NovelToon NovelToon
TAWANAN SANG RAJA MAFIA

TAWANAN SANG RAJA MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Nikahmuda
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Demi menyelamatkan sang ayah dari siksaan maut seorang mafia kejam, Aisyah gadis bercadar, Hafizah bermata biru blasteran menyerahkan diri sebagai tawanan abadi. Syaratnya gila: pria berdarah dingin itu harus masuk Islam dan menikahinya.
Pernikahan tanpa cinta pun dimulai. Alih-alih menjadi ratu, hidup Aisyah berubah menjadi neraka ketika suaminya sengaja membawa wanita malam ke hadapannya setiap hari untuk menghancurkan mentalnya.
Di tengah ketakutan yang mencekam dan air mata yang tak pernah kering, Aisyah hanya bersandar pada sujud malamnya.
Mampukah kelembutan ayat-ayat suci meluluhkan hati seorang psikopat tanpa Tuhan, atau justru Aisyah yang akan hancur lebur di sarang iblis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai di Atas Sajadah

Udara malam di lereng bukit itu seharusnya terasa menyejukkan.

Angin pegunungan berhembus lembut, membawa aroma tanah basah dan dedaunan pinus yang khas dari kawasan Pondok Pesantren Al-Ihsan.

Namun, malam ini, keheningan malam yang biasanya dipenuhi oleh suara santri melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an mendadak terasa hampa.

Udara di sana terasa pekat, berat, dan menyesakkan dada, seolah alam sendiri turut meratapi badai besar yang sedang menghantam tempat suci tersebut.

Di dalam rumah utama atau yang akrab disebut ndalem suasana begitu senyap hingga detak jam dinding antik di sudut ruangan terdengar begitu nyaring, memukul-mukul gendang telinga dengan ritme yang mencemaskan.

Duduk di atas kursi kayu jati berukir, seorang pria paruh baya dengan kopiah putih dan sorban tersampir di bahunya tampak menatap kosong ke luar jendela.

Namanya Kiai Ahmad.

Usianya sudah menginjak kepala enam, garis-garis kebijaksanaan dan kelelahan terukir jelas di wajahnya.

Namun, malam ini, bukan usia senjanya yang membuatnya terlihat rapuh.

Melainkan beban berat di pundaknya beban moral untuk melindungi ribuan santri, amanah para pendahulu, dan kehormatan agama yang kini berada di ujung tanduk.

Di hadapannya, beberapa orang pengurus pesantren dan perwakilan warga desa duduk dengan gelisah.

Wajah mereka pucat pasi, penuh dengan keringat dingin yang bercampur amarah tertahan.

"Abah... kita tidak bisa terus-menerus diam seperti ini,"

suara Pak RT, seorang lelaki tua bertubuh gempal, bergetar hebat.

Tangannya mengepal erat di atas meja.

"Manusia iblis itu benar-benar tidak punya hati.

Hari ini, alat-alat berat mereka sudah meratakan tanah wakaf di sebelah barat pesantren.

Mereka mulai membangun fondasi...

dan mereka tidak peduli dengan protes warga!"

Kiai Ahmad menarik napas panjang.

Perlahan, jemarinya yang gemetar menggenggam tasbih kayu gaharu di pangkuannya.

Butiran demi butiran tasbih itu ia geser, mencoba mencari ketenangan di tengah gejolak emosi yang hampir meruntuhkan ketegarannya.

"Sudah kita tempuh jalur musyawarah, Pak,"

jawab Kiai Ahmad dengan suara parau yang amat tenang.

"Kita juga sudah mengirimkan surat keberatan resmi kepada pemerintah daerah dan pihak pengembang."

"Musyawarah dengan Kenzie Al-Ghazali sama sekali tidak ada gunanya, Abah!"

sergah salah seorang pemuda desa dengan nada frustrasi yang meluap-luap.

Suaranya nyaris berteriak sebelum ia sadar sedang berada di hadapan sang Kiai.

"Dia bukan pengusaha biasa!

Dia adalah penguasa dunia bawah, raja penyelundupan senjata, bandar obat-obatan terlarang lintas negara, dan seorang psikopat berdarah dingin yang tidak mengenal belas kasihan!

Bagi dia, nyawa manusia itu tidak lebih berharga daripada sehelai bulu!"

Mendengar nama itu disebut, suasana ruangan mendadak membeku.

Kenzie Al-Ghazali.

Nama yang dalam beberapa pekan terakhir menjelma menjadi teror paling mengerikan di kota ini.

Pria berusia 35 tahun itu dikabarkan hidup tanpa mengenal Tuhan, dikelilingi oleh dunia hitam, kekerasan mutlak, dan dikabarkan tidak pernah gagal menghancurkan siapapun yang berani menghalangi jalannya.

Pembangunan kelab malam tepat di dinding batas pesantren bukanlah sebuah kebetulan; itu adalah bentuk provokasi telak, sebuah tantangan terbuka untuk merendahkan marwah Islam di tanah tersebut.

