tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri
#bl
#bxb
yang gak suka gak usah baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6.
Keheningan sempat melanda ruangan rawat inap itu selama beberapa saat.
"Haaaa... mana sih mereka? Belum datang juga. Masa gue di sini sendirian? Mana bersama orang-orang seram lagi, tapi tampan semua, Cok," gumam Elvian sangat pelan. Namun, karena ruangan itu begitu sunyi, gumaman polosnya tetap terdengar oleh telinga peka keluarga mafia tersebut.
Louis yang mendengarnya langsung tersenyum geli. "Kamu bosan ya, Nak? Kalau kamu bosan, kamu pulang saja duluan biar kami yang menjaga Max di sini."
Mata Elvian langsung berbinar-binar bahagia. "Serius, Mom? Oke, kalau begitu aku pulang duluan ya, Mom!" seru Elvian bersemangat.
"Mau ke mana?" tanya Maxime cepat, menatap tajam ke arah pemuda manis itu.
"Mau pulanglah! Masa gak dengar gue ngomong apa tadi?" ketus Elvian.
"Tidak boleh. Tetap di sini," perintah Maxime mutlak.
"Idih, idih! Siapa elo nyuruh-nyuruh gue tetap di sini?!" protes Elvian tidak terima.
"Saya kekasih kamu."
Idih, idih, kekasih! Sorry ya, gue bukan kekasih elo! Mom, Om, dan semuanya, aku pergi duluan ya! Permisi!" Tanpa menunggu jawaban dari sang bos mafia, Elvian langsung melesat keluar kamar dan berlari kencang menuju lobi untuk mencari taksi.
Michael memperhatikan kepergian Elvian sambil menahan tawa, lalu menoleh ke arah kakaknya. "Kamu serius sama dia, Max?"
"Hmm," dehem Maxime singkat sebagai jawaban.
"Dia sepertinya masih sangat muda, tampak seperti anak-anak," timpal Anton Benedict ikut bersuara.
"Umurnya sudah 20 tahun, Dad," sahut Maxime datar.
Michael bersiul pelan. "Cepat juga kamu mencari data tentang dia, Bro." Michael menjeda kalimatnya sejenak, lalu menyengir jahat. "Kira-kira apa teman-temannya juga menggemaskan seperti dia? Kalau ada, saya juga mau satu."
"Ada tiga," jawab Maxime ringkas.
Mendengar itu, Michael langsung menyenggol lengan abang pertamanya yang sejak tadi hanya diam menyimak. "Sikat gak sih, Bang Kei?"
"Hmm," balas Caesar—yang akrab disapa Kei—dengan deheman dingin yang sama persis seperti Maxime.
Michael langsung mendengus kesal. "Tau ah! Dasar dua manusia kutub!" gerutunya karena Maxime dan Kei hanya bisa menjawab dengan deheman 'hmm' saja.
Sementara itu, di apartemen...
Brak!
Pintu apartemen dibuka dengan kasar. "Hello! Anybody home? El yang tampan rupawan sudah pulang nih!" teriak Elvian heboh saat memasuki ruang tengah.
"Sok Inggris lo! Bahasa Inggris aja kagak bisa," cibir Brian yang sedang rebahan santai di atas sofa.
Revangga ikut menimpali sambil menatap Elvian dari atas ke bawah. "Benar kata Brian, El. Masa wajah blasteran begitu tidak bisa bahasa Inggris sih?"
Elvian langsung berkacak pinggang. "Lah, emang kalau misalnya Emak sama Bapakmu keturunan Jawa, tapi elo lahirnya di Jakarta dan gak pernah sekalipun ke Jawa, emang elo otomatis langsung bisa bahasa Jawa gitu?" tanya Elvian balik.
Revangga terdiam sejenak, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Enggak juga sih."
"Nah, seperti itulah gue! Wajah memang blasteran, tapi gue lahir dan besar di sini. Jadi wajar dong kalau gue tidak bisa bahasa Inggris," ucap Elvian dengan bibir cemberut nan manyun.
"Kan bisa belajar, El," sahut Revangga memberi saran.
"Sibuk, gak ada waktu buat belajar. Lagian gak terlalu penting juga buat sekarang. Tahu gak, yang paling penting buat gue saat ini itu apa?" tanya Elvian dengan wajah mendadak serius.
"Apa?" tanya Revangga dan Brian kompak.
"Yang paling penting itu, gimana caranya biar gue gak ketemu sama si curut itu lagi! Tolong kasih tahu dong caranya!" rengek Elvian frustrasi.
"Siapa curut yang elo maksud?" tanya Brian bingung.
"Itu, si Max! Masa gue dipaksa secara sepihak sekarang buat jadi pacarnya!" adu Elvian berapi-api.
"APA?! SERIUSAN?!" pekik Brian dan Revangga bersamaan, langsung menegakkan posisi duduk mereka.
"Seribu rius malah! Gue gak bohong!" seru Elvian lemas.
Brian terdiam tiga detik sebelum akhirnya tawanya pecah. "Pffft... Hahaha! Hahaha! Kan gue bilang apa tadi, El! Pasti tuh orang suka sama elo, makanya elo dipaksa jadi pacarnya Max! Hahaha!"
Bruk!
Sebuah bantal sofa melayang akurat dan mendarat keras tepat di wajah Brian.
Aduh! Sss... sakit, bangke!" umpat Brian mengusap hidungnya yang terkena hantaman bantal.
