Anya, seorang wanita biasa yang hidupnya tenang, terpaksa terjebak dalam kesepakatan berbahaya untuk menjadi tunangan palsu Kenji, Tuan Muda dari klan mafia paling ditakuti, selama enam bulan demi melunasi utang ayahnya.
Rencananya tampak sederhana, hanya perlu berpura-pura jatuh cinta di depan publik, namun Anya segera menyadari bahwa hidup di sisi Kenji berarti menghadapi dunia yang gelap dan mematikan, di mana pengkhianatan, pertumpahan darah, dan ancaman dari geng rival menjadi makanan sehari-hari.
Anya harus berjuang bertahan hidup di jaring kekejaman mafia sambil melawan perasaan terlarang yang mulai tumbuh untuk pria berbahaya yang hidupnya selalu berlumuran darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Penerangan di lorong ini juga sedikit lebih redup dibandingkan lorong lainnya.
"Astaga, apa aku tersesat?" batin Anya mulai panik.
Dia terus berjalan lurus mencoba mencari pelayan yang bisa ditanyai arah.
Namun lorong itu malah membawanya ke sebuah area yang pintunya berbeda dari yang lain.
Jika semua pintu kamar terbuat dari kayu jati terang, pintu di ujung lorong ini terbuat dari kayu ek gelap.
Pintu itu memiliki sebuah gembok perak besar yang mengunci gagangnya dengan kuat.
Anya berjalan mendekati pintu itu karena merasa penasaran.
[Peringatan Kritis: Anda telah memasuki perbatasan Sayap Barat.]
Tulisan sistem itu berkedip-kedip merah di depan mata Anya dengan cepat.
Anya terkesiap dan langsung melangkah mundur dengan terburu-buru.
"Jadi ini sayap barat yang dilarang itu," bisik Anya ngeri.
Dia baru saja akan berbalik untuk lari dari tempat itu saat telinganya menangkap sebuah suara.
Klotak. Klotak.
Suara benda jatuh terdengar samar-samar dari balik pintu kayu gelap yang terkunci itu.
Anya menghentikan langkahnya dan menajamkan pendengarannya.
"Tolong..."
Sebuah rintihan pelan yang sangat lirih terdengar menyusul suara benda jatuh tadi.
Mata Anya membulat sempurna karena sangat terkejut.
"Ada orang di dalam sana?" batin Anya tidak percaya.
Nyonya Martha bilang area ini dilarang karena berbahaya, bukan karena ada orang yang disekap.
Rintihan itu terdengar lagi, kali ini terdengar lebih seperti orang yang sedang kesakitan.
"Uhuk... tolong air..."
Anya melangkah maju lagi mendekati pintu berukir gelap tersebut.
Hati nuraninya bergejolak hebat antara melarikan diri atau mencari tahu siapa di dalam sana.
"Siapa di dalam?" tanya Anya dengan suara yang sangat pelan agar tidak menggema.
Tidak ada jawaban, hanya suara napas berat yang terdengar putus-putus.
Anya mengangkat tangannya dan menyentuh gembok perak yang terasa sangat dingin itu.
Tiba-tiba sebuah tangan besar dan kekar mencengkeram bahu kiri Anya dari belakang.
Grep.
Anya menjerit tertahan dan langsung membalikkan badannya karena kaget setengah mati.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Suara berat dan dingin itu membuat jantung Anya seakan berhenti berdetak sesaat.
Kenji berdiri menjulang di depannya dengan tatapan mata yang luar biasa gelap dan mengerikan.
Rahang pria itu mengeras dan cengkeraman tangannya di bahu Anya semakin menguat.
"A-aku tersesat," jawab Anya terbata-bata karena ketakutan.
"Aku baru saja dari taman dan salah mengambil belokan saat mau kembali ke kamar."
Kenji tidak melepaskan cengkeramannya sama sekali.
Pria itu menatap lurus ke dalam mata Anya seolah sedang mencari kebohongan di sana.
"Aku sudah bilang, jangan pernah mendekati sayap barat apa pun yang terjadi."
Nada suara Kenji sangat rendah, tapi ancaman di dalamnya terasa sangat mematikan.
"Aku benar-benar tidak sengaja, Kenji, tolong lepaskan bahuku, ini sakit," rintih Anya.
Mendengar rintihan Anya, tatapan mata Kenji sedikit melembut dan cengkeramannya mengendur.
Pria itu melepaskan tangannya dari bahu Anya lalu menarik tangan gadis itu dengan paksa.
"Ikut aku kembali ke kamar sekarang."
Kenji menyeret Anya menjauh dari pintu gelap itu dengan langkah kaki yang lebar dan cepat.
