NovelToon NovelToon
Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:329
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.

Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.

Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.

Ia salah besar.

Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:

**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**

Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.

Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.

Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.

Kali ini, dialah yang memegang pisau.

*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34: Memilih Satu Sama Lain

Rangga tidak langsung menciumku setelah aku mengangguk.

Ia memberi satu tarikan napas lagi, satu kesempatan terakhir bagiku untuk berubah pikiran. Ketika aku tetap berdiri dan jemariku masih menggenggam tangannya, barulah ia mendekat.

Bibirnya menyentuh bibirku dengan ringan.

Tidak ada desakan. Tidak ada tangan yang menahan tubuhku. Hanya kehangatan singkat di tengah udara hujan, cukup lembut hingga aku sempat menyadari bahwa aku tidak membeku.

Rangga mundur lebih dulu.

"Masih boleh?" tanyanya.

Aku menatap wajahnya yang sama tegangnya denganku. Entah kenapa, kegugupan itu membuatku berani.

Kali ini aku yang bergerak maju.

Ciuman kedua sedikit lebih lama. Tanganku menyentuh ujung kemejanya, bukan untuk bertahan dari rasa takut, melainkan karena aku ingin berada lebih dekat. Rangga meletakkan telapak di sisi wajahku setelah aku mengangguk lagi. Sentuhannya hangat, diam, dan mudah kutinggalkan kapan saja.

Saat kami berpisah, napasku tidak teratur. Namun rasanya berbeda dari sesak yang ditinggalkan Damar. Tidak ada bagian diriku yang hilang. Aku justru merasa seluruh tubuhku kembali menjadi milikku.

Aku menyentuh bibir sendiri. Bukan untuk memastikan sesuatu telah terjadi, melainkan untuk mengingat bahwa aku hadir di setiap detiknya. Aku mengingat permintaan izin, pilihan untuk maju, dan cara Rangga mundur tanpa perlu diperintah. Jika nanti ketakutan mencoba mencampuradukkan kenangan, aku ingin memiliki urutan yang jelas.

"Kenapa?" tanyanya, cemas melihat gerakanku.

"Aku sedang menyimpan ini dengan benar."

Rangga tidak sepenuhnya mengerti, tetapi ia mengangguk. "Simpan bagian aku hampir tersandung payung juga?"

"Terutama itu."

"Kamu baik-baik saja?" tanya Rangga.

Aku tertawa kecil. "Kalau kamu bertanya setiap lima detik, kita nggak akan selesai sampai warung buka besok."

"Aku bisa mengurangi jadi sepuluh detik."

"Rangga."

"Iya?"

"Aku baik-baik saja."

Senyumnya muncul perlahan. Wajah yang kukenal sejak kecil mendadak terlihat baru.

Pintu samping berderit.

Kami langsung berjarak.

Bu Lina berdiri membawa kantong jahe yang entah dibelinya dari mana dan tiga cangkir teh hangat. Matanya melihat payung jatuh, wajahku yang panas, lalu Rangga yang tampak bersalah meski tidak melakukan kesalahan.

"Lama sekali menjaga panci," katanya.

"Bu..." Rangga mengusap tengkuk.

"Ibu nggak tanya kalian sedang apa. Tetangga sebelah sudah memberi laporan lengkap dari balik jendela."

Aku menutup wajah dengan tangan.

Bu Lina tertawa dan menyodorkan teh. "Kalau mau dekat, dekat yang benar. Jangan membuat Sekar menebak-nebak sampai mengembalikan payung saat hujan."

"Bu Lina tahu?"

"Ibu tahu sejak anak ini menyimpan separuh telur untukmu waktu SMP, padahal dia sendiri paling suka telur."

Rangga mengerang. "Kenapa semua orang punya cerita memalukan?"

"Karena kamu terlalu lama diam."

Kami kembali masuk. Hujan belum reda, tetapi warung sudah ditutup. Bu Lina duduk bersama kami beberapa menit, memastikan aku nyaman, lalu berkata hendak memeriksa Pak Bambang yang sebenarnya sudah tidur.

Sebelum pergi, ia menyentuh bahuku. "Kamu tidak berutang cinta kepada keluarga ini karena kami memberimu kamar. Kalau kamu memilih Rangga, pastikan karena hatimu sendiri."

Mataku panas. "Iya, Bu."

