NovelToon NovelToon
Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Single Mom
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN

Namaku Kirana, 22 tahun.

Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.

Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.

"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"

Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.

Aku pikir hidupku sudah selesai.

Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.

Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:

"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."

Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?

Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: ISTRI PERTAMA YANG DISANTET

Kresek... kresek... kresek...

Suara langkah kaki itu masih mengelilingi rumah kami. Pelan, berat, dan menyeret. Bukan langkah cepat Rendo seperti tadi malam yang tergesa-gesa. Langkah ini lebih pelan, lebih hati-hati, seolah-olah orangnya sengaja ingin kami dengar bahwa dia ada di luar, mengintai.

Aku menahan napas di dalam kamar yang pengap. Tubuhku gemetar hebat di bawah tikar pandan tipis yang menjadi alas tidurku dan Salsa. Salsa masih tertidur pulas di sampingku, memeluk boneka kelinci lusuhnya yang sudah kehilangan satu mata kancingnya. Napas anak kecil itu teratur, wajahnya polos, tidak tahu bahwa di luar rumah bocor yang dia tinggali ada teror yang sedang mengintai keluarganya. Aku memeluk Salsa lebih erat, seolah-olah dengan memeluknya aku bisa melindungi dia, melindungi diriku sendiri, dan melindungi janin delapan minggu yang ada di dalam perutku yang masih rata ini.

Dari ruang tamu, aku mendengar Arga terbangun. Suara karung goni yang selama ini menjadi alas tidurnya itu diseret kasar ke lantai papan. Suara langkah kaki boot karetnya yang berat, yang belum sempat dia lepas tadi sore karena kelelahan, berjalan cepat dan waspada ke arah pintu utama.

"Siapa di luar?! Siapa yang di luar?! Keluar!" bentak Arga dengan suara keras, berat, dan penuh amarah. Suara yang selama ini dingin, datar, dan irit bicara, kini terdengar sangat marah dan waspada. Ini adalah pertama kalinya aku mendengar Arga membentak sekeras dan selama itu.

Langkah kaki di luar itu berhenti mendadak saat mendengar bentakan Arga.

Hening. Hening yang sangat mencekam dan panjang. Hanya suara jangkrik sawah, suara kodok, dan suara detak jantungku sendiri yang berdegup kencang seperti drum yang dipukul bertubi-tubi tanpa henti.

Lalu, dari luar jendela ruang tamu yang tripleknya sudah mulai lapuk dimakan rayap, terdengar suara perempuan tua. Suaranya serak, parau, seperti orang yang sudah menangis berhari-hari tanpa henti, dan berbisik tapi melengking sampai menusuk telinga.

"Arga... Arga... balikin anakku... balikin Mira ku... kamu yang bunuh anakku, Ga... kamu yang bunuh anakku pakai santetmu..."

Darahku membeku seketika. Bulu kudukku berdiri semua dari kaki sampai kepala. Santet. Lagi-lagi kata itu muncul.

Arga tidak menjawab lagi dengan bentakan. Aku mendengar pintu kayu ruang tamu yang berderit keras itu dibuka dengan kasar sampai membentur dinding. Angin malam yang dingin, lembab, dan berbau tanah basah bercampur bau kemenyan yang samar-samar langsung masuk ke dalam rumah, membuat lampu teplok minyak tanah yang temaram itu bergoyang-goyang hampir padam.

"Bu Sumi! Ngapain Ibu di sini tengah malam begini?! Sudah jam satu malam! Ini bukan jam bertamu! Pulang! Pulang sekarang!" bentak Arga, tapi kali ini suaranya tidak semarah tadi saat membentak langkah kaki misterius itu. Ada nada... tidak enak di sana. Seperti sungkan, atau tidak enak hati, atau bahkan... takut. Takut pada wanita tua itu.

"Aku tidak akan pulang sebelum kamu balikin anakku, Ga! Kamu yang bunuh anakku! Kamu yang bikin anakku pendarahan sampai mati! Santetmu! Ilmu hitam keluargamu! Kamu tumbalkan anakku biar kamu bisa kawin lagi sama perempuan lain! Dasar laki-laki tidak tahu diri!" teriak perempuan tua itu. Suaranya semakin melengking, penuh kebencian dan dendam yang sudah dipendam selama dua tahun penuh.

