NovelToon NovelToon
Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Penyesalan Suami / Mandul
Popularitas:198
Nilai: 5
Nama Author: Laras Jingga

Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*

Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.

Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*

Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**

Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:

*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21

Malam Berdarah di Puncak

Benda keras itu tidak mengenai kepala Sekar.

Bening menabrak tubuhnya dari samping. Mereka jatuh bersama di atas batu basah, sementara tongkat logam milik penyerang menghantam pintu gudang dengan bunyi memekakkan telinga.

"Masuk!" teriak Bening.

Sekar merangkak ke arah teras. Yulia berbalik cepat dan mengayunkan tongkat lagi. Bening menahan lengannya, tetapi sebuah pisau pendek muncul dari tangan yang lain.

Kilatan logam bergerak.

Bening mendesis. Darah langsung membasahi lengan jaketnya.

"Bening!"

"Lari, Bu!"

Sekar meraih pot bunga dan melemparkannya ke arah Yulia. Pot pecah di antara mereka, memberi Bening waktu untuk mundur. Namun Yulia lebih cepat. Ia menendang lutut Bening, lalu menerjang Sekar.

Lampu kendaraan menyapu halaman.

Suara rem terdengar dari jalan depan. Gerbang baru terbuka setengah ketika beberapa lelaki berlari masuk.

Yudha mencapai mereka lebih dulu. Ia menahan tangan Yulia yang memegang pisau. Penyerang itu memutar tubuh, melepaskan diri, lalu mengeluarkan senjata api kecil dari balik jaket.

"Senjata!" seru Yudha.

Arka mendorong Sekar ke balik dinding gudang saat letusan pecah. Peluru menghantam lampu teras dan membuat halaman gelap seketika.

Dalam kilatan terakhir, Sekar melihat Arka menangkap pergelangan Yulia. Senjata jatuh, tetapi perempuan itu menghantam wajahnya dengan siku. Dua prajurit menutup jalan ke gerbang. Yulia justru menerobos pagar samping yang sudah dipotong sebelumnya dan meluncur ke lereng gelap.

"Kejar sampai batas jalan!" perintah Arka. "Jangan lepaskan tembakan. Ada rumah warga."

Yudha memimpin pengejaran. Suara langkah mereka menghilang ke antara pepohonan.

Arka berbalik kepada Sekar. "Anda terluka?"

Sekar mencoba menjawab, tetapi giginya bergemeletuk. Ia menunjuk Bening yang terduduk sambil menekan lengan.

"Bening berdarah. Tolong dia."

Arka berlutut dan menekan kain bersih di atas luka. "Luka sayat. Yudha sudah memanggil ambulans. Tetap tekan di sini."

Sekar mengambil alih tekanan. Tangannya segera basah oleh darah hangat.

Ningsih dan Pak Djoyo berlari dari rumah. Ratna berdiri di pintu dengan wajah pucat. Di belakangnya, Eyang Darmi memeluk Nala dan Bimo yang baru terbangun.

Sore tadi Eyang Darmi membawa anak-anak mengantar makanan, lalu hujan dan longsor kecil menutup jalan turun. Arka sedang kembali dari pemeriksaan jalur logistik untuk menjemput mereka ketika mendengar letusan.

Nala menangis dan berusaha mendekati Sekar.

"Jangan keluar, Sayang," kata Eyang Darmi. "Ada pecahan kaca."

Bimo tidak menangis. Ia hanya berdiri kaku, kedua tangannya mengepal di samping tubuh.

Sekar menatap mereka dan baru menyadari penyerang tadi bisa saja mencapai rumah.

Rasa mual naik ke tenggorokannya.

"Bawa Bening ke ruang depan," kata Arka. "Pak Djoyo, matikan aliran listrik area gudang. Ningsih, jangan sentuh benda apa pun di halaman. Ini lokasi kejadian."

Semua orang bergerak mengikuti suaranya.

Ketika Sekar mencoba berdiri, kakinya tidak mampu menopang. Dunia miring. Arka menangkap bahunya sebelum ia jatuh.

"Saya bisa jalan," katanya.

"Bisa nanti. Sekarang tidak."

Arka mengangkatnya. Sekar sempat menegang, tetapi satu tangannya masih harus menahan kain pada luka Bening. Tidak ada ruang untuk berdebat.

