"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."
Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.
Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.
Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Kelelahan dan Kedatangan Rissa
Rasa mual yang amat menyiksa itu kembali datang tanpa peringatan.
Di dalam kamar mandi pribadi di ruang kerjanya yang luas, Annisa berlutut di atas lantai marmer yang dingin. Kedua tangannya mencengkeram pinggiran wastafel dengan buku-buku jari yang memutih. Tubuhnya berguncang hebat saat ia berulang kali memuntahkan cairan bening yang terasa begitu asam di tenggorokannya. Napasnya memburu, dadanya kempas-kempis menahan rasa nyeri yang merambat hingga ke ulu hati.
Dengan jemari yang gemetaran, Annisa memutar kran air, membasuh mulut serta wajahnya yang dibasahi keringat dingin. Pandangannya sempat mengabur sejenak. Kepala yang terasa berputar hebat memaksa Annisa memejamkan mata rapat-rapat, menyandarkan keningnya yang dingin pada dinding kaca wastafel.
"Kenapa tubuhku jadi selemah ini?" batin Annisa meringis.
Sejak persidangan perceraiannya ketok palu dan kasus penggelapan dana Rian selesai, Annisa memang membusur habis tenaganya. Pikirannya diperas tanpa henti dari pagi hingga larut malam demi mengawal alokasi proyek kawasan terpadu. Ia selalu percaya bahwa rasa mual, pusing yang mendadak menyerang, dan badannya yang makin tak bertenaga belakangan ini murni merupakan akumulasi dari kelelahan fisik serta stres berkepanjangan yang baru saja reda.
Annisa menegakkan tubuhnya terhuyung-huyung, melangkah keluar kamar mandi dan menghempaskan dirinya ke atas sofa. Ia memeluk kedua lututnya, memejamkan mata rapat-rapat sambil mencoba mengatur napasnya yang parau.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu ruangan terdengar agak tergesa-gesa.
Annisa membuka matanya perlahan, mengusap pelipisnya yang berdenyut. "Masuk," panggilnya dengan suara yang terdengar agak serak.
Pintu terbuka. Sekretaris pribadinya melangkah masuk dengan raut wajah yang tampak serba salah dan sangat cemas.
"Mbak Annisa," kata sekretaris itu ragu-ragu. "Maaf mengganggu waktu istirahat Mbak. Di luar ... ada seorang wanita yang memaksa ingin bertemu dengan Mbak Annisa secara pribadi."
Annisa mengerutkan keningnya, menahan pening yang masih berputar di kepala. "Siapa? Apakah dari pihak pers atau pengacara Rian lagi?"
"Bukan, Mbak," bisik sang sekretaris seraya mendekat. "Wanita itu mengaku bernama **Ibu Rissa**... Istri dari Bapak Fandi Prasetyo."
*DEG!*
Nama itu membuat denyut di kepala Annisa mendadak terhenti seketika. Jantungnya berdesir aneh. Rissa? Istri dari Fandi Prasetyo—investor utama yang selama ini bekerja sama dengannya?
Sebelum Annisa sempat mencerna situasi tersebut atau memberikan keputusan, pintu kayu jati ruang kerjanya terdorong agak kasar dari luar.
Seorang wanita melangkah masuk dengan napas memburu dan sepasang mata yang menyala oleh emosi yang tertahan. Langkah kakinya yang cepat dan tidak sabaran bergema keras di dalam ruangan yang sunyi itu. Sekretaris Annisa hendak menghalangi, namun Annisa mengangkat tangannya pelan, memberi isyarat agar sekretarisnya keluar dan menutup pintu dari luar.
Ruangan luas itu kini hanya menyisakan Annisa dan Rissa. Ketegangan yang amat pekat mendadak merebak di udara, mencekik leher siapa pun yang bernapas di dalamnya.
Annisa mencoba berdiri tegak dari sofanya, menahan rasa pening yang sempat membuat pandangannya bergetar. "Selamat siang, Bu Rissa. Ada keperluan apa sampai Anda datang ke kantor saya tanpa buat janji?"
Rissa tidak langsung menjawab. Ia berdiri empat langkah di hadapan Annisa. Matanya menyapu wajah Annisa yang pucat dengan tatapan yang penuh rasa benci, kecemburuan, dan keputusasaan yang meluap-luap. Tatapan dari seorang wanita yang merasa seluruh dunianya sedang direbut secara perlahan.
"Ternyata begini rupa wanita yang bikin suami saya lupa jalan pulang," bisik Rissa. Suaranya gemetaran, menahan isak tangis bercampur amarah yang tertahan di tenggorokan.
