NovelToon NovelToon
SISTEM MATA SAKTI RAJA GIOK

SISTEM MATA SAKTI RAJA GIOK

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Gibran Dirgantara, seorang pemuda desa yang berniat mengadu nasib di ibu kota, harus menelan kenyataan pahit saat dicampakkan dan dihina habis-habisan oleh mantan pacarnya, Siska, bersama kekasih konglomeratnya yang arogan. Namun, saat harga dirinya diinjak-injak di tengah kerasnya persaingan pusat pelelangan batu giok, Gibran secara ajaib membangkitkan entitas misterius bernama "Sistem Mata Sakti Raja Giok" yang menyatu langsung dengan saraf penglihatannya. Berbekal mata dewa yang kini mampu menembus lapisan batu kotor untuk melihat energi murni di dalamnya, Gibran memulai jalan balas dendam yang elegan untuk meremukkan kesombongan mereka yang meremehkannya, memborong batu-batu bernilai triliunan dari tumpukan sampah, dan merangsek naik menjadi master giok nomor satu yang paling ditakuti di dunia modern.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Tok tok tok.

Suara ketukan palu kayu dari atas panggung langsung membungkam seluruh percakapan di dalam aula pelelangan. Seorang wanita cantik bergaun belahan tinggi mendorong sebuah kereta dorong kaca ke tengah panggung.

"Barang pertama kita malam ini adalah batu kulit darah dari tambang tua di perbatasan." "Harga pembukaan dimulai dari angka lima ratus juta rupiah!" teriak sang pembawa acara dengan penuh semangat.

Gibran menatap batu sebesar melon itu dengan sangat santai dari kursi VIP-nya. [Pemindaian material selesai.] [Kualitas: Giok Merah Muda tingkat rendah dengan banyak retakan. Nilai taksiran dasar: Seratus juta rupiah.]

Gibran tersenyum miring lalu mengangkat papan tawarannya tinggi-tinggi. "Dua miliar rupiah," ucap Gibran memotong semua orang yang baru mau menawar dengan harga normal.

Para konglomerat lain langsung menarik napas panjang mendengar kenaikan harga yang sangat brutal itu. Bratasena menoleh ke arah Master Seno dengan dahi berkerut menanyakan pendapat.

"Itu batu biasa, tapi pemuda itu sengaja menaikkan harga untuk memamerkan kekayaannya di depan kita." "Hancurkan momentumnya Tuan Bratasena, jangan biarkan dia memimpin alur pelelangan ini," hasut Master Seno berbisik pelan.

Bratasena langsung mengangkat papan nomornya dengan wajah angkuh dan sombong. "Tiga miliar rupiah!" teriak Bratasena menatap tajam ke arah Gibran.

Gibran membalas tatapan itu dengan wajah meremehkan lalu kembali mengangkat papannya ke udara. "Lima miliar rupiah tunai," balas Gibran tanpa berkedip sedikit pun.

Urat leher Bratasena langsung menonjol keluar menahan amarah gengsi yang meledak di dadanya. "Tujuh miliar rupiah! Kau tidak akan bisa menang dariku anak desa!" bentak Bratasena dengan suara menggelegar ke seluruh ruangan.

Suasana aula mendadak tegang karena pertarungan dua musuh bebuyutan itu langsung memanas di barang pertama. Gibran tiba-tiba menurunkan papan tawarannya dan tertawa pelan.

Hahahaha.

"Tujuh miliar untuk batu sekelas asbak rokok? Silakan ambil Tuan Bratasena, aku sengaja mengalah untukmu malam ini," ucap Gibran sambil bertepuk tangan pelan.

Bratasena langsung mematung di kursinya menyadari ia baru saja terpancing masuk ke dalam jebakan konyol yang sangat merugikan. Wajahnya memerah padam saat palu lelang diketuk mengesahkan kemenangannya yang terasa seperti sebuah kekalahan telak.

Tok tok tok.

"Terjual kepada Tuan Bratasena seharga tujuh miliar rupiah!" seru pembawa acara itu kegirangan.

Aurel yang duduk di sebelah Gibran harus menutupi mulutnya untuk menyembunyikan tawa elegannya melihat kejadian itu. "Kau benar-benar iblis yang licik Gibran, kau baru saja membuat harimau tua itu membuang tujuh miliar dengan sia-sia," bisik Aurel pelan.

