Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.
Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Pembalap yang Terlalu Panas untuk Pasien Retak
Keenan menegakkan tubuh, wajah kembali profesional. “Tidak. Saya baru selesai memeriksa. Perban masih bagus. Tidak ada tanda infeksi.”
Reza mendekat dan meletakkan makanan di meja. “Saya belikan bubur dan sup. Yang harganya masuk akal.”
Aira langsung tertarik pada kantong itu. “Berapa totalnya?”
“Tiga puluh ribu.”
“Baik. Nanti saya ganti.”
“Tidak usah.”
“Saya ganti. Saya tidak suka utang.”
Reza menghela napas, lalu duduk di kursi di sisi lain tempat tidur. Keenan masih berdiri, seolah tidak ingin segera pergi.
“Saya akan kembali lagi malam ini untuk cek terakhir,” kata Keenan. “Kalau nyeri bertambah, tekan bel.”
Aira mengangguk sambil sudah membuka tutup bubur. “Dok, satu lagi. Kalau saya minta obat pereda nyeri yang lebih kuat, apakah harganya jauh lebih mahal?”
“Ya.”
“Kalau begitu yang biasa saja. Saya tahan.”
Keenan menatapnya lama, lalu keluar dengan langkah yang agak kaku. Reza menunggu sampai pintu tertutup rapat sebelum berbicara.
“Dia terlalu dekat tadi.”
Aira menyendok bubur. “Dia dokter. Memang harus dekat.”
“Tidak sedekat itu.”
Aira menoleh. “Kamu cemburu?”
Reza terdiam. Telinganya sedikit memerah. “Saya hanya… waspada. Kamu sedang lemah. Mudah dimanfaatkan.”
“Dimanfaatkan untuk apa? Saya sedang retak tulang. Tidak menarik.”
Reza menatapnya dengan mata yang gelap. “Kamu tidak sadar, ya? Cara dia melihatmu dan cara aku… melihatmu.”
Aira berhenti mengunyah. “Melihat saya bagaimana?”
Reza berdiri, mendekat ke sisi tempat tidur. Dia menunduk, satu tangan bertumpu di samping kepala Aira. Wajahnya sangat dekat. Bau sabun dan sedikit keringat setelah berlari tadi malam masih menempel di kulitnya. “Seperti ini,” bisiknya.
Aira menatap lurus ke matanya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, tapi wajahnya tetap datar. “Kamu mau mencium saya?”
Reza terkejut. “Apa?”
“Kamu merapat sekali. Biasanya orang yang merapat seperti ini mau mencium. Atau mau memukul. Kamu mau yang mana?”
Reza mengutuk pelan di dalam mulut, lalu menarik napas dalam. “Kamu ini… membuat saya gila.”
“Kalau saya membuat kamu gila, apakah saya boleh minta tambahan uang makan?”
Reza tertawa kesal, lalu tiba-tiba menunduk lebih rendah. Bibirnya hampir menyentuh telinga Aira. “Suatu hari nanti, kamu akan berhenti bicara soal uang. Dan saya akan pastikan hari itu datang.”
Aira merasakan napas hangat di kulitnya. Bulu kuduknya berdiri. Tapi yang keluar dari mulutnya tetap, “Kalau hari itu datang, saya harap kamu sudah siapkan dompet yang tebal.”
Reza menggigit bibir bawahnya, menahan sesuatu yang jelas-jelas bukan amarah. Dia menegakkan tubuh lagi, rahangnya masih mengeras. “Makan lalu tidur... Saya jaga di luar.”
“Tidak usah jaga. Hemat tenaga.”
“Saya jaga.”
Reza keluar. Aira menatap pintu yang tertutup, lalu menatap buburnya lagi. Dadanya masih terasa aneh. Bukan hanya karena tulang rusuk yang retak. Melainkan karena dua pria tampan dalam satu malam sudah menyentuhnya dengan cara yang… tidak biasa. Dia menghela napas dan kembali menyendok bubur.
"Dokter dan tentara terlalu dekat. Kalau Raka datang nanti, pasti juga terlalu dekat. Merepotkan. Tapi… kalau mereka semua mau memberi uang, mungkin bisa ditoleransi."
Aira tersenyum kecil sendiri, lalu menggigit bibir saat rasa sakit di rusuknya muncul lagi. Di koridor, Dr. Keenan berdiri bersandar di dinding, menatap tangan kirinya yang tadi menyentuh kulit Aira. Jari-jarinya masih terasa hangat. Dia mengutuk pelan... Pasien menyebalkan yang membuatnya ingin memeriksa jauh lebih dari sekadar tulang rusuk.
