NovelToon NovelToon
Terbangun Jadi Istri Pei

Terbangun Jadi Istri Pei

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Sebuah kecelakaan membuat Alya terbangun di Dinasti Shue, ratusan tahun sebelum zamannya, dalam tubuh Shen Yueli, seorang putri bangsawan yang telah menikah dengan Pei Chanqing, jenderal dari kediaman militer.

Sebagai mahasiswi Sastra China, Alya memang mengenal sejarah negeri itu. Namun hidup di dalamnya adalah perkara berbeda.

Terlebih, pernikahan mereka bukan karena cinta, melainkan sebuah pernikahan politik antara dua kediaman militer.

Kini Alya harus belajar menjadi pengantin dari zaman kuno, sementara sang suami sama sekali tidak berniat mencintainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3—Kau Harus Minta Maaf

Keheningan turun di dalam paviliun, kekehan pelan Shue Hao terdengar menggema di balik keterdiaman seluruh tamu. Tangannya bertepuk pelan.

"Selamat, Tuan Pei. Karena..." Pria itu melirik ke arah Shen Yueli, "...menikahi putri keluarga Shen."

"Terima kasih, Yang Mulia."

Beberapa gadis bangsawan tampak melirik iri, mendengus kecil seolah kecewa. Namun, Shen Yueli tidak merasakan hal yang sama; ia justru dilingkupi rasa takut saat matanya bersiborok dengan tatapan Pei Chanqing. Suara deheman sang putra mahkota terdengar, membuatnya buru-buru menoleh dan mendapati sang calon penerus takhta berjalan mendekat. Calon istrinya masih berada di samping Shue Hao, bergelayut manja di tengah sisa rasa takut, sementara sebersit tatapan terpesona tampak samar terarah pada Pei Chanqing. Shen Yueli menangkap senyum puas di wajah gadis dari marga Cheng itu.

"Tapi, Tuan Pei, ada hal yang ingin kukatakan..." Suara putra mahkota menggelegar. "Shen Yueli baru saja terjatuh ke kolam."

Shen Yueli menundukkan kepalanya dengan khidmat, menyimpan rasa canggung yang teramat sangat di dalam dada. Mengingat bahwa di masa depan sang jenderal akan memiliki sepuluh selir, ia telanjur yakin bahwa posisinya kelak hanyalah pajangan—ia tak akan pernah dipedulikan.

Namun, alih-alih bentakan atau tatapan dingin yang ia antisipasi, sebuah pelukan hangat mendadak melingkar di pundaknya. Wanita paruh baya yang tadi datang bersama Pei Chanqing mendekapnya erat.

"Kau baik-baik saja, Nak?" tanyanya lembut.

Dahi Shen Yueli mengerut seketika. Jiwa Alya di dalam tubuh itu langsung berputar cepat, menggali tumpukan ingatan si pemilik asli. Sosok di hadapannya ini bukanlah orang sembarangan—beliau adalah Nyonya Besar Pei, ibu kandung Pei Chanqing.

Shen Yueli menganggukkan kepalanya pelan, mencoba bersuara tenang. "Saya tidak apa-apa, Nyonya."

"Panggil aku ibu," bisik wanita paruh baya itu tepat di telinganya, menyalurkan kehangatan yang kontras dengan dinginnya suasana paviliun.

Di saat bersamaan, suara bariton Pei Chanqing memecah ketegangan, bernada datar namun menusuk tajam. "Syukurlah Nona Shen Yueli selamat. Jadi, apa yang sebenarnya ingin Anda sampaikan, Yang Mulia? Apakah perihal aksi penyelamatan? Jika benar, hamba akan dengan senang hati memberikan apresiasi berupa beberapa tael emas bagi siapa saja yang telah menolong calon istri hamba."

Seketika, seluruh paviliun bergeming sebelum berubah riuh dengan bisikan-bisikan tertahan. Shue Hao tampak terkejut, tangannya terkepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, sementara gadis marga Cheng di sampingnya tersentak kaget.

"Tuan Pei... Masalahnya..." Putri bangsawan Cheng mencoba menyela dengan suara bergetar. Namun, Shue Hao langsung meliriknya sekilas, memberikan isyarat tegas agar calon istrinya itu menutup mulut.

"Tapi, Tuan Pei, inti masalahnya adalah rumor yang beredar bahwa calon istrimu itu sengaja menyelupkan diri karena cemburu," tukas Shue Hao dengan gigi terkatup. "Hari ini, aku ingin ia meminta maaf secara terbuka di depan semua orang karena telah mencemarkan nama baik."

Pei Chanqing terdiam sejenak sebelum menjawab dengan nada datar yang menusuk. "Jika ia sengaja menceburkan diri, ia seharusnya tidak selamat."

