NovelToon NovelToon
Dewi Angin Utara

Dewi Angin Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:640
Nilai: 5
Nama Author: AraLum

Jauh sebelum sejarah manusia dimulai, Dewi Angin Utara telah menjaga bumi dari balik bayang-bayang.

Namun ketika perang besar mengancam Agharta, Utara harus berpisah dari Zhuin, sosok yang telah dicintainya sejak ribuan tahun lalu.

Zhuin akan terus Ada, dengan berbagai wujudnya.

Dan setiap kehidupan, dia akan melupakan Utara.

Sementara Utara tetap mengingatnya.

Satu Dewi. Satu jiwa. Ribuan kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 JILID KEEMPAT

Pagi berikutnya Xiong Yan berangkat lebih awal dari biasanya. Tujuannya bukan perbatasan, bukan pula perburuan. Ia mau mencari pedagang keliling.

Xiong Ling yang berjalan beberapa langkah di belakangnya mulai merasa ada yang tidak beres. Mereka sudah melewati dua persimpangan dan tidak satu pun mengarah ke wilayah patroli.

"Ketua."

"Hm?"

"Sebenarnya kita mau ke mana?"

"Pasar."

"Untuk apa?"

Xiong Yan diam sebentar. "Beli sesuatu."

Xiong Ling menghela napas. Ia sudah bisa menebak. "Jilid keempat?"

Langkah Xiong Yan berhenti. Ia menoleh pelan. "Jangan keras-keras."

Xiong Ling buru-buru menutup mulut. "Baik, Ketua."

Setelah hampir setengah jam berkeliling, mereka menemukan seorang pedagang tua yang duduk di bawah pohon besar. Di atas tikar di depannya berserakan buku-buku, ada yang tentang pengobatan, ramalan, dan seni perang, ada juga beberapa yang sampulnya sengaja ditutup kain. Mata Xiong Yan langsung tertuju ke tumpukan yang terakhir.

"Kau punya buku tentang cara mendekati wanita?"

Pedagang itu mengangkat alis. "Ada."

Xiong Yan melangkah mendekat. "Jilid keempat."

"Tepat sekali." Pedagang itu tersenyum, lalu menarik sebuah buku dari bawah tikar.

Xiong Yan menerimanya dengan hati-hati. Judulnya ditulis besar-besar: *Cara Membuat Wanita Memikirkanmu Sepanjang Hari.* Ia membacanya dua kali sebelum bertanya, "Ini jilid keempat?"

"Bukan."

Xiong Yan mengangkat kepala. Pedagang itu menunjuk angka kecil di bagian belakang sampul. "Jilid kelima."

Kening Xiong Yan berkerut. "Kalau begitu, mana jilid keempat?"

"Sudah habis."

"Kenapa?"

"Banyak pria bodoh yang membelinya."

Xiong Ling menunduk dalam-dalam. Bahunya mulai bergetar. Xiong Yan menatap si pedagang tanpa ekspresi. "Berapa?"

Pedagang itu menyebut harga, dan Xiong Yan membayar tanpa menawar. Buku itu ia selipkan ke balik jubah, lalu ia berbalik hendak pergi. Baru dua langkah, Xiong Ling berbisik di sampingnya.

"Ketua."

"Apa?"

"Kalau jilid kelima sudah dibeli, bukankah harusnya kita cari jilid keempat dulu?"

Xiong Yan terdiam. Benar juga. Ia berbalik lagi. "Jilid keempat ada di mana?"

"Di tangan pembeli lain."

"Siapa?"

Pedagang itu mengangkat bahu. "Entahlah."

Xiong Yan menarik napas panjang. Baru kali ini ia merasa berperang jauh lebih gampang daripada mencari buku percintaan.

***

Di Lembah Feng Yin, Feng Yao sedang menyapu halaman sambil sesekali melirik jalan setapak. Biasanya pada jam seperti ini Xiong Yan sudah muncul. Kadang membawa madu, kadang buah, kadang hanya duduk di beranda memperbaiki sesuatu yang sebenarnya tidak rusak. Pagi ini jalan itu kosong.

Feng Yao mengangkat bahu. Mungkin ada urusan di klan. Ia kembali menyapu.

Tidak lama kemudian terdengar langkah kaki. Mo Xuan muncul dari balik pepohonan dengan dua bungkus makanan di tangan.

"Yao'er."

"Mo Xuan!" Feng Yao langsung tersenyum.

"Aku bawa sarapan."

"Wah!" Ia menerima satu bungkus dengan senang hati. Mo Xuan sudah duduk di beranda tanpa menunggu dipersilakan.

"Xiong Yan belum datang?" tanyanya.

"Belum."

Mo Xuan tersenyum tipis. "Bagus."

"Hm?"

"Tidak apa-apa."

Feng Yao sempat mengerutkan kening, tapi perhatiannya keburu tersedot ke bungkusan yang sedang ia buka. Mo Xuan memperhatikannya sambil menyeruput teh.

"Akhir-akhir ini dia sering ke sini?"

"Siapa?"