Di balik tirai pintu kamar yang setengah terbuka, seorang gadis berusia 20 tahun berdiri terpaku.

Namanya Aisyah Humaira.

Aisyah mengenakan abaya hitam longgar yang menutupi seluruh tubuhnya, dipadu dengan cadar berwarna senada yang membingkai separuh wajahnya.

Meskipun kain hitam itu menutupi sebagian besar parasnya, mustahil untuk menyembunyikan kecantikan luar biasa yang ia miliki.

Sepasang matanya biru jernih sebenar kristal, warisan genetik dari sang kakek yang merupakan seorang mualaf asal Eropa tampak berkaca-kaca.

Di dalam mata indah itu terpancar binar kecerdasan, ketulusan, dan keteguhan jiwa seorang Hafizah 30 juz yang telah mendedikasikan seluruh masa mudanya untuk menghafal kalam-kalam Allah.

Aisyah mendengar setiap kata yang diucapkan para warga.

Jantungnya berdegup kencang, menghantam tulang rusuknya dengan rasa sakit yang tumpul.

Ia tahu betul betapa rapuhnya kondisi kesehatan sang Abah belakangan ini.

Tekanan darah tinggi dan riwayat penyakit jantung Kiai Ahmad adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja.

'Ya Allah... lindungi Abah.

Lindungi pesantren ini,'

bisik hati Aisyah berulang kali, merapal zikir dalam keheningan demi meredam gemetar di sekujur tubuhnya.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Ketika malam semakin larut dan warga desa pamit pulang dengan rasa putus asa yang mendalam, Kiai Ahmad berdiri dari kursinya.

Keputusannya telah bulat.

Sebagai pemimpin umat di tanah itu, ia tidak akan membiarkan tempat suci tempat ribuan anak menuntut ilmu dicemari oleh maksiat terang-terangan.

"Abah mau ke mana?"

tanya Ummi istri Kiai Ahmad sekaligus ibunda Aisyah yang baru saja keluar dari kamar dengan mata sembab dan wajah pucat.

Suaranya terdengar pecah, penuh firasat buruk yang teramat kuat.

"Malam sudah semakin larut, suamiku.

Jangan pergi ke sana."

Kiai Ahmad berbalik, menatap istrinya dengan senyuman paling hangat yang bisa ia berikan.

Ia mengangkat tangan, mengusap lembut kerudung sang istri.

"Ummi, jangan khawatirkan Abah,"

ucap Kiai Ahmad dengan suara lembut namun tegas.

"Ini adalah tanggung jawab Abah di hadapan Allah.

Jika Abah berdiam diri, kelak di akhirat Allah akan menuntut pertanggungjawaban Abah mengapa membiarkan sarang kemaksiatan berdiri di sebelah rumah-Nya.

Abah hanya ingin menemui pimpinan mereka secara langsung, berbicara dari hati ke hati, dan menunjukkan surat penolakan warga."

"Tapi mereka bukan orang yang bisa diajak bicara dengan hati, Abah!"

tangis Ummi pecah seketika.

Wanita paruh baya itu bersimpuh, menciumi tangan suaminya sambil terisak pilu.

"Mereka iblis!

Mereka tidak punya hati nurani!

Jangan pergi... kumohon, demi aku dan Aisyah..."

Aisyah yang melihat pemandangan itu dari balik tirai tidak kuasa lagi menahan kakinya.

Ia melangkah keluar, berlari kecil menghampiri kedua orang tuanya dan ikut berlutut di samping sang Ummi.

Tangannya merengkuh bahu ibunya yang bergetar hebat karena tangis.

"Abah... benar kata Ummi,"

pinta Aisyah dengan suara serak, memohon di balik cadarnya.

Air matanya tumpah, membasahi kain cadar yang ia kenakan.

"Jangan pergi malam ini.

Biarkan kami yang menghadapi ini dengan doa.

Kita bisa lapor pihak berwajib..."

Kiai Ahmad menunduk, menatap kedua wanita yang paling ia cintai di dunia ini.

Sorot matanya memancarkan ketulusan yang teramat dalam.

Ia merangkap kedua tangan Aisyah dan Ummi dalam genggamannya yang hangat.

"Anakku, Aisyah...

seorang pemimpin tidak akan pernah bersembunyi di saat umatnya ketakutan,"

bisik Kiai Ahmad penuh wibawa.

"Doakan Abah.

Allah sebaik-baik pelindung."

Tanpa menghiraukan derai air mata istri dan anak tercintanya, Kiai Ahmad melangkah keluar rumah, menembus pekatnya malam menggunakan mobil tua miliknya, menuju lokasi proyek pembangunan kelab malam yang terletak di ujung desa tepat di samping dinding barat pesantren.

Itu adalah malam terakhir Kiai Ahmad melangkah keluar rumah dalam keadaan utuh.

1
ika mummy
beneran ceritan nya keren... aku syuuukkka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!