NovelToon NovelToon
Warisan Dewa Kematian: Naga Bintang & Hantu Pedang

Warisan Dewa Kematian: Naga Bintang & Hantu Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Anak Genius
Popularitas:116.9k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita tentang seorang remaja yang dianggap sebagai generasi muda terkuat saat ini. Ia tidak hanya kuat, ia juga kaya. Semua ia dapatkan berkat campur tangan gurunya.

Takdir mempertemukannya pada seorang pendekar misterius. Pendekar itu sangatlah kuat, walaupun tingkahnya agak sembrono.

Di kemudian hari ia akan mengetahui identitas dari pria itu. Petualangan mereka berdua akan sangat seru dan penuh intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertikaian Dua Pendekar

Keesokan harinya, matahari telah berada cukup tinggi di langit Kota Weiyang. Jalan-jalan utama dipenuhi lalu lalang penduduk yang sibuk dengan aktivitas mereka. Suara para pedagang, derap kereta kuda, dan tawa anak-anak saling berpadu memenuhi suasana kota.

Sementara itu, di sebuah rumah makan mewah yang terkenal di Kota Weiyang, dua sosok duduk berhadapan di sebuah meja dekat jendela. Di atas meja telah tersaji berbagai hidangan yang menggugah selera. Daging sapi panggang dengan saus rempah, ikan kukus, ayam bumbu madu, sayuran tumis, sup hangat, serta beberapa keranjang roti kukus memenuhi hampir seluruh permukaan meja.

Mata Sha Nuo langsung berbinar.

"Wah... Ternyata rumah makan yang kau maksud benar-benar luar biasa."

Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia segera mengambil sepotong daging.

"Hmm!"

Baru satu gigitan, wajahnya langsung dipenuhi senyum lebar.

"Enak!"

Ia kemudian mengambil hidangan lain.

"Yang ini juga enak!"

Belum selesai mengunyah, tangannya sudah berpindah ke mangkuk sup.

"Hahaha! Rui'er, pilihanmu memang tidak salah."

Sha Nuo makan dengan lahap tanpa sedikit pun menjaga wibawa. Dalam waktu singkat, beberapa piring di depannya mulai kosong.

Melihat pemandangan itu, Gao Rui hanya bisa tersenyum tipis.

"Paman..."

Sha Nuo mengangkat kepalanya.

"Hm?"

Gao Rui menunjuk pelan ke arah meja yang masih dipenuhi makanan.

"Pelan-pelan saja. Makanannya tidak akan lari."

Sha Nuo berkedip beberapa kali. Kemudian ia tertawa lepas.

"Hahaha! Kau benar juga."

Meski begitu, kecepatan makannya hanya sedikit berkurang. Gao Rui menggeleng pelan sambil tersenyum geli.

Suasana meja makan terasa begitu hangat. Sesekali Sha Nuo memuji satu hidangan, lalu berpindah ke hidangan berikutnya.

"Sup ini juga luar biasa."

"Lalu daging panggangnya empuk sekali."

"Oh! Bahkan tehnya juga enak."

Mendengar pujian itu, Gao Rui merasa lega.

"Syukurlah Paman menyukainya."

Sha Nuo mengangguk mantap.

"Kalau nanti aku kembali ke Kota Weiyang, rumah makan ini pasti menjadi tempat pertama yang akan kudatangi."

Mereka kemudian melanjutkan makan siang sambil berbincang ringan. Sha Nuo mulai menceritakan berbagai pengalaman selama mengembara di dunia persilatan.

"Hahaha... dulu aku pernah tersesat selama tujuh hari saat menuju suatu tempat."

Gao Rui menghentikan gerakan sumpitnya.

"Tujuh hari?"

Sha Nuo mengangguk santai.

"Benar. Lucunya, setelah bersusah payah mencari jalan keluar..."

"...aku baru sadar ternyata aku hanya berputar-putar di gunung yang sama."

"Hahaha!"

Gao Rui ikut tersenyum kecil.

Tak lama kemudian, Sha Nuo kembali bercerita.

"Pernah juga aku bertemu seorang tabib tua yang memaksaku mencoba ramuan buatannya."

"Katanya ramuan itu bisa membuat tenaga dalam meningkat."

"Lalu bagaimana hasilnya?" tanya Gao Rui penasaran.

Sha Nuo menggaruk pipinya.

"Hasilnya... aku sakit perut selama tiga hari."

"Hahaha!"

Kali ini Gao Rui benar-benar tertawa. Sha Nuo juga ikut tertawa melihat reaksi bocah itu.

