Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol
Lalu dunia berubah
Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah
Rp 350000 Rp 350 MILIAR
Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri
Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu
Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6: Rekrut Pertama
"Kamu punya mata orang yang baru jatuh, tapi belum menyerah."
Pria di meja pojok kafe murah itu mengangkat kepala. Rambutnya dipotong pendek, rahangnya keras, jaketnya kusam, dan gelas kopi hitam di depannya sudah dingin. Di lantai samping kursi ada ransel tua yang dijaga dengan kaki, kebiasaan orang yang pernah tidur di tempat tidak aman.
"Mas salah orang," katanya.
"Fajar Nugroho," kata Raka. "Mantan prajurit kontrak keamanan luar negeri, pulang karena cedera bahu, ditolak lima perusahaan karena tidak mau memalsukan laporan insiden. Sekarang cari kerja."
Mata Fajar langsung tajam.
Tangannya bergerak setengah senti ke bawah meja. Raka melihatnya. Tidak takut. Orang ini berbahaya, tetapi bukan penjahat.
[Mimpi: Target rekrut potensial. Loyalitas dasar 42, kode moral kuat, trauma pengkhianatan kontraktor lama. Cocok sebagai asisten pribadi dan keamanan awal.]
"Siapa yang menyuruh Anda?" Fajar memakai saya-Anda, dingin dan formal.
"Tidak ada. Saya butuh orang yang bisa menjaga keluarga saya, menyetir, memeriksa risiko, dan tidak menjilat."
Fajar tertawa tanpa senyum. "Orang kaya biasanya mencari penjilat yang bisa berkelahi sedikit."
"Saya baru kaya. Selera saya belum rusak."
Kalimat itu membuat sudut bibir Fajar bergerak, tetapi ia tetap waspada.
"Gaji?"
"Lima puluh juta sebulan. Kontrak bersih. BPJS. Bonus sesuai risiko. Saya juga sediakan kendaraan operasional."
"Terlalu tinggi."
"Untuk orang yang bisa berdiri di depan pisau tanpa membuat saya malu, itu murah."
Fajar menatap Raka dari ujung rambut sampai sepatu. "Umur Anda berapa?"
"Dua puluh empat."
"Dan sudah bicara seperti bos kartel."
"Saya bicara seperti orang yang kemarin hampir diinjak sampai patah. Bedanya, hari ini saya bisa membayar orang yang tepat untuk memastikan mereka tidak mengulanginya kepada keluarga saya."
Fajar diam.
Raka mengeluarkan ponsel dan memutar rekaman pendek dari Restoran Taman: suara Herman, Ahmad, Vera, uang dilempar ke lantai. Ia tidak memutar semuanya. Cukup bagian ketika Vera berkata, laki-laki miskin cuma cocok jadi tangga.
Wajah Fajar tidak berubah, tetapi jari telunjuknya mengetuk meja satu kali. Marah yang terlatih tidak perlu ribut.
"Anda mau balas dendam ke mantan?"
"Saya mau membongkar kecurangan di depan orang yang mereka pakai sebagai panggung. Setelah itu saya membangun hidup yang tidak bisa mereka dekati."
"Kalau mereka punya orang?"
"Maka saya butuh Anda."
Fajar bersandar. "Saya tidak akan memukul orang karena bos tersinggung."
"Bagus. Saya tidak butuh preman. Saya butuh orang yang tahu kapan menahan, kapan merekam, kapan maju, dan kapan membawa saya keluar."
Untuk pertama kalinya, Fajar benar-benar mendengar.
Raka menaruh map kontrak kerja di meja. Bayu belum masuk tim, jadi kontrak itu disiapkan oleh legal Hendra sementara. Sederhana, tetapi rapi: posisi asisten pribadi dan keamanan, hak, kewajiban, kerahasiaan, larangan tindakan ilegal tanpa perintah tertulis, perlindungan hukum.
Fajar membaca sampai selesai.
"Anda serius menulis larangan memalsukan laporan?"
"Saya dengar itu alasan Anda keluar dari pekerjaan lama."
"Saya dipecat."
"Karena menolak menutup kematian pekerja lapangan."
Cangkir kopi di tangan Fajar berhenti.
"Jangan gali masa lalu saya terlalu dalam, Pak Raka."
"Saya menggali cukup untuk tahu Anda masih bisa dipercaya. Sisanya Anda cerita kalau sudah mau."
Fajar menutup map.
"Saya coba satu bulan. Kalau Anda ternyata anak kaya gila yang main kekuasaan, saya pergi."
"Kalau saya ternyata begitu, pukul saya dulu sebelum pergi."
