Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.
Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.
"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 — Bayangan yang Tak Terlihat
Pagi itu, udara di dalam gedung S Viandra Corporation terasa lebih dingin dari biasanya, seolah ikut merasakan kedinginan yang menyelimuti hatinya. Meloudy berjalan masuk tepat saat jam kantor dimulai, langkahnya pelan namun tegap, berusaha menampik segala kelemahan yang mengancam akan meruntuhkannya kapan saja. Wajahnya sedikit lebih pucat dari hari-hari sebelumnya, dan di bawah matanya, lingkaran gelap mulai terlihat samar — tanda bahwa semalam ia hampir tak memejamkan mata, sibuk menyelesaikan laporan sekaligus merekam video hingga dini hari, berjuang agar besok ibunya tetap mendapat perawatan.
Ia duduk di kursinya, membuka laptop, dan berusaha fokus. Namun tiba-tiba, suara riuh rendah terdengar dari meja sebelah — tempat Erga dan Sebastian duduk berhadapan.
"Sebastian! Kau sudah lihat belum?!" seru Erga berbisik namun penuh semangat, tubuhnya condong ke depan, ponsel di tangannya terangkat seolah ingin segera diperlihatkan.
"Laudys baru saja update video kemarin malam!"
Sebastian, yang sedang memeriksa berkas di mejanya, mendongak sedikit dengan tatapan penasaran.
"Laudys? Yang pemain gitar itu? Ada lagu baru?"
"Bukan lagu baru, tapi dia mainkan So Far Away — Avenged Sevenfold!" Erga tersenyum lebar, matanya berbinar antusiasme yang tak bisa disembunyikan.
"Gila, Seb… luar biasa. Dia mainkan gitarnya itu loh, melodi dari Synyster kan emang selalu susah, tapi dia menguasainya. Bagian solo-nya… bersih, tajam. Aku sudah putar ulang berkali-kali, nggak pernah bosan!"
Meloudy yang sedang mengetik di samping mereka, tiba-tiba membeku. Jari-jemarinya berhenti bergerak di atas papan ketik. Jantungnya berdegup kencang tanpa sebab yang jelas — bukan karena takut, melainkan karena terkejut. Namanya — nama yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat di balik layar — kini sedang dibicarakan tepat di sebelahnya, oleh rekan-rekannya sendiri.
"Dia memang selalu begitu," jawab Sebastian sambil tersenyum tipis, ikut tertarik membicarakannya.
"Setiap kali dia mainkan lagu yang bernuansa sedih, rasanya seperti dia sedang bercerita. Seperti ada beban berat yang ia tumpahkan lewat petikan gitarnya. Pasti orang yang luar biasa itu, ya."
"Setuju banget!" Erga mengangguk mantap.
"Aku penasaran sekali, siapa sebenarnya dia di dunia nyata. Orang yang bisa memainkannya kayak gitu… pasti pernah melewati banyak hal berat dalam hidupnya. Semoga dia selalu baik-baik saja di luar sana."
Meloudy menunduk dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya di balik layar laptop. Napasnya terasa tercekat, dan tanpa sadar, matanya berkaca-kaca. Mereka membicarakannya — tanpa tahu bahwa sosok yang mereka kagumi itu sedang duduk tepat di samping mereka. Tanpa tahu bahwa beban yang mereka rasakan dari musiknya itu adalah beban yang setiap hari ia pikul di pundaknya. Tanpa tahu bahwa setiap nada yang mereka dengar adalah teriakan hatinya yang tak pernah didengar siapa pun.
Ia merasa campur aduk — terharu karena kata-kata mereka begitu tulus, namun sekaligus cemas karena namanya kini menjadi pembicaraan. Ia tak siap. Belum saatnya. Rahasia itu masih harus tetap tersimpan, setidaknya untuk saat ini.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia kembali menekan tombol di papan ketik, berusaha menyembunyikan gejolaknya. Di dalam hatinya, ia berbisik pelan — terima kasih. Terima kasih karena sudah mendengarkan, bahkan tanpa tahu siapa dirinya.
...****************...
