NovelToon NovelToon
Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas
Popularitas:245
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*

Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".

Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23: Utang yang Harus Dibayar Halim

Pagi berikutnya, bekas merah di pipi Arya sudah hampir hilang.

Masalah keluarga Halim belum.

Hendra Halim datang ke PE bersama Reno tepat pukul sepuluh. Kali ini mereka memiliki jadwal, menyerahkan identitas di meja Rani, dan menunggu sampai sekretariat mengizinkan naik.

Tak ada teriakan di lobi.

Tak ada ancaman tentang layar.

Di kantor Anindya, Hendra berdiri sebelum dipersilakan duduk. Pria yang biasanya muncul di acara film dengan rombongan besar itu hanya membawa satu pengacara dan satu map berisi surat pemulihan kerja sama.

"Bu Anindya. Pak Arya." Ia membungkuk sedikit. "Saya datang meminta maaf atas tindakan keluarga saya."

Reno menatap lantai. "Saya juga minta maaf."

Arya duduk di sofa, sementara Anindya tetap di balik meja. "Maaf untuk bagian mana?" tanyanya.

Hendra melirik putranya.

Reno mengatupkan rahang. "Menghina staf PE, mengancam kerja sama, dan menabrak mobil Pak Arya."

"Bagian ketika kamu meminta nomor istri saya setelah ditolak?"

"Itu juga."

"Bagus. Setidaknya ingatanmu pulih."

Hendra segera membuka map. "Grup Sinema Halim akan mengembalikan jadwal layar film PE sesuai evaluasi pasar, bukan tekanan pribadi. Mitra iklan yang kami hubungi sudah mendapat pemberitahuan bahwa kami tidak keberatan mereka melanjutkan kontrak. Kami juga menanggung ganti rugi Kijang dan biaya pihak ketiga sesuai hasil mediasi kecelakaan."

Anindya membaca surat satu per satu. "Klausul ini menyebut pemulihan tanpa jaminan jumlah layar."

"Kami tidak bisa menjamin angka sebelum data penjualan, Bu. Namun keputusan tidak lagi diblokir keluarga."

"Itu batas yang wajar," jawab Anindya. "Tim distribusi kami akan bernegosiasi normal."

Arya memperhatikan Hendra. Dalam sepuluh hari, Wisnu tidak menghancurkan Halim secara ilegal. Ia hanya menarik fasilitas yang selama ini diberikan melalui jaringan Adiwangsa: dua perpanjangan sewa lokasi bioskop ditunda untuk peninjauan, sebuah bank meminta pemeriksaan ulang covenant kredit, dan tiga pemasok menaikkan syarat jaminan karena risiko reputasi.

Semua langkah sah.

Gabungannya cukup membuat arus kas Halim sesak.

"Pak Wisnu sudah menyampaikan pesannya," kata Hendra. "Kami mengerti."

"Belum," ujar Arya. "Kalau mengerti, Bapak tidak hanya datang karena kredit dan sewa terganggu."

Hendra menahan napas.

"Reno menggunakan kekuatan bisnis keluarga untuk menyelesaikan sakit hati pribadi," lanjut Arya. "Hari ini sasarannya PE. Besok bisa mitra lain. Kalau Bapak membiarkan, keluarga Halim akan membayar utang yang jauh lebih mahal daripada mobil."

"Saya akan mendisiplinkannya."

"Jangan untuk saya. Untuk perusahaan Bapak sendiri. Mulai sekarang, hiduplah lebih rendah hati."

Reno mengangkat mata. Ada kilatan benci, tetapi tidak ada rasa takut sebesar yang Arya harapkan. Seolah seseorang telah memberinya alasan percaya bahwa tekanan Adiwangsa hanya sementara.

Ketukan terdengar. Rani masuk membawa tablet.

"Maaf mengganggu. Ada pemberitahuan resmi dari produksi Pak Wira. Bella Anggraini dilepas dari proyek berikutnya dan pengganti sudah ditetapkan. Kompensasi kontrak dibayar penuh."

Reno menoleh cepat. "Kenapa baru sekarang diberitahu?"

Rani memandang Anindya, bukan dia. "Surat ditujukan kepada PE sebagai agensi."

Anindya membaca ringkasan. "Jangan umumkan dari pihak kita. Biarkan rumah produksi mengatur komunikasinya. Pastikan hak kompensasi Bella diterima dan tidak ada staf yang membocorkan alasan internal."

"Baik, Bu."

Setelah Rani keluar, Hendra berkata, "Kami berharap keputusan mengenai Bella tidak dikaitkan dengan perselisihan ini."

