NovelToon NovelToon
ASMARA DI HATIKU

ASMARA DI HATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"

Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.

Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.

Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.

PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 SANG ALGOJO KEDISIPLINAN

Mobil Kijang tua yang dikemudikan Pak Tris akhirnya berbelok memasuki sebuah jalan beralas paving blok yang tidak terlalu lebar, namun sangat bersih.

Di kiri-kanan jalan, tembok-tembok tinggi bercat putih kusam membatasi pekarangan rumah warga. Wira tahu, kawasan seperti ini—yang seingatnya disebut Jeron Beteng atau area di dalam benteng keraton—biasanya dihuni oleh keluarga-keluarga asli Jogja yang masih memegang teguh tradisi.

Pak Tris menekan klakson sekali dengan ketukan pelan saat mobil berhenti di depan sebuah gerbang kayu jati setinggi dada orang dewasa. Gerbang itu tidak dikunci, hanya diselot dari dalam. Pak Tris turun, membukanya, lalu memarkirkan mobil di halaman samping yang dinaungi oleh pohon mangga madu yang rimbun.

Udara di halaman rumah ini terasa jauh lebih sejuk dibandingkan di jalanan tadi. Namun, kesejukan itu sama sekali tidak mendinginkan hati Wira saat matanya menangkap sesosok siluet yang duduk tegak di kursi rotan di teras depan.

Itu dia. Bude Ning.

Wanita paruh baya itu mengenakan kebaya katun sederhana bermotif kembang-kembang kecil dengan bawahan kain jarik wiron yang dililit rapi. Rambutnya yang mulai dipenuhi uban disanggul kecil di belakang kepala. Tidak ada senyum di wajahnya yang dihiasi garis-garis tegas dimakan usia. Matanya yang tajam di balik kacamata baca berbingkai separuh itu menatap lurus ke arah Wira yang baru saja turun dari mobil. Tatapan itu seolah sedang menelanjangi segala dosa kenakalan Wira dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Wira menelan ludah. Aura wanita ini mengingatkannya pada guru Matematika killer di sekolah lamanya, namun dikali sepuluh lipat.

Pak Tris bergegas menurunkan koper. "Ndoro, Den Wira sampun dugi," (Ndoro, Den Wira sudah sampai.) ucap Pak Tris seraya menunduk hormat, melaporkan kedatangan Wira.

Bude Ning hanya mengangguk pelan tanpa melepaskan pandangannya dari keponakannya itu. Ia meletakkan majalah berbahasa Jawa, Panjebar Semangat, yang sedari tadi dibacanya ke atas meja kecil di sampingnya.

"Wira..." panggil Bude Ning.

Suaranya tidak keras, tidak ada nada membentak seperti yang sering digunakan ayahnya. Namun, artikulasinya begitu jelas, dingin, dan berat, membuat nama Wira terdengar seperti sebuah vonis hukuman.

Wira melangkah mendekat dengan gaya yang sengaja ia buat sesantai mungkin, satu tangan di saku celana, dagu sedikit diangkat.

"Ya, Bude?" jawabnya singkat.

Bude Ning memindai penampilan Wira. Seragam putih yang dikeluarkan, tiga kancing atas yang dibiarkan terbuka memamerkan kaus hitam, dasi yang mengintip dari saku celana, dan postur berdirinya yang bersandar miring pada pilar teras.

"Bapakmu bilang, kamu ini dikirim ke Jogja untuk sekolah," ucap Bude Ning perlahan, bangkit dari kursinya. Posturnya sangat tegak untuk wanita seusianya.

"Tapi Bude lihat dandananmu, Bude kira Bapakmu salah kirim. Kamu lebih mirip preman terminal Giwangan yang kurang gizi."

Wajah Wira langsung memerah. Harga dirinya tertampar telak.

Baru satu menit ia menginjakkan kaki di teras ini, ia sudah dihina secara elegan.

"Wira gerah, Bude. Di kereta AC-nya kurang dingin, makanya—"

"Masukkan bajumu!" potong Bude Ning mutlak, tak memberikan ruang untuk alasan.

"Hah?!"

"Masukkan bajumu ke dalam celana. Pasang kancingmu yang benar. Pakai dasimu. Sekarang! Di situ!" Bude Ning menunjuk titik tepat di mana Wira berdiri dengan dagunya.

