**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.
Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:
> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.
Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*
Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.
*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*
Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*
…tapi malam itu, Mas ingkar janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6: Yang Terjebak di Menteng
Musik dari Crescent Club terdengar sampai area parkir bawah tanah.
Radhika keluar dari lift dengan langkah cepat. Dua petugas keamanan langsung menundukkan kepala ketika melihatnya. Salah satu dari mereka membuka pintu menuju lorong privat tanpa diminta.
"Di ruang tujuh, Mas."
Radhika mengangguk.
Pintu ruang tujuh dibuka. Bau alkohol, asap rokok, dan parfum mahal menyerbu keluar. Meja rendah di tengah ruangan miring. Pecahan gelas berserakan di karpet. Gilang duduk di sofa dengan bibir pecah dan memar ungu mulai muncul di tulang pipinya.
Di seberang ruangan, seorang pria lain berdiri sambil ditahan dua temannya.
"Mas Radhika datang," bisik seseorang.
Suara ribut langsung mengecil.
Radhika tidak bertanya siapa yang mulai. Ia mengambil rokok dari kotak di meja, menyalakannya, lalu berdiri di tengah ruangan sampai semua orang berhenti bicara. Tatapannya beralih dari luka Gilang ke buku-buku jari pria di seberang yang memerah.
"Selesai?" tanyanya.
Tidak ada yang menjawab.
"Kalau belum, lanjut di depan polisi."
Pria di seberang menurunkan tangan. "Kami cuma salah paham, Mas."
"Bagus. Berarti bisa pulang tanpa ambulans."
Radhika mematikan rokok yang baru diisap dua kali, lalu melempar jaket Gilang ke wajah pemiliknya.
"Berdiri."
Gilang mengerang. "Kaki gue masih bisa, harga diri gue yang nggak."
"Kalau masih bisa bercanda, berarti nggak perlu rumah sakit."
Ia menarik Gilang bangun dan membawanya keluar. Tidak ada yang mencoba menahan. Nama Adiwangsa tidak perlu diteriakkan untuk membuat satu ruangan tahu kapan harus mundur.
Di area parkir, Gilang hendak membuka pintu depan.
Klik.
Pintu itu terkunci.
"Belakang," kata Radhika.
"Kenapa?"
"Kamu bau."
"Gue baru dihajar karena perempuan, lo masih sempat menghina."
"Masuk sebelum kutinggal."
Gilang mengumpat pelan, lalu masuk ke kursi belakang. Begitu mobil bergerak, ia merebahkan kepala dan menutup mata.
"Nisa datang sama laki-laki itu," katanya beberapa menit kemudian. "Katanya cuma teman kerja. Teman kerja apaan pegang pinggang?"
Radhika menatap jalan. "Tanya Nisa."
"Sudah. Dia malah bela laki-laki itu. Bantu gue kasih pelajaran, Dhika."
"Nggak."
"Sekali saja. Suruh orang lo patahin satu jarinya."
"Aku orang beradab. Nggak berantem."
Gilang tertawa, lalu meringis memegangi bibir. "Satu ruangan tadi hampir ngompol cuma gara-gara lo berdiri. Beradab dari mana?"
"Aku nggak menyentuh siapa pun."
"Iya, Tuan Muda paling suci."
Radhika membiarkannya mengoceh sampai suara Gilang mulai cadel. Ketika mobil berhenti di depan apartemennya, Gilang malah memperhatikan kabin depan.
"Ada aroma lemon."
"Turun."
"Lo pacaran, ya?"
"Nggak."
"Terus kenapa tengah malam wangi lemon, muka lo juga nggak sekaku biasanya."
Radhika mengetuk kemudi sekali. "Kalau ada anak perempuan lagi ngambek, cara minta maaf yang benar gimana?"
Gilang yang mabuk mendadak duduk tegak. "Siapa?"
"Adik."
"Sejak kapan lo punya adik perempuan?"
"Bukan urusanmu. Jawab."
Gilang menyeringai meski bibirnya berdarah. "Belikan hadiah. Yang cantik, bukan transfer uang. Terus ajak makan. Perempuan ngambek itu maunya dilihat, bukan dibayar."
Radhika menatapnya melalui kaca spion. Untuk sekali ini, nasihat Gilang terdengar masuk akal.
"Sekarang turun."
"Besok kasih tahu gue siapa adiknya."
Pintu belakang terbuka dari luar oleh petugas apartemen. Radhika menunggu sampai Gilang masuk ke lobi, lalu mengarahkan mobil ke sebuah toko hadiah yang masih menyala di kawasan pusat kota. Di balik kaca pajangan, sebuah kotak musik berbentuk kastel kristal menangkap cahaya lampu.
