Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.
*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*
Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**
Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
BAB 34
PERKARA DI SEKOLAH
"Ibu Dika, mohon segera datang ke sekolah. Ada insiden."
Telepon wali kelas membuat sendok sayur jatuh dari tangan Wulan.
Ia tiba di SD Dika empat puluh menit kemudian. Di ruang kepala sekolah, Dika duduk dengan mata merah dan lutut kotor. Seorang anak lain memegang kompres dingin di dahi, ditemani kedua orang tuanya yang berbicara bersamaan.
"Anak Ibu mendorong sampai kepala anak saya kena meja!" kata ayah anak itu.
"Kami mau dia dikeluarkan. Kalau sekolah melindungi, kami lapor polisi."
Wulan berlutut di depan Dika. "Dika sakit di mana?"
"Nggak sakit, Bu."
"Ceritakan dari awal. Jangan bohong meski Dika takut."
Anaknya menunduk. "Reno ambil kotak pensilku. Sudah sering. Aku minta balik, dia bilang Ibu nggak bisa beli lagi karena miskin. Terus dia dorong aku. Aku dorong balik. Dia jatuh."
"Kamu memukul?"
"Nggak. Cuma dorong supaya dia berhenti."
Wali kelas mengakui beberapa anak pernah melapor Reno mengejek Dika, tetapi belum ada catatan formal. Kamera berada di lorong depan kelas, mungkin merekam bagian awal.
"Mungkin?" tanya Wulan. "Tolong amankan rekamannya sekarang sebelum tertimpa."
Kepala sekolah tampak tidak nyaman. "Kami perlu ikuti prosedur."
"Justru karena itu saya minta bukti disimpan."
Wulan menelepon Dimas tiga kali. Panggilan keempat baru dijawab.
"Aku lagi rapat."
"Dika ada masalah di sekolah. Orang tua temannya mengancam lapor polisi. Aku butuh kamu datang."
"Dia bikin apa lagi?"
"Dia didorong dan membela diri."
"Kenapa dia dorong balik? Ajari anak jangan berantem. Kalau aku datang, semua kantor tahu anakku bikin masalah. Kamu selesaikan dulu."
Sambungan berakhir.
Dika mendengar cukup banyak untuk mengecilkan bahu.
"Ayah marah?"
Wulan memegang wajahnya. "Ibu sedang urus. Dika tetap di sini sama Ibu."
Di grup keluarga, Bu Suminah langsung menyalahkan.
`Kamu nggak becus mengawasi anak. Jangan sampai keluarga malu karena polisi.`
Tangan Wulan mulai bergetar. Ia tidak tahu apakah ancaman laporan terhadap anak SD akan benar-benar dilakukan, tetapi orang tua Reno terus menyebut ganti rugi dan pemecatan. Kepala sekolah hanya meminta semua pihak tenang tanpa mengamankan bukti di depan mereka.
Satu nama muncul di pikirannya.
Wulan keluar ke lorong dan menelepon Bram.
"Pak Bram, saya butuh bantuan informasi. Bukan uang. Bukan orang dalam."
"Ceritakan lokasinya dan apa yang sudah terjadi."
Ia menjelaskan secepat mungkin.
"Pertama, minta sekolah membuat berita acara internal dan menyimpan CCTV tertulis," kata Bram. "Kedua, jangan tanda tangan pengakuan atau ganti rugi sebelum ada pendamping. Saya kenal kantor bantuan hukum yang punya pengacara perlindungan anak. Boleh saya minta mereka menelepon Ibu?"
"Boleh."
"Saya tidak akan menghubungi sekolah atau polisi atas nama jabatan saya. Pengacaranya yang akan menjelaskan hak Dika."
Lima belas menit kemudian, seorang pengacara perempuan bernama Bu Ratih menelepon. Setelah mendengar kronologi, ia meminta berbicara dengan kepala sekolah melalui panggilan video. Ia menjelaskan bahwa Dika dan Reno sama-sama anak, pemeriksaan harus ramah anak, dan ancaman pidana tidak boleh dipakai untuk memaksa pengakuan sebelum bukti diperiksa.
"Tolong buat permintaan tertulis untuk preservasi CCTV sekarang," katanya kepada Wulan. "Saya kirim format singkat lewat WhatsApp."
