NovelToon NovelToon
Karina Dan Sistem Kehidupan

Karina Dan Sistem Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Transmigrasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: kirana_euforia

Karina, gadis yatim piatu berusia tujuh belas tahun, kehilangan nyawanya setelah menyelamatkan seluruh penumpang bus yang terjun ke jurang. Namun, kematiannya bukan akhir. Sebuah sistem misterius memberinya kesempatan hidup kembali dengan satu syarat: mengumpulkan 100.000 Poin Kehidupan dengan menyelamatkan para antagonis pria dari takdir tragis mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kirana_euforia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dunia Pertama — 05

Sejak kejadian uang kas terungkap, ada sesuatu yang perlahan berubah dikelas XI IPA 2, bukan perubahan besaar yang langsung terlihat, melainkan pergeseran kecil uang baru terasa setelah beberapa hari berlalu.

Bram masih duduk dibangku dipojok yang sama, masih jarang nerbicara kecuali ditanya, tapi tatapan orang orang disekitarnya sudah tidak lagi sepenuhnya curiga seperti dulu.

Beberapa anak bahkan mulai menyapanya lebih lebih dari seker basa basi, Fajar misalnya yang kini kadang meminjam pulpen darinya tanpa perlu alasan berbelit atau Tika yang sesekali menawarkan camilan saat jam istirahat.

Yang paling terasa perubahannya justru pada diri Bram sendiri. Ia mulai membawa buku catatan yang benar benar terisi, bukaan sekedar properti kosong seperti sebelumnya.

Bahkaan sesekali jika Bu Retno melempar pertanyaan dikelas, Bram akan menjawab dengan suara pelan tapi cukup jelas terdengar, hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya sebelum Karina datang.

"Kamu berubah banyak akhir akhir ini." Komentar karina saat mereka duduk berdua dikantin yang mulai sepi karena jam istirahat hampir selesai.

"Berubah gimana?" Tanya Bram meski terdapat semburat merah samar dipipinya yang menandakan ia sebenarnya sadar apa yang dimaksud.

Bram terdiam sejenak sambil memainkan sedotan diminumannya. "Mungkin karna ada yang bikin gue berani." Katanya pelan yang cukup jelas terdengar oleh Karina hang duduk tepat disampingnya.

Jantung Karina atau yang lebih tepatnya jantung Alya, berdegup sedikit lebih kencang setelah mendengar kalimat itu.

Ia tau persis apa yang sedang terjadi meskipun berusaha keras untuk tidak memikirkannya.

"Yaudah terusin aja jadi berani, itu bagus kok, orang orang jadi bisa liat kamu apa adanya sekarang." Jawab Karina mencoba mengalihkan suasana dengan nada ringan.

Bram menatapnya sesaat, seolah ingin mengatakan sesuatu yang lebih dari itu, yapi akhirnya hanya mengangguk dan kembali menatap minumannya sendiri.

...----------------...

Masalah baru benar benar terasa dua hari kemudian, ketika Tika dengan mata berbinar penuh dengan rasa ingin tau mendekati Karina dikamar mandi putri saat jam istirahat.

"Alya..... gue mau nanya sesuatu, tapi jangan marah ya." Bisiknya meski tidak ada orang lain disana selain mereka berdua.

"Nanya apa?"

"Lo... Suka sama Bram ya?"

Pertanyaan itu membuat Karina terdiam sejenak, tangannya berhenti ditengah gerakan mencuci tangannya.

"Kenapa mikir gitu?"

"Ihh.... Jelas banget kali." Ucap Tika sambil terkekeh.

"Kalian tuh selalu bareng, dia jadi lebih ramah semenjak ada lo, trus tiap lo deket sama dia, Bram tuh kayak... Emm gue nggak tau gimana yaaa jelasinnya, tapi mukanya kayak beda gitu." Lanjutnya lagi dengan nada bergosip.

Karina menghela nafas, lalu mengeringkan tangannya dengan tisu. "Kita cuma temenan kok."

(kalo kata biz markie mah just friend yee)

"Serius nih?" Tika mengangkat alisnya tidak sepenuhnya percaya. "Soalnya kalo dari cara dia ngeliatin lo sih kayaknya bukan sekedar 'temenan' doang deh."

(ya itu namanya ttm)

Kata kata Tika terngiang ngiang dikepala Karina sepanjang sisa jari itu, membuatnya tanpa sadar mulai memperhatikan cara Bram bersikap hati hati.

Begitu ia mulai memperhatikannya, ia tidak lagi mengabaikan hal hal kecil yang sebelumnya luput dari perhatian.

