Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Pukul empat sore tepat, matahari Kertajaya mulai melunak, menyisakan bias jingga tipis di balik atap-atap rumah warga. Namun, suasana di sepanjang gang depan kos Bu Ratna justru sedang berada di titik terpanasnya. Suara dentingan linggis yang membentur batu, teriakan anak-anak kecil yang berlari-larian, serta gelak tawa bapak-bapak warga RT yang sedang bergotong royong mencangkul endapan lumpur hitam di dalam saluran air menciptakan koor sore hari yang sangat meriah.
Di tepi got selebar satu meter itu, Bayu berdiri dengan ekspresi pasrah mengenakan celana pendek gombrong dan kaus partai kumal. Di tangan kanannya, sebuah cangkul bergagang kayu tampak dipegang seolah-olah benda itu adalah pedang bermata dua yang siap meledak kapan saja.
"Sumpah ya, ini rekor hidup saya. Kemarin jadi kuli panggul karung beras, sekarang resmi jadi anggota pasukan pembersih saluran limbah" gerutu Bayu pelan, melirik Dimas yang berdiri beberapa meter di sampingnya dengan cangkul yang sama.
Dimas, yang mengenakan celana training hitam dan kaus oblong polos, mengayunkan cangkulnya dengan tenang sekali, mengangkat gumpalan lumpur hitam pekat ke atas pinggir selokan.
"Udah, nggak usah banyak protes. Kalau kerjaan cepat selesai, kita bisa langsung balik mandi pakai air hangat."
Di seberang selokan, Pak RT seorang lelaki paruh baya berkumis tebal dengan handuk kecil melingkar di lehernya berteriak memberi komando kepada para warga.
"Ayo, Pak Budi, itu endapan di tikungan sebelah barat dikeruk agak dalam! Sebentar lagi musim hujan, kalau nggak dibersihkan sekarang, airnya bakal meluber ke teras rumah warga!"
"Siap, Pak RT!" jawab Pak Budi, pemilik warung kelontong sebelah, sambil tertawa lebar.
Tidak jauh dari kerumunan warga yang sibuk bekerja, Mira berdiri di atas undakan semen teras salah satu rumah warga dengan gaun ungu panjang yang diangkat sedikit ujungnya. Perempuan itu melipat kedua tangannya di dada, memasang ekspresi ngeri dan jijik yang luar biasa sambil memandangi gumpalan lumpur hitam yang berbau tidak sedap di dalam got.
Makhluk-makhluk ini benar-benar tidak punya pekerjaan lain selain mengaduk-ngaduk kotoran bumi demi kesenangan bersama, batin Mira bergidik ngeri, memiringkan kepalanya dengan jijik. Bagaimana bisa Raka dan kedua temannya itu rela merelakan tangan mereka berlumuran lumpur busuk hanya karena takut uang jaminan kebersihan kos mereka dipotong perempuan galak berdaun hijau itu?
Raka, yang mendapat jatah giliran mencangkul bersama Bayu, sedang berusaha keras mengangkat endapan lumpur yang cukup padat di dekat jembatan kecil.
Keringat sudah bercucuran di pelipisnya, membuat rambut depannya basah dan menempel di dahi.
Mira yang sedari tadi berdiri memperhatikan dari jauh tiba-tiba merasa bosan. Dengan langkah anggun yang tetap berhati-hati agar tidak menginjak tanah becek, ia mendekati pinggiran selokan tempat Raka sedang berdiri, memastikan hanya Raka, Bayu, dan Dimas yang bisa melihatnya di tengah kerumunan warga.
"Raka," panggil Mira tepat di samping pemuda itu.
Raka menghentikan ayunan cangkulnya sejenak, menegakkan punggungnya yang terasa pegal, lalu melirik ke arah Mira yang berdiri di sampingnya.
"Kenapa, Mira? Mau ikut nyangkul juga?"
"Cih! Enak saja!" seru Mira langsung sewot, memonyongkan bibirnya.
"Aku ke sini bukan untuk merusak kuku lentikku dengan lumpur bau ini! Aku hanya ingin memperingatkanmu bahwa caramu memegang cangkul itu salah besar."
Raka menaikkan sebelah alisnya, tersenyum tipis di tengah lelahnya.
"Oh ya? Terus gimana cara memegang cangkul yang benar menurut sang putri bangsawan?"
