengembuskan napas panjang. "Ini proyek nasional."

Ucapan itu membuat dirinya sendiri tertawa getir.

 

...✨"Tidak semua kesempatan kedua datang dalam kehidupan yang lebih baik. Kadang, ia datang dalam kehidupan yang menuntut kita menjadi pribadi yang lebih baik."...

..."Menerima kenyataan bukan berarti menyerah pada takdir. Justru dari situlah keberanian untuk mengubahnya dimulai."✨...

.

To be continued

1
Puji Hastuti
akhirnya Bu Sri bilang ke pak Gultom,lega rasanya.
abimasta
Ninis harus di pecat
Uthie
Nahh.. bagus bik Sari.. dikasih Tauin aja kecurigaan kamu sama si Ninis 😡👍
Anitha
Pak Gultom dan Levia harus lebih waspada ada parasit di rumahmu yang akan menghancurkan Nama Levia....jangan sampai lengah.

ayo Bu Sari ceritakan kalo si Ninis masuk kamar Bu Sari tanpa izin.
Kadek Sri
lanjut
Yuni Alyssa
katanya gultom mau mengawasi ninis... jangan sampe kecolongan ya... pasang aja CCTV rahasia sambil pantau...
kymlove...
ayooo bik kasih tau kelakuan mencurigakan ninis biar mereka semakin waspada
Siti Hawa
lanjut thoor, klu bisa up yg banyak ya, ku sudah kasih Bintang 5
Siti Hawa
sang at bagus
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Kadek Sri
lanjut
Uthie
si Ninis makin kurang ajar 😡😡😡
Anitha
Ada udang di balik ba'wan kali yaaa Andri...

baru kenal dengan Levia sudah menawarkan delapan Gerai,itupun penawaran Awal..
maju terus Via...kamu tambah Sukses dan di belakangmu si Ninis tambah iri.

syukurin tuh si Ninis misinya gagal terus😄
mery harwati
Andri Mahesa pengagum Levia secara diam² kah sebelum Levia nikah dengan Vandra? 🤔
kymlove...
ada apa dengan andri pak?? jahatkah??? atau apa??
Anitha
Wow kereeennnm Levia tambah Sukses tambah banyak ujiannya an si Ninis tambah iri saja
EVA OKTASARI
jangan-jangan andri ini mau deketin levia krn suka sama levia.
lin sya
siapa andri, apa dia berbahaya?
Uthie
lanjuuttttt
Elina thea
levia kamu harus hati-hati karna semakin kamu sukses,si Ninis malah tambah iri...jadi harus tetap waspada...
abimasta
andri akan mendekati livia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!