Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.
Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Keheningan di dalam dapur belakang itu terasa begitu pekat hingga suara detak jarum jam dinding seolah berubah menjadi dentang palu besi yang menghantam gendang telinga. Aurelia terjebak dalam ruang pandang sang Jenderal. Jemarinya yang belepotan sisa tepung gandum gemetar hebat, menempel kaku pada gumpalan adonan di atas meja kayu. Napasnya tersangkut di kerongkongan, menyisakan sensasi terbakar yang menyiksa setiap kali ia mencoba menghirup oksigen.
Damian Valerius berdiri di sana, menjulang bagai bayangan kematian yang lepas dari rantainya. Mantel militer hitam pekatnya masih memancarkan hawa dingin sisa penjelajahan di padang es perbatasan, kontras dengan uap hangat yang mengepul tipis dari tungku pembakaran di sudut ruangan. Pria itu tidak bergeming. Sepasang manik mata abu-abu badai miliknya menyorot tajam, menguliti setiap detail ekspresi ketakutan yang merayap di wajah pucat istrinya. Tidak ada hardikan. Tidak ada bentakan kemarahan yang sedari tadi ditunggu-tunggu oleh saraf ketegangan Aurelia. Yang ada hanyalah keheningan yang jauh lebih mematikan daripada amukan badai.
Detik demi detik merayap lambat, menyeret rasa ngeri yang kian membuncah di dalam dada Shania. Ia mengira Damian akan merampas adonan itu, menghancurkannya, atau bahkan menyeretnya kembali ke dalam kurungan kamar utama dengan tuduhan percobaan sabotase baru.
Namun, alih-alih melangkah maju untuk menghancurkan pekerjaannya, Damian perlahan mengangkat tangan kanannya yang masih terbalut sarung tangan kulit hitam. Jari telunjuk pria itu terangkat lurus, membuat sebuah gestur kecil, tenang, namun mutlak—sebuah isyarat tanpa suara yang memerintahkan agar wanita di hadapannya itu melanjutkan apa yang sedang ia kerjakan.
Lanjutkan.
Tidak ada kata yang terucap dari bibir sang Jenderal, tetapi makna di balik isyarat itu menusuk tajam menembus kesadaran Aurelia. Damian sedang mengujinya. Pria itu ingin melihat seberapa jauh sandiwara atau ketulusan di balik keanehan ini, membiarkan mangsanya bergerak di bawah pengawasan mata elangnya yang tidak pernah luput dari sasaran.
Shania menelan ludahnya yang terasa keluh. Tenggorokannya kering. Dengan tangan yang masih bergetar hebat hingga menghasilkan suara gesekan halus pada permukaan kayu meja, ia terpaksa menundukkan kepalanya kembali. Ia tidak punya pilihan lain. Menolak perintah tersirat dari seorang Jenderal Agung di wilayah teritorialnya sendiri sama saja dengan mencari mati lebih cepat.
Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan gemetar di jemarinya, lalu kembali menyentuh adonan roti di atas talenan.
Tempo penulisan mendadak melambat, terfokus sepenuhnya pada ritme gerakan tangan Shania. Dengan kesabaran yang dipaksakan di tengah teror yang mencekam, ia mulai menekan gumpalan adonan itu menggunakan pangkal telapak tangannya. Gerakan itu harus dilakukan dengan presisi: tekan ke depan, tarik kembali, lipat ke tengah, lalu banting perlahan untuk mengaktifkan gluten di dalam tepung gandum kasar tersebut.
Tekan... lipat... putar... batin Shania merapal mantra ketenangan di dalam kepalanya, berusaha menulikan pendengaran dari derap napas Damian yang berdiri tidak jauh di belakangnya.
Aroma mentega sisa yang mulai meleleh karena panas tungku perapian perlahan-lahan menguar, berpadu dengan wangi ragi fermentasi dan sedikit jejak manis vanila buatan. Aroma rumahan yang begitu hangat dan lembut itu merayap keluar dari sudut dapur belakang, secara perlahan mengikis bau amis darah dan mesiu yang selama ini melekat erat pada dinding-dinding batu Kediaman Valerius. Bau itu asing. Sangat asing di tempat yang dirancang hanya untuk menampung strategi militer dan intrik politik kekaisaran.
Beberapa pelayan istana yang kebetulan melintasi koridor luar mendadak menghentikan langkah mereka. Kepala pelayan wanita dan dua orang gadis pelayan magang tampak saling berpandangan dengan kening berkerut dalam. Mereka mengendus-endus udara, kebingungan setengah mati mendapati aroma harum roti panggang segar menguar dari arah area domestik yang biasanya berbau lembap dan arang gosong.
Ketika salah seorang pelayan memberanikan diri mengintip melalui celah pintu yang sedikit terbuka, pemandangan yang tersaji di dalam membuat darah mereka seolah berhenti mengalir.