Aku tidak tahan lagi hanya mendengarkan dari dalam kamar. Rasa penasaranku, rasa takutku, dan rasa khawatirku pada Arga bercampur menjadi satu. Aku memberanikan diri keluar dari kamar dengan menggendong Salsa yang masih setengah tertidur, dengan selimut tikar yang masih melilit tubuh kecilnya.

Di depan pintu rumah yang terbuka lebar, diterangi cahaya lampu teplok yang temaram dan cahaya bulan purnama yang masuk dari celah atap bocor, berdiri seorang wanita tua berumur sekitar enam puluh tahunan. Rambutnya putih semua, diikat cepol berantakan, memakai daster lusuh berwarna cokelat yang sudah robek di beberapa bagian dan membawa tongkat bambu yang ujungnya sudah runcing untuk menopang tubuhnya yang sudah bongkok. Wajahnya keriput seribu, matanya merah bengkak karena menangis atau mungkin karena kurang tidur bertahun-tahun, dan mulutnya yang sudah ompong itu terus meracau dengan kata-kata kebencian.

Itu pasti ibu kandung Mira. Ibu mertua pertama Arga. Nenek kandung Salsa.

Dan di depannya, Arga berdiri tegak menghalangi pintu dengan tubuhnya yang tinggi dan lebar, tidak membiarkan wanita tua itu masuk ke dalam rumah. Kedua tangannya terkepal kuat menahan amarah.

"Bu Sumi, saya sudah bilang berkali-kali sama Ibu. Sudah ratusan kali saya jelaskan. Mira meninggal karena pendarahan. Pendarahan hebat. Dokter puskesmas yang bilang begitu. Bidan puskesmas yang bilang begitu. Bukan karena saya. Bukan karena santet. Ibu jangan fitnah terus. Saya juga sayang sama Mira. Mira itu istri saya, ibu dari anak saya!" kata Arga dengan suara yang ditahan sekuat tenaga, mencoba tetap sopan, sabar, dan hormat pada orang yang lebih tua, meskipun matanya sudah merah karena menahan amarah dan lelah.

"Bohong! Kamu bohong! Anakku sehat! Kandungan anakku sehat! Selama sembilan bulan dia sehat, tidak pernah sakit, tidak pernah pusing! Tidak mungkin tiba-tiba pendarahan! Pasti kamu yang kasih makan jenglot! Kamu yang gak mau anakku lahir karena kamu sudah punya perempuan lain di kebun karet! Kamu sudah bosan sama anakku!" teriak wanita tua yang dipanggil Bu Sumi itu sambil menunjuk-nunjuk wajah Arga dengan tongkat bambunya, lalu matanya yang merah dan bengkak itu beralih padaku yang berdiri di belakang Arga, menggendong Salsa yang masih terlelap.

Matanya yang tadinya penuh benci pada Arga, langsung membelalak lebih besar, lebih merah, saat melihatku. Kaget, benci, cemburu, dan marah bercampur menjadi satu di wajah tuanya.

"Siapa dia?! Siapa perempuan itu?! Jadi benar! Jadi benar gosip di warung Bu Minah itu! Kamu sudah punya perempuan lain makanya kamu bunuh anakku! Dasar laki-laki tidak tahu diri! Laki-laki hidung belang! Baru dua tahun anakku meninggal, tanah kuburannya saja masih basah, masih merah, kamu sudah berani bawa perempuan hamil ke rumah ini! Perempuan murahan! Pelakor!"

"Bu Sumi! Jaga mulut Ibu! Jangan sembarangan kalau bicara!" bentak Arga kali ini benar-benar marah. Bentakannya sangat keras, menggelegar di tengah keheningan malam desa yang sunyi, sampai ayam-ayam tetangga yang sedang tidur pulas di kandangnya pun berkokok kaget terbangun. Salsa yang ada di gendonganku yang tadinya setengah tertidur pulas, langsung terbangun kaget karena suara bentakan ayahnya yang keras itu dan langsung menangis kencang sekali. Tangisannya melengking, keras, memecah ketegangan malam itu.