"Bude, ini kan di rumah. Wira mau ganti baju sekalian mandi, ngapain dirapiin dulu?!" Wira mulai protes, urat pemberontakannya mendidih.

"Karena kamu berdiri di rumah Bude sekarang. Dan di rumah Bude, tidak ada orang yang berpenampilan seperti orang tidak punya adab!" jawab Bude Ning telak. Tatapannya tak berkedip, mengunci mata Wira.

"Rapikan! Atau koper yang kamu bawa itu tidak akan pernah melewati pintu depan, dan kamu bisa tidur di pos ronda malam ini."

Wira mengepalkan tangan di dalam sakunya. Ia ingin melawan. Ia ingin berteriak bahwa ia tidak sudi diperlakukan seperti anak kecil.

Namun, melihat sorot mata wanita tua di depannya, entah mengapa nyali Wira susut. Tidak ada celah untuk berdebat.

Dengan gerakan kasar dan napas memburu menahan kesal, Wira menarik kemejanya, memasukkannya ke dalam celana abu-abunya, mengancingkan kerahnya, dan mengalungkan dasinya asal-asalan.

"Udah." desis Wira.

Bude Ning menatapnya sejenak, lalu memutar tubuhnya. "Masuk."

Wira mengikuti langkah wanita itu memasuki rumah berarsitektur Joglo tersebut. Aroma kapur barus, kayu jati tua, dan samar-samar wangi melati langsung menyergap penciumannya.

Ruang tamunya luas, didominasi perabotan kayu berukir klasik. Sebuah jam bandul besar di sudut ruangan berdetak konstan, menambah kesan mistis dan kaku dari rumah ini. Suasananya begitu sepi, saking sepinya Wira merasa bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri.

Bude Ning duduk di salah satu kursi kayu, lalu memberi isyarat dengan matanya agar Wira duduk di seberangnya.

Wira menghempaskan tubuhnya ke kursi, membuat kursi kayu itu berderit keras. Bude Ning hanya mengangkat sebelah alisnya melihat kelakuan itu, namun memutuskan untuk tidak mengomentarinya—untuk saat ini.

"Dengarkan Bude baik-baik, Le..." Bude Ning memulai pembicaraan, melipat tangannya di pangkuan.

"Bapakmu mengirim kamu ke sini karena beliau sudah angkat tangan mengurus kelakuanmu. Bude menerima tawaran Bapakmu bukan karena Bude kurang kerjaan, tapi karena Bude masih memikirkan nama baik keluarga. Bude tidak mau ada darah daging keluarga ini yang akhirnya jadi sampah masyarakat."

Kata-kata itu menusuk ulu hati Wira. "Wira bukan sampah, Bude!"

"Kalau begitu, buktikan!" balas Bude Ning setajam silet.

"Mulai detik ini, selama kamu menumpang di bawah atap rumah ini, Undang-Undang Bude yang berlaku. Bukan aturan Bapakmu, bukan aturan Ibumu, dan pastinya bukan aturan bebasmu di Bogor!"

Wira mendecak pelan, memalingkan wajah ke arah jendela. "Apa aja aturannya, sih?"

"Pertama, Unggah-ungguh (tata krama). Bude tidak mau dengar kamu pakai kata 'lo-gue' kalau bicara sama orang yang lebih tua di rumah ini, termasuk sama Pak Tris dan Mbok Darmi di dapur. Bicara yang sopan. Kalau diajak bicara, matanya jangan mendelik atau buang muka seperti sekarang."

Wira terpaksa menoleh kembali menatap budenya, menahan dengusan.

"Kedua, jam malam. Jogja ini kota yang aman, tapi kejahatan malam tetap ada buat anak-anak begajulan sepertimu. Jam lima sore kamu sudah harus ada di rumah. Pintu depan Bude kunci jam delapan malam tepat. Lewat dari jam itu, kamu tidur di teras luar sama nyamuk."

"Jam lima sore?!" Mata Wira membelalak. "Bude, Wira kan anak SMA! Wira butuh waktu main, ngerjain tugas kelompok, nongkrong—"

"Nongkrong tidak membuat otakmu pintar!" sela Bude Ning cepat.

