"Menikahlah denganku dan jadilah istri juga ibu untuk kedua anakku!"
Apa jadinya jika pertemuan mu dengan seorang duda beranak dua bisa mengubah hidupmu dalam waktu singkat?
Itu yang dirasakan oleh Azkia Anandita Ayunindya. Gadis berusia dua puluh satu tahun. Seorang mahasiswa dari Universitas New Student Spirit, dari jurusan PG/SD.
Pertemuannya yang tidak disengaja dengan dua gadis kecil berhasil merubah hidupnya dalam waktu singkat. Sebab, ayah dari kedua gadis kecil itu memintanya untuk menikah dengannya.
Arkanza Abbiyya Bassam.
Seorang pengacara muda yang berusia dua puluh delapan tahun. Arkanza terkenal sebagai pengacara yang selalu berhasil menyelesaikan setiap permasalahan kliennya berkat ketelitiannya.
Karena desakan dari ibu nya, yang selalu memintanya untuk menikah dalam waktu cepat, membuat Arkanza pusing. Padahal banyak wanita yang selalu mengantri untuk menjadi istrinya, meskipun mereka tau bahwa Arkanza adalah seorang duda beranak dua.
Namun sayangnya Arkanza tidak bisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kamu
Azkia menatap penampilannya lewat kaca rias berukuran sedang di kamarnya. Gadis berusia dua puluh satu tahun itu terlihat cantik dengan penampilannya yang apa adanya, karena dia hanya mengenakan baju kaos sedikit kebesaran berlengan pendek berwarna hitam yang di padukan dengan straight cut jeans berwarna hitam, Sedangkan rambutnya dia biarkan tergerai.
Dengan wajah yang natural dia tetap terlihat cantik dan lebih fresh, walaupun wajahnya tidak mengunakan riasan sama sekali. Tidak ada riasan berlebihan seperti wanita pada umumnya, karena Azkia ingin tampil apa adanya tanpa ada embel-embel lainnya.
Dirasa cukup, Azkia ingin melangkah keluar dari kamarnya, tapi indra penglihatannya tertuju pada satu benda yang tergantung rapi di luar lemarinya.
"Apa aku pakai aja ya?" Ucap Azkia pada dirinya sendiri terus menatap beda itu."Lebih baik aku pakai saja, pasti mama akan sangat senang jika melihat ku memakainya lagi." Gumam Azkia yang memutuskan untuk memakai cardigan rajut yang tergantung di luar lemarinya.
"Mama sangat hebat merajut cardigan ini untukku." Ucap Azkia tersenyum saat merasakan rasa hangat setelah ia memakai cardigan rajut berwana hitam keabu-abuan itu.
Dirasa tidak ada yang tertinggal, Azkia melangkah keluar dari kamarnya sambil membawa tas ransel yang berukuran sedang.
"Kita sarapan dulu Az, setelah itu kamu berangkat kuliah." Ucap Zayn, saat melihat anak keponakannya itu keluar dari kamarnya. Kebetulan ruangan makan dan juga ruangan tengah tidak memiliki tembok penghalang, sehingga Zayn yang sedang menyusun sarapan mereka di atas meja makan, bisa melihat Azkia yang baru saja keluar dari kamarnya.
Zayn yang melihat anak keponakannya itu kembali mengenakan cardigan rajut buatan mending istrinya memperlihatkan senyumannya, padahal selama setahun ini ia tidak pernah melihat Azkia mengenakan cardigan itu lagi setelah istrinya meninggal.
Zayn memudarkan senyumannya saat ia kembali mengingat mending istrinya. Zayn begitu sangat merindukan istrinya dan ia tidak menyangka kalau istrinya itu benar-benar pergi meninggalkannya secepat ini, padahal masih banyak rencana yang belum mereka capai bersama.
"Papa jangan sedih saat papa sedang mengingat mama. Karena mama akan sedih disana, jika melihat papa sedih seperti sekarang." Ucap Azkia lembut sambil menatap kearah papanya itu. Azkia tau kalau Zayn pasti sedang merindukan mending istrinya. Terbukti saat Zayn melihat ia sedang memakai cardigan rajut buatan mamahnya.
"Ngga. Papa ngga sedih Az. Papa hanya senang kamu kembali mengenakan cardigan itu setelah satu tahun kepergian mama." Jawab Zayn sambil menyiapkan sarapan di piring Azkia saat gadis itu sudah duduk di kursinya.
