NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: songjihee

Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.

Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.

Tidak ada pesta.

Tidak ada cinta.

Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.

Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.

Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

06. Ketakutan

Naya berjalan pincang menuju lift hotel. Langkahnya kecil-kecil dan sarat akan rasa sakit, namun setiap kali Ibra mencoba mengulurkan tangan untuk menyangga sikunya, Naya refleks menggeser tubuhnya menjauh.

Ia enggan disentuh.

Ibra mengerti ketakutan itu, jadi ia tidak memaksa. Pria itu memilih berjalan satu langkah di belakang Naya, siap berjaga jika gadis itu mendadak hilang keseimbangan.

Pintu lift terbuka dengan denting halus. Naya melangkah masuk terlebih dahulu dan langsung memiringkan tubuhnya, menyudut ke pojok belakang. Matanya terus tertuju ke lantai, enggan menatap pantulan dirinya maupun Ibra di dinding cermin.

Ibra menyusul masuk, berdiri di sisi dekat panel tombol tanpa mencoba mendekat. Pria itu menekan tombol lantai dasar, lalu suasana kembali diselimuti keheningan yang mencekam.

​Di dalam ruang sempit yang bergerak turun itu, napas Naya terdengar memburu dan tidak teratur. Dinding cermin yang memantulkan sosok mereka justru membuat udara terasa makin menghimpit.

Naya meremas kuat pinggiran kemejanya yang kusut, berusaha menahan gelombang panik dan ngilu di persendiannya, sementara Ibra hanya bisa berdiri mematung.

Pria itu beberapa kali melirik ke arahnya, tetapi selalu buru-buru mengalihkan pandangan. Tangannya mengepal di sisi tubuh. Ia ingin melakukan sesuatu, sekadar mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada satu pun yang terasa pantas diucapkan dalam keadaan seperti ini.

***

​Suasana di dalam mobil Ibra terasa luar biasa berat. Keheningan yang menekan itu mendadak pecah saat Naya kembali tersedu-sedu. Membuat tangisnya terdengar makin pilu, bercampur napasnya yang tersenggal-senggal.

​"Naya, tenang..." bujuk Ibra lembut, menoleh sedikit ke arah Naya yang duduk di jok samping pengemudi dengan rasa bersalah yang kian menggerogoti dadanya.

"Saya tahu ini berat, tapi tolong... tenangin diri kamu dulu."

​Naya tidak menjawab. Suara tangisnya makin menjadi-jadi. Ia takut akan masa depannya, ia ketakutan. Dan dia tidak bisa tenang, setelah yang terjadi.

Di kepalanya, wajah Bunda tiba-tiba muncul, juga Ayah. Disusul bayangan meja makan di rumah, senda gurau mereka, seragam kantornya yang kadang di cuci oleh Bunda, meja kerjanya yang berantakan, dan rutinitas sederhana yang selama ini ia jalani tanpa pernah berpikir semuanya bisa hilang begitu saja.

​"Saya enggak akan lari," tegas Ibra lagi, suaranya mantap dari balik kemudi.

"Kalau sampai... kalau sampai terjadi sesuatu setelah ini, saya siap tanggung jawab atas apa pun itu. Kamu enggak sendiri, Naya." Ibra mengucapkannya, dengan tekad dan kesungguhan. Niatnya ingin menenangkan.

Naya terdiam. Bukannya menenangkan, kata-kata justru membuat dadanya terasa semakin sesak.

Sesuatu.

Satu kata itu terus berputar di kepalanya.

Bagaimana kalau benar-benar ada sesuatu?

Naya menunduk. Tatapannya jatuh pada perutnya sendiri.

Sebuah kemungkinan mengerikan berputar liar di otaknya, membakar logikanya yang tak lagi rasional.

"Jangan..."

Kedua tangannya gemetar hebat. Ia mencengkeram pakaiannya sendiri, seolah sedang menolak kemungkinan yang baru saja muncul di kepalanya.

"Jangan jadi apa-apa..."

Air mata Naya kembali mengalir.

"Tolong..."

Naya menggeleng berkali-kali. Napasnya semakin cepat sampai ia kesulitan menarik udara.

"Jangan ada apa-apa..."

Bugh

Ibra tersentak, langsung menyadari Naya mulai kehilangan kendali. Membanting setir ke kiri dan menepikan mobilnya di bahu jalan yang sepi.

​"Naya! Berhenti!" bentak Ibra panik, mematikan mesin mobil dan langsung condong ke arah Naya.

​Pikiran Naya kalut luar biasa, rasanya hampir pecah memikirkan orangtuanya, reputasinya, dan kehancuran hidupnya. Sehingga ia kembali kehilangan kendali.

