NovelToon NovelToon
Hati yang Dikhianati, Terjerat Sang Mafia

Hati yang Dikhianati, Terjerat Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Wanita perkasa / Selingkuh / Sekretaris / Office Romance / Tamat
Popularitas:210
Nilai: 5
Nama Author: Beatriz novaes

Malam itu, Pietra pulang membawa kejutan untuk sang suami—dan menemukan suaminya dalam pelukan sahabatnya sendiri. Bukan hanya dikhianati; ia dipukul, direndahkan, dan baru menyadari bahwa pernikahannya selama ini hanyalah kedok untuk menguasai warisannya.

Maka ia memilih menghilang. Sendirian, tanpa tujuan, ia naik pesawat pertama yang membawanya sejauh mungkin: Moskow.

Di kota asing yang dingin itu, Pietra bertekad membangun ulang dirinya dari nol. Tapi takdir justru menempatkannya di jantung dunia yang paling berbahaya—sebagai sekretaris pribadi Marco D'Amato, pengusaha tampan berdarah dingin yang menyimpan satu rahasia mematikan: ia adalah Don dari mafia terkuat di Rusia.

Marco terbiasa mengendalikan segalanya. Namun wanita yang menolak tunduk, yang membalas setiap tatapannya tanpa gentar, yang berani berkata "Aku bukan milikmu"—itu di luar kendalinya. Dan semakin Pietra menolak dilindungi, semakin Marco tak sanggup melepaskannya.

Di antara kontrak yang ditandatangani dengan darah, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan masa lalu yang menolak mati, satu aturan berlaku mutlak di dunia Marco: pengkhianatan hanya dibayar dengan nyawa.

Pietra datang untuk melarikan diri dari luka. Ia tak pernah menyangka akan terjerat dalam permainan yang jauh lebih berbahaya—permainan di mana hati bisa menjadi senjata paling mematikan.

Ketika cinta dan dendam bertemu di dunia yang tak mengenal ampun, siapa yang akan bertahan sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatriz novaes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

PIETRA PETROVSKY

Aku keluar dari ruang kerja secepat yang kubisa. Ketegangan antara Irina dan Marco membuatku tak nyaman.

Kutinggalkan berkas-berkas di ruang rapat untuk pertemuan yang akan berlangsung pukul 16:00.

Aku berusaha untuk tidak memikirkan apa yang baru saja terjadi. Marco tak lebih dari seorang anak orang kaya yang selalu menaklukkan segala yang ia inginkan. Hanya saja, ia tak akan menaklukkanku. Aku tak akan memberinya kepuasan itu.

Aku masuk kembali ke ruang kerja sambil mengabaikan semua yang terjadi di sana beberapa menit sebelumnya. Irina sudah tak ada di sana, tapi begitu aku duduk di kursiku, kurasakan tatapannya menekan berat padaku.

Aku mengabaikannya.

Dan, yang mengejutkan diriku sendiri, aku berhasil.

* * *

IRINA KELLER

Aku bukan sekadar cemburu.

Ini sesuatu yang lebih besar.

Aku merasa dipermalukan.

Aku menghabiskan hidupku mempersiapkan diri untuk menjadi pilihan Marco. Bertahun-tahun berlatih untuk menjadi istri yang sempurna, lalu datang seorang perempuan kecil ingusan yang dalam EMPAT hari saja berhasil merebut seluruh perhatiannya.

Melihat Marco menatap Pietra seolah seluruh dunia menata ulang dirinya di sekeliling perempuan itu membuatku merasa bisa dibuang. Tak terlihat. Dan itu tak bisa kuterima.

Aku tak pernah bisa menerimanya.

Aku masuk ke mobilku dengan tangan gemetar oleh amarah, lalu memutar nomor yang selalu manjur setiap kali aku membutuhkannya.

Ayahku.

Ia mengangkat pada deringan kedua.

"Irina?" Suaranya berat, penuh wibawa, selalu meyakinkan. "Ada sesuatu yang terjadi?"

Aku menelan ludah, menyesuaikan nada suaraku. Rapuh, tapi tidak lemah. Cemas, bukan histeris.

"Ayah... aku tak mau mengganggumu, tapi aku benar-benar khawatir," aku memulai. "Ini soal Marco."

Hening seketika.

Aku tahu aku sudah mengait perhatiannya.

"Lanjutkan," katanya, datar.

Aku menarik napas dalam, seolah sedang memilih kata-kata yang terlalu sulit untuk diucapkan.

"Ia mempekerjakan seorang sekretaris baru. Pietra. Awalnya ia tampak cuma seperti karyawan biasa... tapi aku mulai memperhatikan hal-hal yang aneh. Sangat aneh."

"Hal semacam apa?" tanyanya, kini terlalu waspada.

"Ia tak bertingkah seperti orang biasa. Terlalu banyak bertanya. Terlalu banyak menyimak. Dan, Ayah..." Kubiarkan suaraku merendah. "Aku melihat kontak-kontak mencurigakan di ponselnya. Nomor-nomor internasional. Bahasa-bahasa yang ia pura-pura tak kuasai, padahal ia menguasainya."

Di ujung sambungan, keheningan yang berat.

Aku melanjutkan, tanpa memberi celah untuk keraguan.

"Marco sudah... terlibat. Buta. Ia tak menyadarinya karena jelas-jelas terpikat padanya. Tapi aku kenal betul perempuan jenis ini. Ia mendekat, meraih kepercayaan, lalu menghancurkan segalanya dari dalam."

"Kau bilang dia sebuah ancaman?" tanyanya, kini dengan dinginnya yang kukenal sejak aku kecil.

"Aku bilang ia mungkin sedang memanfaatkan Marco. Atau lebih buruk... mengumpulkan informasi." Aku berhenti sejenak. "Dan kalau memang begitu, Ayah, ia sudah terlalu dekat."

Jantungku berdegup kencang. Bukan karena takut. Karena kegairahan.

"Kau yakin dengan apa yang kaukatakan?" ia mendesak.

"Sangat yakin," dustaku dengan penuh keyakinan. "Aku tak akan menelepon kalau tak menganggap dia dalam bahaya."

Napasnya menjadi lebih berat.

"Akan kuperiksa," katanya akhirnya. "Kalau ada yang tidak beres, akan kuselesaikan."

Itu persis yang ingin kudengar.

"Terima kasih, Ayah," jawabku, membiarkan suaraku melembut. "Cuma... hati-hati. Marco akhir-akhir ini tak berpikir dengan jernih."

Sambungan telepon terputus.

Aku menatap ponselku beberapa detik, senyum perlahan merekah di sudut bibirku.

"Sekarang tinggal menanam buktinya," ucapku pada diriku sendiri sambil keluar dari mobil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!