NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Poligami / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Seminggu berlalu dengan cepat. Setelah pemeriksaan medis terakhir menyatakan kondisinya pulih total, Adrian akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit.

Namun, sebelum kembali ke rumah, ada satu agenda besar yang harus mereka hadiri: sidang pembacaan putusan akhir atas kasus Hendrik dan Fitria di Pengadilan Negeri.

Didampingi Darren dan tim hukumnya, Adrian melangkah mantap menyusuri koridor pengadilan dengan Sasi yang berjalan anggun di sampingnya, menggenggam erat jemari sang suami.

Di dalam ruang sidang yang penuh sesak, suasana mendadak tegang saat majelis hakim membacakan amar putusan.

Hendrik, yang terbukti melakukan pemerkosaan, konspirasi perampasan aset perusahaan, serta tindak pidana berat lainnya, dijatuhi hukuman 20 tahun penjara.

Sementara Fitria, atas tindakan percobaan pembunuhan berencana menggunakan senjata tajam di ICU, dijatuhi hukuman maksimal 18 tahun penjara tanpa opsi remisi awal.

Saat ketukan palu hakim menggema tiga kali, ruang sidang seketika pecah.

Hendrik hanya menunduk pasrah saat borgol besi mengunci kedua pergelangan tangannya.

Namun tidak dengan Fitria. Wanita itu mendadak histeris, memberontak hebat dari cengkeraman petugas kejaksaan.

"Nggak mungkin! Ini nggak adil! Mas Adrian, kamu punya aku! Kamu cuma milik aku!" teriak Fitria melengking, matanya membelalak liar menatap Adrian yang berdiri tenang di barisan depan.

Fitria terus menjerit dan melolong bagai orang kesurupan saat petugas menyeretnya keluar dari ruang sidang.

Ketika posisinya melewati Adrian dan Sasi, Fitria mencoba menerjang maju, melotot penuh kebencian pada genggaman tangan Adrian dan Sasi yang saling bertaut erat tanpa celah.

"Mas Adrian! Lihat aku, Mas! Aku melakukan semuanya buat kamu!" jerit Fitria melolong frustrasi.

Adrian menatap Fitria dingin, tidak ada lagi rasa kasihan atau keraguan di matanya.

Pria itu justru semakin mengetatkan genggaman tangannya pada jemari Sasi, lalu mendekatkan tubuhnya untuk melindungi sang istri.

Dari jarak yang cukup dekat namun tak tersentuh, Adrian menatap lurus ke dalam mata Fitria yang kacau, lalu berbicara dengan suara lantang dan penuh penekanan.

"Kamu kalah, Fitria. Dan Sasi sedang mengandung anakku."

Kata-kata itu menghantam Fitria bagaikan petir di siang bolong.

Langkahnya terhenti seketika, matanya membelalak lebar dalam kecemasan dan kehancuran yang sempurna.

Jeritannya terputus, berganti dengan tangisan histeris yang kian melengking saat petugas memaksanya keluar dari ruangan.

Sasi mengelus perutnya yang masih rata seraya tersenyum lega.

Di balik dinding pengadilan itu, seluruh kegelapan dan ancaman yang selama ini merusak hidup mereka resmi berakhir, menyisakan masa depan baru yang dipenuhi kedamaian untuk keluarga kecil mereka.

Petugas keamanan akhirnya menyeret Fitria yang masih melolong histeris keluar dari pintu utama pengadilan.

Suara jeritannya perlahan memudar, tenggelam di balik bisingnya lalu lintas kota, menandakan berakhirnya babak kelam yang selama ini menghantui hidup mereka.

Sasi mengembuskan napas panjang, meresapi rasa lega yang luar biasa.

Beban berat yang bertengger di bahunya selama berbulan-bulan seolah terangkat sepenuhnya.

Ia menoleh, menatap Adrian yang juga sedang memandangnya dengan sorot mata hangat dan penuh cinta.

"Terima kasih sudah bertahan sejauh ini, Sayang," bisik Adrian lembut.

Ia membawa jemari Sasi ke bibirnya, mengecupnya penuh rasa hormat dan syukur.

"Kita berhasil melaluinya, Mas. Bersama-sama," balas Sasi seraya tersenyum manis, membiarkan angin sore menerpa wajahnya yang kini berseri.

