Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.
Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.
Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.
Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.
Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?
Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Revan Ngamuk Di Gedung putih
Sidang dilanjutkan setelah satu jam skors. Tapi suasana ruang sidang nomor tiga itu sudah beda 180 derajat. Kalau tadi pagi ruang sidang itu seperti kandang singa tempat warga Langgur mau dimakan, sekarang ruang sidang itu seperti kuburan yang baru digali, sunyi, dingin, dan semua orang takut untuk bicara keras-keras.
Pengacara bule yang pingsan tadi sudah diseret keluar oleh petugas. Tinggal dua pengacara lokal yang masih bertahan, tapi wajah mereka pucat dan tangan mereka gemetar terus pegang buku hukum, seperti pegang jimat.
Dion masih duduk di pojok tembok, celananya masih basah, tapi sudah dibawakan celana ganti oleh ayahnya, Pak Hendra. Pak Hendra sendiri sekarang tidak lagi duduk dengan sombong, dia duduk menunduk, tidak berani menatap batu hitam di meja bukti yang tadi mengeluarkan hantu.
Hakim yang tadi datar, sekarang suaranya pelan. "Sidang... sidang dilanjutkan. Pihak penggugat, masih ada bukti lain?"
Pengacara yang masih sadar itu berdiri dengan kaki gemetar. "T-tidak ada, Yang Mulia. Kami... kami mencabut gugatan banding kami. Kami... kami ikhlas tanah Langgur adalah tanah adat."
Semua orang di ruang sidang kaget. Tiba-tiba mencabut gugatan? Padahal tadi pagi mereka yang paling berisik bilang tanah Langgur tanah kosong.
Tapi Dion tiba-tiba berdiri! Wajahnya merah, matanya melot, dia tidak terima ayahnya kalah!
"TIDAK! TIDAK BISA CABUT! TANAH ITU HARUS JADI RESORT! AKU SUDAH JANJI SAMA INVESTOR SINGAPURA! KALAU GAGAL, AKU YANG MATI DIBUNUH INVESTOR!" teriak Dion seperti orang gila. Dia maju ke tengah ruang sidang dan menendang meja bukti sampai batu hitam itu hampir jatuh.
Ara yang melihat batu hitamnya mau jatuh, langsung berlari untuk menangkapnya. Tapi Dion lebih cepat, dia menangkap batu hitam itu duluan dan mengangkatnya tinggi-tinggi!
"BATU BOHONG! BATU PALSU! AKU BANTAI BATU INI!" teriak Dion dan mau membanting batu itu ke lantai marmer pengadilan yang keras, biar pecah.
Saat itulah, hal yang paling mengerikan terjadi.
Batu hitam yang dipegang Dion itu tiba-tiba menyala merah! Bukan emas lagi, tapi merah darah! Sangat panas! Dion berteriak kesakitan karena tangannya seperti terbakar, tapi dia tidak bisa melepaskan batu itu, seperti batu itu lengket di tangannya!
Dari batu yang menyala merah itu, keluar asap hitam yang sangat tebal, masuk lewat hidung dan mulut Dion!
Dion terjatuh ke lantai, kejang-kejang! Matanya putih semua! Dari mulutnya keluar suara yang bukan suara Dion, tapi suara Revan!
"AKU TIDAK AKAN BIARKAN KAU HANCURKAN TANAHKU!"
Dion kesurupan! Kesurupan Revan di depan hakim, di depan semua orang, di dalam gedung pengadilan tinggi yang disebut Gedung Putih oleh orang Ambon!
Tubuh Dion yang kesurupan itu berdiri lagi, tapi jalannya sudah beda, seperti jalannya Revan. Dia berjalan mendekati Pak Hendra, ayahnya sendiri!
Pak Hendra mundur ketakutan. "Dion... Dion... ini Ayah... sadar, Dion..."
Tapi Dion yang kesurupan itu tidak mengenal ayahnya. Dia mencekik leher ayahnya sendiri dengan satu tangan!
"KAU YANG SURUH AKU BAKAR RUMAH WARGA LANGGUR! KAU YANG SURUH AKU BUNUH REVAN DULU! KAU AYAH JAHAT! KAU JUAL TANAH LELUHUR ORANG DEMI UANG!"
