Ujian dalam rumah tangga Aini dan Andra dimulai saat Andra mendapat kenaikan jabatan di perusahaan tempatnya bekerja
Ekonomi yang membaik, membuat Andra mulai merasa bosan dengan istrinya yang menurutnya tidak bisa merawat diri, hingga membuatnya terjerat pesona rekan kerjanya sendiri
Aini begitu terluka, saat suaminya membawa seorang wanita yang tengah berbadan dua yang ia perkenalkan sebagai istri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Andra tengah sibuk diruangan nya saat terdengar pintu yang diketuk, Andra tersenyum saat melihat seorang wanita masuk dengan senyum manisnya
Hari ini Sarah terlihat menggoda dengan kemeja ketat berwarna putih serta rok span diatas lutut berwarna krem
Andra meneguk ludahnya saat Sarah mendekat dengan tubuh meliuk indah
Sarah ini tidak begitu tinggi, berbeda dari Aini yang memiliki tinggi badan 170 cm. Namun yang membuat Sarah ini menarik adalah tubuh bagian depan dan belakangnya yang menonjol
Rasanya semua pria suka dengan tubuh seperti ini, termasuk juga dirinya
"Selamat pagi pak"
"Selamat pagi Sarah" Sapa Andra dengan ramah "Ada apa?"
"Saya mau mengantarkan laporan yang harus bapak tandatangani" Ucapnya seraya menyerahkan sebuah map berwarna biru
"Apa tidak ada karyawan lain yang bisa mengantarkannya kesini?" Tanya Andra sambil membuka lembar demi lembar kertas berisi laporan itu
"Saya kan karyawan baru pak, sudah seharusnya saya melakukan ini" Jawab Sarah sambil tersenyum "Lagi pula saya suka kesini"
Andra mengangkat wajahnya, merasa aneh pada mendengar ucapan wanita cantik dihadapannya ini
"Maksud kamu?"
"Siapa sih yang gak mau ngeliat manager yang gantengnya kayak bapak ini" Ucapnya sedikit bercanda
"Ah kamu bisa saja, Sarah" Andra menggeleng guna menutupi kegugupannya
"Saya beneran loh pak, sayang aja bapak udah punya istri. Coba kalau belum"
"Memangnya kalau saya belum punya istri kamu mau sama saya?" Pria itu tertawa lalu menyerahkan map tersebut pada wanita dihadapannya
"Siapa yang gak mau sama pak Andra, saya mah mau banget" Sarah tersenyum lalu menerima map dari sang atasan "Kalau begitu saya permisi dulu pak"
Lagi-lagi Sarah menundukkan kepalanya, hal ini yang dihindari oleh Andra karena mata nakalnya yang mulai melihat kemana-mana
Setelah wanita itu keluar dari ruangannya, Andra menyandarkan kepalanya. Ada saja ujian yang harus ia hadapi
"Kalau aku tergoda artinya cinta aku gak kuat sama Aini"
Walaupun sudah meyakinkan diri, tetap saja bayangan tubuh indah Sarah terbayang. Jika terus seperti ini maka hal ini tidak akan baik
"Pak Andra" Mendengar suara teriakan, Andra membalik tubuhnya mendapati Sarah yang melangkah mendekat "Bapak mau ke kantin yaa?"
"Huh?" Andra mengumpat saat matanya kembali bergerak nakal "iya, ada apa memangnya?"
"Saya boleh ikut gak? Saya belum punya temen dikantor ini" Sarah terlihat berharap membuat Andra tidak tega untuk menolaknya
"Ya sudah, ayo" Keduanya melangkah beriringan, hal itu jelas mengundang perhatian para karyawan lain
Setibanya di kantin, terlihat Aldo sahabat Andra melambaikan tangannya. Andra lalu mengajak Sarah menuju meja dimana sahabatnya itu berada
"Siapa dia Ndra?" Tanya Aldo
"Kenalin dia Sarah, karyawan baru di divisi operasional" Sarah mengulurkan tangannya dan dengan cepat disambut oleh Aldo
"Sarah pak"
"Jangan panggil bapak, saya bukan manager kayak pak Andra ini" Aldo terkekeh seraya menggoda sahabatnya itu, membuat Andra mendengus
"Jangan dengerin dia Sarah! Dia memang sedikit aneh" Ujar Andra
"Gak apa-apa kok pak, saya malah seneng. Akhirnya saya punya temen juga"
Ketiganya lalu menikmati makan siang sambil sesekali melempar candaan. Aldo juga melancarkan rayuannya pada Sarah yang menurutnya sangat cantik
Begitu tiba jam pulang kantor, Andra meninggalkan ruangannya. Seperti biasa dirinya akan menjadi yang terakhir, hal ini biasa ia lakukan sejak dulu
Saat mobilnya keluar dari gerbang kantor, Andra berhenti didepan seorang wanita yang terlihat celingukan
Andra menurunkan kaca mobilnya lalu berkata "Sarah? Sedang apa disini?"