"Dan kalau sudah sepakat, pacaran yang benar," lanjutnya. "Pergi makan, jalan ke taman, bertengkar soal film. Jangan isi semua pertemuan kalian dengan Damar dan bukti. Laki-laki itu sudah mengambil terlalu banyak ruang."

"Ibu belum tahu kami sepakat atau belum," protes Rangga.

"Kalau setelah dua puluh tahun masih belum bisa sepakat, Ibu sewakan papan iklan."

Bu Lina berjalan ke dapur sambil membawa kantong jahe. Dari balik pintu, terdengar suaranya memberi tahu Pak Bambang bahwa anak mereka akhirnya mendapat keberanian setelah hujan paling deras bulan itu.

"Aku bisa pindah provinsi," gumam Rangga.

"Proyekmu belum menghasilkan."

"Kejam."

"Tetangga kecil harus sadar diri."

Ia memandangku, lalu kami tertawa lagi. Humor itu bukan cara menghindari luka. Untuk beberapa menit, ia menjadi bukti bahwa luka bukan satu-satunya hal yang masih bisa kurasakan.

Rangga menunggu sampai pintu dapur tertutup. "Ibu benar."

"Aku tahu."

"Aku serius, Kar. Kalau besok kamu merasa ini terlalu cepat..."

"Aku tidak mau mencabut ciumannya."

Ia terdiam.

"Tapi aku ingin kita bicara," lanjutku. "Bukan hanya tentang perasaan. Tentang hidup kita."

Kami duduk berseberangan lagi, kali ini tanpa panci menjadi benteng.

"Aku masih mau bekerja," kataku. "Aku nggak mau pindah dari ketergantungan pada Ibu ke ketergantungan lain."

"Bagus."

"Jangan jawab terlalu cepat."

"Aku jawab cepat karena dari dulu itu yang kuinginkan untukmu. Kamu harus punya rekening, pekerjaan, dan pintu yang bisa kamu tutup atas keputusanmu sendiri."

"Kalau pekerjaannya di luar Bandung?"

Ada jeda. Rangga jelas tidak menyukai kemungkinan itu, tetapi ia mengangguk.

"Kita cari cara. Aku nggak akan memintamu menolak hanya supaya dekat denganku."

"Kamu sendiri?"

Ia memutar laptop ke arahku. Di layar ada tabel transaksi warung dan beberapa diagram yang tidak kupahami.

"Aku sedang membangun sistem data untuk usaha kecil. Bukan cuma kasir. Sistem ini bisa membaca pola penjualan, memperkirakan bahan yang perlu dibeli, dan mengingatkan kalau ada transaksi aneh."

"Seperti otak kedua untuk warung?"

"Otak kedua yang nggak cerewet."

"Berarti bukan Bu Lina."

Kami tertawa.

"Namanya belum ada," katanya. "Masih proyek sampingan dan belum menghasilkan. Tapi beberapa pemilik warung mau mencoba. Kalau berjalan, aku ingin membangunnya serius."

"Kenapa nggak pernah cerita sebanyak ini?"

"Kamu sibuk bertahan hidup. Aku nggak mau membuat mimpiku terdengar seperti tugas tambahanmu."

"Aku ingin tahu mimpi orang yang..."

Kalimatku menggantung.

"Orang yang apa?" godanya.

"Orang yang baru menciumku."

"Cuma itu?"

Aku melempar tisu kepadanya.

Rangga menangkapnya sambil tertawa, lalu wajahnya kembali serius. "Aku mencintaimu, Sekar."

Suara hujan seolah melambat.

"Sudah lama," lanjutnya. "Aku mencintaimu waktu kamu pulang sekolah dengan sepatu basah karena memberikan payungmu kepada anak kelas satu. Waktu kamu gagal ujian pertama dan pura-pura nggak sedih. Waktu kamu membela Kari, juga waktu kamu marah kepadaku karena lupa ulang tahunmu. Bukan hanya saat kamu butuh ditolong."

Dadaku penuh sampai hampir sakit.

"Aku belum bisa mengatakan kata yang sama dengan yakin," kataku jujur.

Rangga mengangguk. "Nggak apa-apa."

"Tapi aku ingin mencoba bersama kamu. Bukan sebagai tetangga. Bukan karena aku tinggal di sini."