Semua rahasia keluar dari mulut Dion yang kesurupan! Semua orang di ruang sidang mendengar pengakuan itu! Ternyata kematian Revan dulu bukan kecelakaan, tapi dibunuh suruhan Pak Hendra karena Revan menolak jual tanah keluarganya!
Hakim langsung menyuruh petugas merekam semua ucapan Dion yang kesurupan itu dengan handphone, itu jadi bukti pengakuan!
Pak Hendra yang dicekik anaknya sendiri, wajahnya biru, dia mengaku juga sambil menangis, "AMPUN! AMPUN! IYA! IYA AKU YANG SURUH! AKU YANG SURUH BUNUH REVAN! AKU KHILAF! LEPASKAN AKU!"
Setelah Pak Hendra mengaku, tubuh Dion yang kesurupan itu melepaskan cekikannya dan jatuh pingsan lagi. Asap hitam keluar dari mulut dan hidungnya dan kembali masuk ke dalam batu hitam yang sekarang sudah tidak menyala lagi dan jatuh menggelinding di lantai.
Ruang sidang hening total. Tidak ada yang berani bernapas keras.
Hakim dengan tangan yang masih gemetar, memukul palu tiga kali dengan sangat keras.
"TOK! TOK! TOK!"
"SETELAH MELIHAT BUKTI BATU ADAT DAN MENDENGAR PENGAKUAN LANGSUNG DARI PIHAK PENGGUGAT SENDIRI DI DEPAN SIDANG, MAKA PENGADILAN TINGGI AMBON MEMUTUSKAN!"
Semua orang berdiri, termasuk lima warga Langgur yang masih tidak percaya apa yang baru terjadi.
"PERTAMA, TANAH LANGGUR SELUAS 500 HEKTAR ADALAH SAH TANAH ADAT MILIK WARGA LANGGUR, BUKAN TANAH NEGARA!"
"KEDUA, PT. MALUKU EMAS SEJAHTERA DICABUT IZINNYA DAN DILARANG MASUK KE LANGGUR SELAMANYA!"
"KETIGA, BAPAK HENDRA DAN SAUDARA DION DITAHAN ATAS DUGAAN PEMBUNUHAN ALMARHUM REVAN DAN PENGURUSAKAN SERTA PEMBAKARAN RUMAH WARGA LANGGUR! KASUS DILIMPAHKAN KE POLDA AMBON!"
Warga Langgur yang lima orang itu langsung sujud syukur di lantai marmer pengadilan yang dingin itu! Mereka menang! Mereka menang di kandang singa! Di kota besar Ambon!
Ara memeluk batu hitam itu erat-erat sambil berbisik, "Van... kita menang, Van... Ayahmu... tanahmu... sudah merdeka..."
Tapi batu hitam itu tidak menjawab, hanya hangat pelan.
Di luar gedung pengadilan, mobil polisi sudah menunggu. Pak Hendra dan Dion yang baru sadar dari pingsan, langsung diborgol dan dimasukkan ke mobil polisi dengan tangan diborgol, disaksikan oleh ratusan orang Ambon yang sudah berkumpul karena mendengar ada hantu ngamuk di pengadilan.
Dion yang diborgol itu sempat menoleh ke arah Ara dan berkata dengan suara pelan yang hanya bisa didengar Ara, "Maafkan aku, Ara... Aku... aku memang jahat..."
Ara tidak menjawab, dia hanya menatap Dion yang dibawa pergi mobil polisi, dengan perasaan campur aduk, kasihan, marah, dan lega.
Perang di Ambon selesai. Langgur menang. Tapi apakah ini akhir dari teror? Ataukah ini baru awal dari rahasia yang lebih besar yang ada di bawah akar pohon mangga raksasa?
Malam itu, lima warga Langgur menginap di masjid besar Ambon karena tidak punya uang untuk hotel. Di dalam masjid yang sunyi itu, Ara bermimpi lagi. Dia bermimpi pohon mangga raksasa di Langgur tumbang, dan di bawah akarnya ada peti kayu besar peninggalan Belanda yang isinya berkilau emas.
Ara terbangun dengan keringat dingin.
Mimpi itu terasa sangat nyata, seperti panggilan.