Annisa mematung. Dahi cantiknya berkerut dalam. "Maaf, Bu Rissa. Maksud Anda bicara seperti itu apa?"
"Gak usah pura-pura bodoh, Annisa!" bentak Rissa, air matanya mendadak menetes membasahi pipinya. Suaranya melengking, memecah keheningan ruangan. "Kamu pikir saya gak tahu?! Kamu pikir saya buta?! Sejak suami saya menyuntikkan dana ratusan miliar ke perusahaan ini, sejak dia mengurus kasus perceraianmu dan membantu memenjarakan mantan suamimu ... Mas Fandi berubah total!"
Dada Rissa naik turun oleh napas yang memburu. Ia melangkah satu tapak mendekati Annisa, menunjuk muka Annisa dengan jari jemarinya yang gemetaran hebat.
"Mas Fandi gak pernah lagi pulang ke rumah tepat waktu!" tangis Rissa pecah, meraung di hadapan Annisa. "Dia gak pernah lagi perhatian sama saya! Pikiran dan waktunya cuma habis buat urusan kantor ini! Buat mendampingi kamu! Di mana-mana nama kamu yang diucapkannya! Di meja makan, di telepon, di depan kolega ... Annisa! Annisa! Dan Annisa!"
Annisa berdiri membeku. Setiap teriakan dan tangisan Rissa menghantam kesadarannya bagaikan pukulan godam. Pusing di kepalanya mendadak terasa makin menyengat, namun Annisa berusaha keras mempertahankan pijakan kakinya agar tidak rubuh di lantai.
Ia bisa merasakan kepedihan yang mendalam dari suara Rissa—sebuah kepedihan dari seorang istri yang merasa diabaikan. Namun, di saat yang sama, nurani Annisa merontak keras atas tuduhan keji yang sama sekali tidak pernah ia lakukan!
"Bu Rissa ... tolong dengarkan saya dulu," ucap Annisa. Suaranya terdengar sangat pelan, namun bergetar oleh rasa emosi dan keprihatinan yang mendalam. "Tolong tahan emosi Anda."
"Bagaimana bisa saya tahan emosi saya, Annisa?!" jerit Rissa seraya mencengkeram dadanya sendiri. "Saya ini istrinya! Saya wanita yang mendampingi Mas Fandi! Tapi sekarang ... pernikahan kami di ujung tanduk! Mas Fandi makin dingin! Dia memperlakukan saya seperti orang asing di rumah kami sendiri! Dan itu semua terjadi sejak kamu hadir di dalam hidupnya!"
Rissa melangkah makin dekat, merapatkan tangannya di depan dada, menatap Annisa dengan pandangan memelas yang sangat menyayat hati.
"Saya mohon sama kamu, Annisa. Saya mengemis sama kamu, " rintih Rissa dengan tangis yang makin menjadi-jadi. "Jauhi suami saya. Tolong ... jangan sering-sering bertemu dengan Mas Fandi lagi. Jangan rebut dia dari saya. Kalau kamu butuh uang, kalau perusahaanmu butuh investor ... cari pria lain! Tapi tolong kembalikan Mas Fandi untuk saya!"
Mendengar bisikan pengemis dari Rissa, dada Annisa serasa diiris-iris sembilu tajam. Rasa nyeri, sedih, dan kehormatan dirinya sebagai seorang wanita terpukul telak.
Ia baru saja keluar dari neraka pernikahan palsu bersama Rian. Ia baru saja menyembuhkan lukanya sendiri dari pengkhianatan dan perselingkuhan yang meremukkan hidupnya. Dan kini ... wanita di hadapannya datang menuduhnya sebagai sosok pelakor yang berusaha merusak rumah tangga orang lain?!
Annisa menarik napas panjang yang terasa begitu sesak di paru-parunya. Ia mengepalkan tangannya rapat-rapat, mengumpulkan seluruh sisa kekuatan dari tubuhnya yang lemas.
Ia menatap mata Rissa yang sembap lurus-lurus. Tidak ada amarah meledak-ledak di mata Annisa—yang ada hanyalah kepedihan mendalam dan ketegasan mutlak dari seorang wanita yang tak akan biarkan harga dirinya diinjak-injak oleh fitnah.
"Bu Rissa," panggil Annisa. Suaranya kini terdengar begitu dingin, bergetar, namun memancarkan ketegasan yang sangat pekat.
Bersambung...
ga terima di cerai,,, sekarang abis lah riwayat mu ,,,karir ham ur leburur uang di tarik harga diri ha punya lagi tinggal.