Ia menghentikan mobil.
Petugas toko yang hampir menutup pintu mengenalinya dan buru-buru mempersilakan masuk.
"Untuk ulang tahun, Pak?"
"Minta maaf."
Perempuan itu menunjukkan beberapa gelang dan tas kecil. Radhika menggeleng. Matanya kembali pada kastel kristal. Di dalamnya berdiri seorang penari berbaju putih yang akan berputar ketika musik dimainkan.
Naila dulu suka menari di ruang tamu memakai rok yang terlalu panjang, lalu marah kalau Radhika tidak bertepuk tangan.
"Yang itu," katanya.
"Mau ditulis kartu?"
Radhika sempat mengambil pena, tetapi tidak jadi menulis. "Nggak usah. Bungkus saja."
Beberapa menit kemudian, kotak berlapis pita putih diletakkan di kursi belakang. Hadiah itu tampak terlalu manis di dalam mobil gelapnya. Radhika menatapnya sekali sebelum melanjutkan perjalanan pulang.
Pagi harinya, pukul tujuh lewat sepuluh menit, Naila keluar ke halaman dengan tas kuliah di bahu. Bekas merah di dahinya sudah hilang. Ia sudah bersiap lebih awal karena perjalanan Menteng ke Depok bisa memakan waktu lebih dari satu jam.
Namun mobil yang menunggu hanya Rolls-Royce hitam milik Radhika.
Laki-laki itu bersandar di pintu pengemudi sambil memegang kopi.
"Pak Slamet mana?" tanya Naila.
"Cuti."
"Om Wirya?"
"Sudah berangkat sama Bunda dari pagi."
"Aku nggak dikasih tahu."
"Sekarang sudah tahu." Radhika membuka kunci mobil. "Masuk."
Naila teringat tiga aturannya sendiri. Jangan mengganggu. Jangan bicara. Jaga jarak tiga meter.
"Aku pesan Grab saja."
"Silakan."
Jawaban Radhika terlalu mudah. Naila curiga. Ia segera menelepon Larasati.
"Tante, Om sama Tante sudah berangkat?"
"Iya, Ndhuk. Ada urusan pagi. Tante lupa bilang. Kamu diantar Radhika, ya?"
Naila melirik laki-laki di depan mobil. "Nggak usah, Tante. Aku bisa pesan kendaraan sendiri."
"Jangan sungkan. Dia memang mau ke arah selatan."
"Aku bisa, kok. Hati-hati, Tante."
Naila menutup telepon sebelum Larasati memaksanya.
Radhika mengangkat kopi ke arah Naila seperti memberi salam. "Sampai ketemu nanti."
Ia masuk ke mobil. Mesin menyala, lalu Rolls-Royce itu meluncur meninggalkan halaman tanpa menoleh lagi.
Naila berdiri dengan mulut sedikit terbuka.
Benar-benar pergi?
Ia membuka aplikasi Grab. Titik penjemputan terus berpindah ke jalan utama karena sistem tidak mengenali akses masuk kompleks. Dua pengemudi membatalkan setelah melihat lokasi. Pengemudi ketiga mengirim pesan bahwa ia tidak bisa melewati pos keamanan tanpa konfirmasi penghuni.
Naila menahan kesal dan mulai berjalan.
Dari rumah Adiwangsa ke gerbang luar ternyata jauh lebih panjang daripada yang terlihat dari mobil. Jalan perumahan sepi, trotoarnya dinaungi pohon-pohon besar, tetapi hampir tidak ada kendaraan umum lewat. Ketika sampai di pos pertama, petugas menjelaskan bahwa gerbang ojol berada di sisi lain kompleks.
Pukul di layar ponselnya menunjukkan 07.24.
Kelasnya dimulai pukul delapan.
Bahkan jika mobil datang detik ini, ia tetap akan terlambat sampai UI Depok.
"Radhika jahat," gumamnya.
Ia mempercepat langkah. Tali tas menekan bahu, udara pagi mulai panas, dan rasa perih di mata semakin sulit ditahan. Kemarin ia ditipu. Hari ini ia dibiarkan berjalan sendirian hanya karena menolak menumpang.
Bagus. Mulai sekarang ia tidak akan menghiraukan laki-laki itu lagi.
Sama sekali tidak.
Naila menatap layar ponsel untuk memeriksa aplikasi sekali lagi. Kakinya menginjak bagian trotoar yang masih basah oleh siraman taman. Sol sepatunya bergeser sebelum ia sempat menemukan pijakan.