Cara Bram selalu menyisakan kursi disampingnya kosong seolah menunggunya datang.

Cara matanya melembut setiap kali ia tertawa. Dan cara dia selalu memastikan Karina sudah sampai di gang kosnya dengan selamat sebelum melanjutkan langkahnya sendiri pulang.

"Ini nggak boleh kejadian" Pikirnya sambil duduk sendirian ditaman belakang gedung olahraga sepulah sekolah sambil menunggu Bram yang biasanya menyusul beberapa menit kemudian.

"Aku disini cuma numpang, cepat atau lambat aku harus pergi dan Bram bakal... Entah gimana nasibnya kalo dia beneran jatuh cinta sama orang yang bakalan ninggalin dia tanpa penjelasan."

Pikiran itu belum sempat selesai ketika tiba tiba Bram muncul dari balik pepohonan, sambil membawa dua gelas es teh yang ia beli dari kantin.

"Nih, gue pikir lo bakal haus." Ucapnya sambil menyodorkan salah satu gelas es teh itu.

"Makasih." Jawab Karina sambil menerima gelas itu meski pikiraannya masih berkecambuk.

Merekaa duduk dalam diam beberapa saat, sampai akhirnya Bram berbicara duluan dengan suaranya lebih pelan dari biasanya.

"Al, gue mau nanya sesuatu."

"Nanya apa?"

"Lo... Pernah kepikiran nggak kalo kita lebih dari sekedar temen?"

(kata gue teh ttm aja, ttm aja mah)

Pertanyaan itu jatuh begitu saja tanpa basa basi, membuat Karina membeku sesaat sebelum akhirnya menoleh menatap Bram yang justru tidak betani menatap balik dan memilih fokus pada gelas es tehnya sendiri.

"Bram..." Karina mulai mencoba mencari kata kata yang tepat, yang bisa jujur tanpa harus mengungkapkan seluruh kebenaran yang mustahil untuk diungkapkan.

"Maksudku suatu saat nanti, aku mungkin harus pergi." Ucapnya memilih kata kata sehati hati mungkin.

"Dan aku nggak mau kamu nunggu sesuatu yang nggak pasti, apalagi sampai berharap terlalu jauh sama aku."

(adek roh bang, bukan manusia)

Bram terdiam lama mencerna kalimat itu. "Pergi kemana?"

"Aku.... Belum bisa jelasin sekarang." Jawab Karina yang merasa berat dihatinya karna tidak bisa memberikan kejujuran penuh.

"Tapi yang pasti, aku nggak mau kamu gantungin kebahagiaan kamu ke aku doang. Kamu harus tetep bisa berdiri sendiri Bram, nggak peduli aju ada atau nggak disini."

"Kenapa lo ngomong kayak gitu? Kayak lo udah nyiapin diri buat ninggalin gue." Suara Bram mulai bergetar campuran antara bingung dab sedikit kecewa.

"Aku emang harus jujur sama kamu walaupun nggak sepenuhnya." Jawab Karina dengan matanya yang mulai memanas menahan sesuatu yang sulit ia definisikan sendiri.

Apakah itu rasa bersalah atau justru perasaan yang mulai tumbuh tanpa ia sadari, yang jelas ia sendiri tidak yakin.

"Aku emang nggak mau kamu ngerasa nanti aku ninggalin kamu tiba tiba tanpa alasan, setidaknya sekarang kamu udah tau ada kemungkinan itu."

Bram menundukkan kepalanya sambil menggenggam gelas es tehnya erat erat sampai kubu kubu jarinya memutih.

"Lo tau nggak, sejak lo dateng... Ini pertama kalinya gue ngerasa ada yang beneran perduli sama gue. bukan sekedar kasian, bukan sekedar basa basi tapi beneran perduli. Dan sekarang lo bilang bakal pergi?"

"Aku nggak bilang sekarang Bram." Karina buru buru menjelaskan, hatinya semakin terasa berat melihat ekspresi Bram yang terluka.

"Aku cuma.... Aku cuma nggak mau kamu berharap sesuatu yang mungkin nggak akan kejadian kayak yang kamu bayangin."

"Trus gue harus gimana?" Tanya Bram dengan suara yang nyaris berbisik.

"Berhenti peduli sama lo? Gue nggak bisa Al. Gue udah coba, tapi nggak bisa."

Karina menatapnya dengan dadanya yang sesak melihat kejujuran yang jarang sekali ditunjukkan oleh Bram pada siapa pun.

