Vivian Wei keluar dari penjara demi menanggung kesalahan kakak kembarnya. Dulu keras kepala dan bar-bar, kini ia berubah menjadi gadis tangguh yang tidak takut melawan siapa pun.
Pertemuannya dengan Delvin Yang, seorang CEO sekaligus direktur universitasnya, mengubah hidup Vivian. Awalnya Delvin berniat membatalkan pertunangan keponakannya dengan Vivi Wei.
Namun, setelah mengenal Vivian, Delvin justru mengubah keputusannya. Bukan Vivi, melainkan Vivian yang ingin ia jadikan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Vivi dan kedua temannya tidak berhenti. Mereka justru menendang kaki nenek tua yang masih terduduk kesakitan.
“Aah...” rintih nenek itu sambil meringis menahan sakit.
“Woi! Berhenti!”
Teriakan keras terdengar dari arah belakang.
Vivian datang dengan langkah cepat. Tanpa ragu, ia langsung mendorong Vivi dan kedua temannya hingga tubuh mereka terjatuh.
Bruak!
“Aah!”
Ketiganya terkapar di trotoar.
Vivian tidak memedulikan mereka. Ia segera berjongkok di samping nenek tua tersebut.
“Nenek, bagaimana keadaanmu?”
“Nona... Nenek tidak apa-apa,” jawab wanita tua itu sambil menahan rasa sakit.
Vivian membantunya berdiri dan menopang tubuhnya.
Dari dalam mobil, asisten Delvin memperhatikan kejadian itu dengan saksama.
“Tuan, dia adalah Vivian Wei, adik kembar Vivi.”
“Yang pernah dipenjara?” tanya Delvin.
“Benar. Dia baru saja dibebaskan kemarin.”
Tatapan Delvin kembali tertuju pada Vivian.
Sementara itu, Vivi bangkit dan menatap Vivian dengan marah.
“Vivian, kenapa kau berani sekali mendorongku dan teman-temanku?”
Salah satu temannya segera berdiri sambil membersihkan pakaiannya.
“Vivi, adikmu ini sepertinya benar-benar tidak menganggapmu sebagai kakaknya.”
Vivian berdiri dan menatap mereka bertiga.
“Sebagai mahasiswi Universitas Hua Qing, kalian menindas seorang nenek tua di pinggir jalan. Apa kalian tidak tahu malu?”
“Malu?” Teman Vivi mencibir.
“Kenapa harus malu? Orang tua ini hanya orang miskin yang bahkan tidak berguna.”
Tatapan Vivian langsung berubah dingin.
Ia menunjuk mereka satu per satu. “Kau putri keluarga Yu. Kau putri keluarga Zhu. Dan kau putri keluarga Wei.”
“Kalau sampai orang lain mengetahui bagaimana kalian memperlakukan orang tua di jalan, bukankah itu hanya akan mempermalukan keluarga kalian sendiri?”
Vivian mendengus.
“Hanya karena hidup kalian bergantung pada uang orang tua, bukan berarti kalian berhak merendahkan orang lain.”
Wajah ketiganya berubah.
“Vivian!” Vivi membentak.
“Aku adalah kakakmu. Apakah kau harus berbicara seperti itu kepadaku? Aku akan memberitahu Papa dan Tom bahwa kau menindakku!”
Vivian justru tertawa kecil.
“Trik basi. Berlagak manja dan cengeng di depan keluarga adalah trik lamamu. Sayangnya, aku tidak bodoh seperti mereka."
Ia menunjuk nenek tua yang masih berdiri di sampingnya.
“Bayar ganti rugi. Nenek ini sudah terluka karena kalian.”
“Apa?” Teman Vivi langsung tertawa sinis. “Bayar? Memangnya kau siapa sampai berani meminta uang kepada kami?”
Vivian mengangkat ponselnya.
“Nona Xie, kalau kau tidak mau video ini sampai ke keluargamu, lebih baik bayar ganti rugi sekarang.”
Ia memutar rekaman video yang baru saja direkamnya.
Dalam video tersebut terlihat jelas Vivi dan kedua temannya mendorong nenek tua itu hingga terjatuh, kemudian menendang kakinya.
Wajah ketiganya seketika berubah pucat.
