NovelToon NovelToon
Tunangan Palsu Tuan Muda Mafia

Tunangan Palsu Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: lizzy Bae

Anya, seorang wanita biasa yang hidupnya tenang, terpaksa terjebak dalam kesepakatan berbahaya untuk menjadi tunangan palsu Kenji, Tuan Muda dari klan mafia paling ditakuti, selama enam bulan demi melunasi utang ayahnya.
Rencananya tampak sederhana, hanya perlu berpura-pura jatuh cinta di depan publik, namun Anya segera menyadari bahwa hidup di sisi Kenji berarti menghadapi dunia yang gelap dan mematikan, di mana pengkhianatan, pertumpahan darah, dan ancaman dari geng rival menjadi makanan sehari-hari.
Anya harus berjuang bertahan hidup di jaring kekejaman mafia sambil melawan perasaan terlarang yang mulai tumbuh untuk pria berbahaya yang hidupnya selalu berlumuran darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Anya duduk di tepi ranjangnya dengan napas yang terasa berat.

Dia baru saja melepaskan gaun malamnya dan menggantinya dengan piyama tidur.

Kalung berlian yang berat itu sudah dia letakkan kembali ke dalam kotaknya.

Anya menyingkap lengan piyamanya ke atas untuk melihat kondisi lengan kanannya.

"Ugh, memarnya ternyata cukup parah," batin Anya sambil meringis pelan.

Terdapat jejak cengkeraman tangan berbentuk keunguan yang sangat jelas di kulit putihnya.

Dia mengambil sebuah kotak P3K kecil yang dia temukan di laci nakas siang tadi.

Anya mencoba mengoleskan salep pereda nyeri ke lengannya dengan tangan kiri.

Cklek.

Suara pintu penghubung terbuka membuat gerakan tangan Anya terhenti seketika.

Kenji melangkah masuk ke kamarnya dengan kemeja hitam yang lengannya sudah digulung sampai siku.

Pria itu memegang sebuah gelas berisi cairan berwarna kuning keemasan.

"Kau sedang apa?" tanya Kenji dengan nada suaranya yang selalu datar.

Anya buru-buru menurunkan lengan piyamanya untuk menyembunyikan memar tersebut.

"Tidak ada apa-apa, aku hanya bersiap untuk tidur," jawab Anya cepat.

Kenji meletakkan gelasnya di atas meja kecil lalu berjalan mendekati ranjang Anya.

Tatapan mata pria itu tertuju lurus pada kotak P3K yang terbuka di sebelah Anya.

"Kau pembohong yang sangat buruk, Anya."

Kenji duduk di tepi ranjang tepat di sebelah gadis itu.

Dia meraih tangan kanan Anya tanpa meminta izin terlebih dahulu.

Sret.

Kenji menggulung lengan piyama Anya ke atas, memperlihatkan memar keunguan yang mencolok itu.

Rahang Kenji kembali mengeras saat melihat bukti kekasaran Rudi beberapa jam yang lalu.

"Aku bisa mengobatinya sendiri, ini tidak terlalu sakit kok," ucap Anya mencoba menarik tangannya.

Tapi cengkeraman Kenji di pergelangan tangan Anya cukup kuat untuk menahannya.

"Diam dan biarkan aku yang melakukannya," perintah Kenji mutlak.

Pria itu mengambil salep dari tangan Anya dengan tangan kirinya.

Dia mengoleskan salep dingin itu ke atas memar Anya dengan gerakan yang sangat pelan dan hati-hati.

Anya menahan napasnya merasakan sentuhan jari Kenji di kulitnya.

Sentuhan pria ini ternyata bisa terasa begitu lembut, berbanding terbalik dengan sifat aslinya yang kejam.

"Maafkan aku," ucap Kenji tiba-tiba memecah keheningan di antara mereka.

Anya mengerjapkan matanya karena sangat terkejut mendengar kata maaf dari mulut Tuan Muda mafia ini.