"Kalau ada tugas kelompok, bawa temanmu ke sini. Bude sediakan teh dan jajan. Tapi kamu tidak boleh keluyuran." tambah Budenya itu.

Wira mengusap wajahnya dengan kasar. Ini benar-benar penjara militer berkedok rumah klasik.

"Ketiga, urusan bersih-bersih." lanjut Bude Ning tanpa mempedulikan wajah frustrasi keponakannya.

"Jangan harap kamu bisa ongkang-ongkang kaki seperti tuan muda di sini. Mbok Darmi sudah tua, tugasnya hanya memasak. Piring kotor bekas makanmu, kamu cuci sendiri. Baju kotormu, kamu cuci dan setrika sendiri. Dan setiap jam setengah enam pagi, Bude mau kamu yang menyapu halaman depan."

"Hah?! Apaan, Bude?!" Wira akhirnya berdiri dari kursinya. Kesabarannya habis.

"Bude, Wira ke sini disuruh sekolah, bukan disuruh jadi pembantu! Di Bogor aja Wira nggak pernah nyapu halaman!" tambah Wira kesal.

Bude Ning tetap duduk tenang, tak bergeming sedikit pun melihat ledakan emosi Wira. Ia justru menatap Wira dengan pandangan mengasihani.

"Sekolah itu untuk mengisi otak, Wira. Tapi bersih-bersih dan melayani diri sendiri itu untuk mengisi adab." ucap Bude Ning perlahan, namun setiap suku katanya terasa sangat berat.

"Percuma otakmu pintar, percuma Bapakmu kaya raya, kalau adabmu nol! Menyapu halaman di pagi hari itu mengajarkan kamu untuk merendahkan hati, membuang kesombonganmu sama debu-debu itu. Kalau kamu merasa terlalu tinggi buat menyapu, berarti kamu memang harus diajari dari bawah lagi." jawab Budenya itu.

Wira terdiam. Mulutnya setengah terbuka, mencari bantahan, tapi otaknya mendadak buntu. Ia tidak pernah dihadapkan pada logika seperti ini.

Biasanya, jika ia berdebat dengan ayahnya, ujungnya adalah adu urat leher. Tapi dengan Bude Ning, ia dikalahkan dengan filosofi telak yang meruntuhkan argumennya.

Melihat Wira kehilangan kata-kata, Bude Ning berdiri. "Kopermu sudah dibawa Pak Tris ke kamar belakang. Kamarmu di sana. Rapikan barangmu, lalu ke dapur. Mbok Darmi sudah siapkan makan siang."

Wanita itu melangkah pergi meninggalkan ruang tamu, punggungnya tegak, langkahnya mantap tak bersuara.

Wira berdiri mematung. Napasnya masih memburu, tapi kini bercampur dengan rasa tak berdaya yang mencekik.

Ia menendang kaki meja dengan kesal sebelum akhirnya menyeret langkahnya menuju kamar yang ditunjuk.

Kamarnya terletak di bagian paviliun belakang. Begitu pintu dibuka, Wira disambut oleh sebuah ruangan berukuran tiga kali tiga meter yang sangat sederhana.

Sebuah ranjang kayu dengan kasur kapuk, sebuah lemari jati kecil, dan meja belajar yang menghadap ke jendela beralas kawat nyamuk.

Tidak ada AC. Hanya ada sebuah kipas angin kecil yang menempel di dinding.

Wira melempar tasnya ke lantai dan menjatuhkan diri ke atas kasur kapuk yang keras itu. Ia menatap langit-langit papan kayu di atasnya. Suara burung perkutut dari sangkar di halaman belakang terdengar bersahut-sahutan.

Hari pertamanya di Jogja baru berjalan dua jam, namun Wira merasa energinya sudah terkuras habis.

Penjara itu nyata.

Algojonya bernama Bude Ning.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pemuda begajulan dari Bogor itu merasa dirinya benar-benar terjebak dalam masalah yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan modal nekat.

1
Kesya Ohilitean
aku senang sekali kerana novel mau membantu aku untuk mehilakan sertes
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih banyak, Kak Kesya... 😍😍😍

Semoga Kakak selalu sehat, ya... Selalu bahagia juga buat Kak Kesya... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!