Anya harus setengah berlari untuk mengimbangi langkah pria tersebut.
Di sepanjang jalan, Anya sesekali menoleh ke belakang menatap pintu sayap barat itu.
"Suara rintihan siapa itu tadi?" batin Anya dipenuhi dengan rasa penasaran yang besar.
"Kenapa Kenji menyembunyikan seseorang di tempat terlarang seperti ini?"
Sesampainya di kamar Anya, Kenji langsung menutup pintu dengan bantingan keras.
Blam.
Pria itu melepaskan tangan Anya lalu berdiri bersandar pada pintu yang tertutup.
Kenji mengusap wajahnya dengan satu tangan terlihat sangat frustrasi dan lelah.
Anya berdiri kaku di tengah ruangan sambil mengelus pergelangan tangannya yang memerah.
"Dengar, Anya," ucap Kenji memecah keheningan yang mencekam di antara mereka berdua.
"Rumah ini bukan taman bermain tempat kau bisa bebas berkeliling semaumu."
"Aku tahu, aku sudah minta maaf karena tersesat tadi," balas Anya mencoba membela diri.
Kenji menatap Anya dengan sorot mata yang sulit untuk diartikan.
Ada kemarahan di sana, tapi entah kenapa Anya juga melihat ada sorot kesedihan yang dalam.
"Jika Paman Haris atau Leon melihatmu di area itu, mereka punya alasan kuat untuk membunuhmu."
"Aturan keluarga mengatakan siapa pun yang menyusup ke area terlarang tanpa izin akan dieksekusi mati."
Anya menahan napasnya mendengar aturan gila tersebut.
"Kau menyelamatkanku dari hukuman mati tadi?" tanya Anya dengan suara pelan.
"Aku hanya tidak ingin rencanaku hancur berantakan karena kebodohanmu."
Kenji membuang muka dan menatap ke arah luar jendela kamar.
"Dan jangan pernah menceritakan apa pun yang kau lihat atau kau dengar di lorong tadi pada siapa pun."
"Kalau tidak, aku sendiri yang akan memastikan kau tidak akan pernah bisa bicara lagi."
Anya mengangguk mengerti, ancaman Kenji kali ini terdengar sangat serius dari biasanya.
"Leon menemuiku di taman tadi saat kau tidak ada," lapor Anya mencoba mengalihkan pembicaraan.
Kenji kembali menatap Anya dengan dahi berkerut samar.
"Apa yang bajingan itu katakan padamu?"
"Dia mencoba memprovokasiku dengan menghina ayahku dan statusku," jawab Anya jujur.
"Lalu apa yang kau lakukan?"
"Aku membalasnya dengan mengatakan bahwa kau tidak butuh sekutu lemah untuk berkuasa."
"Aku bilang padanya bahwa pemimpin sejati berdiri di atas kakinya sendiri."
Keheningan kembali menyelimuti kamar itu selama beberapa detik.
Kenji menatap Anya tanpa berkedip, mencoba mencerna ucapan yang baru saja didengarnya.
Tiba-tiba sudut bibir Kenji tertarik sedikit ke atas membentuk sebuah senyuman tipis.
Senyuman itu terlihat sangat alami, bukan senyuman sinis atau meremehkan seperti biasanya.
"Jawaban yang cukup berani untuk ukuran kelinci penakut sepertimu."
Kenji melangkah menjauhi pintu dan berjalan menuju pintu penghubung kamarnya sendiri.
"Istirahatlah di kamar, aku masih punya urusan dokumen yang harus diselesaikan siang ini."
"Baik," jawab Anya lega karena ketegangan di antara mereka sudah mencair.
Kenji membuka pintu kamarnya, namun sebelum masuk dia menoleh sekali lagi ke arah Anya.
"Kerja bagus untuk yang di taman tadi."
Blam.
Pintu tertutup rapat, meninggalkan Anya yang terpaku di tempatnya berdiri.
Jantung Anya entah kenapa berdetak sedikit lebih cepat saat melihat senyuman tipis Kenji barusan.
Itu adalah pujian pertama yang pernah pria itu berikan padanya sejak mereka bertemu.
[Misi Harian Selesai: Bertahan dari provokasi Leon dan menghindari bahaya Sayap Barat.]
[Hadiah: Poin Keberanian +2, Poin Afeksi Target meningkat pesat.]
Anya tersenyum kecil melihat tulisan yang melayang di udara itu.
Mungkin bertahan hidup enam bulan di neraka ini tidak akan seburuk yang dia bayangkan sebelumnya.
Tapi suara rintihan misterius dari balik pintu kayu gelap itu masih terus menghantui pikirannya.
Rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Kenji di sayap barat rumah ini.