Setelah kehilangan ayah dan melihat ibunya terbaring koma, Karissa justru dikhianati oleh Louis, kekasihnya sendiri, yang berselingkuh dengan sahabatnya.
Dalam amarah dan rasa kecewa, Karissa mengambil keputusan nekat—menikahi ayah Louis.
Kini Karissa bukan lagi kekasih Louis, melainkan ibu tirinya.
Namun tinggal serumah dengan pria yang pernah dicintainya ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Louis membencinya, tetapi di saat yang sama, ia juga tidak rela kehilangan Karissa.
Karissa ingin membalas dendam. Tapi tanpa sadar, ia justru terjebak dalam permainan cinta yang ia mulai sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Menuntut Jawaban
Suara musik yang cukup keras terdengar dari belakang mereka. Lampu warna-warni terus berputar menghiasi ruangan.
Karissa menatap layar dengan sedikit iri.
Ingin rasanya ia bergabung bersama mereka. Tapi, apa boleh buat. Saat ini dirinya tidak bisa pergi ke mana-mana karena harus menjaga ibunya.
“Maaf, ya! ku tidak bisa! Ibu tidak ada yang menjaga,” jawab Karissa pelan.
Ada sedikit kekecewaan di wajahnya karena tidak bisa gabung bersama kedua sahabatnya, Davi dan Mona. Namun ia segera memperbaiki perasaannya.
“Kalian bersenang-senanglah!”
“Tidak seru ah, Karisss!” teriak Mona.
Davi mengerutkan kening. Lalu bertanya, “Kau di rumah sakit? Memangnya kakakmu pergi ke mana?”
“Karin pergi keluar! Jadi aku yang menjaga Ibu,” jawab Karissa.
“Kalian bersenang-senanglah! Lain kali, kalau ada waktu aku pasti ikut bergabung bersama kalian!”
Mona terlihat kebingungan. Matanya bahkan tidak fokus dan sesekali menatap ke samping.
“Datanglah sebentar saja! Biar Davi jemput kau sekarang, ya? Kariss ... please!”
Mona terus memohon.
Namun, sebelum Karissa sempat menjawab, tiba-tiba terdengar suara seorang pria dari belakangnya.
“Pergilah! Di sini ada suster yang bisa menjaga ibumu!”
"Eh ...." Karissa terkejut.
Ia segera menoleh ke belakang. "Dokter! Sejak kapan kau di sini?"
Pria itu adalah Dokter Kevin, salah satu dokter yang menangani ibunya Karissa.
“Aku baru selesai memeriksa pasien, lalu melihat kau sedang duduk, jadi aku kemari!”
Dokter Kevin kemudian duduk di samping Karissa.
“Pergilah,” katanya lagi. “Kau harus mencari hiburan. Jangan terus berdiam diri di rumah sakit. Itu bisa membuatmu stres!”
Karissa hanya diam.
“Aku tahu selama satu minggu ini kau terus menjaga Ibu tanpa istirahat yang cukup. Makan pun tidak teratur,” lanjut Dokter Kevin dengan penuh perhatian.
“Aku khawatir, kalau hidupmu seperti ini terus, kau bisa jatuh sakit!”
Sebenarnya, bukan hanya satu minggu ini dokter itu melihat Karissa berada di rumah sakit. Namun sudah dari tiga bulan lalu ia sering melihat Karissa datang dan menjaga ibunya tanpa mengenal lelah.
“Tidak apa-apa! Aku baik-baik saja,” jawab Karissa sambil tersenyum tipis.
Ia kembali menatap layar ponselnya. Davi dan Mona masih ada di layar ponsel.
“Kalian lanjutkan saja! Aku matikan teleponnya dulu, ya?”
“Tidak! Jangan, Karissss!”
Mona langsung panik.
“Davi jemput kau sekarang, ya! Tunggu di sana, jangan ke mana-mana! Davi segera OTW!”
“Eh ....”
Karissa menoleh ke samping.
Dokter Kavin justru tersenyum sambil mengangguk kecil.
“Pergilah,” bisiknya.
Tiba-tiba sambungan telepon terputus.
Karissa menatap layar ponselnya yang sudah gelap. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain diam, menunggu Davi datang menjemputnya.
***
Pukul sembilan lewat lima belas menit.
Karissa dan Davi sudah sampai di klub malam. Davi segera membawanya ke ruangan VIP yang berada di lantai dua.
“Masuklah! Mona ada di dalam,” ucap Davi sambil membuka pintu.