"Saya lagi tunggu ojek online pak, dari tadi order tapi gak dapet-dapet" Keluh wanita cantik itu
"Ikut saya saja kalau begitu! Biar saya anterin" Andra menawarkan
Sarah terlihat ragu, namun Andra memaksa dan sepertinya memang dirinya membutuhkannya
"Makasih yaa pak, saya udah nunggu cukup lama didepan tadi" Ujar Sarah seraya memasang sabuk pengamannya
"Tidak masalah, sudah seharusnya kan" Andra menyalakan mesin mobilnya lalu kendaraan roda empat itu melaju menuju alamat yang Sarah ucapkan
"Bapak baik banget, gak pernah loh ada manager yang kasih tumpangan buat karyawannya" Celetuk Sarah lalu keduanya tersenyum
"Gak baik perempuan cantik berdiri dipinggir jalan kayak gitu, nanti diculik loh" Andra sedikit bergurau lalu suara tawa mengisi kabin mobil tersebut
"Menurut bapak saya cantik?"
"Siapapun pasti bilang kamu cantik Sarah" Andra sesekali melirik kesamping dimana wanita cantik itu duduk
"Tapi buktinya saya masih jomblo, artinya gak ada yang mau sama saya" Celetuknya membuat Andra terkekeh
"Kamu ini bisa saja"
Keadaan kembali hening, Andra fokus pada jalanan didepannya "Istri pak Andra pasti cantik banget"
"Semua perempuan itu cantik Sarah. Gak mungkin kan ada perempuan yang ganteng" Keduanya tertawa lalu Sarah kembali bicara
"Maksud saya bukan begitu, saya jadi penasaran secantik apa istri pak Andra"
"Dia memang cantik, usianya masih dua puluh tiga tahun"
Sarah terkejut mendengarnya, itu berarti usia Andra dan istrinya memiliki jarak yang cukup jauh
Jika dilihat lagi, Andra ini mungkin berusia dua puluh tujuh atau dua puluh delapan tahun, karena Sarah saja sudah berusia dua puluh enam tahun
"Dia masih muda banget, makin penasaran aja saya! Tapi dia gak marah kan kalau bapak nganterin saya dulu?" Tanya Sarah
"Enggak kok, Aini itu wanita yang baik. Dia bukan tipe istri yang curigaan"
Sarah tersenyum "Dia wanita yang sempurna, bapak pasti bahagia banget"
"Begitulah" Hening kembali tercipta sebelum akhirnya Sarah menunjuk sebuah rumah
"Berhenti disini saja pak" Andra menginjak rem lalu melihat kearah rumah yang Sarah tunjuk
"Kamu tinggal sendiri disini?" Tanya Andra
"Iya, ini kontrakan saya" Ujarnya seraya membuka sabuk pengaman
"Orang tua kamu?"
"Saya merantau, orang tua saya tinggal di desa" Sarah tersenyum "Terima kasih yaa pak"
"Sama-sama"
"Bapak gak mau mampir dulu?"
"Emangnya boleh?" Andra balik bertanya
"Kenapa enggak, saya bisa buatin kopi atau teh" Sarah menawarkan, sedikitnya ia berharap jika atasannya ini mau mampir barang sebentar
"Lain kali saja, istri saya pasti udah nungguin dirumah, takutnya dia khawatir" Andra menolak dengan halus
"Maafin saya yaa pak, karena nganterin saya dulu, bapak jadi telat sampe rumahnya" Sarah jadi tidak enak
"Tidak masalah Sarah, hanya telat beberapa menit saja"
Setelahnya wanita cantik itu keluar dari mobil atasannya, Andra menekan klakson saat Sarah melambaikan tangannya
Pria tampan itu menghela napasnya, entah kenapa jantung nya terasa berdetak lebih cepat
Sayang sekali ia tidak bisa menikmati teh manis di sore hari bersama wanita seksi itu. Lain kali mungkin dirinya bisa mampir
Sesampainya dirumah, benar saja jika Aini memang sudah menunggu kedatangan suaminya
Andra tidak pernah pulang terlambat dan hal itu membuat Aini merasa khawatir
"Mas gak apa-apa kan? Pulangnya kok telat banget?" Cecar Aini
"Mas gak kenapa-kenapa kok dek, kamu gak usah khawatir gitu" Andra mengusap lengan istrinya agar wanita itu tenang
"Aku khawatir banget"
"Tadi ada pekerjaan penting makanya mas tinggal sebentar dikantor"
Apa ini? Untuk pertama kalian Andra tidak berkata jujur pada istrinya. Astaga, ia merasa seperti suami yang bermain diluar
"Ya udah, aku siapin air hangat buat mas mandi"
Andra mengangguk "Kasih gak rewel?"
"Hari ini dia anteng"
Keduanya melangkah menuju kamar tidur, Andra memang butuh mandi untuk menghilangkan pikiran-pikiran kotor yang ada di kepalanya
nunggu aini kerja gajian anakmu dah mati, di tinggal ke kantor suami mu, kl gk di kasih susu ma Sarah seharian gimana. kok gk mikir to aini ini. saking miskin dah oon nya.