Bagi dari dirinya yang paling manusiawi, uang selama ini hanya terbiasa memberi tanpa benar benar menerima ingin sekali membalas perasaan jtu, ingin sekali merasakan bahwa ia pun merasakan hal yang serupa.

Tapi bagian lain dalam dirinya tau persis konsekuensi dari apa uang sedang ia jalani ini, ia harus menahannya kuat kuat.

"Bram." Ucapnya dengan suara pelan tapi mantap. "Aku nggak minta kamu berhenti peduli, aku cuma minta kamu nggak nutup semua kemungkinan lain dihidup kamu, cuma karna mamu berharap sama aku. Kamu pantes bahagia dengan atau tanpa aku."

"Gimana caranya gue bahagia tanpa lo, kalo lo yang bikin hue ngerasa hidup lagi?" Bram balik bertanya dengan matanya yang berkaca kaca meski ia berusaha sekeras mungkin untuk menahannya.

Karina tidak punya jawaban untuk itu, bukan karna tidak ada jawaban melainkan karna jawaban yang sebenarnya terlalu rumit, dan terlalu jauh dari kenyataan yang bisa dipahami Bram saat ini.

"Kasih aku waktu." Ucap Karina akhirnya, satu satunya kalimat jujur yang bisa ia berikan.

"Aku nggak bisa janji apa apa sekarang Bram, tapi aku janji nggak akan ninggalin kamu tanpa asalan yang jelas, kalo memang saatnya tiba nanti."

Bram menatapnya lama, lalu mengangguk pelan, meski jelas terlihat iyu bukan jawaban yang ia harapkan.

"Oke." Katanya dengan suaranya yang kembali datar seperti dulu, tapi kali ini bukan karna ia menutup diri, melainkan karna mencoba menahan diri agar tidak terlihat rapuh didepan orang yang meski dengan segala kerumitannya tetap menjadi satu satunya cahaya ia miliki belakangan ini.

...----------------...

Malam itu Karina duduk termenung lama sebelum akhirnya layar tembus pandang muncul disudut pengelihatannya.

[Pembaruan status.]

[Poin Kehidupan: 1.050 / 100.000.]

[Poin diberikan atas kejujuran yang meski menyakitkan, membangun fondasi kepercayaan jangka panjang.]

[Catatan Penting: Sistem mendeteksi peningkatan resiko ketertarikan emosional pada pengguna.]

[Disarankan mempertimbangkan kembali definisi akhir bahagia bagi subjek, apakah akan melibatkan pengguna secara permanen atau berupa kebahagiaan yang berdiri sendiri tanpa kehadiran pengguna.]

Karina membaca catatan itu berulang kali, merasakan beban yang belum pernah ia rasakan sejak memulai perjalanan ini.

Sistem benar, cepat atau kambat ia harus memutuskan apa akhir bahagia yang ia perjuangkan untuk Bram.

Apakah cukup dengan membuatnya percaya diri lagi dan menemukan kembali kepercayaannya pada orang lain, lalu ia akan pergi meninggalkannya ruang kosong yang harus diisi orang lain? Atau adakah kemungkinan lain yang belum ia pikirkan sebelumnya.

"Aku nggak boleh egois." Pikirnya sambil menatap langit langit kamar yang mulai terasa lebih dingin dari biasanya.

"Ini bukan tentang perasaanku, tapi tentang bikin Bram bener bener bahagia, apapun bentuknya nanti."

Tapi jauh dilubuk hatinya sebuah pertanyaan kecil terus mengusik: Bagaimana jika kebahagiaan sejati Bram justru mengharuskannya tetap tinggal, alih alih pergi seperti yang seharusnya ia lakukan?

Pertanyaan itu belum terjawab ketika ia akhirnya tertidur, tidak menyadari bahwa dunia yang sedang ia jalani akan segera menghadirkan ujian yang jauh lebih besar dari sekadar perasaan yang belum terselesaikan.

1
Diana Lely
kirana apa karina thor
kirana_euforia: karina, kalo kirana namaku
total 1 replies
Priska Heriska
bagus semangat!
reaaannaaa
sistem sampah,buat apa ada sistem
buang aja,karina mati lagi aja
Alnilam Mintaka
Bagus!!!
kirana_euforia: tengkyu(⁠≧⁠▽⁠≦⁠)
total 1 replies
Alnilam Mintaka
Semangat Thor!!! 💪
Alnilam Mintaka
jujur janggal . lvl author tinggi tapi karya cuma satu??
Alnilam Mintaka: okey .. good luck thor
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!