Fajar akhirnya tertawa pendek. "Deal."
[Mimpi mencatat: Fajar Nugroho bergabung. Loyalitas 71.]
Mereka berjabat tangan. Genggaman Fajar kuat, tetapi ia terkejut ketika Raka tidak goyah. Ramuan Fisik membuat tubuh Raka jauh dari rapuh yang terlihat.
"Kita ke mana sekarang?" tanya Fajar.
"Dealer Toyota."
"Untuk apa?"
"Kendaraan operasional. Dua Fortuner. Satu untuk saya, satu untuk Anda."
Fajar mengira Raka bercanda sampai mereka benar-benar berdiri di showroom. Sales yang melihat pakaian sederhana Raka hampir mengarahkan mereka ke brosur cicilan bekas, tetapi setelah Raka memilih dua unit tertinggi dan membayar penuh dengan kartu, seluruh nada ruangan berubah.
Harga sistem untuk dua Fortuner: Rp16.
Di mata dealer, transaksi tercatat normal, pajak dan dokumen diproses, pelat sementara disiapkan. Sales yang tadinya setengah malas kini membungkuk sampai punggungnya seperti engsel.
Fajar berdiri di samping mobil hitam baru, wajahnya kaku.
"Ini terlalu cepat."
"Orang yang kemarin masih menghitung nasi goreng tidak suka buang waktu setelah tahu harga dunia bisa berubah," kata Raka.
"Saya belum melakukan apa-apa untuk pantas menerima mobil."
"Anda tidak menerima. Anda bertanggung jawab atasnya. Ada beda."
Fajar menatap kunci di telapak tangan. Lama. Lalu ia memasukkannya ke saku.
"Baik, Pak Raka. Mulai sekarang, jadwal Anda lewat saya. Keluarga Anda saya data untuk jalur evakuasi. Rumah saya cek titik buta kamera dan akses gerbang. Untuk acara pertunangan itu, saya butuh daftar tamu, denah hotel, dan semua bukti dalam tiga salinan."
Raka tersenyum. "Itu baru jawaban yang saya bayar."
Sore menjelang, mereka berhenti di tepi sungai. Raka memperlihatkan video Vera, rekaman suara, dan daftar bukti yang harus diambil.
Fajar menonton tanpa komentar. Setelah selesai, ia berkata, "Kalau kita hanya datang dan marah, mereka menang. Kalau kita datang dengan bukti legal, saksi, dan waktu yang tepat, mereka jatuh sendiri."
"Saya ingin layar besar."
"Saya ingin dua backup. Satu di flashdisk, satu di cloud. Kalau hotel mematikan listrik, saya pakai proyektor cadangan. Kalau mereka panggil security, saya siapkan pintu keluar."
[Mimpi: Loyalitas Fajar naik menjadi 96.]
Angka itu muncul bersamaan dengan angin sore yang menggesek permukaan sungai. Raka tidak merasa mendapat bawahan. Ia merasa mendapat pedang pertama.
Ponselnya bergetar. Vera mengirim foto gaun pertunangan, sengaja atau tidak, dengan pesan pendek.
Jangan datang kalau cuma mau mempermalukan diri sendiri.
Raka menunjukkan layar kepada Fajar.
Fajar mengembalikan ponsel. "Besok kita mulai kumpulkan bukti. Setelah itu?"
Raka melihat lampu kota menyala satu per satu.
Sebelum meninggalkan dealer, Fajar meminta waktu memeriksa mobil sendiri. Ia membuka kap mesin, melihat ban cadangan, mengecek nomor rangka, kamera parkir, dan dokumen sementara. Sales yang tadi penuh senyum mulai gugup karena pembeli ini tidak hanya membeli, tetapi memahami risiko setelah membeli.
"Kebiasaan lama," kata Fajar ketika melihat Raka memperhatikan.
"Pertahankan."
"Orang yang punya uang biasanya tidak suka ditanya detail."
"Orang yang tidak suka detail biasanya kehilangan uang lewat detail."
Fajar menatapnya lagi. Label calon bos aneh mulai tanggal. Di depannya berdiri seseorang yang mungkin pantas dijaga.
Di jok belakang, Raka menulis pesan untuk Bibi: malam ini ada orang baru di tim, namanya Fajar, tugasnya menjaga rumah. Ia sengaja memberi tahu lebih dulu agar Bibi tidak merasa vila itu berubah menjadi tempat asing yang dikendalikan orang luar. Uang bisa membeli pintu tinggi, tetapi rasa aman keluarga harus dibangun pelan-pelan.
"Setelah itu kita pilih kursi paling depan."