Langkah kaki berirama dan beraroma parfum mahal yang memikat terdengar mendekat, mendahului sosok yang melangkah masuk tanpa mengetuk pintu ruangan kerja Vano yang luas itu. Pintu terbuka, dan seorang wanita melangkah masuk dengan senyum yang penuh pesona — rambut panjangnya terurai jatuh lembut di bahu, gaun sutra berwarna merah anggur yang pas di badan membalut lekuk tubuhnya, memancarkan keanggunan sekaligus keberanian yang tak tertandingi. Ia adalah Elona Zefira Valerius — wanita yang selama ini menjadi teman malam Vano, sosok yang selalu datang dan pergi sesuka hati, tanpa ikatan janji, namun dengan kenyamanan yang tak tergantikan di antara mereka berdua.
Tanpa banyak bicara, Elona berjalan mendekati meja kerja Vano, lalu berhenti tepat di samping kursi pria itu. Ia menunduk perlahan, menatap mata Vano dalam-dalam dengan tatapan yang penuh keakraban dan keinginan, lalu tanpa ragu sedikit pun, ia mendaratkan ciuman lembut namun penuh gairah di bibir pria itu — ciuman yang terasa begitu akrab, begitu biasa bagi mereka berdua, seolah itu adalah salam yang pantas untuk mereka berdua setiap kali bertemu.
Vano tidak menolak, tidak pula membalasnya dengan antusias. Ia hanya diam di tempat, membiarkannya melakukan itu, lalu menatapnya dengan tatapan datar yang tak bisa dibaca — tatapan yang kosong, seolah jiwanya sedang berada di tempat lain.
"Kau…" ucapnya singkat, suaranya tenang tanpa nada emosi.
Elona tertawa pelan, suara tawanya terdengar lembut namun menggoda. Ia berjalan mengelilingi meja dan bersandar di tepi meja tepat di hadapannya, melipat kedua tangannya di dada.
"Memangnya kau menungguku?!" jawabnya santai, matanya menatap tajam namun penuh pesona, yakin sepenuhnya bahwa ia adalah satu-satunya wanita yang bisa membuat pria itu menanti.
Ia menatap sekeliling ruangan itu seolah itu adalah tempat yang sudah sering ia kunjungi, lalu kembali menatap Vano dengan senyum yang tak berubah — senyum yang tahu betul apa yang ia miliki dari pria ini.
"Kau sibuk sekali sampai tak membalas pesanku. Aku rindu, Vano. Sudah hampir seminggu kita tak bertemu di apartemenmu. Dan seperti biasa… kau sulit sekali ditemui di luar jam kerja."
Vano meletakkan pena di atas meja, menatapnya lurus — namun tatapannya kosong, seolah menatap melalui sosok wanita itu, seolah yang berdiri di hadapannya bukanlah siapa-siapa.
"Kau sudah di sini. Sekarang katakan apa yang kau mau. Jika hanya untuk itu… kau tahu aku masih bekerja."
Namun di balik sikap tenangnya itu, ada kebenaran yang tak akan pernah Elona pahami. Saat bibir Elona menyentuh bibirnya, pikiran Vano sama sekali tidak di ruangan itu. Yang ada di kepalanya hanyalah satu nama — Laudys. Bayangan sosok misterius di balik layar, suara gitar yang setiap malam merambat ke dalam hatinya, dan terutama… tato indah yang menjalar di lengan kanan wanita itu — pola yang selalu ia tonton berulang-ulang, yang entah mengapa membuatnya tak bisa tidur berhari-hari.
Selama ini, setiap kali ia bersama Elona, bayangan Laudyslah yang ada di matanya. Setiap sentuhan, setiap momen, ia seolah melihat sosok itu di sana — dan Elona… hanyalah pengganti, bayangan yang ia gunakan untuk menyalurkan hasrat yang sebenarnya ia tujukan kepada sosok yang tak pernah ia ketahui itu. Elona tidak pernah benar-benar ada baginya. Ia hanyalah wadah untuk nafsu yang tumbuh karena kerinduan pada Laudys — pada tato itu, pada jari-jemari yang memetik gitar, pada setiap bagian dari wanita yang ia kagumi dari jauh.
^^^Bersambung...^^^