Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.
Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.
Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5 Larangan
Mobil sedan hitam milik Reyhan akhirnya berhenti tepat di depan sebuah rumah berlantai dua dengan desain minimalis modern.
Suasana perumahan itu sangat tenang, kontras sekali dengan gemuruh yang melanda dada Nadhira sejak melangkah keluar dari gedung resepsi jam tujuh malam tadi.
Nadhira menyeret koper merah mudanya masuk melewati pintu utama. Matanya berbinar sebentar melihat interior rumah yang amat rapi, didominasi warna putih, abu-abu, dan kayu alami. Sangat mencerminkan kepribadian pemiliknya yang rapi, teratur, dan kaku seperti penggaris besi.
"Kamar kamu di atas, sebelah kiri," ujar Reyhan singkat. Pria itu sudah melepas jasnya, menyisakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga ke siku. Ia meletakkan kunci mobil di atas meja konsol.
"Hah? Kamar saya... terpisah?" Nadhira mengerutkan kening, walau sejujurnya dalam hati ia bernapas lega seluas samudera.
Reyhan menatapnya datar. "Kamu mau satu kamar sama saya?"
"ENGGAK! Ya enggak lah, maksudnya... alhamdulillah kalau pisah," seru Nadhira cepat-cepat, langsung menutup mulutnya sendiri yang kelepasan.
"Saya kira kamu berharap suasana malam pertama seperti di sinetron," gumam Reyhan pelan, tapi cukup terdengar tajam. Pria itu melangkah menuju meja makan kayu yang terletak di area tengah rumah.
"Bereskan barang kamu, lalu turun. Ada yang perlu kita bahas," ujar Reyhan
"Tunggu, Pak! Mumpung Bapak bahas soal ini, saya juga punya hal yang SANGAT amat penting buat kita bahas," Nadhira menepuk tas ranselnya yang sedari tadi ia peluk erat.
Dari dalam sana, ia menarik selembar kertas HVS yang sudah dilipat-lipat rapi bersama sebuah pulpen ber-topi kelinci warna merah muda.
Reyhan menghentikan langkahnya, menatap kertas di tangan Nadhira dengan dahi berkerut. "Apa itu?"
"Ini!" Nadhira menepuk kertas itu ke atas meja makan dengan penuh percaya diri.
"Draf Surat Perjanjian tentang '5 Larangan Ketika Di Kampus'. Kita wajib tanda tangan di atas meterai kalau perlu," jelas Nadhira.
Reyhan menatap gadis di depannya dengan tatapan heran. Ia melepaskan kacamata frameless-nya, memijat pangkal hidungnya sebentar, lalu menarik salah satu kursi makan dan duduk. "Kamu sempat-sempatnya bikin draf perjanjian di tengah acara resepsi?"
"Iya dong, pas Bapak lagi sibuk salaman sama para tamu, saya ngumpet di toilet VIP buat nulis surat ini," jawab Nadhira bangga. Ia duduk di seberang Reyhan, memajukan tubuhnya, dan menunjuk poin pertama di kertas tersebut dengan pulpen kelincinya.
"Oke, perhatian ya, Pak Dosen. Saya bakal bacain poin-poinnya!"
Reyhan menyandarkan punggungnya, melipat kedua tangan di dada. "Silakan. Saya mau lihat sejauh mana imajinasi konyol kamu."
Nadhira berdehem keras, berdeham dua kali agar suaranya terdengar layaknya pengacara tangguh.
"Larangan Pertama: Dilarang Menatap Terlalu Lama di Area Jurusan mau pun Kelas!" Nadhira membaca dengan lantang.
"Alasannya: Tatapan Pak Reyhan itu kayak laser destruktif. Kalau Bapak natap saya lebih dari tiga detik di depan anak-anak DKV, si Kania pasti langsung curiga saya punya utang nyawa sama Bapak, atau si Dimas bakal ngira saya mau dikeluarkan dari kampus. Jadi, batas maksimal tatapan mata di tempat umum adalah dua detik, lebih dari itu, Bapak harus buang muka!"
Reyhan menatap Nadhira selama tepat empat detik tanpa berkedip.
"Tuh kan, kan, ini udah empat detik, Bapak melanggar!" protes Nadhira heboh sambil menunjuk muka Reyhan pakai pulpen kelincinya.
"Saya sedang menatap mahasiswi yang pikirannya penuh dengan hal tidak berguna," sahut Reyhan dingin, tanpa mengubah ekspresi.
"Poin pertama tidak rasional. Bagaimana kalau kamu sedang presentasi metodologi desain di depan kelas? Saya harus membuang muka ke tembok?"
Nadhira mengecapkan bibirnya. "Ya... ya kalau presentasi beda cerita. Maksudnya kalau lagi berpapasan di lorong studio, pokoknya dua detik."
"Lanjutkan," kata Reyhan malas.
Nadhira membetulkan posisi duduknya dan lanjut membaca.
"Larangan Kedua: Dilarang Memanggil Nama Depan di Lingkungan Kampus." Nadhira mengetuk kertas.
