NovelToon NovelToon
SUAMIKU, KETUA OSIS YANG PALING KUBENCI

SUAMIKU, KETUA OSIS YANG PALING KUBENCI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Romansa Fantasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 — TERPAKSA BEKERJA BERSAMA

H-1 menuju pembukaan Garuda Bangsa Art Festival 35. Seluruh area sekolah berada di puncak kesibukan yang membakar energi. Namun, kepanikan mendadak pecah di area panggung luar pada pukul tiga sore.

"Gawat! Kawat penyangga baliho utama di atas panggung lepas gara-gara angin kencang tadi!" seru seorang anggota divisi perlengkapan dengan napas terengah-engah di depan pintu sekretariat. "Spanduknya meliuk dan menutupi pencahayaan panggung utama!"

Dito yang baru selesai mengecek sistem suara langsung menepuk dahinya. "Aduh, anak-anak perlengkapan pada ke mana? Kok bisa lepas sih?"

"Sebagian besar lagi di luar, Mas. Pada ngambil pesanan kaus panitia dan sewa alat musik ke pusat kota," sahut siswa itu panik.

Arka yang baru saja menyelesaikan tanda tangan berkas izin keamanan langsung berdiri dari kursinya. "Saya yang akan perbaiki."

"Tapi itu tinggi banget, Ka. Butuh dua orang. Satu nahan tangga dan pasang kawat di sisi kiri, satu lagi narik spanduk di sisi kanan," kata Dito.

"Biar gue yang bantu!" sebuah suara memotong cepat dari arah pintu.

Naya berdiri di sana dengan rambut dikuncir kuda dan kaus panitia hitam yang agak kebesaran. Naya sebenarnya sedang bertugas merapikan konsumsi, tetapi mendengar ada masalah kritis di panggung utama, insting tanggung jawabnya langsung mengalahkan niatnya untuk terus menghindari Arka.

Arka menatap Naya dengan terkejut. Sudah tiga hari mereka saling menghindar dalam perang dingin yang melelahkan. "Ini tugas berat, Naya. Kamu tidak—"

"Gue panitia dekorasi, Arka," potong Naya tegas, matanya menatap Arka tanpa ragu. "Ini bagian dari tanggung jawab gue juga. Nggak ada waktu buat debat."

Dito menyunggingkan senyum tipis yang sarat lega. "Nah, cakep! Gue urus sound check di aula dalam ya. Panggung luar serahin ke kalian berdua!"

Sepuluh menit kemudian, suasana di atas panggung utama terasa sangat hening. Rintik angin sore yang dingin berembus pelan, mengibarkan ujung-alun spanduk raksasa berwarna merah dan emas.

Arka berdiri di atas tangga lipat alumunium setinggi dua setengah meter untuk mengaitkan kembali kawat baja ke simpul rangka panggung. Sementara Naya berdiri di atas panggung kayu tepat di bawahnya, memegang ujung spanduk tebal dan menariknya sekuat tenaga agar posisinya sejajar.

Awalnya, kecanggungan sisa perang dingin masih melingkupi mereka. Tidak ada pembicaraan selain instruksi teknis yang singkat.

"Tarik lebih kencang dua senti ke kiri, Naya," kata Arka datar dari atas tangga.

Naya menarik kain tebal itu sambil menahan napas. "Udah nih! Tanggan lo kencengin kawatnya, jangan kelamaan! Tanggan gue mau putus nih!"

"Sedikit lagi," balasan Arka terdengar serak. tangannya yang cekatan melilitkan kawat baja menggunakan tang. "Kalau kamu tidak menahan napas seperti itu, tenaga kamu bakal lebih stabil."

"Sok tahu banget sih lo!" cibir Naya refleks, kebiasaan lamanya yang suka membalas omongan Arka mendadak keluar begitu saja. "Gue menahan napas biar konsentrasi, Robot!"

Arka menghentikan gerakan tangannya di atas tangga sejenak. Ia melirik ke bawah, menatap Naya dari ketinggian. Sunggingan senyum tipis—sunggingan senyum samar yang sudah tiga hari ini menghilang—perlahan terbit di bibirnya.

"Ternyata suara kamu kalau lagi marah jauh lebih enak didengar daripada saat kamu diam berhari-hari," gumam Arka pelan, hampir tak terdengar.

Naya tersentak kecil, pipinya mendadak terasa hangat. "A—apaan sih?! Siapa juga yang marah-marah?! Gue cuma ngomong biasa!"

"Biasa versi kamu memang selalu pakai nada tinggi," balas Arka, kembali melilitkan kawatnya.

Pertengkaran kecil yang familier itu mendadak memecahkan es tebal yang membekukan hubungan mereka selama beberapa hari terakhir. Tanpa sadar, rasa canggung dan tegang yang menyiksa perlahan menguap, berganti dengan ritme kebersamaan mereka yang alami. Mereka kembali saling mengejek, saling melempar sindiran ringan, dan bekerja dengan kecepatan yang luar biasa.

"Selesai," ujar Arka bernapas lega begitu simpul kawat terakhir terkunci rapat. Spanduk utama kini terbentang sempurna dan megah di atas panggung.