Dan di ujung koridor lainnya, Reza menatap layar ponselnya yang menampilkan foto Aira dari file intelijen. Foto lama saat rambutnya lebih panjang, wajahnya lebih dingin, dan matanya jauh lebih mematikan. Dia mengunci layar. Gadis itu berbahaya. Dan semakin berbahaya karena sekarang dia mulai membuat dua pria dewasa kehilangan akal sehat di malam yang sama.
Aira baru saja selesai menghabiskan bubur ketika pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Raka masuk dengan langkah panjang, masih mengenakan jaket balap hitam yang setengah terbuka, rambutnya agak berantakan karena helm, dan wajahnya tegang. Di tangannya ada kantong besar dari restoran mahal plus setangkai bunga putih yang terlihat mahal.
Dia berhenti di tengah kamar saat melihat Aira terbaring dengan infus dan perban di dada.
“Kamu… kena apa?” suaranya serak.
Aira menatap kantong makanan itu lebih dulu. “Tulang rusuk retak. Dua. Tidak usah panik. Saya masih hidup.”
Raka meletakkan semua barang di meja dengan kasar, lalu mendekat cepat. Tangannya langsung naik ke wajah Aira, memegang dagu, memiringkan kepalanya seolah memeriksa sendiri. “Siapa yang ngelakuin ini? Saya akan bunuh mereka.”
“Sudah saya pukul balik. Mereka lebih parah dibanding saya.”
Raka tidak dengarkan. Jari-jarinya turun ke leher Aira, menyentuh kulit yang terbuka dari baju rumah sakit yang longgar. Hangat. Agak kasar karena kapalan dari setir. “Kamu pucat banget. Sakit?”
“Sedikit. Lebih sakit kalau kamu pegang terus.”
Raka tidak melepas. Justru mendekat lebih dekat, lututnya menyentuh tepi tempat tidur. Bau minyak, kulit, dan parfum mahal langsung memenuhi jarak di antara mereka. “Aira… kenapa kamu tidak telepon saya?”
“Pulsa saya abis.”
“Saya kasih kamu nomor darurat.”
“Saya tidak hafal.”
Raka mengumpat pelan, lalu menundukkan kepala sampai keningnya hampir menempel di kening Aira. “Kamu bikin saya gila. Setiap kali saya tinggalin, kamu selalu kena masalah.”
Aira menatap lurus ke matanya yang gelap. “Kalau saya bikin kamu gila, berarti kamu bisa kasih saya uang ganti rugi mental?”
Raka tertawa pendek, tapi tawanya terdengar serak. “Kamu masih sempat minta uang dalam kondisi begini?”
“Iya. Karena kondisi begini bikin saya tidak bisa kerja. Berarti rugi.”
Raka menatapnya lama. Lalu, tanpa peringatan, dia menunduk dan mencium sudut bibir Aira. Ringan. Hampir tidak menyentuh. Tapi cukup untuk membuat Aira membeku. “Raka.”
“Diam.” Dia mencium lagi, kali ini lebih tegas, tepat di bibir bawah Aira. Hangat, sedikit kasar, dan sangat menuntut. Satu tangannya naik ke belakang kepala Aira, menahan agar tidak mundur, sementara tangan lainnya menekan pelan di samping tubuh yang tidak terluka.
Aira merasakan napasnya memburu. Bukan hanya karena rasa sakit di rusuk. Melainkan karena panas yang tiba-tiba naik dari leher ke telinga. Bibir Raka bergerak perlahan, menggigit pelan, lalu menjilat sudut bibirnya seolah meminta izin masuk lebih dalam.
Aira mendorong dadanya pelan. “Raka. Tulang saya retak.”
“Saya tahu.” Raka menarik napas kasar, tapi tidak menjauh. Bibirnya masih menempel di sudut mulut Aira. “Makanya saya pelan. Tapi saya sudah tahan dari kemarin-kemarin. Kamu terus kabur, menolak dan membahas soal uang. Saya muak.”
“Kalau muak, jangan kasih saya makanan lagi.”
Raka menggeram pelan di tenggorokan. “Kamu ini…” Dia mencium lagi, lebih dalam. Lidahnya menyentuh bibir Aira, meminta. Aira membuka mulut sedikit karena terkejut dan Raka langsung memanfaatkannya. Ciuman itu berubah basah, panas, dan lapar. Tangan Raka di pinggang Aira menekan lebih kuat dan hati-hati menghindari area perban, tapi tetap cukup untuk membuat Aira merasakan setiap jari kapalan itu di kulitnya.
Pintu kamar terbuka lagi. “Apa-apaan ini?” Suara Reza terdengar sangat dingin.