Nyonya Besar Aurelia—wanita bangsawan arogan yang tidak pernah mengotori ujung kukunya kecuali untuk mengenakan permata—tengah berdiri di hadapan meja kayu kotor, berlumuran tepung putih dari pergelangan tangan hingga ujung gaunnya, sibuk menguleni adonan roti dengan peluh yang menetes di pelipisnya. Dan yang lebih mengerikan lagi, di ambang pintu sudut ruangan, sang Jenderal Agung sendiri berdiri mematung mengawasi setiap gerak-gerik wanita itu dalam kesunyian yang mematikan.
Para pelayan segera membekap mulut mereka, memilih mundur teratur dan menghilang dalam senyap, meninggalkan dapur tersebut dalam isolasi total antara sang algojo dan tawanannya.
Di dalam ruangan yang semakin menghangat oleh uap tungku, Shania mengabaikan segala hal di sekelilingnya. Ia mencurahkan seluruh sisa fokusnya pada adonan di hadapannya. Jemarinya mulai terbiasa dengan tekstur lembut yang mulai terbentuk. Adonan itu kini menjadi lebih elastis, memantul lembut setiap kali ia menekannya. Dalam dunia yang penuh dengan ancaman kematian, ketidakpastian identitas, dan bayangan algojo berdarah dingin di punggungnya, menguleni adonan ini adalah satu-satunya hal di dunia ini yang bisa ia kendalikan sepenuhnya.
Ia mengambil pisau kecil, memotong adonan tersebut menjadi beberapa bagian sama besar dengan gerakan telaten, lalu mulai membentuknya menjadi bulatan-bulatan kecil yang rapi di atas nampan kayu. Gerakan tangannya begitu terarah, menunjukkan kebiasaan masa lalu yang sudah mendarah daging—sebuah memori otot dari kehidupannya di dunia modern yang terbawa serta menembus dimensi waktu.
Damian, yang masih berdiri tanpa suara di tempatnya, menyipitkan mata abu-abunya. Alis tebal pria itu bertaut semakin dalam. Semakin lama ia mengamati, semakin ia merasa asing dengan sosok wanita di hadapannya ini.
Ini bukan lagi Aurelia Christopher yang ia kenal—wanita manja yang hanya bisa berteriak histeris, menghancurkan barang-barang berharga, dan merajuk meminta perhatian di atas penderitaan orang lain. Gerakan tangan wanita itu terlampau tenang untuk ukuran seorang bangsawan tinggi. Cara ia memperlakukan bahan makanan murahan itu menunjukkan sebuah kebiasaan hidup mandiri yang mustahil dimiliki oleh putri seorang Adipati kaya raya.
Siapa sebenarnya wanita ini? Pikir Damian bergejolak dalam dingin. Apakah faksi musuh telah mengirimkan tiruan yang sempurna untuk menyusup ke dalam kediamannya? Ataukah kegilaan telah merenggut kepribadian Aurelia hingga menyisakan kepribadian asing yang sama sekali tidak terbaca oleh peta intelejen militer?
Damian mengambil satu langkah maju. Sepatu larsnya menghantam lantai batu dengan suara ketukan tunggal yang menggema tajam di dalam ruangan kecil itu.
Aurelia tersentak kaget. Seluruh konsentrasinya buyar seketika. Jantungnya kembali menghantam tulang rusuknya dengan brutal saat ia merasakan bayangan besar sang Jenderal kini telah berdiri tepat di belakangnya—begitu dekat hingga aroma tembakau tajam, dinginnya musim dingin, dan wangi khas tubuh pria itu menguar memeluk indra penciumannya, menenggelamkan aroma mentega dan vanila yang sedari tadi ia bangun.
Shania menegang kaku, tidak berani memutar kepalanya barang satu sentimeter pun. Napasnya tertahan di ujung tenggorokan, menunggu hantaman apa yang akan diberikan oleh pria di belakangnya.
Tiba-tiba, sebuah tangan bersarung kulit hitam milik Damian terulur melintas di sisi bahunya. Gerakan itu begitu cepat dan tanpa peringatan. Jemari kekar sang Jenderal mencolek sedikit sisa adonan putih yang menempel di mangkuk kayu di sebelah tangan Shania, lalu mengangkatnya mendekati hidung mancungnya sendiri untuk menghirup aroma ragi tersebut, sementara tubuh bidangnya mencondong ke depan, mengurung Shania sepenuhnya di antara meja kayu dan dada bidang sang Jenderal.
Posisinya begitu intim sekaligus sangat mematikan. Shania bisa merasakan hembusan napas hangat Damian menerpa tengkuk lehernya yang terbuka, membuat sekujur bulu kuduknya meremang ketakutan luar biasa.
"Kau menghabiskan sore harimu hanya untuk membuat benda busuk ini, Aurelia?" suara rendah Damian berbisik tepat di samping telinganya, begitu dekat hingga getaran suara itu merambat menyiksa saraf-saraf di sekujur leher Shania. "Ataukah... adonan ini sengaja kau buat untuk menyembunyikan sesuatu yang lain di dalam lipatannya?"
Sebelum Shania sempat menarik napas untuk menyangkal, Damian dengan gerakan tiba-tiba mencengkeram rahang bawah wanita itu dari samping, memaksa kepala Shania mendongak ke belakang dengan kasar untuk menghadap langsung ke arah wajahnya yang keras—
mampir diceritaku juga ya😊