NovelToon NovelToon
Dewi Angin Utara

Dewi Angin Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:640
Nilai: 5
Nama Author: AraLum

Jauh sebelum sejarah manusia dimulai, Dewi Angin Utara telah menjaga bumi dari balik bayang-bayang.

Namun ketika perang besar mengancam Agharta, Utara harus berpisah dari Zhuin, sosok yang telah dicintainya sejak ribuan tahun lalu.

Zhuin akan terus Ada, dengan berbagai wujudnya.

Dan setiap kehidupan, dia akan melupakan Utara.

Sementara Utara tetap mengingatnya.

Satu Dewi. Satu jiwa. Ribuan kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 : KABAR DARI UTARA

Jauh dari Pegunungan Utara, di wilayah kekuasaan Klan Serigala, pagi datang lebih pelan.

Kabut tipis masih menggantung di sela pepohonan pinus ketika Yin Shuang duduk di beranda kediamannya, secangkir teh hangat di tangan. Uap tehnya naik lurus, tidak tertiup angin. Di halaman, dua serigala penjaga berbulu kelabu berbaring di atas batu datar, telinga mereka sesekali bergerak menangkap suara dari kejauhan.

Pagi seperti ini yang paling ia suka. Tidak ada laporan, tamu, dan Mo Xuan.

Baru saja ia berpikir begitu, langkah kaki tergesa terdengar dari arah gerbang.

Seorang anak buahnya datang dan langsung berlutut dengan satu kaki. "Tuan Yin Shuang."

Yin Shuang mengangkat mata. "Ada apa?"

"Ada kabar dari Pegunungan Utara."

"Katakan."

Anak buah itu tampak ragu sejenak, seperti bingung urusan macam apa yang sedang ia bawa. "Di wilayah Klan Beruang Hitam, belakangan ini ada seorang siluman perempuan yang menetap. Kabarnya sangat cantik. Namanya Beifeng Yao."

Jari Yin Shuang berhenti di tepi cangkir.

Hanya sebentar. Kalau bukan orang yang sudah lama mengikutinya, tidak akan ada yang menyadari.

"Lanjutkan."

"Dia tinggal sendirian di pondok bambu di Lembah Feng Yin. Beberapa waktu ini, Ketua Xiong Yan sering datang ke sana." Anak buah itu menelan ludah. "Para penjaga perbatasan bilang Ketua Xiong Yan memberi perhatian khusus padanya. Bahkan ada yang bilang..."

"Bilang apa?"

"Ketua Xiong Yan menyukai siluman itu."

Tidak ada yang bicara.

Yin Shuang menunduk, menatap permukaan tehnya yang tenang. Seharusnya ini bukan urusannya. Xiong Yan mau menyukai siapa saja, itu urusan Klan Beruang Hitam. Tapi entah kenapa, nama itu, Feng Yao, langsung mengingatkannya pada seorang gadis yang selalu tersenyum tanpa curiga setiap kali bicara dengannya, seakan dunia ini tempat yang cukup aman untuk dipercaya.

Sudut bibirnya bergerak sedikit.

"Begitu rupanya."

"Menarik," kata sebuah suara dari belakang.

Anak buah Yin Shuang tersentak dan menoleh. Di bawah bayangan pohon pinus, seseorang bersandar santai pada batangnya, kedua tangan dilipat di depan dada, jubahnya sedikit kusut seperti orang yang baru saja menempuh perjalanan jauh atau baru bangun tidur. Sulit dibedakan.

Mo Xuan.

Yin Shuang menghela napas panjang. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu. "Sejak kapan kau di situ?"

"Cukup lama." Mo Xuan berjalan mendekat, langkahnya ringan, senyumnya ramah. "Jadi Xiong Yan menyukai Feng Yao?"

Anak buah Yin Shuang mengerjap. "Tuan mengenal siluman itu?"

"Kenal."

Mo Xuan berhenti di samping meja, lalu tanpa bertanya apa-apa ia mengambil cangkir teh Yin Shuang, menyesapnya, dan mengembalikannya. "Lebih dari sekadar kenal."

"Mo Xuan."

"Hm?"

"Itu cangkirku."

"Aku tahu."

