NovelToon NovelToon
BERANDAL

BERANDAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Urban
Popularitas:754
Nilai: 5
Nama Author: Denis Suhendar

JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya

***

"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."

***

Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."

Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: PEMBERSIHAN TOTAL

Aroma aspal yang terbakar matahari siang terasa begitu menyengat di sekitar area gerbang belakang SMA Garuda, sekolah tempat Nasya belajar. Di sebuah warung kopi sederhana yang terletak tak jauh dari sana, tiga orang pria dengan potongan rambut pendek dan tatapan tajam tampak duduk gelisah. Di balik jaket biasa yang mereka kenakan untuk menyamar, samar-samar terlihat ujung tato kepala macan—lambang dari faksi utara, White Tiger. Mereka adalah anak buah Rian si Belut Jalanan yang ditugaskan untuk mengawasi setiap pergerakan yang berkaitan dengan gadis incaran ketua mereka.

"Kau yakin anak sekolah bernama Nasya itu belum kelihatan dari pagi?" tanya salah satu pengintai dengan nada berbisik yang serak sambil mengisap rokoknya dalam-dalam.

"Sialan, pelankan suaramu! Informan kita di dalam bilang dia sudah tidak masuk sekolah sejak hari pertempuran gudang kontainer kemarin. Ibunya bahkan sudah melapor ke polisi. Tapi si Rian yakin, anak buah Black Cobra pasti menyembunyikan gadis itu di sekitar wilayah sektor barat ini. Kita harus terus menempel di sini sampai—"

*CRAAAASSHHH!*

Kalimat pria itu terputus seketika saat sebuah balok kayu tebal berukuran besar tiba-tiba melesat cepat menembus udara dan menghantam telak wajahnya hingga hidungnya patah. Darah segar menyembur keluar, melumuri meja kayu warung kopi tersebut. Sebelum dua pengintai lainnya sempat menyadari apa yang terjadi, raungan suara dari lima sepeda motor sport hitam berkapasitas mesin besar mendadak memecah keheningan gang sepi itu dengan suara keras yang menakutkan.

Pintu gerbang gang seketika ditutup rapat oleh belasan pemuda berbadan kekar yang mengenakan jaket kulit hitam dengan lambang mawar berdarah di lengan kanan mereka—pasukan inti Black Cobra. Di barisan paling depan, berdiri Bara dengan sepasang mata yang memancarkan kemarahan besar, persis seperti tatapan yang biasa ditunjukkan oleh Eksan Prasetya di atas aspal jalanan. Di tangan kanannya, Bara memegang sebilah pipa besi tebal yang sudah terkena percikan darah baru.

"Jadi... kalian tikus-tikus utara yang berani cari mati di wilayah kekuasaan kami?" suara Bara terdengar sangat rendah dan berat, membuat nyali ketiga pengintai itu seketika ciut dalam sekejap.

"S-sialan! Anak buah Black Cobra! Serang mereka!!!" teriak salah satu pengintai White Tiger yang tersisa sambil mencoba mencabut sebilah pisau lipat dari balik sakunya.

Namun, gerakan bertarung pasukan inti Black Cobra jauh lebih cepat dan kasar. Bara melangkah maju satu langkah cepat untuk memotong jarak aman, lalu mengayunkan pipa besinya dari bawah ke atas dengan tenaga penuh. Pipa besi itu menghantam telak pergelangan tangan musuh hingga pisau lipatnya terlempar jatuh ke atas tanah dengan bunyi nyaring. Tanpa memberikan kesempatan untuk memulihkan posisi tubuh, Bara melepaskan satu tendangan lurus tepat di dada pria itu hingga tubuhnya terpental menghantam dinding bata bangunan di belakangnya.

*BRUUAAAKKK!*

Pertempuran pembersihan singkat itu pecah secara brutal dan sepihak di dalam gang sepi di belakang sekolah. Anak buah faksi utara sama sekali bukan tandingan bagi pasukan inti pilihan yang langsung diperintah oleh Eksan. Suara benturan keras dari balok kayu yang menghantam tulang, pecahan botol kaca, dan teriakan amarah bercampur rasa sakit yang luar biasa saling bersahutan memecah keheningan siang yang terik. Dalam hitungan kurang dari sepuluh menit, ketiga pengintai milik Rian sudah hancur lebur, terkapar tak berdaya di atas tanah yang dipenuhi darah. Wajah mereka babak belur tidak karuan dengan tulang kaki yang patah akibat hantaman tanpa belas kasihan.

