Di dunia modern di mana kultivasi berjalan beriringan dengan teknologi, Chen Mo adalah siswa jenius dengan nilai teori sempurna yang bermimpi menjadi kultivator hebat.
Namun, kenyataan pahit menghantam di hari kelulusan saat Upacara Kebangkitan menunjukkan bahwa dia hanya memiliki Bakat Rank F—level terendah yang dicap sebagai "sampah".
Kekecewaannya bertambah ketika teman masa kecilnya, Su Mengqi, yang membangkitkan Bakat Rank S, langsung memutuskannya demi mengejar masa depan bersama para elit.
Meskipun diremehkan oleh semua orang dan masuk ke Akademi Naga Bintang yang bergengsi hanya karena jalur akademis, Chen Mo tidak putus asa, terutama setelah dia secara tak terduga membangkitkan "Sistem Check-in".
Melalui sistem ini, dia mendapatkan hadiah tak terbatas mulai dari pil langka, teknik kuno, hingga uang tunai hanya dengan melakukan check-in di berbagai lokasi akademi.
Diam-diam, di balik tembok akademi yang penuh cemoohan, Chen Mo mulai menumpuk kekuatan dan kekayaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Pedang itu berjarak kurang dari satu jengkal dari leher Chen Mo, namun pemuda itu tidak berkedip sama sekali.
'Domain Tirani Mutlak. Tekanan Penakluk Jiwa maksimal,' batin Chen Mo dengan tenang.
Booooom!
Sebuah gelombang kejut transparan yang luar biasa mengerikan meledak dari tubuh Chen Mo.
Udara di atas ring seketika membeku, gravitasi di sekitar Gao Shun melonjak ratusan kali lipat dalam hitungan sepersekian detik.
Kraaak!
Pedang raksasa yang terbuat dari baja murni itu langsung hancur berkeping-keping di udara sebelum sempat menyentuh Chen Mo.
"Uarghhh!"
Gao Shun menjerit histeris saat tubuh raksasanya dipaksa menghantam lantai batu ring dengan sangat brutal.
Bruk!
Lantai ring yang terbuat dari batu sihir keras langsung amblas sedalam setengah meter.
Gao Shun jatuh bersujud dengan posisi yang sangat memalukan tepat di depan ujung sepatu Chen Mo.
Tulang punggung, tulang rusuk, dan kedua kaki senior itu patah serentak mengeluarkan bunyi retakan yang mengerikan.
Darah segar menyembur keluar dari mulut, hidung, dan telinga Gao Shun.
Dia tidak bisa menggerakkan satu jari pun, tubuhnya dipaku ke lantai oleh tekanan gravitasi dan tekanan jiwa yang absolut.
Pikiran Gao Shun benar-benar hancur, dia merasa sedang diinjak oleh kaki dewa kematian raksasa.
Seluruh arena pertarungan yang diisi oleh puluhan ribu orang seketika menjadi sunyi senyap seperti kuburan.
Tidak ada satu pun penonton yang berani bernapas, mata mereka terbelalak menatap pemandangan mustahil di bawah sana.
Seorang senior tingkat elit Rank A baru saja ditumbangkan dalam satu detik.
Dan yang paling menakutkan, Chen Mo sama sekali tidak mengeluarkan tangannya dari saku celana.
Pemuda itu hanya berdiri diam, menunduk menatap Gao Shun dengan pandangan kosong tanpa emosi.
"Satu juta koin bintang ternyata tidak bisa membeli tulang yang kuat," ucap Chen Mo pelan, memecah keheningan absolut itu.
Suara datar Chen Mo terdengar sangat jelas di seluruh penjuru arena, membuat bulu kuduk semua orang berdiri.
Di pinggir ring, Lin Feng terjatuh dari kursi rodanya.
Wajah pemuda arogan itu sepucat kertas putih, seluruh tubuhnya bergetar hebat tak terkendali.
Air kencing kembali mengalir membasahi celana Lin Feng, dia benar-benar telah kehilangan kewarasannya karena ketakutan.
"M-monster... dia bukan manusia..." gumam Lin Feng dengan air mata mengalir deras.
Di tribun VIP, tangan Ye Qingxue yang sedang memegang cangkir teh bergetar hebat.
Prang!
Cangkir teh mahal itu jatuh dan pecah di lantai balkon, namun gadis jenius itu tidak mempedulikannya.
"Dia menggunakan tekanan jiwa murni untuk menghancurkan musuhnya," bisik Ye Qingxue dengan wajah pucat.
"Kekuatan spiritualnya... pasti sudah menembus batas lautan tak terhingga."
Su Mengqi yang duduk di seberang sana menutup mulutnya rapat-rapat sambil menangis dalam diam.
Gadis itu akhirnya menyadari seberapa jauh jarak yang kini membentang antara dirinya dan Chen Mo.
Pemuda yang dulu selalu melindunginya itu kini telah menjadi sosok dewa yang tidak bisa lagi dia jangkau seumur hidupnya.
Instruktur kepala di pinggir ring masih mematung, benderanya terjatuh ke lantai tanpa dia sadari.
Chen Mo menoleh ke arah instruktur itu dengan tatapan bosan.
"Apakah kau butuh kacamata untuk melihat bahwa dia sudah tidak bisa bertarung lagi, Instruktur?" tegur Chen Mo datar.
Instruktur kepala langsung tersentak sadar dan buru-buru berlari menaiki ring.
"P-pertandingan selesai! Pemenangnya adalah Chen Mo!" teriak instruktur itu dengan suara gagap.
Tim medis segera berlarian membawa tandu untuk mengevakuasi tubuh Gao Shun yang sudah seperti agar-agar.
Chen Mo berbalik dan berjalan menuruni tangga ring dengan langkah kaki yang teratur.
Setiap murid yang dilewatinya langsung mundur tiga langkah ke belakang, membuka jalan lebar dengan kepala menunduk.
Rasa hormat yang dipaksakan oleh ketakutan absolut kini menyelimuti seluruh Akademi Naga Bintang.
Wang Bo berlari menghampiri Chen Mo dengan wajah yang basah oleh air mata kebanggaan.
"Saudara Chen! Kau tidak perlu menggunakan tanganmu sama sekali! Itu sihir macam apa?!" tanya Wang Bo heboh.
"Itu bukan sihir, hanya sedikit penekanan gravitasi. Kebetulan tulang senior itu terbuat dari kerupuk," jawab Chen Mo santai.
Mereka berdua berjalan menuju pintu keluar arena, meninggalkan puluhan ribu orang yang masih syok berat di belakang.
"Ayo kembali ke asrama, Wang Bo. Cuaca hari ini terlalu panas untuk menonton pertarungan anak kecil," ajak Chen Mo.
"Siap, Saudara Chen! Kemanapun kau pergi, aku akan mengikutimu!" jawab Wang Bo dengan semangat menggebu.
Tepat saat mereka berdua melangkah keluar dari gerbang arena, ponsel Chen Mo bergetar kembali.
Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal muncul di layar ponselnya.
"Temui aku di atap gedung perpustakaan utama malam ini. Ada rahasia akademi yang harus kau ketahui. - Ye Qingxue."
Chen Mo membaca pesan itu dan hanya mendengus pelan sambil tersenyum tipis.
'Nona Es ini sepertinya sudah mulai penasaran dan tidak sabar lagi,' batin Chen Mo santai.