"Akhirnya!" Naya melepas pegangannya pada kain spanduk, mendesah lega sambil meregangkan kedua tangannya yang pegal. "Gila, pegal banget bahu gue."

Arka perlahan menuruni anak tangga alumunium satu per satu. "Terima kasih, Naya. Kerja kamu—"

Namun saat Arka berada di anak tangga ketiga dari bawah, salah satu pijakan alumunium yang ternyata sedikit melengkung tergelincir dari penguncinya.

Krek!

"Arka, awas!" jerit Naya panik.

Tangga itu miring mendadak. Arka kehilangan keseimbangan dan terdorong ke depan. Dalam gerakan refleks untuk menyelamatkan Arka dari benturan keras ke lantai panggung kayu, Naya melangkah maju berniat menahan tubuh cowok itu.

Brak!

Arka mendarat di atas panggung dengan Naya yang menahan dadanya. Tubuh mereka terhempas bersama di atas papan kayu panggung, dengan Arka yang dengan cepat membalikkan posisi agar tubuhnya menopang Naya, mencegah cewek itu terbentur panggung yang keras.

Tangga alumunium itu jatuh terguling di samping mereka dengan suara nyaring, menyisakan keheningan total di area panggung utama.

Naya memejamkan matanya erat-erat karena kaget. Ketika ia perlahan membuka matanya, ia mendapati dirinya berada dalam jarak yang teramat intim di pelukan Arka.

Kedua tangan Arka melingkar kokoh di pinggang Naya, sementara dada bidang cowok itu naik turun dengan napas yang memburu hebat. Wajah Arka berada hanya beberapa sentimeter tepat di atas wajah Naya. Manik mata hitam laki-laki itu membelalak lebar, memancarkan rasa cemas yang tak sanggup disembunyikan.

"Kamu... kamu tidak apa-apa?" suara Arka terdengar sangat serak dan bergetar, menerpa wajah Naya dengan kehangatan yang nyata.

Naya membeku total di tempatnya.

Tatapan mata Arka begitu pekat dan intens. Untuk beberapa detik yang terasa seperti waktu berhenti berputar, mereka berdua hanya saling menatap dalam keheningan yang mendalam. Naya bisa merasakan detak jantung Arka yang bertalu-talu liar di balik dadanya—sama liarnya dengan detak jantung Naya sendiri.

Aroma parfum kayu bercampur keringat tipis Arka menusuk indra penciumannya, membuat kepala Naya mendadak terasa ringan dan seluruh argumen dinginnya meleleh tanpa sisa.

Naya menelan ludah yang terasa kering. "G—gue... gue nggak apa-apa..."

Arka tidak langsung melepas pelukannya. Matanya menatap lembut setiap inci wajah Naya—mulai dari matanya yang bulat, pipinya yang merona merah padam, hingga bibirnya yang sedikit terbuka menahan napas. Ada dorongan asing yang teramat kuat di dada Arka untuk mengikis jarak sejangkal di antara mereka.

Namun, suara langkah kaki siswa di kejauhan menyadarkan mereka dari sihir keheningan itu.

Naya tersentak kaget, buru-buru melepaskan tangannya dari bahu Arka dan mendorong tubuhnya bangkit berdiri dengan tergesa-gesa.

"E—eh! Maaf! Maaf!" jerit Naya gelagapan, merapikan kaus panitianya yang kusut dengan tangan yang gemetar hebat. Wajahnya merona merah padam sampai ke ujung telinga.

Arka ikut berdiri perlahan, merapikan posisi kemejanya seraya berdeham keras untuk menguasai kembali ketenangannya yang baru saja runtuh total.

"I—iya... tidak apa-apa," sahut Arka datar, walau rona merah cerah yang menempel di ujung telinganya membeberkan segalanya. Laki-laki itu menegakkan tangga yang jatuh untuk menutupi rasa canggungnya yang membumbung tinggi.

Naya memalingkan wajahnya cepat-cepat ke arah luar panggung. "G—gue mau lanjut cek konsumsi di belakang dulu! Soalnya... soalnya bapak konsumsi udah nungguin!"

Tanpa menunggu balasan Arka, Naya berlari kecil meninggalkan area panggung dengan jantung yang berdebar kencang seolah habis melompati tiga dinding sekolah.

Arka berdiri sendirian di tengah panggung yang sepi, menyentuh dadanya yang masih bergemuruh liar di balik kemejanya. Laki-laki itu menatap punggung Naya yang menghilang di belokan koridor dengan sunggingan senyum tipis yang tak bisa disembunyikan lagi.

Perang dingin mereka memang telah berakhir secara tak terduga sore itu, tetapi getaran di dada mereka justru kian berbahaya—membuktikan bahwa menyangkal perasaan ternyata tak pernah lagi menjadi pilihan bagi keduanya.

1
Adinda
bukannya nama orang tuanya naya Raka thor,pengusaha juga seperti Orangtuanya Arka
Lolita Febiyanti
kak ini tayang setiap hari apa kak??
Secret A: iya dong kak pasti, di setiap harinya selalu ada bab baru yakk 😚
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!