NovelToon NovelToon
Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Menantu Pria/matrilokal
Popularitas:60
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.

Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.

Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.

Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33 — Menutup Jebakan

"Kalau ujung jalannya benar menuju Reno, besok kita hitung keduanya."

Pagi berikutnya, Raka tidak langsung memanggil Galih.

Ia dan Beni lebih dulu menemui Pengacara Wisnu, menyerahkan salinan read-only CCTV ruang dokumen, log kartu masuk, login, verifikasi ponsel, peringatan ekspor, daftar file yang disalin, serta pesan yang masuk ke nomor prospek sintetis.

Wisnu membaca semuanya tanpa terburu-buru.

"Formula simulasi bukan rahasia produksi yang dapat dipakai," katanya. "Tapi tindakan menyalin dokumen berlabel terbatas tanpa izin tetap relevan. Lebih penting, jadwal internal nyata sudah bocor dan perjanjian kerahasiaan berlaku."

"Jalur pidananya?" tanya Beni.

"Kita laporkan dugaan pelanggaran rahasia dagang, penyalahgunaan akses, dan perbuatan lain yang sesuai faktanya. Jangan memaksakan istilah penggelapan kalau unsur bendanya tidak cocok. Penyidik yang menilai."

Raka menandatangani pengaduan sebagai pemegang kepentingan usaha. Ia tidak mengunggah apa pun ke media sosial.

Siang itu, Galih datang sesuai jadwal kerja. Kartunya dapat membuka pintu depan, tetapi seluruh akses digitalnya telah dibekukan.

"Sistem gue error," katanya.

"Duduk dulu," jawab Raka.

Di ruang rapat kecil, Beni dan Wisnu sudah menunggu. Kamera rapat dinyalakan setelah Galih diberi tahu dan persetujuannya dicatat. Pintu tetap terbuka.

Galih melihat wajah mereka. "Ini apa?"

Raka meletakkan satu lembar di meja.

"Tanggal delapan belas."

"Apa?"

"Jadwal pelatihan fiktif. Hanya muncul pada versi G3."

Wajah Galih tidak berubah, tetapi kakinya berhenti bergerak.

Beni menampilkan pesan ke nomor sintetis. Pihak luar menawarkan tanggal dan kode yang sama. Lalu muncul log akses pukul 23.18, verifikasi dari ponsel Galih, kartu masuk malam berikutnya, dan rekaman dirinya memasang U-disk.

"Komputer bersama," kata Galih. "Siapa pun bisa pakai akun saya."

"Verifikasi masuk dari ponselmu," jawab Beni.

"Ponsel bisa dipinjam."

"Lalu orang itu meminjam kartu akses, wajah, helm, dan jaketmu juga?"

Rekaman CCTV berhenti pada wajah Galih di bawah lampu ruang dokumen.

Ia menoleh kepada Raka. "Lo sengaja menaruh file palsu. Lo menjebak gue."

"Gue tidak pernah menyuruh lo menyalin."

"Kalau datanya palsu, tidak ada kerugian."

Raka menggeser surat dari calon mitra yang lebih dulu menerima penawaran pesaing. Di sana tercantum jadwal internal asli yang hanya tersedia sebelum akses nyata Galih dicabut.

"Ini kebocoran pertama," katanya. "File sintetis dipakai untuk mengetahui jalurnya. Data klien asli tidak dijadikan umpan."

Wisnu membuka perjanjian kerja.

"Bapak Galih sudah menyetujui larangan ekspor, kerahasiaan jadwal, data mitra, formula, dan pemasok. Apakah Bapak menyangkal orang dalam rekaman adalah Bapak?"

Galih diam.

"Apakah Bapak menyangkal U-disk yang terlihat adalah milik Bapak?"

"Saya mau bicara dengan pengacara."

"Itu hak Bapak," kata Wisnu. "Pertemuan ini berhenti di sini."

Raka tidak memaksa pengakuan. Ia menyerahkan surat pembebastugasan sementara sesuai klausul investigasi, daftar aset Studio yang harus dikembalikan, dan saluran untuk pendamping hukum.

Dua penyidik yang telah menerima laporan datang beberapa menit kemudian. Mereka tidak memborgol Galih untuk tontonan kantor. Mereka menjelaskan undangan pemeriksaan, hak didampingi penasihat hukum, dan dasar permintaan membawa perangkat yang disebut dalam laporan.

Galih sempat menggenggam saku jaket tempat U-disk berada.

Wisnu tidak menyentuhnya.

Setelah berbicara melalui telepon dengan penasihat hukum yang dipilihnya, Galih mengikuti prosedur. U-disk dan ponsel dicatat dalam berita acara penyitaan/pemeriksaan sesuai langkah yang disetujui penyidik dan kuasa hukumnya.