Darren berjalan mendekat dari arah belakang bersama tim hukumnya, menyunggingkan senyum puas seraya memasukkan kedua tangan ke saku celana.

"Semua sudah selesai, Adrian, Sasi. Hendrik dan Fitria dipastikan membusuk di sel tahanan. Aset perusahaan yang sempat terancam juga sudah bersih secara hukum."

Adrian menepuk bahu Darren erat. "Aku tidak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikanmu, Darren. Kamu sudah menjaga Sasi dan memperjuangkan keadilan untuk keluarga kami."

"Tidak perlu berlebihan," kekeh Darren santai.

"Melihat kalian berdua selamat dan siap menyambut anggota keluarga baru sudah lebih dari cukup buatku. Sekarang, tugasmu cuma satu: fokus menyambut si kecil dan bahagiakan Sasi."

Adrian tertawa pelan, lalu merangkul pinggang Sasi posesif namun lembut.

"Itu janji yang paling mudah untuk kutepati."

Mereka bertiga melangkah keluar menuruni tangga gedung pengadilan menuju mobil yang sudah menunggu.

Sinar matahari sore yang hangat menyiram langkah mereka—sebuah lambang pembuka bagi lembaran hidup baru yang bersih, aman, dan dipenuhi kebahagiaan yang sesungguhnya.

Mobil hitam Adrian berhenti tepat di depan sebuah kafe bernuansa kayu hangat yang tampak elegan di sudut kota.

Sasi memandangi papan nama kafe tersebut dari balik jendela mobil, matanya seketika berbinar dipenuhi kenangan manis.

Kafe itu adalah tempat Darren menanam investasi, sekaligus tempat yang menyimpan jejak perjuangan Sasi beberapa tahun lalu—tempat di mana ia pernah bekerja keras sebagai kasir dan barista sebelum takdir membawanya menjadi istri seorang Adrian.

"Ayo turun," ajak Darren seraya membukakan pintu mobil dengan cengiran khasnya.

" Pemilik kafe ingin menyambut tamu-tamu spesialnya."

Adrian merangkul pinggang Sasi lembut saat mereka melangkah masuk.

Aroma kopi yang khas dan lantunan musik akustik pelan menyambut kedatangan mereka.

Beberapa staf senior yang mengenali Sasi seketika terperanjat gembira, menunduk sopan seraya menyapa mantan rekan kerja mereka yang kini tampil sangat anggun.

"Silakan duduk di spot favoritmu dulu, Sasi," ujar Darren seraya mengarahkan mereka ke meja sudut dekat jendela besar yang menghadap ke taman kecil.

"Masih belum ada yang berubah ya, Darren," tutur Sasi haru, menatap sekeliling ruangan yang penuh kenangan nostalgia.

"Sudah lama sekali rasanya,"

"Tentu saja tidak ada yang kuubah," sahut Darren bangga.

"Kafe ini punya banyak sejarah manis. Dan hari ini, aku sendiri yang bakal meracik minumannya!"

Tak lama kemudian, Darren kembali dengan nampan berisi cangkir-cangkir hangat.

Ia menyajikan cappuccino dengan latte art sempurna untuk Adrian, dan segelas hot chocolate manis berhias marshmallow khusus untuk Sasi.

" Khusus untuk ibu hamil, caffeine-free," seloroh Darren terkekeh seraya meletakkan cangkir itu di depan Sasi.

Adrian tersenyum hangat, mengangkat cangkir kopinya ke udara.

"Untuk masa depan kita yang baru, dan untuk sahabat terbaik yang selalu ada di saat sulit."

"Untuk keluarga kecil kita," tambah Sasi seraya menyatukan cangkirnya.

Di kafe bernuansa hangat itu, di antara gelak tawa dan aroma manis cokelat hangat, mereka merayakan kemenangan atas masa lalu—menatap masa depan yang kini jauh lebih terang dan penuh dengan kedamaian.

Sasi menyesap cokelat hangatnya perlahan, meresapi rasa manis yang menjalar di tenggorokannya.

Ia menatap Adrian dan Darren yang sedang asyik mengobrol tentang perkembangan bisnis serta rencana syukuran kecil-kecilan untuk menyambut kepulangan Adrian dan kabar kehamilannya.