"Bapak tidak boleh kelepasan panggil saya 'Nadhira' dengan nada lembut atau nada suami. Kalau di kampus, Bapak harus panggil saya 'Saudari Nadhira' atau 'Mahasiswi Nadhira'. Dan saya bakal tetap panggil Bapak 'Pak Reyhan'. Jangan sampai Bapak latah panggil saya 'Sayang' pas lagi ngajar," peringat Nadhira sembari menunjuk singkat ke arah Reyhan.
Sudut bibir Reyhan terangkat sangat tipis, hampir tak terlihat. "Kamu terlalu percaya diri, Nadhira. Membayangkan saya memanggil kamu 'Sayang' di depan kelas saja sudah membuat saya mual."
Nadhira mendelik. "Bagus kalau gitu, artinya kita sepaham."
"Poin tiga," potong Reyhan tegas.
"Larangan Ketiga: Dilarang Menunjukkan Cemburu yang Mengakibatkan Penambahan Tugas Kelas!" Nadhira mempertegas suaranya di poin ini.
"Ini poin paling krusial. Kalau misalnya ada mahasiswa cowok, misalnya Rangga atau Tio ngobrol sama saya soal tugas, Bapak dilarang tiba-tiba ngasih tugas re-design logo 50 lembar ke satu kelas cuma gara-gara Bapak kesel. Kasihan teman-teman saya, mereka nggak salah apa-apa."
Reyhan menaikkan alisnya. "Siapa bilang saya cemburu? Kalau saya memberi tugas tambahan, itu karena kualitas karya kelas kamu memang di bawah standar, bukan karena mahasiswa bernama Rangga itu."
"Halah alasan, pokoknya tidak ada hukuman massal berkedok cemburu," pangkas Nadhira cepat. Ia lalu menggeser kertasnya lebih dekat ke Reyhan.
"Larangan Keempat: Dilarang Berada di Dalam Mobil yang Sama Dalam Radius Satu Kilometer dari Gerbang Kampus." Nadhira mengetuk poin empat berturut-turut.
"Saya bakal turun di depan minimarket ujung gang sebelum gerbang. Saya jalan kaki atau naik angkot dari sana. Bapak jalan duluan pakai mobil. Jangan sampai ada yang lihat saya keluar dari mobil mewah dosen killer. Nanti Alya sekretaris jurusan langsung bikin gosip saya jadi simpanan dosen," cetus Nadhira.
Reyhan diam sejenak. Pria itu memperhatikan wajah Nadhira yang mendadak serius. "Hujan atau panas terik, kamu tetap mau turun di minimarket?"
"Iya, demi keselamatan status pernikahan rahasia ini, saya rela!" jawab Nadhira mantap.
"Baik. Kalau kamu sakit karena kehujanan, jangan salahkan saya," tanggap Reyhan datar. "Lanjut, poin terakhir."
Nadhira menghela napas panjang, bersiap membacakan poin pemungkas yang paling ekstrem menurutnya.
"Larangan Kelima: Dilarang Memberi Nilai A Tanpa Alasan, Tapi JUGA Dilarang Memberi Nilai E Karena Dendam Pribadi di Rumah!" Nadhira menatap Reyhan tajam.
"Kalau misalnya di rumah kita lagi berantem gara-gara saya gosongin roti bakar atau lupa matiin AC, Bapak dilarang melampiaskannya dengan ngasih nilai E di mata kuliah Bapak. Urusan rumah tangga dan urusan akademis harus dipisah."
Keheningan melingkupi meja makan selama beberapa detik setelah Nadhira selesai membaca.
Reyhan menatap selembar kertas HVS dengan tulisan tangan Nadhira yang agak berantakan dan dihiasi stiker kecil gambar kucing di pojok kanan atasnya.
Pria 29 tahun itu kemudian mengulurkan tangannya, mengambil pulpen kelinci milik Nadhira, lalu mencoret beberapa frasa di kertas tersebut dengan gerakan yang sangat tenang.
"Eh! Kok dicoret-coret?" tanya Nadhira panik, mencoba merebut pulpennya kembali, namun tangan panjang Reyhan dengan mudah menghalanginya.
"Saya merevisi draf kamu," ujar Reyhan santai sambil menggoreskan tinta hitam di atas kertas.
"Poin pertama, tatapan mata disesuaikan dengan kebutuhan akademik. Tidak ada batasan detik yang konyol."
"Poin kedua, disetujui. Saya memang tidak berniat memanggil kamu dengan sebutan aneh."
"Poin ketiga, hukuman tugas adalah wewenang penuh dosen. Jika Rangga atau mahasiswa lain mengganggu konsentrasi belajar kamu, mereka tetap akan saya beri tugas tambahan."
"Poin keempat, disetujui, kecuali saat cuaca ekstrem."
"Poin kelima, nilai kamu murni berdasarkan kualitas karya DKV kamu. Kalau karyamu jelek, jangankan E, saya tidak akan ragu menyuruh kamu mengulang mata kuliah saya tahun depan."
Nadhira menganga lebar. "Bapak jahat banget. Saya ini istri Bapak!"
