NovelToon NovelToon
Unseen Friend

Unseen Friend

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Horor / Misteri
Popularitas:53
Nilai: 5
Nama Author: CRZ CREW

Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 — Pola yang Berulang

Josh tidak berani bergerak sedikit pun selama beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam, matanya menatap lurus ke langit-langit kamar sambil telinganya menajam mendengarkan setiap suara sekecil apa pun. Napasnya sendiri terdengar begitu keras di tengah keheningan, namun tidak ada suara lain yang menyusul setelah bisikan tadi. Perlahan, ia memberanikan diri menoleh ke samping ranjang.

Kosong. Tidak ada siapa-siapa.

Namun udara di sekitarnya masih terasa dingin, jauh lebih dingin dari suhu kamar yang seharusnya, dan bau samar seperti debu tua serta sesuatu yang terbakar tercium tipis di udara, menghilang secepat ia menyadarinya.

Ia tidak bisa tidur lagi malam itu, duduk terjaga hingga subuh menjelang, menatap jam yang perlahan bergerak melewati angka 02.02 tanpa kejadian aneh lain seolah sosok itu, siapa pun atau apa pun itu, sudah menyampaikan pesannya dan memilih untuk mundur sementara waktu.

Ia menghabiskan sisa waktu sebelum subuh dengan menatap langit dari balik jendela, mencoba menenangkan diri dengan cara yang biasa ia lakukan memperhatikan gradasi warna langit yang perlahan berubah dari hitam pekat menjadi biru tua, lalu perlahan jingga muda di ufuk timur. Biasanya, momen ini adalah waktu favoritnya, saat dunia terasa tenang dan penuh harapan. Namun pagi itu, bahkan keindahan langit subuh tidak mampu sepenuhnya mengusir rasa dingin yang masih menempel di tengkuknya.

Selama seminggu berikutnya, Josh mulai mengikuti saran Veron dengan lebih disiplin mencatat setiap detail sekecil apa pun yang terjadi di sekitar pukul 02.02. Ia menyadari sebuah pola yang semakin jelas: setiap kali jam itu tiba, suhu di kamarnya turun drastis meski AC tidak menyala sama sekali, dan selalu ada suara samar seperti detak jam yang jauh lebih lambat dari detak jam normal, seolah waktu di sekitarnya benar-benar melambat, meregang seperti karet yang ditarik hingga hampir putus.

Setiap malam, ia memaksakan diri untuk tetap terjaga sedikit lebih lama dari biasanya, menyalakan lampu meja dan duduk siaga dengan buku catatan di pangkuannya, mencatat suhu ruangan yang ia ukur menggunakan termometer kecil yang ia pinjam diam-diam dari laboratorium sekolah, mencatat setiap suara yang terdengar meski samar, mencatat perubahan sekecil apa pun pada benda-benda di kamarnya. Kebiasaan baru ini membuatnya semakin lelah di siang hari, namun ia merasa perlu melakukannya, seolah dengan mendokumentasikan semuanya secara rinci, ia bisa menemukan pola yang akan membantunya memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Ia membawa catatan lengkap itu kepada Veron di perpustakaan sekolah saat jam istirahat, menyerahkannya dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

"Ini beneran pola yang konsisten,"

kata Veron sambil membolak-balik halaman catatan Josh dengan alis terangkat semakin tinggi setiap kali ia membaca detail baru.

"Tapi ini... di luar penjelasan biasa yang bisa gue pikirin."

"Makanya gue butuh bantuan lo," Josh berkata pelan, suaranya nyaris memohon. "Gue nggak tahu harus mulai dari mana lagi."

Veron terdiam sejenak, matanya menerawang seperti sedang memproses sesuatu, sebelum akhirnya mengetik cepat di ponselnya. "Gue coba cari tahu, apa ada kejadian lain di sekitar sini yang berhubungan dengan jam segitu. Kadang hal-hal kayak gini punya sejarah yang lebih dalam dari yang kita kira."

Sementara itu, Brandon yang awalnya hanya mendengar cerita ini secara sepintas dari Gibran di sela obrolan santai mulai tertarik dengan caranya sendiri, meski lebih didorong oleh rasa penasaran yang bercampur ngeri ketimbang niat membantu secara serius.

"Eh, gue denger-denger, katanya dulu ada murid sekolah kita yang hilang,"

katanya saat mereka berkumpul di kantin siang itu, suaranya sengaja direndahkan seolah membocorkan rahasia besar.

"Tapi gue nggak yakin itu beneran atau cuma legenda anak sekolah doang, kayak cerita toilet angker di lantai dua."

"Hilang gimana maksudnya?" tanya Gibran, ikut penasaran meski tadinya bersikap skeptis terhadap semua cerita Josh.

"Katanya sih, dia keluar malem-malem terus nggak pernah balik lagi. Ada yang bilang dia diculik, ada juga yang bilang dia... ya gitu deh, ilang aja tiba-tiba, kayak ditelan bumi,"

Brandon mengangkat bahu, meski matanya sendiri terlihat waswas mengucapkannya.

Josh merasa dadanya sedikit sesak mendengar cerita itu. Bukan karena langsung memercayainya sepenuhnya, tapi karena entah kenapa, cerita itu terasa memiliki benang merah yang tidak bisa ia abaikan begitu saja dengan apa yang sedang ia alami sendiri.

Sepulang sekolah, Veron mengirim pesan singkat kepada Josh, mengajaknya untuk mencari informasi lebih lanjut di perpustakaan kota, tempat arsip-arsip lama kota mereka disimpan dan jarang disentuh orang.

"Gue nemu sesuatu yang menarik,"

tulis Veron, disertai emoji tanda tanya yang terasa jauh lebih mengancam dari biasanya dalam konteks ini.

"Ketemuan besok sore?"

Josh membalas singkat, menyetujui ajakan itu, meski ada rasa gelisah yang tumbuh perlahan dalam dirinya sebuah perasaan samar namun kuat bahwa semakin ia mencari tahu kebenaran, semakin dalam pula ia akan terseret ke dalam sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya dari yang pernah ia bayangkan sebelumnya.

Malam itu, sebelum tidur, ia sekali lagi memeriksa jendela kamarnya. Gang di seberang rumah tampak kosong seperti biasa. Namun saat ia hendak menutup gorden, matanya menangkap sesuatu yang membuat jantungnya nyaris berhenti di kaca jendela, samar-samar, terpantul bayangan sesosok tubuh berdiri tepat di belakangnya, di dalam kamarnya sendiri.

Ia berbalik cepat.

Kamar itu kosong.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!