Beberapa saat kemudian, ia kembali menceritakan kisah lain. Tentang kota-kota yang pernah ia kunjungi. Tentang pegunungan tinggi yang diselimuti salju sepanjang tahun. Tentang gurun luas yang membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk diseberangi. Tentang para pendekar aneh yang memiliki kebiasaan-kebiasaan unik.

Setiap kisah diceritakannya dengan begitu santai, seolah semua itu hanyalah pengalaman biasa. Namun, bagi Gao Rui, semuanya terdengar luar biasa.

Semakin lama ia mendengarkan, semakin besar pula rasa kagum yang muncul di wajahnya. Dunia yang selama ini hanya ia dengar dari cerita orang lain ternyata begitu luas. Pria bertubuh besar yang sedang duduk di hadapannya seolah telah menjelajahi sebagian besar dunia itu.

"Paman..."

Gao Rui akhirnya membuka mulut.

"Paman benar-benar sudah mengunjungi begitu banyak tempat."

Sha Nuo tersenyum kecil sambil menuangkan teh ke dalam cangkir mereka.

"Hahaha... Aku hanya kebetulan suka berjalan ke sana kemari."

"Bukankah dunia ini terlalu luas jika hanya dilihat dari satu tempat saja?"

Gao Rui menganggukkan kepala perlahan. Tatapannya masih tertuju kepada Sha Nuo.

Di dalam hatinya, rasa kagum terhadap pria itu semakin bertambah. Ia mulai menyadari bahwa di balik sifatnya yang ceria, gemar tertawa, dan terkadang terlihat ceroboh, Sha Nuo menyimpan pengalaman hidup yang jauh lebih banyak daripada yang pernah ia bayangkan.

...*****...

Tanpa terasa, waktu makan siang pun berakhir.

Hampir seluruh hidangan yang memenuhi meja telah habis. Beberapa piring bahkan tampak benar-benar bersih, membuat pelayan yang sejak tadi beberapa kali datang menambahkan teh hanya bisa memandang meja itu dengan wajah kagum.

Sha Nuo menyandarkan punggungnya ke kursi.

"Haa..."

Ia mengusap perutnya sambil tersenyum puas.

"Benar-benar enak."

Gao Rui ikut tersenyum.

"Kalau Paman menyukainya, berarti pilihanku tidak salah."

Tak lama kemudian, seorang pelayan berjalan mendekat sambil membawa papan tagihan.

"Tuan, ini..."

Belum sempat pelayan itu menyelesaikan ucapannya, Sha Nuo sudah lebih dulu mengeluarkan beberapa keping emas dari kantongnya.

"Ini. Aku yang membayar."

Namun pada saat yang sama, Gao Rui juga ikut mengeluarkan kantong uangnya.

"Paman. Biarkan aku saja."

Sha Nuo langsung menggeleng kuat.

"Tidak bisa."

"Aku yang mengajakmu makan siang lebih dulu. Jadi tentu saja aku yang membayar."

Gao Rui kembali mencoba menolak.

“Tetapi... Paman adalah tamuku di Kota Weiyang. Seharusnya aku yang menjamu Paman."

Sha Nuo tertawa lebar.

"Hahaha!"

"Kalau begitu lain kali saja. Hari ini tetap aku."

"Tidak."

Gao Rui masih mencoba menyerahkan beberapa keping emas kepada pelayan.

Pelayan itu berdiri di antara keduanya dengan wajah kebingungan. Tatapannya bergantian melihat Sha Nuo, lalu Gao Rui.

"..."

"Jadi..."

"...yang mana?"

Sha Nuo dan Gao Rui saling memandang sesaat. Kemudian Sha Nuo bergerak lebih cepat. Ia langsung meletakkan keping emasnya ke tangan pelayan.

"Sudah. Ambil punyaku. Kembaliannya ambil saja.”

Pelayan itu masih terlihat ragu. Namun melihat Gao Rui hanya mengembuskan napas kecil sambil tersenyum pasrah, ia akhirnya membungkukkan badan.

Tak lama kemudian, urusan pembayaran pun selesai. Keduanya keluar dari rumah makan itu bersama.

Matahari masih bersinar terang, sementara jalan-jalan Kota Weiyang tetap dipenuhi oleh keramaian para pedagang dan pejalan kaki.

Gao Rui menoleh ke arah Sha Nuo.

"Paman. Kalau begitu, mari kita kembali ke Penginapan Kayu Mawar."

Sha Nuo menggeleng pelan.

"Hahaha..."

"Tidak dulu. Aku masih ada sedikit urusan."

Gao Rui tampak sedikit penasaran.

"Urusan?"

Sha Nuo mengangguk sambil tersenyum santai.

"Ya. Tidak akan lama."