"Itu karena ia ingin mencemarkan nama Putri Bangsawan Cheng!" Shue Hao menyela, urat-urat lehernya tercetak jelas. Mata pria itu berusaha tampak tenang, tetapi kemarahannya yang kian kentara tidak bisa disembunyikan.

Di seberangnya, Pei Chanqing justru tetap bergeming. "Jika memang ada masalah di antara mereka, hal itu harus diselesaikan sekarang. Anda baru mendengar dari satu versi, yaitu Bangsawan Cheng." Mata sang jenderal beralih menatap tajam ke arah sang calon putri mahkota. "Saya menghargai kedudukan Anda, tetapi sebagai calon penerus takhta, sudah seharusnya Anda mendengarkan dari kedua belah pihak."

Shue Hao terkelu lidahnya; jawaban telak dari Pei Chanqing seolah membuat tubuhnya membeku. Wajah sang pangeran kian kaku.

"Apakah hamba boleh membela diri, Yang Mulia?" tanya Shen Yueli. Ia memberanikan diri melangkah satu langkah ke depan, merasa mendapatkan sandaran kokoh dari sikap Pei Chanqing.

"Ten... ten... tu," jawab Shue Hao terbata-bata.

"Yang Mulia, hamba memiliki bukti," ujar Shen Yueli sambil menundukkan kepalanya khidmat.

"Bukti?! Kau tidak bilang kalau punya bukti!" sergah Putri Bangsawan Cheng cepat, nada suaranya meninggi karena panik.

"Yang Mulia..." Shen Yueli melanjutkan, memanfaatkan pecahan memori sang pemilik tubuh asli. "Beberapa menit sebelum tragedi, adikku, Shen Xuer, dan aku berada di dekat taman. Ketika Xuer pamit undur diri karena gaunnya kotor, aku berpapasan dengan Putri Bangsawan Cheng. Ia menawarkan secangkir minuman penyegar kepadaku, dan begitu aku meminumnya, pandanganku seketika berputar."

"Ia... ia berbohong!" pekik Putri Bangsawan Cheng.

"Apakah kau dapat membuktikannya?" tantang Shue Hao.

Shen Yueli mendongakkan kepalanya mantap. "Anda dapat memeriksa dayang istana yang bertugas di paviliun barat, atau pelayan pribadi yang membantuku."

"Lalu?"

"Setelah aku kehilangan kesadaran, mereka menyeretku ke dekat kolam. Dan bukti fisik yang hamba maksud..." Shen Yueli merogoh lengan jubahnya, menarik keluar sebuah benda, "...berada di dalam genggamanku saat aku sadar di dalam air."

Shen Yueli membuka telapak tangannya. Sebuah tusuk konde berukiran rumit dengan hiasan batu giok terpampang nyata di bawah temaram cahaya lentera paviliun.

Semua mata langsung beralih mengamati sang bangsawan wanita. Benar saja, tatanan rambut Putri Bangsawan Cheng tampak tidak lengkap; tusuk konde utama yang biasa menghiasi sanggulnya raib tanpa jejak. Sementara itu, kilau emas kekuningan pada tusuk konde di tangan Shen Yueli memantulkan cahaya dengan jelas. Bisik-bisik langsung merebak di antara para tamu undangan.

"Bukankah itu tusuk konde yang secara khusus dipesan oleh Putra Mahkota..."

"Benar... Itu adalah hadiah lamaran yang diberikan kepada Putri Bangsawan Cheng."

"Astaga, aku ingat betul wanita itu memamerkannya minggu lalu."

Sebuah senyum tipis terbit di bibir Shen Yueli, merasa puas melihat Shue Hao yang kini terdiam kaku bagai batu. Tangan pangeran itu terkepal erat; bukti sudah di tangan, dan kronologi peristiwa telah telak memojokkan mereka.

Seketika, tatapan mata tajam Shen Yueli beralih kepada Putri Bangsawan Cheng. Wanita itu tampak mengeratkan cengkeramannya di lengan sang putra mahkota, lalu melangkah mundur secara perlahan, berusaha menyembunyikan diri di balik tubuh tegap sang penerus takhta yang kini kehilangan kata-kata.

"Yang Mulia, bagaimana menurut Anda?" tanya Shen Yueli, memecah kesunyian dengan suara yang tenang namun menusuk.

Putri Bangsawan Cheng mulai gemetar di tempatnya berdiri. "Tapi... ini... tidak seperti ini..." Air mukanya berubah pucat pasi, menunjukkan ketakutan yang teramat sangat.

"Nona, bukankah Anda sendiri yang seharusnya meminta maaf karena membuat kekacauan di pesta Putri Agung? Menyebarkan rumor palsu, lalu mencelakai putri dari keluarga bangsawan lain?" Pei Chanqing menimpali, suaranya yang berat kian mendesak situasi ke ujung tanduk.

Seolah sadar bahwa situasi tidak lagi bisa dikendalikan, sang nyonya rumah—Putri Agung yang memimpin jamuan—melangkah maju. Wajahnya yang tegas dan sorot matanya yang tajam menghunus langsung mengunci pasangan di hadapannya.