Di ruang depan, Bening dibaringkan di sofa. Arka menurunkan Sekar di kursi sebelah, lalu memeriksa bahwa tekanannya tetap tepat. Ambulans tiba beberapa menit kemudian. Petugas membalut luka dan memastikan tidak mengenai pembuluh besar, tetapi Bening tetap harus dibawa untuk dijahit serta diobservasi.

"Saya ikut," kata Sekar.

Bening menggeleng. "Tidak, Bu. Tetap di tempat aman."

"Kamu terluka karena melindungiku."

"Dan pekerjaan saya belum selesai kalau Ibu keluar tanpa pengamanan."

Sebelum tandu dibawa, Bening menangkap jari Sekar. "Saya melihat wajahnya. Perempuan yang sama dari gudang Astarasa."

"Yulia," kata salah satu petugas yang memeriksa identitas pada pecahan kartu di halaman.

Nama itu tidak dikenal Sekar.

Arka berdiri di belakangnya. Suaranya berubah lebih dingin. "Kita cari tahu siapa yang membayarnya."

***

Petugas kepolisian setempat memasang garis pembatas. Yudha kembali tanpa Yulia, tetapi membawa tas kecil yang tersangkut di semak. Di dalamnya tidak ada identitas, hanya sarung tangan, tali hitam dengan pengait khusus, dan separuh ponsel yang retak.

Selongsong peluru ditemukan dekat pintu gudang. Nomor pada bagian dasarnya berbeda dari amunisi dinas yang dibawa rombongan Arka. Semua benda dimasukkan ke kantong bukti dan dicatat sebelum dipindahkan.

"Pagar dipotong dari luar beberapa jam lalu," lapor Yudha. "Dia mungkin sudah bersembunyi sebelum patroli tambahan berkeliling."

"Truk palsu kemarin membuat kami fokus pada gudang Astarasa," kata Sekar. "Sementara dia mempelajari Vila."

Seorang polisi meminta Sekar menceritakan urutan kejadian. Suaranya masih bergetar, tetapi ia menyebut waktu, posisi lampu, arah serangan, dan kata-kata yang didengar. Ningsih menyerahkan rekaman kamera hari-hari sebelumnya serta laporan tentang motor pengintai.

Petugas itu menanyakan apakah Sekar mempunyai konflik pribadi atau bisnis. Sekar menyerahkan daftar tanpa menyembunyikan nama Rendra, Kirana, Wida, Bambang, dan Pak Handoko, tetapi ia membedakan fakta dari dugaan.

"Saya sedang menjalani sengketa perkawinan dan aset," jelasnya. "Kirana pernah terhubung dengan vendor acara yang muncul dalam jejak awal. Saya belum melihat bukti bahwa dia memerintahkan serangan."

"Apakah ada ancaman tertulis?"

Ningsih menunjukkan pesan anonim, panggilan sunyi ke Ratna, dan log akun yang memantau jadwal gudang. Polisi menyalin semuanya ke media penyimpanan resmi dan memberi nomor penerimaan barang bukti.

"Jangan hapus perangkat asli," pesannya. "Kami akan meminta data operator dan kamera jalan melalui prosedur penyidikan."

Sekar menandatangani berita acara setelah membaca setiap halaman. Dulu tanda tangannya dicari untuk mengesahkan kehendak orang lain. Malam ini ia memakai tanda tangan yang sama untuk memulai pemeriksaan atas mereka.

Arka memperhatikan, lalu meminta Yudha memastikan timnya tidak menyentuh ponsel pecah sebelum petugas forensik mengambil alih. Pengaruhnya dipakai untuk menjaga prosedur, bukan menggantikannya.

Arka tidak menyela. Ia berdiri cukup dekat untuk menangkap Sekar kalau lututnya kembali lemah, tetapi membiarkan perempuan itu memberi keterangan sendiri.

Setelah polisi selesai, Yudha membuka laptop di ruang kerja. Ponsel yang pecah belum bisa diakses, tetapi satu kartu pembayaran dan bukti transfer kecil tersimpan di tas Yulia.

"Rekening penampung," katanya. "Dana masuk dari beberapa lapis akun. Salah satu perantara pernah bekerja untuk perusahaan keamanan yang menangani acara keluarga Wardhani."

Sekar menatap layar. "Kirana."

"Belum cukup untuk menyimpulkan," ujar Arka. "Kita punya arah, bukan bukti akhir."

Jawaban itu mengingatkannya kepada cara dr. Laksmi berbicara. Tidak memberi kesimpulan hanya karena kesimpulan tersebut terasa benar.