​"Naya, stop! Lihat saya."

Naya menggeleng kuat-kuat.

"Lihat saya, Naya."

Namun Naya justru semakin menangis. Dadanya naik turun dengan cepat, jemarinya gemetar hebat.

Ibra akhirnya sadar bahwa semakin banyak ia bicara, semakin sulit Naya menenangkan dirinya sendiri. Ia menarik napas panjang, lalu menurunkan suaranya.

"Oke. Saya diam."

Ia tidak memaksa Naya menjawab. Hanya memastikan gadis itu tetap aman sampai napasnya perlahan kembali teratur

Namun detik berikutnya Naya kehilangan kendali lagi. Memukuli diri sendiri, bahkan lebih kuat dari sebelumnya.

​"Hei, sadar! Tenangin diri kamu!" seru Ibra sedikit keras, menarik kedua tangan Naya mendekat ke dadanya agar gadis itu terkunci dan berhenti bergerak.

​Namun, saat pergelangan tangan kiri Naya tertarik dan lengan kemejanya yang longgar tersingkap, pandangan Ibra mendadak terkunci di sana.

​Tanpa sadar Ibra menahan napasnya.

​Di kulit pergelangan tangan kiri Naya yang pucat, terukir berderet-deret bekas garis lurus, beberapa sudah memutih menjadi keloid kecil, dan beberapa lainnya tampak mengering.

​Cengkeraman jemari Ibra jadi mengendur. Perlahan, tenaga di lengannya menyusut drastis saat kenyataan pahit itu menghantam kesadarannya.

​Pikiran-pikiran mengerikan mulai berlalu-lalang di dalam kepalanya. Baru-baru ini Ibra hanya mengenal Naya sebagai gadis pendiam yang mudah diinjak dari divisi Administrasi. Ia tidak pernah tahu, bahwa perempuan di hadapannya menyimpan luka yang begitu dalam.

Kesadaran itu membuat dada Ibra terasa semakin berat.

Gadis ini sudah sangat rapuh. Dan semalam, Ibra dengan tidak sengaja telah memberatkan bebannya.

​Ibra membatu ditempat, sampai akhirnya dengan perlahan melepaskan pegangan tangannya dari pergelangan tangan Naya, membiarkan Naya menarik kembali tangannya.

Ibra bersandar pada jok pengemudi, menatap lurus ke kaca depan dengan napas berat dan mata yang dipenuhi ketakutan luar biasa akan kondisi perempuan di sampingnya.

Merogoh ponsel di saku dengan tangan yang sedikit gemetar, Ibra menekan nomor rekannya, meminta izin absen tidak masuk kantor hari ini karena ada urusan yang mendesak.

​Mobil Ibra kembali bergerak membelah jalanan, membawa mereka menjauh dari keramaian kota hingga berhenti di bawah sebuah jembatan sepi. Di depan mereka, aliran sungai bergerak tenang memantulkan sinar matahari pagi.

​Ibra mematikan mesin, turun, lalu membukakan pintu untuk Naya. Ia menarik lembut jemari Naya, membimbing gadis yang masih goyah itu untuk melangkah keluar tertatih.

​Keduanya kini berdiri berhadapan di tepi sungai. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah Naya yang pucat, namun gadis itu tetap gigih membuang muka, enggan menatap paras pria di depannya.

Untuk beberapa saat, Ibra hanya berdiri di sana.

Tidak mendekat, apalagi menyentuh, hanya berdiri dan memandangi.

Naya terus menatap sungai, membiarkan air matanya jatuh tanpa berusaha menghapus jejaknya.

"Saya nggak tahu harus bilang apa," ujar Ibra akhirnya.

Naya diam.

"Tapi saya tahu kamu marah."

Naya menggigit bibirnya, menahan tangis.

"Kalau kamu mau marah, marahlah."

​Ibra menggenggam satu tangan Naya, menariknya perlahan. "Pukul saya," ucap Ibra dengan suara dalam dan sarat penyesalan.

​Naya memalingkan wajahnya makin jauh, enggan merespons.

​"Pukul saya, Naya. Pukul saya," ulang Ibra menuntut, sengaja memancing emosi gadis itu agar semua rasa sakit dan sesak di dadanya terlampiaskan pada dirinya saja.

​Naya sebenarnya tidak ingin melakukannya, namun desakan dan pancingan Ibra yang terus-menerus meruntuhkan pertahanan dirinya. Dengan air mata yang menetes kian deras dan dada yang sesak luar biasa, Naya mengangkat tangannya.