"Oh ya, Adrian," potong Darren teringat sesuatu,

"soal posisi pimpinan di proyek baru itu, karena kamu masih dalam masa pemulihan, aku sudah minta tim eksekutif untuk menyiapkan laporan mingguan yang bisa kamu pantau dari rumah saja. Tidak ada lagi kerja keras berlebihan!"

Adrian terkekeh pelan seraya menggelengkan kepala.

"Kamu ini, Darren, sama saja seperti Sasi. Sama-sama suka mengatur."

"Bukan mengatur, Mas," timpal Sasi seraya tersenyum menggoda, "tapi ini demi kebaikan Mas sendiri. Dokter bilang Mas harus istirahat total setidaknya satu bulan ke depan."

"Dengar itu, Tuan Adrian? Suara istri adalah hukum tertinggi," seloroh Darren tertawa tawa, disambut kekehan hangat dari Adrian.

Di tengah kehangatan obrolan mereka, telepon genggam Adrian yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar halus.

Adrian melirik layarnya, lalu mengangkat pandangannya menatap Sasi dan Darren.

"Panggilan dari sekretaris kantor," ujar Adrian seraya menggeser layar untuk mengangkatnya.

Setelah mendengarkan penjelasan singkat dari seberang telepon, senyum puas terpancar di wajah Adrian.

"Kabar bagus?" tanya Sasi penasaran.

"Sangat bagus," jawab Adrian lega.

"Pihak investor asing baru saja mengonfirmasi bahwa seluruh kontrak kerja sama resmi berjalan mulai minggu depan. Mereka bahkan secara khusus menyampaikan apresiasi tinggi atas ketegasan dan profesionalisme kamu saat memimpin rapat waktu itu, Sasi."

Sasi tersentak pelan, lalu mengulas senyum haru. Ia menatap Adrian dengan binar mata penuh kasih, merasa seluruh perjuangan dan kelelahan yang ia lalui selama dua minggu terakhir terbayar tuntas.

Adrian meraih jemari Sasi di atas meja, mengusapnya lembut di hadapan Darren.

"Terima kasih, Sayang. Kamu benar-benar menyelamatkan segalanya."

"Kita saling menyelamatkan, Mas," balas Sasi

tulus.

Sore itu di kafe penuh kenangan tersebut, gelak tawa dan kehangatan menyelimuti mereka.

Bayang-bayang kelam ketakutan, ancaman Fitria, dan penderitaan masa lalu telah runtuh sepenuhnya, berganti dengan babak baru yang penuh cinta, harapan, dan kedamaian menyambut kehadiran buah hati mereka.

1
sunaryati jarum
Selamat Sasi Adrian kaliin akan jadi orang tua
sunaryati jarum
Setelah badai berlalu semoga hanya kebahagiaan yang kalian dapatkan, sedangkan Fitria menghabisinya sisa hidup di penjara
sunaryati jarum
Hebat kau Sasi dari wanita yang diperkosa dan dijadikan pion rencana jahat dari Hendrik bisa menyelesaikan masalah perusahaan dengan memuaskan, semoga berhasil dan perusahaan semakin berkembang dan menuntaskan masalah,selama Adrian dirawat
sunaryati jarum
Mudah sekali menangkap dua ular berbisa tanpa perlawanan dan drama
sunaryati jarum
wow mantap semoga berhasil
sunaryati jarum
Hendrik dan Fitria sedang menggali kuburan untuk mereka sendiri 😂😂😂
sunaryati jarum
Menyesal kan Adrian.Pests dan nikmati kebebasan sementara kamu, Fitria.Pembalasan Adrian nanti ,kamu ingat seumur hidupmu
sunaryati jarum
Semoga perangkap untuk Hendrik dan Fitria berhasil Adrian
sunaryati jarum
Drama yang sempurna , semoga Sasi selamat
sunaryati jarum
Analisis dokter masuk akal
sunaryati jarum
Timbul iba jadi cinta , Adrian
sunaryati jarum
Istri nggak mau punya anak sendiri, tidak usah menikah Fitria.Beriksn tubuhmu pada banyak pria tidak terikat apa- apa.
sunaryati jarum
Emak suka karakter Sasi yang tidak mau ditindas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!