"Keputusan Pak Wira bukan kewenangan PE," jawab Anindya. "Kami hanya memastikan kewajiban kontraknya dipenuhi."

"Kalau PE mau menekan..."

"Pak Hendra," potong Arya, "Anda datang untuk meminta maaf, bukan mengajarkan kami cara membalas dendam."

Hendra menutup mulut.

Pengacara Halim menyodorkan halaman terakhir. "Ada satu permintaan. Rekaman ancaman Mas Reno di lobi tidak dipublikasikan selama kesepakatan dijalankan."

Anindya membaca klausul tersebut. "PE memang belum pernah berniat memakainya sebagai kampanye. Tapi kami tidak dapat berjanji menyembunyikan alat bukti jika ada pemeriksaan resmi."

"Tentu. Kami hanya mencegah kebocoran."

"Tambahkan kalimat `kecuali diwajibkan hukum atau diminta penyidik`," kata Arya. "Dan kewajiban menjaga rekaman berlaku timbal balik. Halim juga memiliki video Cendana dari orang yang menyamar sebagai kurir."

Hendra menoleh kepada Reno. "Kamera apa?"

Reno membuang pandangan.

Arya membuka satu foto di tablet: fotografer palsu berdiri di pintu servis, wajah dan pelat kendaraan tertangkap jelas.

"Kami tidak menuntut sekarang," katanya. "Serahkan salinan asli dan identitas pihak yang memberi perintah. Kalau potongan manipulatif muncul di media, kesepakatan pemulihan batal otomatis."

Hendra memijat pelipis. "Lakukan," perintahnya kepada pengacara.

Untuk pertama kali, ia memahami bahwa kedatangannya bukan sekadar membungkuk di depan nama besar. Arya telah menyimpan setiap kesalahan Reno sebagai alat tawar, lengkap dengan tanggal dan jejak. Satu kebohongan lagi dapat mengubah permintaan maaf hari itu menjadi perkara yang jauh lebih besar.

Pertemuan berakhir dengan penandatanganan berita acara: Halim mencabut intervensi terhadap mitra, PE menghentikan eskalasi somasi kepada perusahaan yang kembali memenuhi kontrak, dan sengketa kendaraan dilanjutkan melalui asuransi serta mediasi resmi.

Tidak ada jabat tangan hangat. Hanya prosedur yang mengembalikan bisnis ke jalurnya.

Di lift, Hendra menekan tombol lantai dasar. "Kau membuat keluarga kehilangan puluhan miliar dalam sepuluh hari."

Reno tersenyum tipis. "Belum tentu rugi, Pa."

"Apa maksudmu?"

"Ada orang yang bilang tekanan Adiwangsa bisa dilawan kalau kita memilih sekutu yang benar."

Hendra berbalik. "Siapa?"

Pintu lift terbuka. Reno berjalan keluar tanpa menjawab.

Dari balik kaca kantor, Arya melihatnya menunduk kepada Rani, lalu tersenyum sendiri saat melewati pintu putar. Perubahan itu terlalu cepat. Sepuluh hari lalu ia pucat melihat Wisnu; hari ini ia meminta maaf seperti aktor yang tahu adegan berikutnya akan menguntungkannya.

Anindya menutup map pemulihan kerja sama. "Kita mendapat kembali dua proyek dan jalur distribusi. Seharusnya Anda terlihat puas."

"Reno tidak takut lagi."

"Dia baru saja meminta maaf."

"Mulutnya meminta maaf. Matanya menghitung."

Anindya mengingat senyum di lift. "Anda pikir dia punya pendukung baru?"

"Mungkin. Atau dia percaya punya."

Arya mengirim pesan kepada Kevin untuk menelusuri komunikasi bisnis Halim selama sepuluh hari terakhir, hanya melalui data korporat dan sumber yang sah.

Di layar kamera lobi, Reno berhenti sejenak untuk membaca pesan masuk dari nomor tak tersimpan.

Arya memperbesar rekaman. Ia tidak bisa melihat isi layar, tetapi cara Reno menyembunyikan ponsel sudah cukup.

"Dia belum selesai," kata Arya. "Dia hanya belajar menundukkan kepala sebelum menggigit lagi."

Ponselnya bergetar. Kevin mengirim konfirmasi bahwa satu perusahaan media dari Jakarta baru saja meminta profil utang Grup Sinema Halim.

Arya menunjukkan pesan itu kepada Anindya.

Seseorang bukan hanya memberi Reno keberanian.

Seseorang sedang menilai berapa harga keluarga Halim untuk dibeli dengan uang dan janji baru yang manis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!