"Rendra mungkin juga terlibat," kata Sekar.

"Mungkin. Atau mungkin tidak tahu. Keduanya harus diperiksa."

Sekar mengangguk. Ia membenci bahwa sebagian kecil dirinya masih ingin percaya Rendra tidak akan memerintahkan kematiannya. Namun lelaki itu sudah membiarkan terlalu banyak hal terjadi tanpa bertanya.

Nala lolos dari pelukan Eyang Darmi dan berlari masuk.

"Mbak Sekar!"

Anak itu memeluk lututnya, menangis keras. Sekar membungkuk dan mengangkatnya ke pangkuan.

"Aku tidak apa-apa."

"Bening banyak darah."

"Dokter sedang menjahit lukanya. Dia orang yang kuat."

Bimo berdiri di ambang pintu. Ia tidak mendekat sampai Sekar mengulurkan tangan.

Anak itu berjalan pelan, lalu menggenggam dua jarinya.

"Orang jahat itu akan kembali?" tanyanya.

Sekar tidak tahu bagaimana menjawab tanpa berbohong.

Arka berjongkok di sisi mereka. "Tidak malam ini. Ayah dan Om Yudha menjaga di sini. Polisi juga bekerja."

"Ayah jangan pergi."

"Ayah tidak pergi."

Arka memandang Sekar saat mengucapkannya. Janji itu ditujukan kepada anak-anak, tetapi sesuatu di dada Sekar ikut merespons.

***

Menjelang pukul tiga pagi, dokter mengabarkan luka Bening sudah dijahit dan kondisinya stabil. Pak Djoyo membawa Ratna serta anak-anak ke kamar. Eyang Darmi beristirahat di kamar sebelah.

Sekar tetap duduk di ruang tamu. Darah Bening sudah dibersihkan dari tangannya, tetapi ia masih merasa hangatnya menempel di kulit.

"Minum." Arka menyerahkan cangkir teh manis.

Sekar memegangnya dengan kedua tangan agar tidak terlihat gemetar. "Mengapa Anda ada di jalan ini pada saat yang tepat?"

"Saya kembali dari jalur logistik dan hendak menjemput Eyang serta anak-anak."

"Kalau terlambat beberapa menit..."

"Jangan lanjutkan."

"Saya harus memikirkannya."

"Tidak malam ini. Tubuh Anda masih bereaksi terhadap syok. Tarik napas."

Arka duduk di kursi seberang, tidak terlalu dekat. Ia menunjukkan ritme napas dengan tenang sampai gemetar pada jari Sekar mulai berkurang.

"Seseorang benar-benar ingin saya mati," bisik Sekar.

"Ya."

Kejujuran itu menyakitkan, tetapi lebih menenangkan daripada hiburan palsu.

"Saya membawa bahaya ke rumah ini. Ada Ratna, Pak Djoyo, anak-anak Anda."

"Bahaya itu dibawa pelaku, bukan Anda. Jangan mengambil kesalahan mereka dan menaruhnya di pundak sendiri."

Sekar menunduk. Selama bertahun-tahun, setiap kesalahan orang lain selalu berakhir di pundaknya. Mendengar seseorang menolak pola itu membuat matanya panas.

Arka tidak memintanya berhenti menangis. Ia hanya meletakkan saputangan di meja, dalam jangkauan tangannya.

Setelah Sekar tertidur di kamar tamu, Arka tetap berada di ruang luar. Ia berbicara pelan dengan Yudha, tidak tahu pintu kamar belum tertutup sempurna.

"Periksa perantara, transfer, kamera jalan, dan hubungan Yulia dengan pihak Jakarta," katanya. "Saya tidak mau dugaan. Saya mau nama dan bukti yang bisa dibawa ke penyidik."

"Ada satu jalur awal, Komandan."

Yudha menyerahkan hasil penelusuran terbuka dari perusahaan keamanan. Sebuah pembayaran mengarah ke vendor acara yang berkali-kali dipakai keluarga Danuwijaya dan Wardhani.

Arka menatap baris itu. Wajahnya tidak berubah, tetapi suaranya turun satu tingkat.

"Cari siapa yang memberi perintah."

Di balik pintu, Sekar memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya setelah enam tahun, seorang lelaki melihat bahaya yang mengejarnya dan tidak bertanya apa yang telah ia lakukan untuk pantas mendapatkannya.

Arka hanya bertanya siapa pelakunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!