Suara tangis Salsa yang keras dan pilu itu membuat Bu Sumi yang tadinya beringas seperti harimau kelaparan langsung terdiam seketika. Tatapannya yang tadinya penuh benci dan amarah pada Arga dan padaku, berubah menjadi iba, sayang, dan rindu yang mendalam saat melihat Salsa, cucu satu-satunya.

"Salsa... cucu nenek... Salsa sayang... sini sama nenek... nenek kangen sekali sama kamu... dua tahun nenek gak ketemu Salsa... nenek kangen..." kata Bu Sumi dengan suara yang tiba-tiba berubah menjadi sangat lembut, sangat pilu, sangat merindukan, sambil merentangkan kedua tangannya yang keriput dan gemetar itu, ingin menggendong Salsa, ingin memeluk cucunya.

Tapi Salsa, yang melihat sosok asing berambut putih acak-acakan, bermata merah, dan berbau kemenyan di depannya, malah memeluk leherku lebih erat lagi dan menyembunyikan wajahnya di bahuku sambil menangis lebih kencang dan ketakutan. Dia tidak mau. Dia bahkan tidak mengenal nenek kandungnya sendiri. Dia ketakutan melihat neneknya.

Melihat cucunya sendiri menolak, takut, dan bahkan tidak mengenalinya, Bu Sumi kembali menangis histeris. Tangis yang sangat pilu, sangat menyayat hati, tangis seorang nenek yang kehilangan anak dan kehilangan cucu.

"Lihat! Lihat apa yang kamu lakukan, Arga! Bahkan cucu ku sendiri tidak kenal sama aku! Kamu kurung dia di rumah angker ini! Kamu cuci otak dia! Kamu buat dia lupa sama neneknya! Kamu buat dia lupa sama ibunya! Kamu jahat, Ga! Kamu jahat sekali! Kamu pembunuh!"

"Bu Sumi, sudah malam. Sudah jam satu. Salsa butuh tidur. Dia ketakutan lihat Ibu begini. Ibu pulang dulu ya. Besok pagi kita bicara baik-baik di rumah Pak RT. Jangan begini di depan anak kecil. Kasihan Salsa, Bu," kata Arga, kali ini dengan nada yang lebih lembut, lebih memohon, mencoba membujuk wanita tua yang sudah histeris dan hampir gila karena duka itu.

Bu Sumi menatapku sekali lagi dengan tatapan benci, curiga, dan penuh dendam, seolah-olah akulah penyebab semua kesengsaraan hidupnya, akulah pelakor yang merebut menantunya. Lalu dia menatap Arga dengan tatapan yang sama, lalu berbalik dan berjalan tertatih-tatih dengan tongkat bambunya, menghilang perlahan ke dalam kegelapan kebun karet yang pekat dan menyeramkan, sambil masih terus meracau dengan suara pilu, "Balikin anakku... balikin Mira ku..."

Arga menutup pintu kayu itu dengan keras dan menguncinya dari dalam dengan kayu palang yang besar dan berat. Napasnya tersengal-sengal, seperti habis berlari jauh mengelilingi desa. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya, meskipun malam itu sangat dingin.

Aku masih berdiri mematung di tengah ruang tamu yang hanya diterangi lampu teplok, menggendong Salsa yang masih terisak pelan di bahuku.

"Pak... itu... itu ibu kandungnya Mbak Mira ya, Pak?" tanyaku pelan, hampir berbisik karena takut.

Arga mengangguk tanpa menoleh padaku. Dia masih bersandar di pintu, memejamkan matanya, mencoba mengatur napasnya yang masih memburu. Terlihat sangat, sangat lelah. Lelah fisik dan lelah batin.

"Iya. Bu Sumi. Ibu kandungnya Mira. Satu-satunya keluarga Mira yang masih hidup. Bapaknya Mira sudah meninggal lama waktu Mira masih kecil. Sejak Mira meninggal dua tahun lalu, dia memang begitu, Kir. Setiap malam Jumat Kliwon, setiap bulan purnama, dia selalu datang tengah malam seperti ini dan teriak-teriak di depan rumah, bilang aku yang bunuh Mira pakai santet, pakai ilmu hitam, pakai tumbal."

