Rean Vale menghabiskan seluruh kehidupan pertamanya di rumah sakit.
Terlahir dengan penyakit langka yang perlahan menghancurkan tubuhnya, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang dianggap biasa oleh orang lain—bersekolah, bermain dengan teman, atau menikmati masa remaja. Meski demikian, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang tulus, lembut, dan baik hati.
Setelah kematiannya, Rean membuka mata di dunia yang sangat dikenalnya.
Ia telah bereinkarnasi ke dalam novel modern yang pernah ia baca, menjadi seorang tokoh figuran bernama Rean Vale—karakter yang seharusnya meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.
Namun kali ini, takdir berubah.
Penyakit yang seharusnya merenggut nyawanya menghilang sepenuhnya, membuat tokoh yang seharusnya tidak pernah muncul di awal cerita kini tetap hidup.
Dengan kesempatan kedua yang akhirnya ia peroleh, Rean hanya memiliki satu keinginan sederhana: menjalani kehidupan sekolah yang tidak pernah sempat ia rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Sementara itu, di gedung sebelah — area khusus kelas 11 — Aria Vale tengah dikelilingi teman-temannya di depan mading sekolah, membahas persiapan lomba debat antar kelas.
"Aria, giliran timmu presentasi hari Jumat, kan?" tanya salah satu temannya.
"Iya, sudah siap kok," jawab Aria santai, meski pikirannya sedikit melayang ke gedung sebelah.
Ia melirik jam tangannya. Adiknya pasti sedang makan siang sekarang. Entah kenapa, meski tahu Rean sudah jauh lebih sehat, kebiasaan lamanya untuk selalu khawatir belum sepenuhnya hilang.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Sophia Hart, yang kebetulan lewat bersama beberapa anggota OSIS lainnya.
"Nggak apa-apa," Aria buru-buru menormalkan wajahnya. "Cuma mikirin adikku."
"Oh, benar juga, dia masuk tahun ini kan?" Sophia tersenyum kecil. "Gimana kabarnya? Dengar-dengar dia dulu sering sakit-sakitan."
"Sekarang sudah jauh lebih baik," jawab Aria, nada suaranya melembut. "Malah sekarang dia yang semangat sekolah duluan sebelum aku suruh."
Sophia mengangguk paham. Sebagai salah satu pengurus OSIS yang dikenal dewasa dan bertanggung jawab, ia cukup sering mendengar cerita tentang keluarga-keluarga besar semacam Vale, meski jarang terlibat langsung.
"Kalau ada apa-apa, bilang aja," kata Sophia sebelum melanjutkan langkah bersama rombongannya. "OSIS bisa bantu kalau adikmu butuh orientasi tambahan."
"Makasih, Sophia." Aria melambai singkat, lalu kembali menatap mading di depannya, meski pikirannya masih separuh di gedung sebelah.
Ia tidak tahu bahwa saat itu, di kantin, adiknya baru saja tanpa sadar membuat seorang gadis bernama Elora Roswell merasakan getaran kecil pertama di dadanya.
Dunia terus berputar, bahkan di sudut-sudut yang tidak melibatkan Rean secara langsung — dan perlahan, benang-benang takdir baru mulai terjalin, jauh berbeda dari apa yang pernah tertulis di halaman buku bersampul biru itu.
Jam pelajaran olahraga menjadi momen yang paling ditunggu sebagian besar siswa kelas 10-B — kecuali, mungkin, bagi Rean, yang belum pernah sekalipun berolahraga bersama orang lain seumur hidupnya.
"Hari ini kita basket," umum guru olahraga, Pak Reynold, sambil meniup peluit. "Bagi kelompok seperti biasa."
Rean berdiri canggung di pinggir lapangan, memperhatikan teman-teman sekelasnya yang sudah lincah membagi tim. Ethan, yang memang anggota tim basket sekolah, langsung menghampirinya.
"Kamu pernah main basket?" tanya Ethan.
"Belum pernah," jawab Rean jujur.
"Nggak masalah, aku ajarin dasar-dasarnya." Ethan menyerahkan bola ke tangannya. "Coba pegang gini, terus—"
Rean mengikuti instruksi dengan serius, meski gerakannya masih kaku dan canggung. Ketika ia mencoba melempar bola ke arah ring, bolanya justru memantul jauh melenceng, membuat beberapa siswa lain tertawa kecil — bukan mengejek, hanya geli melihat usaha sungguh-sungguhnya yang berakhir kacau.
"Nggak apa-apa, coba lagi!" seru Ethan, tetap semangat.
Dari kejauhan, Kieran yang sedang bermain di lapangan sebelah sempat melirik sekilas. Ia melihat bagaimana Rean terus mencoba meski gagal berkali-kali, tidak menunjukkan raut frustrasi berlebihan, hanya terus berusaha dengan sabar.
Anak itu... cukup gigih juga, pikirnya sekilas, sebelum kembali fokus pada permainannya sendiri.
Di sisi lapangan lain, kelompok Elora yang kebetulan memiliki jadwal olahraga bersamaan duduk di bangku penonton, menunggu giliran kelas mereka.
"Itu Rean, kan?" Lily menyipitkan mata, memperhatikan sosok yang sedang kepayahan mengejar bola pantul yang menggelinding jauh. "Kok lucu banget sih caranya lari."
Elora tanpa sadar tersenyum melihatnya, memperhatikan bagaimana Rean berlari dengan gerakan agak kaku namun bersungguh-sungguh mengejar bola, wajahnya memerah karena kelelahan namun tetap semangat.
"Dia beneran nggak pernah olahraga, ya?" gumam Elora pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
"Kayaknya emang gitu," jawab Chloe. "Tapi manis juga liatnya. Kayak anak kecil yang baru belajar jalan."
Elora tidak membantah komentar itu. Ia hanya terus memperhatikan, dengan perasaan gemas yang semakin sulit ia jelaskan setiap kali melihat tingkah polos Rean.
Hujan turun tiba-tiba menjelang jam pulang sekolah, mengagetkan hampir semua siswa yang tidak membawa payung — termasuk Rean.
Ia berdiri di teras gedung utama, menatap hujan yang semakin deras dengan raut bingung. Ethan dan yang lain sudah dijemput lebih dulu, meninggalkannya sendirian menunggu supir keluarganya datang.
"Belum dijemput?"
Rean menoleh. Elora berdiri beberapa langkah darinya, memegang payung lipat berwarna krem di tangan.
"Supirku bilang lagi macet," jawab Rean. "Mungkin telat sedikit."