Ia mengisyaratkan Karissa untuk masuk terlebih dahulu.
Tanpa rasa curiga, Karissa melangkahkan kakinya ke dalam ruangan.
Baru dua langkah ia masuk, tiba-tiba ....
Brak!
Pintu ditutup oleh Davi.
Karissa langsung berbalik.
“Davi?”
Klik!
Pintu itu dikunci dari luar.
Mata Karissa membesar.
Ia segera menarik gagang pintu, tetapi tidak bisa dibuka.
“Hey, Davi! Apa yang kau lakukan?”
Karissa mulai panik.
“Jangan bercanda! Ini sama sekali tidak lucu!”
“Cepat, buka pintunya!”
Dor! Dor! Dor!
Karissa terus menggedor pintu.
Dari luar, terdengar pria itu berbicara, “Kariss ... bersenang-senanglah!”
Lalu langkah kakinya terdengar menjauh.
“Apanya yang bersenang-senang?”
Karissa memukul pintu.
“Kau mengurungku di dalam ruangan ini! Bukannya senang, malah semakin setres!”
“Davi! Buka pintunya!”
Karissa kembali menarik gagang pintu. Tetap tidak bergerak.
“Aish, sial!”
Tidak ada lagi suara Davi dari balik pintu.
Dengan frustrasi, Karissa menendang pintu tersebut. Namun, tentu saja tidak membuahkan hasil. Akhirnya ia berbalik dan berjalan menuju sofa yang ada di dalam ruangan.
Tidak ada gunanya terus berteriak. Toh temannya sudah pergi.
Ruangan berukuran sekitar tiga kali empat meter itu terlihat sangat redup. Hanya cahaya samar dari beberapa lampu warna-warni yang menerangi ruangan.
Karissa terus berjalan sampai ke sofa panjang. Namun ketika baru hendak akan duduk, tiba-tiba langkahnya terhenti.
Di sofa sebelah, ada seorang pria berpakaian serba hitam duduk sambil menyilangkan kaki. Kepulan asap rokok keluar dari mulutnya. Aura dingin pria itu langsung memenuhi ruangan.
Karissa membeku.
“Louis?”
Tatapannya berubah menjadi bingung.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
Karissa perlahan mendekat.
Tiba-tiba sebuah dugaan muncul dalam pikirannya.
“Apa kau yang meminta Mona dan Davi untuk membawaku kemari?”
Ia menatap pria itu dengan penuh kecurigaan.
Karissa baru menyadari semuanya.
Awalnya ia mengira Davi dan Mona benar-benar ingin mengajaknya bersenang-senang malam ini. Tapi setelah melihat anak tirinya juga ada d sana, ia tahu kalau mereka bersekongkol menjebaknya.
Dan sekarang, ia dikurung di dalam ruangan ini bersama Louis.
‘Sahabat macam apa mereka?’
Louis membuang puntung rokoknya ke dalam asbak. Kemudian, ia bangkit berdiri. Perlahan, pria itu berjalan menghampiri Karissa.
Tatapannya dingin. Tidak ada sedikit pun senyum di wajahnya.
“Kenapa tadi siang ll tidak datang ke restoran yang ada di samping rumah sakit?”
Suaranya terdengar sangat dingin.
“Apa kau tidak mendengar ucapanku?”
Karissa terdiam.
Padahal, siang tadi Louis sudah mengatakan agar mereka bertemu di restoran. Louis bahkan sudah pergi ke sana dan memilih ruangan VIP untuk mereka.
Ia ingin berbicara baik-baik dengan Karissa. Namun, wanita itu tidak datang. Louis menunggunya hingga pukul enam sore. Karissa tetap tidak muncul.
Ketika Louis mencoba menelepon lagi, ia justru mendapati nomor teleponnya sudah diblokir.
Kalau bukan dengan cara ini, harus dengan cara apa lagi agar wanita itu mau menemuinya?
“Karissa!”
Louis semakin mendekat.
Tangannya terangkat dan mencengkeram dagu wanita itu, memaksanya menatap langsung ke arahnya.
“Kenapa sekarang kau berubah menjadi wanita yang pandai berbohong?”
Tatapan Louis tajam.
Sementara Karissa hanya menatapnya dengan penuh kemarahan.
Untuk sesaat, mereka berdiri begitu dekat. Tidak ada lagi orang lain yang bisa menjadi penengah. Hanya ada mereka berdua. Dan semua kebohongan yang selama ini disembunyikan Karissa, perlahan mulai menuntut jawaban.