Mendengar jawaban dari papanya, Azkia hanya tersenyum. Azkia sangat hafal dengan sifat papa itu yang sangat pandai menyembunyikan kesedihannya sendiri.
"Jam berapa kamu pulang hari ini?" Tanya Zayn mengubah topik pembicaraan mereka, agar tidak terlalu membahas mendiang istrinya lagi.
"Mungkin jam satu, pa. Tapi Azkia akan singgah ke suatu tempat sebentar." Jawab Azkia, menatap papa itu yang kini sudah duduk di kursinya sambil menyantap nasi goreng buatannya."Papa nggak kerja?" Tanya Azkia saat menyadari kalau papanya tidak mengenakan pakaian kerjanya.
Mendengar pertanyaan keponakannya, Zayn menghentikan suapannya."Papa kenapa diam? Nggak ada masalah kan sama pekerjaan papa?" Tanya Azkia penasaran menatap papanya itu yang hanya diam."Papa!" Panggil Azkia kembali karena tidak mendapatkan jawaban apapun.
Sedangkan Zayn hanya menghela nafasnya, ia tau kalau Azkia akan menanyakan hal ini."Sebenarnya.... Papa sudah di keluarkan dari kantor kemarin, Az, secara tiba-tiba, Padahal papa tidak melakukan kesalahan sama sekali..." Jawab Zayn menundukkan kepalanya sedih. Karena tanpa alasan apapun, ia dikeluarkan begitu saja oleh bos di perusahaannya.
"Dikeluarkan? Kenapa bisa, pa?" Tanya Azkia penasaran, karena ia bingung kalau papanya itu tiba-tiba saja di keluarkan dari pekerjaannya sedangkan papanya adalah pekerja yang baik. Sehtau Azkia begitu.
"Papa tidak tau Az." Jelas Zayn yang terlihat sedih."Biarkanlah, mungkin papa melakukan kesalahan tanpa sengaja dan papa tidak menyadarinya." Ucap Zayn mencoba untuk tersenyum menghibur Azkia.
Azkia yang melihat papanya tersenyum dibalik wajah sedihnya jadi merasa bersalah."Maaf pa, seharusnya Azkia tidak bertanya seperti barusan."
"Tidak apa Az. Papa tau, kalau kamu sendiri pasti bingung, karena papa tiba-tiba saja di keluarkan.... Tapi kamu tenang saja, papa sudah minta tolong kepada sahabat papa untuk mencari pekerjaan yang cocok di usia papa yang sudah tidak muda lagi." Jelas Zayn berbohong. Karena ia belum mengabari sahabatnya untuk saat ini. Niat Zayn akan mencari pekerjaan tanpa bantuan siapapun.
"Sebaiknya papa nggak usah kerja aja dulu, nanti biar Azkia saja yang kerja. Apalagi papa sudah sering sakit-sakitan kalau kerja di tempat yang tidak sesuai dengan kemampuan papa." Jelas Azkia yang tidak ingin merepotkan papa nya kembali. Karena selama enam tahun ini ia terlalu banyak menyusahkan papanya itu.
"Jangan berkata seperti itu Az. Papa masih mampu untuk berkerja dan papa tidak ingin melihat mu berkerja sampai kamu lulus kuliah." Jawab Zayn tidak setuju.
"Tapi, pa...."
"Nurut Az." Azkia hanya menghela nafasnya. Ia sudah tau kalau jawaban papa akan seperti itu.
"Maaf, pa."
"Untuk apa kamu minta maaf Az? Bukannya kamu tidak melakukan kesalahan?"
"Karena Azkia telah menyusahkan, papa."
"Ssutt, jangan ngomong seperti itu Az.... Selama ini Azkia tidak pernah menyusahkan papa. Malahan Azkia anak kebanggaan papa, karena selalu menjadi anak yang cerdas dan berprestasi." Jelas Zayn lembut, agar putri nya itu tidak berpikir kalau dia telah menyusahkahnya.
"Sudah. Kita lupakan pembahasan ini. Sebaiknya kamu sarapan dan pergi kuliah, papa takut kalau kamu akan telat nanti." Suruh Zayn mengalihkan pembicaraan mereka.
"Baik,pa."