“Dari mana kau mendapatkan video itu?” tanya Nona Xie dengan panik.
Vivian tersenyum tipis.
“Jangan khawatir. Aku tidak akan menghapusnya.”
Ia menatap mereka bertiga dengan dingin.
“Jadi, kalian mau membayar atau menunggu video ini sampai ke tangan keluarga kalian?”
Ketiganya mengepalkan tangan.
Di dalam mobil, Delvin terus memperhatikan Vivian.
“Vivian dan Vivi adalah saudara kembar. Tapi kenapa sifat mereka bisa begitu jauh berbeda? Yang satu suka menindas orang lain, sedangkan yang satu lagi mantan narapidana, tetapi justru berani membela orang yang lemah sampai bertengkar dengan kakak kembarnya sendiri,” ucap asisten Delvin dengan penasaran.
“Dia tidak terlihat seperti orang yang akan kabur setelah melakukan kesalahan,” kata Delvin tenang. Tatapannya masih tertuju pada Vivian.
Vivi yang mendengar ucapan Vivian hanya mendengus.
“Vivian, mengancam kakak sendiri juga merupakan sebuah kesalahan. Apalagi semua ini hanya demi orang luar,” ujar Vivi dengan wajah tidak senang.
“Tidak perlu menghindar, Vivi. Kau sudah terbiasa mengelak dari tanggung jawab. Apakah ini hasil dari didikan orang tua kita atau karena kau memang sudah terbiasa dimanjakan,” balas Vivian tajam.
“Vivian!” seru Vivi dengan kesal.
“Aku tahu Papa dan Mama selalu memanjakanmu. Tapi itu bukan berarti kau bisa bertindak sesuka hati.” Vivian menunjuk ke arah nenek yang berdiri di sampingnya “Kalau melakukan kesalahan, kau harus bertanggung jawab. Jangan selalu melempar kesalahan kepada orang lain.”
Vivian kemudian mengulurkan tangannya..“Cepat bayar biaya pengobatannya.”
“Kau—”
“Jangan sampai aku kirim video ini kepada dosen, lalu ke Papa,” potong Vivian. “Kalau Papa tahu kau menindas orang lain dengan mengatasnamakan keluarga Wei, menurutmu apakah dia masih bisa terus memanjakanmu?”
Wajah Vivi seketika berubah.
Dua temannya juga saling pandang dengan cemas.
Dengan wajah tidak puas, akhirnya mereka bertiga terpaksa mengumpulkan uang dan menyerahkannya kepada Vivian.
Vivian menghitung uang tersebut satu per satu untuk memastikan jumlahnya cukup.
Setelah itu, ia memasukkan uang tersebut ke dalam tas dan menghampiri nenek yang masih kesakitan.
“Nenek, jangan takut. Saya akan membawa Nenek ke rumah sakit.”
Tanpa ragu, Vivian membungkukkan tubuhnya lalu menggendong nenek itu di punggungnya.
“Ayo, kita ke rumah sakit!”
Vivian segera berlari menyeberangi jalan sambil menggendong nenek tersebut.
Di seberang jalan, Delvin masih memperhatikan sosok Vivian yang semakin menjauh.
“Luar biasa...” gumamnya pelan.
“Mereka adalah mahasiswi Universitas Hua Qing?” tanya Delvin.
“Benar, Tuan,” jawab asistennya, Jo.
Tatapan Delvin kembali mengarah pada tiga wanita yang masih berdiri dengan wajah tidak puas.
“Cari tahu semua perilaku mereka selama menjadi mahasiswa di sana. Termasuk nilai akademik dan catatan mereka,” perintah Delvin dingin.
Jo mengangguk.
“Baik, Tuan.”
“Aku tidak ingin Universitas Hua Qing yang kubangun dengan susah payah justru dipenuhi oleh sekumpulan sampah yang hanya tahu menggunakan nama keluarga untuk menindas orang lain.”
Nada suara Delvin tetap tenang, tetapi sorot matanya berubah tajam.
“Jika mereka memang tidak layak menjadi mahasiswa di sana, jangan ragu untuk mengambil tindakan.”
“Baik, Tuan. Saya akan segera menyelidikinya.”