"Di rumah, ya. Di studio DKV, kamu hanya mahasiswi yang sering terlambat mengumpulkan file master," balas Reyhan tanpa beban. Pria itu lalu membubuhkan tanda tangannya yang rapi dan tegas di bagian bawah kertas, tepat di samping tulisan Pihak Pertama (Dosen/Suami).
Setelah itu, Reyhan menggeser kertas dan pulpen kelinci itu kembali ke hadapan Nadhira. "Sekarang tanda tangan."
Nadhira merengut, bibirnya maju beberapa sentimeter. Dengan perasaan dongkol setengah mati, ia menyambar pulpennya dan menandatangani kolom Pihak Kedua (Mahasiswi/Istri) dengan coretan kasar.
"Puas?!" dengus Nadhira.
"Cukup puas," jawab Reyhan pendek. Pria itu berdiri dari kursi, mengambil kertas perjanjian tersebut, lalu melipatnya dengan rapi.
"Surat ini akan saya simpan di dalam brankas kerja saya. Jika kamu melanggar salah satu poinnya, ada konsekuensinya."
"Konsekuensi apa?" tanya Nadhira curiga.
"Menambah porsi piket membersihkan rumah ini selama seminggu," jawab Reyhan dingin tanpa ragu.
"APA? Kok gitu?!" Nadhira langsung berdiri dari kursinya. "Rumah segede gini saya yang bersihin sendiri!"
"Tentu. Kamu pikir tinggal di sini gratis?" Reyhan menatap Nadhira dari atas ke bawah.
"Sekarang, mumpung masih jam delapan malam, bersihkan dapur. Ada bekas makan dan gelas kopi saya tadi lagi yang belum dicuci."
Nadhira membelalakkan matanya tidak percaya. Ini benar-benar malam pertama paling tidak romantis. Mana ada pengantin baru yang malam pertamanya diawali dengan pembacaan draf perjanjian, revisi sepihak, dan perintahkan cuci piring.
"Pak Reyhan!" panggil Nadhira dengan nada melengking saat pria itu mulai melangkah menuju tangga.
Reyhan menghentikan langkahnya, menoleh sedikit. "Apa lagi, Saudari Nadhira?"
"Bapak... benar-benar nggak punya hati ya?" cerocos Nadhira frustrasi.
"Masa malam pertama saya disuruh cuci piring. Minimal tawarin saya teh hangat kek, atau tanya saya cape atau enggak!" protes Nadhira.
Reyhan diam sejenak. Matanya memperhatikan raut wajah Nadhira yang cemberut parah, dengan pipi yang agak menggembung karena menahan kekesalan.
Pria itu kemudian berbalik, melangkah mendekati Nadhira hingga jarak mereka hanya tersisa satu langkah. Aura intimidasi dosen killer-nya mendadak menguap, berganti dengan kehangatan aneh yang membuat napas Nadhira tertahan di tenggorokan.
Reyhan mengulurkan tangan kaku-nya, lalu secara perlahan... mengacak-acak rambut Nadhira yang sudah lepas dari sanggulnya. Gerakannya sangat canggung, seolah-olah ia tidak terbiasa melakukan kontak fisik yang lembut.
"Di kulkas ada kue cokelat buatan Ibu. Makanlah kalau kamu lapar," ujar Reyhan dengan suara yang jauh lebih pelan dari biasanya.
"Setelah cuci piring, langsung tidur. Jangan begadang cuma buat nonton drama sampai jam dua pagi. Besok ada kelas metodologi desain jam delapan pagi."
Nadhira mematung. Sentuhan di kepalanya dan perhatian tersembunyi itu membuat jantungnya mendadak berdesir heboh. Aduh, kok malah bikin baper sih?! batinnya menjerit panik.
Sebelum Nadhira sempat merespons, Reyhan sudah menarik tangannya kembali, berbalik dengan wajah datar seolah tak terjadi apa-apa, lalu melangkah naik ke lantai dua menuju kamarnya.
"Dan satu lagi, Nadhira," panggil Reyhan dari atas tangga tanpa menoleh.
"A-apa lagi, Pak?" sahut Nadhira terbata-bata, masih memegang kepalanya yang baru saja diacak-acak.
"Besok saya berangkat jam tujuh tepat. Kalau kamu terlambat lima detik saja turun ke garasi, kamu harus jalan kaki sendiri ke kampus."
Ctas!
Seketika sirna sudah semua desir romantis yang baru saja hinggap di dada Nadhira.
"DOSEN KILLER!" teriak Nadhira spontan, melempar bantal sofa terdekat ke arah tangga, walau Reyhan sudah lebih dulu menghilang di balik pintu kamarnya yang tertutup rapat.
Nadhira menghentakkan kakinya kesal ke lantai, mengacak-acak rambutnya sendiri hingga makin berantakan. "Aaargh! Bisa gila aku satu rumah sama manusia es itu. Selamat datang di neraka rumah tangga, Nadhira!" gumam Nadhira.
Dengan perasaan bersungut-sungut, mahasiswi DKV itu akhirnya berjalan menuju dapur, menyingsingkan lengan bajunya, dan mulai memutar keran air untuk mencuci piring dan meratapi nasib malam pertamanya yang jauh dari kata romantis.
...Bersambung......