"Xiong Yan."

Feng Yao berpikir sebentar. "Sering."

"Setiap hari?"

"Kurang lebih."

Mo Xuan mengangguk pelan. "Begitu."

Feng Yao tidak menangkap maksudnya. Ia malah menyodorkan sepotong buah. "Mau?"

"Terima kasih."

Suasana kembali tenang. Tapi dalam hati Mo Xuan sudah punya dugaan. Orang seperti Xiong Yan tidak mungkin datang hampir tiap hari cuma untuk minum teh.

***

Siangnya, Xiong Yan membaca buku itu sendirian di ruangannya. Halaman pertama berbunyi: *Jika ingin membuat seorang wanita memikirkanmu, jangan selalu berada di dekatnya.*

Ia mengangguk. "Masuk akal."

Halaman berikutnya: *Berikan sedikit jarak agar dia punya kesempatan merindukanmu.*

Ia mengangguk lagi. "Benar." Lalu ia menutup buku itu. "Mulai besok."

***

Keesokan paginya Feng Yao kembali duduk di beranda dan menunggu. Satu jam berlalu, lalu dua jam, dan Xiong Yan tidak muncul. Hari kedua sama saja. Hari ketiga juga.

Akhirnya ia bertanya pada Xiong Ling yang kebetulan lewat. "Xiong Yan sakit?"

Xiong Ling hampir tersedak. "Tidak."

"Terus kenapa dia tidak datang?"

Xiong Ling terdiam cukup lama. Ia tahu jawabannya, tapi ia juga tahu kalau bicara jujur, harga dirinya sebagai anak buah bisa ikut hancur. "Ketua sedang..." Ia mencari-cari alasan. "...memberi ruang."

"Ruang?" Feng Yao menatapnya bingung. "Untuk apa?"

Xiong Ling menutup wajah dengan satu tangan. "Entahlah."

***

Sementara itu, Xiong Yan duduk di ruangannya, di hari ketiga yang terasa panjang. Ia menatap pintu, lalu jendela, lalu kalender.

"Apa ini memang bagian dari strateginya?"

Ia mengambil buku itu lagi dan membuka halaman yang tadi. *Jangan terburu-buru. Biarkan dia datang kepadamu.*

Xiong Yan mengangguk pelan. "Benar."

Lima menit kemudian ia berdiri. "Kenapa lama sekali?" Ia berjalan ke pintu, dan baru saja hendak keluar ketika ia berhenti. Tidak. Strategi. Ia kembali duduk. Tiga menit kemudian ia sudah berdiri lagi.

"Ini lebih susah daripada perang," gumamnya.

***

Feng Yao akhirnya memutuskan pergi sendiri ke markas Klan Beruang Hitam. Bukan karena rindu, dan bukan karena terus memikirkan Xiong Yan. Ia cuma khawatir.

Di gerbang, para penjaga langsung menunduk begitu melihatnya. "Nona Feng."

"Xiong Yan ada?"

"Ketua ada di ruangannya."

Feng Yao langsung masuk. Xiong Yan sedang duduk dengan buku terbuka di depannya, dan begitu melihat Feng Yao di ambang pintu, ia membeku.

"Kenapa kau tidak datang ke pondok?" tanya Feng Yao sambil tersenyum.

Xiong Yan menatapnya. Buku di tangannya pelan-pelan ditutup. "Aku sedang memberi ruang."

Feng Yao makin bingung. "Ruang untuk apa?"

Xiong Yan diam. Ia melihat wajah Feng Yao yang sama sekali tidak mengerti, dan akhirnya menjawab jujur. "Aku sedang baca buku."

Feng Yao melirik buku di tangannya. "Yang tentang strategi?"

"...Ya."

Feng Yao tertawa kecil. "Kalau begitu besok datang saja ke pondok. Kukira kau sibuk."

Jantung Xiong Yan berdetak lebih keras dari yang ia mau. "Baik."

Feng Yao berbalik hendak pergi, tapi sebelum sampai di pintu, seorang penjaga berlari masuk. "Nona Feng. Ketua."

Xiong Yan langsung berdiri. "Ada apa?"

Penjaga itu membungkuk. "Penjaga selatan menemukan jejak baru."

"Jejak siapa?"

Penjaga itu menelan ludah. "Klan Ular."

Suasana ruangan berubah seketika. Senyum Feng Yao perlahan hilang. Xiong Yan menatap penjaga itu dengan wajah tegang. "Di mana?"

"Dekat Lembah Feng Yin."

Tangannya mengepal. Kali ini tidak ada buku yang bisa membantu.

"Perketat penjagaan." Ia menoleh pada Feng Yao. "Dan kau jangan ke mana-mana sendirian."

Feng Yao mengangguk pelan.

Di luar jendela, angin utara menggerakkan pucuk-pucuk pohon. Jauh di dalam hutan, di antara bayang-bayang pinus, sepasang mata mengawasi lembah itu. Setelah beberapa hari diam, ular-ular itu mulai bergerak lagi.

---

1
Aralum
ikuti terus yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!