"Untuk apa kau meminta maaf?" tanya Anya pelan.

"Karena aku lengah dan membiarkan bajingan itu menyentuhmu."

Kenji terus mengusap salep itu hingga meresap ke dalam kulit Anya.

"Mulai besok, dua pengawal bayanganmu akan mengikuti dari jarak yang lebih dekat."

"Terima kasih, Kenji," balas Anya sambil menatap wajah pria itu dari samping.

"Tapi kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri, lagipula kau sudah melindungiku tadi."

Kenji menutup kembali botol salep itu lalu memasukkannya ke dalam kotak P3K.

"Istirahatlah, besok pagi kita harus menghadapi serigala-serigala tua di meja makan lagi."

Kenji berdiri dari ranjang dan mengambil gelasnya kembali.

Pria itu berjalan keluar melalui pintu penghubung tanpa menoleh lagi.

Blam.

Pintu tertutup rapat meninggalkan Anya yang kini memegangi lengannya dengan perasaan yang aneh.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

"Dia benar-benar punya sisi yang berbeda jika sedang berdua saja," batin Anya sambil memejamkan mata.

Keesokan paginya, suasana ruang makan utama sudah terasa sangat tegang.

Anya berjalan berdampingan dengan Kenji menuju meja makan yang panjang itu.

Paman Haris dan Leon sudah duduk di kursi mereka masing-masing.

"Selamat pagi, Paman, Leon," sapa Kenji datar sambil menarik kursi untuk Anya.

"Pagi yang cerah untuk sepasang tunangan yang baru saja pulang berkencan dari acara pelelangan," sindir Leon sambil tersenyum miring.

Anya hanya diam dan menundukkan pandangannya ke arah piring kosong di depannya.

Dia tidak ingin memancing keributan di pagi hari yang cerah ini.

Dina, pelayan muda yang kemarin Anya ajak bicara, datang membawa nampan berisi sarapan.

Pelayan itu terlihat sangat gugup saat meletakkan piring berisi bubur ayam di depan Anya.

Trang.

Sendok yang diletakkan Dina sedikit berbenturan dengan piring karena tangannya bergetar.

"Maafkan saya, Nona," ucap Dina cepat-cepat sambil menunduk dalam.

"Tidak apa-apa, Dina, terima kasih," jawab Anya sambil tersenyum ramah.

Dina segera melangkah mundur dan kembali berdiri di sudut ruangan.

Anya baru saja akan mengambil sendoknya saat suara sistem tiba-tiba berbunyi nyaring di kepalanya.

[Peringatan Kritis: Terdeteksi racun arsenik dosis tinggi pada hidangan Anda.]

[Status: Mematikan jika tertelan.]

Tangan Anya langsung berhenti di udara seketika.

Napasnya tertahan di tenggorokan saat membaca tulisan merah yang berkedip-kedip itu.

"Racun?" batin Anya panik setengah mati.

Dia melirik sekilas ke arah Paman Haris yang sedang menyesap kopinya dengan santai.

Leon juga terlihat sibuk memotong roti panggangnya seolah tidak terjadi apa-apa.

[Opsi 1: Balikkan meja dan teriak ada racun di makananmu.]

[Opsi 2: Pura-pura mual dan tinggalkan ruang makan.]

[Opsi 3: Manfaatkan otoritasmu untuk membongkar pengkhianat tanpa menuduh langsung.]

Anya tahu jika dia menggunakan opsi pertama, Paman Haris pasti akan memutarbalikkan fakta dan menganggapnya gila.

Jika dia lari, mereka akan mencoba meracuninya lagi besok atau lusa.

Dia harus menyelesaikan masalah ini sekarang juga.

"Aku pilih opsi tiga," batin Anya memantapkan hatinya.

Anya meletakkan kembali sendoknya ke atas meja dengan sedikit kasar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!