"Sebagai apa?"

"Kamu sengaja membalas."

"Sedikit."

Aku menarik napas. "Sebagai pacar. Kalau kamu masih mau."

Senyum Rangga kali ini begitu lebar sampai aku ikut tersenyum.

"Aku mau."

Kami tidak langsung melakukan apa pun setelah pengakuan itu. Hanya duduk saling menatap dengan bodoh, seolah kata pacar telah mengubah bentuk meja dan kursi di sekitar kami.

"Berarti besok kita berkencan?" tanyanya.

"Besok aku harus memperbarui riwayat hidup."

"Lusa?"

"Kamu mengantar pesanan ke kantor pajak."

"Malamnya?"

"Kita tinggal di bawah pengawasan Bu Lina."

"Itu memang risiko terbesar hubungan ini."

Aku tersenyum. "Kopi di minimarket setelah tutup warung. Satu jam."

"Kencan pertama yang sangat mewah."

"Kalau sistem datamu sudah menghasilkan, baru boleh sombong."

"Dicatat."

Ia mengulurkan tangan di atas meja. Aku meletakkan tanganku di sana. Gelang giok menyentuh kulitnya, dingin di antara kehangatan kami.

Rangga melihatnya, lalu bertanya, "Kamu mau mencoba melepasnya lagi?"

Aku mengangguk.

Kami pindah ke dekat lampu. Aku menunjukkan pengaitnya. Rangga tidak menyentuh sebelum aku berkata boleh. Ia mencoba dengan ujung kuku, lalu pinset kecil dari laci kasir. Pengait itu bergerak sedikit, tetapi tidak terbuka.

"Sepertinya macet," katanya. "Kalau dipaksa, bisa melukai kulitmu. Besok kita bawa ke toko perhiasan."

Kecewa muncul, tetapi aku tidak membiarkan gelang itu merusak malam ini.

"Biarkan sementara."

"Itu tidak mengubah apa pun."

"Aku tahu."

Ponselku bergetar. Pesan dari Tania menanyakan hasil wawancara yang akan kuhadiri minggu depan. Di bawahnya ada pesan Ayah, memastikan aku sudah tiba di rumah Bu Lina.

Hidupku masih penuh masalah yang belum selesai. Aku belum menentukan langkah atas rekaman Damar. Ibu masih menganggapku penyebab kegagalan Mbak Laras. Pekerjaan belum kudapat. Gelang orang yang menyakitiku masih terkunci di pergelangan.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya, masa depan tidak hanya berbentuk sesuatu yang harus kuhindari.

"Kita buat aturan," kataku.

Rangga mengangguk serius. "Apa saja?"

"Kalau aku takut, aku bilang takut. Kalau kamu marah, kamu bilang marah. Jangan saling menebak dan jangan memakai diam sebagai hukuman."

"Setuju."

"Aku tetap tinggal di kamar belakang sampai punya penghasilan dan bisa menyewa tempat sendiri."

"Setuju."

"Hubungan ini nggak boleh menghentikan proyekmu."

"Kalau pekerjaanmu juga nggak boleh dihentikan."

"Setuju."

Rangga berpikir sebentar. "Satu lagi."

"Apa?"

"Kalau aku mau menciummu, aku tetap bertanya. Setidaknya sampai kamu bilang aturan itu boleh diubah."

Aku menatapnya, lalu menggeser kursi mendekat.

"Kalau sekarang?"

"Boleh aku menciummu lagi?"

Aku menjawab dengan mendekat lebih dulu.

Ciuman itu tetap lembut, tetapi kali ini tidak ragu. Di luar, hujan mencuci jalanan. Di dalam, tanganku berada di tangannya karena aku sendiri yang memilih meletakkannya di sana.

Ketika kami berpisah, Bu Lina berdeham keras dari balik pintu.

"Tehnya keburu dingin!"

Aku tertawa sampai mataku berair. Rangga menunduk, telinganya merah.

Kami belum mandiri. Kami belum aman sepenuhnya. Kami bahkan belum menemukan nama untuk proyek yang sedang dibangunnya.

Tetapi malam itu kami memilih untuk berjalan bersebelahan, bukan saling menyelamatkan dengan mengorbankan diri sendiri.

Untuk pertama kalinya, kata kami terasa seperti tempat yang memiliki pintu terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!