"Ini baru pemanasan Nona Aurel, aku akan menguras dompetnya sedikit lagi sebelum hidangan utama keluar," balas Gibran dengan seringai buas.

Satu jam berlalu dengan sangat cepat dan penuh ketegangan di dalam aula yang mewah tersebut. Gibran terus melakukan taktik umpan sampah itu berkali-kali pada batu-batu berkualitas menengah.

Setiap kali Gibran menawar tinggi, Bratasena yang terbakar gengsi dan amarah langsung menawar jauh lebih gila. Hasilnya, Bratasena berhasil memenangkan lima batu sampah berturut-turut dengan total pengeluaran mencapai tiga puluh miliar rupiah.

"Tuan Besar, dana tunai likuid kita mulai terkuras banyak, tolong tahan emosi Anda," bisik sekretaris Bratasena dengan wajah pucat pasi. Bratasena mengusap keringat di dahinya dengan saputangan sutra sambil menggertakkan giginya kuat-kuat.

"Diam kau, aku tahu apa yang aku lakukan! Anak itu tidak akan kubiarkan membawa pulang satu batu pun malam ini!" balas Bratasena keras kepala. Master Seno akhirnya mengangkat tangannya menenangkan Tuan Besar yang sedang kalap itu.

"Cukup Tuan Bratasena, simpan sisa dana Anda karena barang incaran utama kita akhirnya akan segera keluar," ucap Master Seno dengan mata berbinar-binar. Lampu panggung tiba-tiba diredupkan dan sebuah tirai raksasa di tengah aula perlahan ditarik ke atas.

Srek.

Sebongkah batu raksasa seukuran meja makan dengan warna hijau lumut yang sangat pekat muncul di bawah sorotan lampu utama. Suara decak kagum langsung menggema dari mulut ratusan konglomerat yang terpesona di dalam ruangan tersebut.

"Hadirin sekalian, ini dia bintang utama kita malam ini, batu legendaris yang dijuluki Raja Hijau!" "Batu ini ditemukan di dasar palung sungai terdalam dan tidak pernah tersentuh cahaya matahari selama ratusan tahun!" promosi pembawa acara itu dengan suara bergetar takjub.

Master Seno langsung berdiri dari kursinya dan berjalan maju mendekati panggung dengan napas memburu karena rakus. "Luar biasa, auranya benar-benar sangat padat, di dalamnya pasti terdapat Zamrud Hijau Kaisar berukuran raksasa!" gumam Master Seno meneteskan air liur.

Bratasena ikut berdiri dan membusungkan dadanya dengan sangat bangga menatap ke arah Gibran dari kejauhan. "Buka matamu lebar-lebar Gibran! Malam ini Keluarga Mahendra akan menjadi legenda hidup dengan batu Raja Hijau ini!" teriak Bratasena memprovokasi.

Gibran sama sekali tidak terpengaruh oleh teriakan arogan tersebut dan memilih memusatkan pandangannya murni pada batu raksasa itu. [Pemindaian material skala besar diaktifkan.] [Proses analisis mendalam mencapai inti batu... Selesai.]

Mata Gibran sedikit menyipit membaca rentetan informasi rahasia yang mengalir ke dalam otaknya. [Kualitas: Batu Kapur Padat berlapis fosil lumut buatan.] [Energi Giok: 0 persen. Nilai taksiran dasar: Nol rupiah.]

Gibran nyaris tertawa meledak melihat hasil pindaian dari batu yang dikagumi dan dipuja oleh seluruh pakar di ruangan ini. Batu Raja Hijau itu ternyata hanyalah sebongkah batu kapur kosong yang direkayasa sedemikian rupa untuk menipu para konglomerat bodoh.

"Harga pembukaan untuk batu Raja Hijau ini dimulai dari angka lima puluh miliar rupiah!" teriak pembawa acara memecah keheningan yang panjang. Aula itu mendadak sunyi karena angka lima puluh miliar adalah batas kekayaan bagi sebagian besar pengusaha di sana.