"Tentu saja dengan menggunakan tenaga gaib agar cangkulnya bergerak sendiri tanpa harus membuat punggungmu hampir patah!" jawab Mira dengan gaya sok tahu yang menggemaskan, menunjuk-nunjuk gagang cangkul Raka.
"Kalau cangkulnya gerak sendiri tanpa dipegang orang, yang ada warga sekampung bakal lari ketakutan karena ngira cangkulnya kesurupan," balas Raka santai, kembali mengangkat cangkulnya untuk mengeruk lumpur.
Mira mendengus jengkel, melipat tangannya kembali di dada. "Terserah! Nikmati saja penderitaan fisik kalian."
Di saat yang bersamaan, dari arah ujung gang, Bu Ratna berjalan mendekat sambil membawa nampan berisi beberapa gelas teh manis hangat dan piring gorengan pisang untuk para warga yang sedang kerja bakti. Daster hijau lumutnya berkibar ditiup angin sore, memberikan sinyal kehadiran sang pemilik kos yang galak.
"Ayo, semuanya istirahat sebentar! Minumannya sudah datang!" seru Bu Ratna dengan suara melengking khasnya.
Mendengar teriakan itu, para warga langsung bersorak senang, meletakkan cangkul mereka di tepi selokan dan berbondong-bondong mendekati nampan teh buatan Bu Ratna. Bayu dan Dimas langsung ikut merapat, mengambil segelas teh manis hangat dengan wajah berbinar-binar.
Mira, yang tidak ingin tersenggol oleh kerumunan warga desa yang berkeringat, mundur beberapa langkah ke belakang. Namun, karena kurang berhati-hati saat melangkah di atas tanah yang licin dan berlumpur di dekat akar pohon mangga, sebelah sandal flat tipis yang dipakainya tiba-tiba terpeleset.
Plop!
"Kyaaa!" seru Mira kaget setengah mati.
Sandal ungunya amblas sedalam dua sentimeter ke dalam genangan lumpur basah di tepi selokan.
Tubuhnya yang kehilangan keseimbangan membuatnya terhuyung ke depan.
Raka, yang melihat Mira terpeleset, dengan cepat dan refleks langsung mengulurkan tangan kanannya dan menangkap pergelangan tangan Mira dengan erat.
Raka melihat wujud Mira dengan jelas perempuan itu terperanjat kaget dengan mata membelalak menatapnya.
"Hati-hati, Mira," kata Raka lembut, menahan tubuh Mira agar tidak terjatuh ke dalam lumpur.
Suasana di sekitar mereka mendadak terasa hening bagi Mira. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia mendongakkan kepalanya, menatap wajah Raka yang berjarak hanya beberapa senti darinya.
Mira langsung tersadar dari keterkejutannya. Dengan gerakan cepat, ia menarik pergelangan tangannya dari genggaman Raka, melangkah mundur dua langkah, lalu membetulkan letak rambutnya dengan canggung sambil memasang wajah galak untuk menutupi rasa malunya.
"Si... siapa yang mau jatuh?!" tukas Mira dengan nada tinggi, merapikan gaun ungunya yang sama sekali tidak kena lumpur.
"Aku hanya sedang... sedang menguji gravitasi di tempat kumuh ini!"
Raka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tersenyum geli melihat tingkah defensif Mira.
"Iya, iya, terserah kamu. Makanya kalau jalan pakai mata, Mir."
Bayu, yang sedang menyeruput teh manis di dekat situ, melirik ke arah Raka yang sedari tadi tampak berbicara dan menatap ke arah ruang kosong di depannya. Ia menyenggol lengan Dimas sambil berbisik usil, "Dim, coba lu lihat Raka. Makin hari makin parah ya, ngobrol sendiri sama angin."
Dimas menyesap tehnya tenang. "Biarin. Siapa tahu lagi romantisasi lumpur."
Mira yang mendengar bisikan Bayu dari jarak dekat langsung melotot garang, menatap Bayu dengan tatapan tajam yang seolah bisa membuat pemuda itu terbakar di tempat.
Hari kerja bakti sore itu ditutup dengan tawa warga desa, teh manis hangat, dan seorang putri jin yang sibuk menutupi rasa salah tingkahnya di balik kibasan gaun ungu.