Setelah sarapan, kini Zayn akan mengantarkan Azkia berangkat kuliah. Karena kebetulan juga ia sedang tidak bekerja sekarang.
"Siapa kalian?" Tanya Azkia bingung saat membuka pintu rumahnya dan melihat tiga pria dengan wajah menyeramkan yang mengenakan baju berantakan dengan rambut gondrong dan juga botak, sedang berdiri didepan rumahnya.
"Siapa Az?" Tanya Zayn yang kini berdiri disamping Azkia. Zayn belum melihat kehadiran ketiga pria itu, karena ia sedang menatap kearah Azkia.
Azkia menatap papanya, lalu melihat kearah ketiga pria itu lagi. Sedangkan Zayn yang mengerti akan isyarat sang anak mengikuti arah pandangan Azkia.
"Kalian siapa?" Kini Zayn ikut bertanya, karena melihat tiga pria asing sedang berdiri didepan rumahnya."Perasaan aku tidak melakukan kesalahan dengan siapapun." Batin Zayn kebingungan.
"Tidak usah banyak tanya tuan, nona. Sebaiknya kalian keluar dari rumah ini!" Jawab pria yang memiliki rambut botak.
"Keluar? Apa maksud kalian? Ini rumah saya!" Jawab Zayn tegas, karena tiba-tiba saja orang itu menyuruhnya keluar dari rumahnya sendiri.
"Saya tidak mau tau, kalian harus keluar dari sini, karena sekarang rumah ini sudah menjadi milik tuan kami!" Jawab salah satu dari mereka.
"Ini tidak mungkin pak! Karena rumah ini jelas-jelas rumah kami! Kami tidak pernah menjual rumah ini kepada siapapun!" Sambung Azkia tidak terima, karena rumah papa nya akan diambil oleh orang-orang asing didepan mereka.
"Kami tidak mau mendengar alasan kalian! Sebaiknya sekarang kalian keluar!" Bentak mereka yang mencoba menarik tangan Azkia untuk membawanya keluar secara paksa.
Zayn yang melihat itu dengan gerakan cepat menghalangi tangan pria yang ingin menyakiti putrinya.
"Jangan menyentuh putri ku, jika kalian ingin hidup!" Ucap Zayn menghempaskan tangan pria itu secara kasar. Tatapan pria paruh baya berusia lima puluh dua tahun itu terlihat menyeramkan.
"Babi!!.... berani sekali kamu tua bangka!!" Dengan marah pria botak itu menarik Zayn dengan paksa keluar dari rumahnya dan dengan kasar mendorong tubuh itu keatas tanah yang dipenuhi oleh rereputan halus.
"Papa!!" Azkia sangat terkejut melihat papanya di dorong dengan kasar ketanah."Papa... Apa papa baik-baik saja." Dengan perasaan khawatir Azkia membantu papanya untuk berdiri.
"Papa, baik-baik saja Az." Jawab Zayn mencoba untuk tersenyum, walaupun Zayn merasa sakit pada bagian pinggangnya.
Azkia mengarahkan pandangannya kearah ketiga pria itu dengan marah, Karena mereka telah berani menyakiti papanya. Tapi sekarang mereka seakan tidak melakukan apapun, karena wajah mereka terlihat biasa-biasa saja.
"Biadab! Kalian memang manusia tidak punya hati!" Geram Azkia ingin menghajar mereka, tapi dihentikan oleh Zayn."Jangan hentikan Azkia, pa! Biarkan Azkia mengingatkan siapa mereka!" Ucap Azkia semakin terlihat emosi.
"Tidak ada gunanya, kamu melakukan itu Az. Karena kamu hanya membuang-buang tenagamu saja." Nasehat Zayn mencoba berdiri dengan bantuan Azkia.
"Apa buktinya, kalau rumah ini adalah rumah tuan kalian?"
"Saya punya bukti, Tuan Fardy Zayn." Jawab seseorang, tapi bukan ketiganya melainkan orang lain."Anda pasti terkejut dengan bukti yang saya berikan, Tuan Fardy.”
Azkia dan Zayn sama-sama membalikkan tubuh mereka untuk melihat siapakah orang yang sudah mengaku-ngaku sebagai pemilik rumahnya sedangkan ia belum menjual rumahnya itu.
"Kamu?!"
*****