"Elo sih! Bukannya bantuin gue cari solusi biar gak ketemu dia lagi, malah ketawa-tawa di atas penderitaan gue!" kesal Elvian mendengus.
Revangga tampak mengetuk-ngetuk dagunya, memikirkan sesuatu dengan serius. Seketika, sebuah lampu ilahi seolah-olah keluar dari otaknya dengan sangat terang dan menyilaukan.
"Aha! Gue punya ide!" seru Revangga memecah ketegangan.
"Apa itu?!" tanya Elvian penuh harap.
"Gimana kalau elo pura-pura amnesia saja?" usul Revangga tanpa dosa.
Elvian menatap Revangga dengan pandangan datar. "Lah, si kocak! Masa gue amnesia dadakan? Yang ada dia makin curiga dong! Kecelakaan kagak ada, masa tiba-tiba gue amnesia?"
"Idenya gak ngotak, Coy!" timpal Brian ikut mencibir ide Revangga. "Gini aja, gimana kalau elo pergi ke luar negeri secara sembunyi-sembunyi?"
"Mau sembunyi di luar negeri, di dalam goa, di lubang semut, bahkan di lubang wc sekalipun, kamu akan tetap bisa ditemukan oleh Max," celetuk Tian yang tiba-tiba baru muncul dari arah dapur dengan membawa segelas air.
Kenapa begitu, Kak?" tanya Elvian lemas.
"Karena keluarga Max itu adalah keluarga mafia terbesar nomor satu di dunia. Anak buah mereka itu jumlahnya ratusan ribu orang dan tersebar di seluruh penjuru dunia. Jadi, ke mana pun kamu mau bersembunyi, pasti akan tetap mereka temukan," jelas Tian panjang lebar. "Bahkan, Kakak pernah dengar rumor kalau anak buah Tuan Anton pernah menangkap seekor beruang di Kutub Utara."
Brian mengernyitkan dahi dengan ekspresi aneh. "Ke Kutub Utara hanya untuk menangkap seekor beruang kutub? Penangkapan macam apa itu? Harusnya yang ditangkap itu maling, pencuri, atau begal, ini malah beruang kutub!"
"Katanya sih itu untuk istrinya Tuan Anton," lanjut Tian bergosip. "Waktu istrinya Tuan Anton hamil, dia mengidam mau memelihara beruang kutub asli. Karena Tuan Anton itu bucinnya tingkat dewa sama istrinya, dia langsung memerintahkan anak buahnya pergi ke Kutub Utara untuk menangkap beruang kutub itu hidup-hidup."
"Anjay, amazing sekali ya ngidamnya, pelihara beruang kutub," puji Revangga takjub.
"Beruntung banget ya jadi istrinya Tuan Anton itu. Ngidam aneh begitu langsung dituruti sama suami," timpal Brian iri.
"Pasti kalau istrinya minta bintang di langit, sudah diambilkan kali ya sama Tuan Anton," sahut Revangga membayangkan.
Pasti juga kalau istrinya mau ikan paus, langsung ditangkap tuh pausnya sekarang," tambah Tian tertawa pelan.
Sementara mereka asyik mengobrol tentang keluarga Benedict, Elvian terus berpikir keras mencari cara untuk menghilang seperti ninja agar tidak perlu bertemu dengan Maxime lagi.
Brian, Revangga, dan Tian mendadak merasa aneh melihat Elvian yang sejak tadi melamun dengan posisi yang tidak biasa. Kaki Elvian berada di atas sofa, sedangkan kepalanya menggantung ke bawah hampir menyentuh lantai dengan bibir yang mengerucut sebal.
"Elo ngapain posisi begitu, El? Mau latihan kayang elo?" tanya Brian heran.
"Gue sedang berpikir ini! Jangan diganggu! Bantuin mikir kagak, malah ngeledek," gerutu Elvian tanpa mengubah posisinya.
Revangga menghela napas lalu menepuk pundak Elvian yang menggantung. "Sudahlah, El. Terima nasib saja jadi pacarnya Maxime. Toh dia kan kaya raya, tampan, mapan, dan sangat berkuasa. Status itu bisa elo manfaatkan buat balas dendam ke mantan pacar elo dan keluarga elo yang jahat itu, kan?"
Mendengar ucapan Revangga, Elvian langsung menegakkan tubuhnya dan duduk dengan tegak. Matanya berbinar cerah. "Elo benar juga! Kok gue gak kepikiran sampai ke sana ya?!"
Tanpa aba-aba, Elvian langsung menerjang dan memeluk Revangga dengan erat. "Aduuuh, my best friend! Terima kasih banyak ya sudah kasih ide secemerlang ini! Uuuu-muach!" Elvian sengaja memonyongkan bibirnya untuk mencium pipi sahabatnya itu.
"Iiiih! Geli, Bangke! Jangan cium-cium! Bau jigong lo!" teriak Revangga heboh, berusaha sekuat tenaga menjauhkan wajah Elvian dari wajahnya.
Elvian melepaskan pelukannya sambil tertawa riang. Dia langsung berlari kencang masuk ke dalam kamarnya dengan senyum yang sumringah.
"Aneh banget tuh orang. Tadi aja lesu kayak siluman, sekarang malah senyum-senyum sendiri," cibir Brian menggelengkan kepala melihat pintu kamar Elvian yang tertutup.
"Biarin aja, yang penting sekarang dia sudah senang lagi," ucap Tian tersenyum hangat menyudahi malam panjang mereka.