"Putri Bangsawan Cheng, di hadapan para tamu kehormatan, sebaiknya Anda segera meminta maaf padanya," perintah Putri Agung tanpa bantahan.

Putri Bangsawan Cheng terdiam kaku. Shue Hao di sampingnya pun hanya bisa membisu, kehilangan seluruh wibawa dan kemampuan untuk memberi pembelaan.

"Minta maaflah," desak Putri Agung sekali lagi dengan nada yang lebih dingin.

Wajah wanita bermarga Cheng itu memerah padam, dadanya naik turun menahan amarah dan rasa malu yang membakar. Dengan langkah berat dan air mata yang hampir tumpah, ia terpaksa maju.

"Shen Yueli, aku minta maaf," ucapnya pelan nyaris seperti berbisik.

Shen Yueli menanggapinya dengan tawa kecil yang sinis. "Maaf, suara Anda terlalu pelan. Hamba tidak mendengarnya."

"Shen Yueli, aku minta maaf!" Suaranya sedikit mengeras, meski nada gemetar sarat akan kebencian masih sangat kentara.

Shen Yueli maju selangkah, lalu dengan gerakan ringan yang penuh sindiran, ia menepuk bahu wanita yang digadang-gadang akan menjadi pengurus harem kekaisaran kelak.

"Anda akan menjadi pendamping utama di istana, Yang Mulia. Seharusnya Anda belajar mengendalikan rasa cemburu murahan itu," ujarnya berbisik cukup tajam agar hanya mereka berdua yang mendengarnya.

Ia kemudian mundur beberapa langkah perlahan. Di sisinya, Shen Xuer segera mendekat, menyandarkan tubuh dengan senyum puas tersungging di bibirnya sambil berbisik, "Kakak benar-benar luar biasa berani hari ini."

...----------------...

1
Biyan Narendra
jangan jangan ada kaitannya dgn Xuer..
udah susah makin susah ini mah
Quinza Azalea
terimakasih othor💪
Biyan Narendra
Karma yg tak salah tempat
Ana Dww: Karena bawa alamat asli kak
total 1 replies
Biyan Narendra
Ketika takdir berpihak dengan benar
Ana Dww: 👻 takdir selalu menemukan jalan pulang
total 1 replies
Quinza Azalea
next
Ana Dww: Cuss update kak, sabar lagi direview❣️
total 1 replies
Quinza Azalea
bagus
Quinza Azalea
di tunggu upnya thor💪
Ana Dww: Hai kak ❣️ Harap bersabar malam ini aku up yaa
total 1 replies
Biyan Narendra
Xuer kurang cerdas
Akhirnya terjebak ambisi sendiri
Ana Dww: Orang tamak memang harus dihajar
total 1 replies
Biyan Narendra
Insting tajam seorang Yueli
Ana Dww: harus donggg,
total 1 replies
Biyan Narendra
cinta yg tumbuh karena saling memanfaatkan
Ana Dww: Kita butuh simbiosis mutualisme
total 1 replies
Biyan Narendra
Xuer..
Berharap jadi selir atau gimana..
etdaaah
Ana Dww: dia mau jadi.......
total 1 replies
Biyan Narendra
Bikin kontrak perjanjian pernikahan segala
🤭🤭🤭🤭
Ana Dww: Biar gak rugi" amat nikah sama orang dengan masa depan 10 selir 🤣🤣🤣
total 1 replies
Biyan Narendra
Udah kayak artis kita ga sih
🤣🤣
Ana Dww: Siapa oiii
total 1 replies
Biyan Narendra
Banyak pertunjukkan drama dari dua wanita saingan Yueli
Ana Dww: Cusss kak, baca selanjutnyaaaa😂 Meski perjalanan kapal ini seperti belum lepas landas. Semoga kalian yang bacakuat buat slowburnnya yaaa...
total 1 replies
Biyan Narendra
bonus vote
Ana Dww: ❣️ Terimakasih banyak atas dukungannya
total 1 replies
Biyan Narendra
Author mau lgi
🤭🤭🤭
Ana Dww: Sabar kakkkk👻👻👻 Ntar aku update pantengin yaaa
total 1 replies
Biyan Narendra
next thor
seruuu
Ana Dww: Siappp kakkk
total 1 replies
Biyan Narendra
next thor
Ana Dww: Hai kak, selamat mampir lagi ke cerita baruku❣️Siappp gass
total 1 replies
Pa Muhsid
uget uget dan ulat burik mulai menampakan wujud nyata untuk berubah jadi siluman rubah
Ana Dww: 🤣Betul Juga
total 3 replies
Arix Zhufa
wanita cerdas...persetan dengan cinta yg penting duit😄
Ana Dww: Pokoknya duiiitttt
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!