Ia mengatakannya begitu wajar, seakan hal itu sama sekali bukan masalah. Yin Shuang menatapnya datar cukup lama. Mo Xuan membalas dengan senyum yang polos sekali, terlalu polos untuk orang yang baru saja meminum teh orang lain.

Lalu ia menoleh pada anak buah tadi. "Selain Xiong Yan, siapa lagi yang mendekati Feng Yao?"

Anak buah itu berpikir. "Kalau dari yang hamba dengar, beberapa klan mulai memperhatikannya. Tapi yang paling sering terlihat datang tetap Ketua Xiong Yan."

"Oh." Mo Xuan mengangguk pelan. "Begitu."

Senyumnya masih hangat. Terlalu hangat.

Yin Shuang mengenal senyum itu. Sudah puluhan tahun ia mengenalnya, dan setiap kali muncul, biasanya ada seseorang yang akan repot beberapa hari kemudian.

"Jangan membuat masalah," katanya.

Mo Xuan tertawa kecil. "Aku?" Ia menunjuk dirinya sendiri dengan wajah tersinggung yang dibuat-buat. "Aku tidak pernah membuat masalah."

Yin Shuang tidak menjawab. Ia hanya menatap.

Dalam kepalanya, Mo Xuan sudah mulai menghitung. Xiong Yan ternyata sudah bergerak, entah dengan cara apa, orang itu bukan tipe yang pandai mengungkapkan perasaan. Yin Shuang juga pasti akan bergerak, walaupun ia sendiri belum sadar. Dan Feng Yao, gadis itu tidak akan tahu apa-apa sampai semuanya terlambat.

Kalau begitu...

Senyumnya melebar sedikit.

Ini akan jadi menarik.

"Yin Shuang."

"Apa lagi?"

"Besok aku ke Pegunungan Utara."

Yin Shuang langsung menoleh. "Untuk apa?"

Mo Xuan merapikan lengan jubahnya tanpa terburu-buru. "Menemui seorang teman."

"Feng Yao."

Gerakan tangan Mo Xuan terhenti. Ia menoleh dan tersenyum. "Tepat sekali."

Ia berbalik dan melangkah pergi melewati halaman, melewati dua serigala yang mengangkat kepala sebentar lalu berbaring lagi karena sudah terlalu hafal dengan orang ini.

"Tenang saja," katanya tanpa menoleh.

Yin Shuang menyipitkan mata. "Kenapa aku harus tenang?"

"Karena kalau aku datang..." Mo Xuan berhenti sebentar di ambang gerbang, dan Yin Shuang bisa membayangkan senyumnya tanpa perlu melihat. "...beberapa orang mungkin akan melongo."

Ia pergi.

Yin Shuang tetap duduk di tempatnya. Tehnya sudah setengah dingin. Ia mengangkat cangkir itu, menatapnya, lalu meletakkannya kembali tanpa minum.

Kabut di antara pinus mulai naik, tapi pagi yang tenang tadi sudah tidak terasa sama.

Perlahan, satu hal menjadi jelas dalam benaknya, dan ia sama sekali tidak menyukainya.

Di sekitar Feng Yao, sesuatu baru saja dimulai.

---

Lembah Feng Yin pagi itu berbau kayu basah dan bunga liar.

Di atap pondok bambu, Xiong Yan berjongkok dengan palu di tangan. Dua hari lalu, angin malam menerbangkan beberapa lembar sirap dan Feng Yao hanya menyebutnya sambil lalu, sambil menyeduh teh. Xiong Yan langsung mengingat halaman di jilid ketiga yang ia baca semalam. *Tunjukkan bahwa kau bisa diandalkan.*

Maka ia datang sebelum matahari benar-benar naik, membawa palu, paku, dan Xiong Ling yang memikul seikat sirap baru dengan wajah orang yang tidak diberi pilihan.

"Ketua," kata Xiong Ling dari bawah, "kalau boleh tahu, sebenarnya Ketua bisa memperbaiki atap?"

"Tentu saja."

"Sudah pernah?"

Palu di tangan Xiong Yan berhenti sebentar. "Atap benteng."

"Itu tukang yang mengerjakan, Ketua."

"Aku mengawasi."