Bara berjalan mendekat, memegang rambut salah satu pengintai yang masih setengah sadar dengan pegangan yang luar biasa kuat. Ia memaksa wajah pria itu mendongak menatap sepasang matanya yang dingin.

"Dengarkan aku baik-baik, Tikus Utara," kata Bara dengan nada suara yang penuh ancaman, menyampaikan perintah langsung dari pemimpin tertinggi mereka. "Sampaikan pada ketua kalian, Rian si Belut... siapa pun orang jalanan yang berani mengusik ketenangan Nasya atau mencoba mencari tahu keberadaannya lagi setelah hari ini, Bos Eksan bersumpah demi nama Black Cobra akan memburu kepala kalian semua sampai ke lubang neraka terdalam. Dan ini... adalah peringatan awal dari kami."

Bara berdiri tegak, lalu memberikan kode anggukan kepada anak buahnya. Dua orang anggota Black Cobra dengan sigap mengambil jaket putih berlambang kepala macan milik para pengintai yang sudah robek dan berdarah, lalu mengikatnya kuat-kuat pada tiang listrik jalanan di ujung gang menggunakan rantai besi sebuah simbol peringatan jelas bahwa wilayah tersebut telah dibersihkan dari musuh oleh kekuasaan tunggal Eksan Prasetya.

***

Sementara itu, di dalam kemewahan lantai tiga puluh penthouse yang terisolasi dari kekacauan jalanan, Eksan duduk terdiam di tepi kasur kamar utama. Kain perban di perut kirinya baru saja selesai diganti oleh dirinya sendiri, menyisakan rasa perih yang membuat pelipisnya terus mengucurkan keringat dingin. Namun, sorot mata elangnya yang pekat sama sekali tidak beralih dari sosok Nasya yang duduk meringkuk di sudut ruangan sambil memeluk lututnya, dengan bahu yang masih naik turun akibat tangis yang belum mereda sejak tadi pagi.

Eksan menghela napas panjang yang berat, lalu menggeser tubuhnya mendekati posisi Nasya. Tangan kanannya yang kasar bergerak maju, merangkul lembut pundak mungil gadis itu dan menariknya ke dalam dekapan dadanya yang bidang. Sisi protektif Eksan kembali muncul, ia tidak tahan melihat ada jarak di antara mereka, apalagi melihat gadis yang disayanginya menderita karena ketakutan pada dunia luar.

"Jangan menangis lagi, Nasya. Air matamu terlalu berharga untuk terbuang karena tikus-tikus jalanan itu," kata Eksan dengan suara rendah yang berat dan serak, mempertegas rasa kepemilikannya yang kuat. "Bara baru saja mengirimkan pesan. Semua pengintai di bawah sudah dibersihkan tanpa sisa. Tidak akan ada satu pun bajingan yang bisa mendekati sekolahmu, rumahmu, atau bahkan tempat ini."

Nasya mendongak perlahan, menatap sepasang mata elang pekat yang selalu menguncinya dalam perlindungan yang ketat. "Tapi ibuku, Eksan... dunia ini... kenapa semuanya harus diselesaikan dengan darah dan kekerasan? Aku takut... aku takut suatu hari nanti kau yang akan pulang di dalam keranda mayat seperti yang kau katakan semalam."

Mendengar kekhawatiran yang keluar dari bibir mungil Nasya, sebuah senyuman tipis muncul di sudut bibir Eksan yang terluka. Ia menundukkan kepalanya, mencium dahi Nasya dengan lembut namun penuh arti.

"Aku adalah penguasa jalanan ini, Nasya. Maut pun harus mengemis izin dariku jika ingin mengambil nyawaku," ujar Eksan dengan nada suara yang penuh keyakinan dan tegas. "Selama kau berada di sini, di bawah pengawasanku dua puluh empat jam penuh, di dalam tempat ini, kau adalah hal paling aman di seluruh kota ini. Aku bersumpah dengan sisa napas dan darahku, tidak akan kubiarkan bahaya apa pun menyentuhmu seujung rambut pun. Kau adalah milikku, selamanya milik seorang Eksan Prasetya."

Nasya hanya bisa kembali membenamkan wajahnya di dada bidang Eksan, meremas erat kemeja hitam pemuda itu dengan jemari yang bergetar, pasrah bahwa seluruh kehidupannya kini telah diatur oleh sang penguasa aspal kota demi sebuah perlindungan yang luar biasa ketat.

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semngat nulis nya k👍
Denis Suhendar: semangat ganbate 💪💪
total 1 replies
Rudik Irawan
sering² up Thor
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: mampir KA berikan ulasan agar aku bisa Berkembang
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!