​Bugh.

​Satu pukulan mendarat di dada bidang Ibra. Pelan, lalu pukulan berikutnya mulai mengencang.

​Bugh! Bugh!

​Kedua tangan Naya bergerak, memukul dada Ibra sekuat tenaga yang ia miliki. Pukulan emosional itu bertubi-tubi menghantam tubuh Ibra hingga pria itu melangkah mundur beberapa kali akibat dorongan tubuh Naya.

​Perempuan itu berteriak histeris, menumpahkan seluruh jeritan jiwanya yang runtuh. Tangisnya pecah menggelegar di bawah jembatan hingga kakinya tak sanggup lagi menopang tubuh.

Tepat saat Naya hampir ambruk ke tanah saking brutalnya memukul, Ibra dengan sigap merengkuh dan memeluk tubuh kecil itu erat-erat.

​"Aku takut... aku enggak mau hamil! Aku takut..." jerit Naya terisak-isak di dalam dekapan Ibra.

Ibra terdiam. Ia tidak mencoba mencari kalimat yang tepat. Karena tidak ada kalimat yang bisa menenangkan dalam situasi ini.

"Iya, Naya..." bisik Ibra lembut, mempererat pelukannya.

Hanya itu yang mampu ia katakan.

​"Aku masih mau kerja... Aku enggak mau hamil... Aku takut," adu Naya. Satu tangannya yang lemas masih terus memukuli dada Ibra tanpa arah. "Aku... aku gagal..."

Tangisnya semakin pecah. ​Pukulan-pukulan kecil itu mendarat lagi di dada Ibra, meninggalkan rasa nyeri yang menjalar, namun Ibra diam menahannya, sakit di dadanya tak ada apa-apanya dibanding sakitnya Naya sekarang ini.

​"Saya akan tanggung jawab," ikrar Ibra tegas di dekat telinga Naya.

​"Aku enggak mau! Aku enggak mauuu! Aku-aku mau pulang..." ratap Naya histeris, menyembunyikan wajahnya yang basah.

​"Apa pun yang terjadi, saya akan tanggung jawab," ulang Ibra, mengunci kalimat itu dalam janjinya.

​"Aku enggak mau hamil..." bisik Naya memohon pada takdir.

Ibra memejamkan mata sesaat. Tangannya tetap diam di punggung Naya, tidak bergerak lebih jauh.

"Enggak Naya, kamu enggak akan hamil." Lalu melanjutkan dalam hati, kalau hamil aku bakal tanggung jawab. Entah benar atau tidak kalimatnya, Ibra hanya berpasrah pada keadaan.

Di pagi itu, mereka belum tahu apa yang akan terjadi setelah ini.

Mereka bahkan belum benar-benar mengenal satu sama lain.

Namun satu hal sudah berubah. Mulai hari itu, hidup mereka tidak lagi berjalan seperti sebelumnya.

1
Agus Tina
Naya ...
Agus Tina
Ayolah Naya, Ibra ... putuskan cepat keburu perut Naya nggak bisa ditutupi lagi, apalagi modelan Naya hamil yg mualnya parah kayaknya ... berabe nanti kalau orang kantor sama orangtuanya menyadari perubahan itu ...
Agus Tina
Naya keras kepala sekali ...
Enz99
bagus sekali
Hosniyah Niyah
lanjut Thor ❤❤❤😘😘😘💞💞💞🥰🥰🥰👍👍👍👌👌👌
Agus Tina
Thor kutunggu up nya ...
Agus Tina
Naya, Ibra ... lama sekali kalian memutuskan .... greregaten banget
Agus Tina
Penasaran banget ... double up thor
Agus Tina
Ayolah Naya yg penting nikah aja dulu, nggak tinggal bareng juga gak pa2 sampai trauma kamu sembuh. Lama2 gregeten sama Naya ...
Makasih thor lanjut up ya
Agus Tina
Terimakasih sudah update ... ditunggu kelanjutannya
ronaaksara: terimakasih sudah rela menunggu🫶
total 1 replies
Agus Tina
Thor ,lama banget Naya ngambil keputusannya jadi pusing sendiri sama gregetan pakai banget ...
Aksara Nirmaya
akhirnyaa updateee, thanksss kakkk🫰
Aksara Nirmaya
kakkk kapannn updateeee😭😭
ronaaksara: haii, segera yaa. Masih sibuk rl😭😭
total 1 replies
Aksara Nirmaya
Ceritanya baguss, semangat kakk
ronaaksara: terimakasihhh, kamu juga yaa💪💪
total 1 replies
licy
alurnya sukaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!