Dia berjalan ke dapur, mengambil air putih dari kendi tanah liat yang dingin, meminumnya dengan tergesa-gesa sampai tumpah-tumpah ke kaos oblong hitamnya.

Aku memberanikan diri bertanya lagi, "Tapi kenapa Bu Sumi bilang Bapak pelihara jenglot, Pak?"

"Jangan dengerin orang stres, Kir," jawabnya singkat.

Aku terdiam, lalu dengan suara pelan aku berkata, "Tapi Bu Minah juga bilang hal yang sama, Pak. Tadi pagi Bu Minah bilang kematian Mbak Mira itu tidak wajar."

Mendengar nama Bu Minah, Arga langsung menatapku tajam. "Bu Minah itu tukang gosip! Mulutnya ember! Jangan pernah percaya omongan dia!"

Dia terdiam, lalu menghela napas panjang dan duduk di lantai. "Maaf aku bentak kamu. Aku capek, Kir. Dua tahun aku hidup dengan fitnah itu. Padahal aku yang gendong Mira bersimbah darah ke puskesmas. Aku yang lihat dia meninggal di pangkuanku di dalam pick up. Dia bilang, 'Mas, jaga Salsa ya'."

Matanya berkaca-kaca. Pria dingin itu hampir menangis.

"Karena itulah aku trauma lihat perempuan hamil. Makanya waktu ibumu bilang kamu hamil dan diusir, aku langsung ingat Mira. Makanya aku nekat nikahin kamu. Biar aku bisa jaga kamu."

"Terus santet itu beneran ada, Pak?" tanyaku hati-hati.

Arga menatapku jujur. "Aku tidak pernah pakai santet. Demi Allah. Tapi malam sebelum Mira meninggal, Mira dapat kiriman. Bungkusan kain kafan hitam berisi tanah kuburan, tujuh jarum karat, dan foto kami dicoret darah ayam. Sejak itu Mira mimpi buruk terus. Mimpi didatangi perempuan rambut panjang."

"Bulu kudukku merinding. Siapa yang ngirim, Pak?"

"Tidak tahu. Aku bawa bungkusan itu ke Mbah Joyo di Sumberjo. Mbah Joyo bilang itu Santet Kembang Kantil, santet penghalang kelahiran. Tujuannya biar bayi tidak lahir dan ibunya mati pendarahan. Mbah Joyo bilang yang ngirim masih ada di desa ini. Perempuan yang iri sama Mira."

"Siapa, Pak?"

"Tidak ada yang tahu. Mbah Joyo bilang santet itu akan terus ada di keluarga kami."

Malam itu kami duduk di lantai sampai Subuh. Untuk pertama kalinya, jarak kami terasa dekat.

Menjelang Subuh, Arga berkata, "Kir, mulai besok jangan keluar rumah sendirian. Kalau ada bungkusan aneh di depan pintu, jangan pegang. Langsung panggil aku. Aku takut orang yang ngirim santet ke Mira dulu, sekarang mengincar kamu. Karena kamu sekarang istriku. Dan kamu sedang hamil. Sama seperti Mira dulu."

Darahku membeku. Targetnya sekarang aku.

Pagi harinya, Arga berangkat ke kebun. Aku menyapu halaman. Saat menyapu dekat pintu dapur, aku menemukan sesuatu.

Sebuah bungkusan kecil. Kain hitam terikat tali pocong, basah oleh embun, masih hangat. Dari dalamnya merembes cairan merah anyir. Bau darah ayam segar.

Jantungku hampir copot. Sapu di tanganku jatuh.

Bungkusan itu datang lagi. Setelah dua tahun hilang.

Dan kali ini, untukku.

---

1
Hasan Basri
alur cerita gx jelas
Ve Love: wah dibagian mana ini, aku suka kritiknya 🙏
total 1 replies
evana gusani
baru mampir
Ve Love: makasih ya udah mau mampir 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!