Feng Yao duduk di beranda dengan cangkir teh, memperhatikan pemimpin klan yang ditakuti seluruh perbatasan utara memukul paku dengan konsentrasi seperti sedang menghadapi pasukan musuh. Sudah tiga kali paku itu bengkok. Ia menahan senyum dan tidak berkomentar. Menurutnya, ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan berjalan sendiri.

Lalu Xiong Yan berhenti memukul.

Ia mengangkat kepala. Tengkuknya menegang.

Di gerbang lembah, ada sesuatu yang bergerak. Bukan aura yang kasar dan terang-terangan, tapi justru yang sangat rapi, sangat terkendali, seperti pisau yang disarungkan dengan sempurna. Seseorang sedang menekan kekuatannya sampai nyaris tidak terasa, dan justru itu yang membuat Xiong Yan waspada. Orang yang tidak punya niat buruk biasanya tidak perlu repot menyembunyikan diri.

Ia turun dari atap dalam satu lompatan. Sirap yang tadi ia pegang jatuh berantakan. Tangannya sudah di gagang pedang. Kali ini ia membawanya.

"Ketua?" Xiong Ling ikut tegang. "Ada apa?"

Xiong Yan tidak menjawab. Matanya terpaku pada jalan setapak di antara pohon plum.

Seorang pria berjalan keluar dari kabut. Jubahnya berwarna gelap dengan sulaman perak di ujung lengan, rambutnya diikat longgar, dan ia melangkah santai seperti orang yang baru saja pulang ke rumah sendiri. Di wajahnya ada senyum yang ramah sekali.

Feng Yao, di beranda, hampir menjatuhkan cangkirnya.

"Mo Xuan?"

"Yao'er." Pria itu melambaikan satu tangan. "Kau tidak bilang pondokmu sebagus ini. Kalau tahu, aku sudah datang dari dulu."

"Kau... kenapa kau ada di sini?" Feng Yao berdiri, dan wajahnya bukan wajah orang yang terganggu. Matanya melebar, lalu cerah, seperti bertemu seseorang yang sudah lama tidak ia lihat. "Kau tidak memberi kabar sama sekali!"

"Kalau memberi kabar, itu bukan kejutan namanya."

Xiong Yan mendengar percakapan itu dengan telinga yang tiba-tiba terasa aneh.

*Yao'er.*

Ia tidak pernah memanggil Feng Yao begitu. Ia bahkan tidak pernah berpikir bahwa itu bisa dilakukan.

Tangannya masih di gagang pedang. Ia baru sadar ketika Xiong Ling menyikutnya pelan, lalu melepaskannya dengan gerakan sangat kaku.

Mo Xuan akhirnya menoleh. Tatapannya jatuh pada Xiong Yan, pada palu yang tergeletak di tanah, pada atap yang separuh diperbaiki, pada beberapa lembar sirap yang berserakan. Semuanya ia amati satu per satu, tanpa terburu-buru, sampai Xiong Yan merasa sedang diperiksa oleh seorang tabib yang sudah tahu penyakitnya.

"Ketua Klan Beruang Hitam," kata Mo Xuan, dan senyumnya tidak berubah sedikit pun. "Memperbaiki atap."

"Kau siapa?"

"Mo Xuan. Teman lama Yao'er." Ia membungkuk sedikit dengan sopan yang terlalu sempurna. "Aku sering mendengar nama Ketua. Ternyata benar, orangnya sangat... rajin."

Xiong Ling di belakang Xiong Yan berdeham keras untuk menutupi tawa yang hampir keluar.

Feng Yao menengahi, tampak sama sekali tidak menyadari suasana. "Mo Xuan dulu sering menolongku. Kami sudah kenal lama sekali. Xiong Yan, ini temanku. Mo Xuan, ini Ketua Xiong Yan, yang menjaga wilayah ini."

"Sudah kudengar," kata Mo Xuan.

Xiong Yan mengangguk sekali. Ia merasa harus mengatakan sesuatu yang berwibawa. Pikirannya mencari, dan yang keluar hanya, "Silakan duduk."

Itu adalah kalimat yang seharusnya diucapkan oleh tuan rumah. Tapi ini pondok Feng Yao. Ia baru menyadarinya ketika kata itu sudah keluar.

"Terima kasih," kata Mo Xuan dengan wajah yang tidak menunjukkan apa-apa selain rasa terharu yang sopan. "Ketua baik sekali."