"Mungkin nanti malam kita bertemu lagi di penginapan."

Mendengar itu, Gao Rui tidak bertanya lebih jauh.

"Baik."

Ia kemudian menangkupkan kedua tangannya.

"Kalau begitu, Paman... aku pamit lebih dulu."

Sha Nuo membalas penghormatan itu dengan senyum hangat.

"Hati-hati di jalan, Rui'er."

Gao Rui menganggukkan kepala.

"Paman juga."

Tak lama kemudian, ia berbalik dan berjalan perlahan menyusuri jalan utama Kota Weiyang.

Sha Nuo tetap berdiri di tempat. Ia memandang punggung Gao Rui hingga perlahan menghilang di tengah keramaian.

Barulah setelah sosok bocah itu benar-benar lenyap dari pandangannya, senyum di wajah Sha Nuo perlahan menghilang.

Tatapannya bergeser ke sebuah gang sempit yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan suara tenang, ia berkata,

"..."

"Masih mengikutiku?"

Suasana tetap hening beberapa saat. Lalu...

Tap.

Tap.

Tap.

Suara langkah kaki perlahan terdengar dari dalam gang. Sesosok pria berjubah abu-abu berjalan keluar dengan wajah dingin. Pria itu adalah Yuang Dao.

Tatapannya tetap setajam saat pertemuan mereka semalam. Ia berjalan hingga berhenti beberapa langkah di depan Sha Nuo. Keduanya kembali saling berhadapan.

Yuang Dao membuka mulut lebih dulu.

"Semalam... aku sudah memperingatkanmu."

Nada suaranya tetap datar. Namun setiap kata yang keluar darinya terasa berat.

Sha Nuo hanya tertawa kecil.

"Hahaha... Aku juga sudah menjawabmu."

Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam lengan jubah.

"Kau tidak bisa mengaturku."

Tatapan Yuang Dao tidak berubah sedikit pun.

Beberapa saat kemudian, ia mengalihkan pandangannya ke arah sebuah perbukitan yang tampak menjulang di luar Kota Weiyang. Bukit itu terlihat tenang, jauh dari keramaian kota.

Setelah beberapa saat memandang ke sana, Yuang Dao kembali menoleh kepada Sha Nuo.

"Apa kau punya waktu?"

Sha Nuo mengangkat sebelah alisnya.

"Hm?"

Yuang Dao berkata singkat,

"Mari berbicara di tempat lain."

Sha Nuo mengikuti arah pandangan pria itu menuju perbukitan. Kemudian...

"Hahaha... Aku punya waktu banyak."

Baru saja kalimat itu selesai diucapkan...

Swussh!

Tubuh Yuang Dao telah melesat ke udara, berubah menjadi bayangan abu-abu yang meluncur cepat menuju perbukitan di kejauhan.

Sha Nuo tersenyum tipis.

"Orang itu benar-benar tidak sabaran."

Swussh!

Pada detik berikutnya, tubuhnya juga melayang ke udara, mengikuti arah yang sama.

Dalam sekejap, kedua sosok itu telah menghilang dari atas langit Kota Weiyang, menuju perbukitan sunyi yang membentang di kejauhan.

1
Tosari Agung
thor next bab paman nuo coba suruh tanyain ke Gao Rui siapa gurunya biar pada gak penasaran
Tosari Agung
thor next bab paman nuo coba suruh tanyain ke Gao Rui siapa gurunya biar pada gak penasaran
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Makjlebz pokok'é 🔥🌽
Irfan tejo laksono
ahaiiii 👍👍👍
Akhmad Baihaki
👍👍👍👍👍👍
mbono keling
👍👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪💪💪💪
yayat
bantai jangn kash ampun tujukan pada paman nou rui murid dr boqin
Adek Darmansyah
udh mulai menyebalkan ni authorr...
Nanik S
Bantai semua dan ambil semua Cincin ruang musuh seperti biasanya
Nanik S
Rui... tunjukan pada Paman Nuo, bahwa mampu membantai mereka dan tidak selembut hatinya🤣🤣🤣
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Ridwan Pasirjambu
😍😍😍😍
budiman
satu mawar 🌹
Raju
tiba dilokasi, bertatap muka, mengetahui tingkt kultivasi musuh, di izinkan bertarung seraya mencabut pedang... udah.... slsai....🤣🤣🤣
tariii
jangan remehkan bocil itu, wooooyyyyy.... jangan lihat tampangnya yg polos, dia itu monster kecil yg siap membant*i kalian para perampokk...🤭🤭🤭😂😂😂
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Muantebz
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Makjlebz 🔥🌽
kute
super seru enak alur ceritanya tidak membosankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!