Bratasena langsung mengangkat papan tawarannya tinggi-tinggi tanpa ragu sedikit pun seolah ia tidak peduli pada uangnya. "Seratus miliar rupiah tunai dari Keluarga Mahendra!" teriak Bratasena langsung menggandakan harga pembukaan secara ekstrem.

Semua orang langsung terkesiap mendengar angka gila yang baru saja diteriakkan oleh pria paruh baya yang sombong tersebut. Bahkan Master Seno pun sampai menelan ludah mendengar keberanian finansial Tuan Besarnya yang menggadaikan seluruh aset itu.

Gibran menyandarkan tubuhnya ke depan dan menopang dagunya dengan tangan kanan menatap lurus ke arah Bratasena. "Tuan Bratasena sangat bersemangat rupanya, tapi aku tidak akan membiarkanmu menang dengan mudah kali ini."

Gibran mengangkat papan tawarannya dengan gerakan yang sangat lambat, elegan, dan merendahkan lawan. "Seratus dua puluh miliar rupiah," ucap Gibran dengan suara tenang namun menggema kuat ke setiap sudut aula lelang.

Aurel yang duduk di sebelahnya langsung mencengkeram lutut Gibran karena terkejut dengan tawaran bunuh diri itu. "Gibran kau gila, uang kita tidak akan cukup jika kau terus bermain di angka sebesar itu," bisik Aurel memperingatkan dengan panik.

Gibran menoleh perlahan dan menempelkan jari telunjuknya ke bibir merah Aurel menyuruh wanita itu untuk diam sejenak. "Tenang saja Ratu Es, aku hanya sedang menuntunnya menuju tiang gantungan miliknya sendiri," balas Gibran dengan senyum iblis yang mematikan.

Urat di dahi Bratasena terlihat nyaris pecah mendengar Gibran berani melawannya di barang pamungkas yang sangat krusial ini. Ia sudah menguras tiga puluh miliar untuk batu sampah sebelumnya, dan kini dana likuid hasil gadainya hanya tersisa sekitar seratus lima puluh miliar saja.

"Seratus lima puluh miliar rupiah! Ini adalah tawaran terakhirku dan kau tidak akan bisa melampauinya Gembel!" teriak Bratasena menumpahkan seluruh sisa hartanya. Napas Bratasena terengah-engah dan matanya merah menyala menatap Gibran seperti ingin memakan pemuda itu hidup-hidup.

Suasana aula benar-benar mencekam karena tidak ada satu pun orang yang berani bernapas atau mengeluarkan suara sekecil apa pun. Semua mata kini tertuju pada Gibran, menunggu dengan jantung berdebar apakah pemuda arogan itu akan menaikkan harganya lagi.

Gibran terdiam selama sepuluh detik membiarkan ketegangan itu menyiksa mental Bratasena sampai ke batas maksimalnya. Tiba-tiba, Gibran melemparkan papan tawarannya ke lantai dan tertawa sangat keras memecah kesunyian. Hahahaha.

"Seratus lima puluh miliar untuk sebongkah batu kapur berlumut? Aku mengaku kalah Tuan Bratasena, kau memang orang paling kaya dan paling bodoh di kota ini!" teriak Gibran mengejek tanpa ampun.

Bratasena langsung jatuh terduduk di kursinya dengan dada naik turun menahan emosi kemenangannya yang terasa sangat pahit.

Tok tok tok.

"Luar biasa! Batu Raja Hijau resmi terjual kepada Tuan Bratasena Mahendra seharga seratus lima puluh miliar rupiah!" teriak pembawa acara sambil mengetukkan palunya dengan sangat keras. Master Seno berlari memeluk batu raksasa itu seolah ia baru saja memeluk seorang dewi dari surga turun ke bumi.

"Potong batunya sekarang juga di tengah panggung! Biar pemuda miskin itu sadar betapa mahalnya harga sebuah kekalahan mutlak!" perintah Master Seno kepada panitia dengan suara lantang dan penuh kesombongan.

1
nadymaddy
💚💟
setiawan
🤩🥳
nurul khusna
🌹🥳
fitri
semangat gibran🥰
pricilia
seru banget🥰
gofur
sangat menarik ingin cepat di lanjutkan crita nya
sasa
💕💋
yani
🥳🥳
samuel df
mantap kaka 😘
clara
mantap
DD
bab ini diulang ya Thor 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!