Mereka duduk di beranda. Feng Yao masuk mengambil cangkir tambahan, dan selama beberapa detik yang panjang, hanya tinggal tiga lelaki dan sebuah keheningan.

Xiong Yan merapikan lengan bajunya, sekadar untuk melakukan sesuatu.

Selembar kertas terlipat jatuh.

Kertas itu meluncur di lantai kayu, berhenti tepat di dekat sepatu Mo Xuan.

Xiong Yan membeku. Xiong Ling juga.

Mo Xuan menunduk, memungutnya, dan sebelum ada yang sempat berkata apa-apa, ia sudah membukanya.

Tulisan tangan yang rapi dan tegas, tinta yang belum lama kering.

*1. Perhatian.*

*2. Berikan sesuatu yang disukai.*

*3. Ajak berjalan-jalan.*

*4. Puji dengan tulus.*

*5. Tunjukkan bahwa kau bisa diandalkan.*

Di bawah nomor lima, dengan tulisan yang lebih kecil dan sedikit miring, seperti ditambahkan belakangan, ada satu baris lagi.

*Jangan bicara soal pekerjaan terus.*

Mo Xuan membaca semuanya. Alisnya naik sedikit di poin keempat, dan turun kembali di poin kelima.

Xiong Yan tidak bernapas.

Dari dalam pondok, langkah Feng Yao terdengar mendekat.

Mo Xuan melipat kertas itu dengan dua gerakan tenang, lalu mengulurkannya kembali kepada Xiong Yan. Tatapan mereka bertemu. Senyum Mo Xuan begitu lembut sampai justru terasa berbahaya.

"Tulisan Ketua bagus," katanya, hampir berbisik. "Kertasnya jatuh. Sayang kalau hilang."

Xiong Yan mengambilnya dan menyimpannya kembali ke lengan baju tanpa berkata apa-apa. Lehernya panas sekali.

Feng Yao keluar dengan dua cangkir. "Apa yang jatuh tadi?"

"Daftar belanja Ketua Xiong," kata Mo Xuan lancar.

"Oh." Feng Yao menuang teh. "Kau perlu belanja apa? Kalau mau ke pasar, aku titip benang."

"...Benang," ulang Xiong Yan.

"Iya. Yang warna hijau."

"Baik."

Mo Xuan menyesap tehnya dengan ekspresi puas. Lalu, seperti baru teringat sesuatu, ia bersandar dan menatap Feng Yao dengan hangat. "Aku akan tinggal beberapa hari di sini. Kau keberatan?"

"Tentu saja tidak!"

"Di mana aku bisa menginap?"

Feng Yao berpikir sebentar. "Ada ruang kosong di belakang. Kecil sih, tapi..."

"Cukup."

Xiong Yan menaruh cangkirnya dengan bunyi yang terlalu keras. Semua menoleh.

"Di wilayah klan ada rumah tamu," katanya. Suaranya datar. Sangat datar. "Lebih luas. Dan aman."

"Wah, perhatian sekali," kata Mo Xuan.

*Perhatian*, pikir Xiong Yan, dan tiba-tiba ia merasa poin pertama dalam daftarnya sedang dipakai orang lain untuk mengolok-oloknya.

Xiong Ling menunduk di belakang, bahunya bergetar tanpa suara. Dalam hati ia sudah menyusun cerita untuk dibagikan kepada para penjaga malam ini, dengan tambahan seperlunya.

Mo Xuan tersenyum pada Xiong Yan, tidak sedikit pun terburu-buru. "Kalau begitu, aku terima tawaran Ketua. Terima kasih."

Feng Yao tersenyum senang. Ia jelas mengira semua orang di beranda itu sedang akur.

Xiong Yan memandangi tehnya yang sudah tidak terlalu panas.

Buku jilid ketiga sama sekali tidak membahas hal ini. Tidak ada bab tentang teman lama yang datang tanpa kabar, memanggil orang yang kau sukai dengan nama kecil, dan sudah membaca seluruh strategimu dalam sekali lihat.

Malam ini ia harus mencari pedagang keliling itu lagi.

Mungkin ada jilid keempat.

-

1
Aralum
ikuti terus yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!