Di dalam mobil menuju tempat pemeriksaan, Galih mencoba menghubungi nomor staf Nexora.

Nomornya sudah tidak aktif.

Pada saat yang sama, Reno berdiri di ruang rapat bersama kepala hukum internal.

"Putus kontrak vendor itu," katanya.

"Pembayaran tahap pertama sudah keluar dari perusahaan perantara."

"Nyatakan pekerjaan gagal verifikasi. Galih bertindak untuk kepentingan pribadi. Nexora tidak pernah memintanya mengambil data."

"Dia pernah bertemu Anda."

Reno menatap kepala hukum. "Tidak ada agenda, rekaman, atau akses ponsel dalam pertemuan itu."

"Kesaksian tetap ada."

"Kesaksian orang yang sedang menyelamatkan diri."

Kepala hukum tidak menjawab. Reno memang membuat jarak, tetapi setiap lapisan yang dipakai untuk bersembunyi juga menghasilkan orang baru yang suatu hari dapat bicara.

Di ruang pemeriksaan, Galih awalnya tetap menyangkal.

Pemeriksaan forensik dasar menemukan berkas G3 pada U-disk, waktu penyalinan yang sesuai log Studio, dan salinan brosur pihak penerima. Di ponselnya terdapat percakapan pembayaran dari perusahaan perantara serta lokasi pertemuan di gedung Nexora. Tidak ada pesan langsung dari Reno.

Penyidik menunjukkan alurnya.

"Siapa yang meminta data ini?"

"Konsultan."

"Nama?"

Galih menyebut perusahaan perantara.

"Siapa yang Anda temui?"

Ia menunduk lama.

Utangnya belum dibayar. Nomor kontak mati. Kontraknya sudah diputus. Orang yang menyuruhnya mengikuti pemenang meninggalkannya sendirian dengan barang bukti.

"Reno Wijaya," katanya akhirnya. "Dia ada di ruang itu."

Keterangan tersebut dicatat, tetapi tidak otomatis membuktikan Reno sebagai pelaku. Penyidik tetap memerlukan aliran dana, komunikasi, saksi, dan hubungan perusahaan.

Galih diperiksa lebih lanjut. Setelah gelar perkara awal atas bukti digital, perjanjian kerahasiaan, kebocoran jadwal nyata, dan penguasaan file tanpa izin, status hukumnya dinaikkan sesuai proses. Keputusan penahanan mempertimbangkan risiko menghilangkan barang bukti dan ketentuan yang berlaku, bukan permintaan Raka.

Raka tidak merayakan.

Ia mengumpulkan empat mitra awal melalui panggilan video. Beni menunjukkan hasil audit: tidak ada data pelanggan nyata yang keluar setelah akses ditutup; formula produksi lengkap tidak pernah berada dalam satu akun; register cap tetap aman.

"Mengapa kami harus percaya setelah ada orang dalam?" tanya satu mitra.

"Jangan percaya karena saya bicara," jawab Raka. "Periksa audit independen, daftar akses, dan perubahan sistem."

Studio memblokir ekspor USB pada perangkat kerja, mewajibkan persetujuan ganda untuk berkas terbatas, memisahkan data klien dari modul pelatihan, serta membuat pemberitahuan insiden tertulis. Semua pekerja menjalani ulang pelatihan kerahasiaan. Tidak ada hukuman kolektif atau pemotongan upah.

Keempat mitra memilih tetap lanjut.

Satu bengkel yang sebelumnya menolak somasi juga menandatangani penghentian penggunaan foto dan membayar penyelesaian terukur melalui perjanjian. Mereka belum otomatis diterima sebagai mitra; tes keselamatan tetap wajib.

Krisis yang dimaksudkan untuk meruntuhkan Studio justru membuat tata kelolanya lebih kuat.

Beberapa hari kemudian, melalui akses berkas yang diizinkan bagi pihak pelapor dan kuasa hukumnya, Wisnu menunjukkan bagian keterangan Galih kepada Raka. Nama Reno tercantum sebagai orang yang hadir dan memberi arahan, tetapi kolom bukti pendukung masih penuh catatan tindak lanjut.

"Keterangan ini belum cukup menjerat dia," kata Wisnu.

"Saya tahu."

"Perusahaan perantara mengaku Galih menawarkan jasa sendiri. Nexora menyangkal. Aliran uang berhenti satu lapis sebelum kantor Reno."

Raka menutup salinan. Ia tidak memotret atau menyebarkannya.

"Kali ini dia masih bisa bersembunyi di balik orang lain," katanya. "Tapi nama itu sudah masuk catatan."

Ia menatap satu baris bertuliskan Reno Wijaya.

"Suatu hari, semua utangnya akan dia bayar sekaligus."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!