Wulan menyalin format, mengirim ke surel sekolah, dan meminta tanda terima.
Baru setelah itu petugas teknologi dipanggil.
***
Rekaman menunjukkan Reno mengambil kotak pensil, mendorong bahu Dika dua kali, lalu menghalangi pintu. Dika mendorong satu kali untuk membuka jalan. Reno mundur, tersandung kaki meja, dan membentur dahi.
Tiga teman sekelas memberi keterangan serupa di hadapan guru konseling, masing-masing tanpa anak lain di ruangan. Mereka juga menyebut ejekan yang sudah berlangsung beberapa minggu.
Bu Ratih tiba di sekolah sebelum sore. Ia tidak mengancam siapa pun. Ia meminta semua fakta ditulis lengkap, termasuk kelalaian sekolah menindak laporan awal.
"Dorongan Dika tetap tindakan fisik yang perlu dibina," katanya. "Tapi konteksnya adalah melepaskan diri setelah didorong dan dihalangi. Jangan samakan dengan serangan yang direncanakan."
Orang tua Reno mulai menurunkan suara setelah menonton CCTV.
"Anak kami tetap luka," kata ibunya.
"Kami bersedia ikut memeriksakan dan membahas biaya wajar," jawab Wulan. "Tapi Dika tidak akan dipaksa mengaku sebagai pelaku tunggal. Reno juga harus berhenti mengambil barang dan mengejek."
Sekolah akhirnya membuat kesepakatan tertulis. Tidak ada pemecatan, tidak ada laporan polisi, dan tidak ada tuntutan ganti rugi sepihak. Biaya pemeriksaan awal ditanggung asuransi sekolah, sisanya dibicarakan berdasarkan bukti. Kedua anak mendapat pendampingan guru konseling, ditempatkan terpisah sementara, dan sekolah membuka laporan bullying sebelumnya.
Dika diminta meminta maaf karena mendorong. Reno juga meminta maaf karena mengambil barang, mengejek, dan mendorong lebih dulu.
"Maaf," kata Dika pelan. "Aku nggak mau kamu luka. Aku cuma mau keluar."
Kalimat itu sesuai usianya. Tidak lebih, tidak kurang.
Setelah keluarga Reno pulang, guru konseling mengajak Wulan dan Dika bicara di ruang terpisah. Dika mengaku ejekan itu berlangsung hampir tiga minggu. Ia pernah memberi tahu seorang guru piket, tetapi hanya diminta saling memaafkan tanpa ditanya lebih lanjut.
"Kenapa Dika nggak cerita ke Ibu?" tanya Wulan.
"Takut Ibu sedih. Ayah juga bilang anak laki-laki jangan cengeng."
Wulan menahan napas. "Minta bantuan bukan cengeng. Kalau ada yang ambil barang, mengejek, atau mendorong, Dika cari guru dan cerita ke Ibu. Kalau harus menjauh, menjauh. Kalau benar-benar terpojok, lindungi badan dan cari orang dewasa, bukan mengejar untuk balas."
Dika mengangguk.
Sekolah menetapkan pertemuan evaluasi dua minggu kemudian, meminta wali kelas mencatat semua insiden, dan membuka saluran laporan tertulis bagi orang tua. Bu Ratih memastikan Wulan menerima salinan kesepakatan sebelum pulang. Ia juga menegaskan jasanya dibayar kantor hukum melalui program bantuan anak, bukan menjadi utang pribadi Wulan kepada Bram.
Kejelasan itu penting. Bahkan dalam keadaan panik, pertolongan tidak boleh berubah menjadi tagihan tersembunyi.
***
Dimas baru datang ketika dokumen hampir selesai.
"Sudah beres?" tanyanya.
"Sudah," jawab Wulan.
"Bagus. Jangan sampai masuk laporan kantor."
Ia tidak bertanya siapa yang membantu atau bagaimana perasaan Dika. Di perjalanan pulang, ia malah mengeluh rapatnya terganggu.
Wulan duduk bersama Dika di kursi belakang taksi online karena menolak pulang dengan motor Dimas. Anaknya tertidur sambil memeluk kotak pensil yang sudah kembali.
Ponsel Wulan bergetar.
`Bagaimana Dika?` tanya Bram.
`Tidak dikeluarkan. Tidak ada laporan. Sekolah akan tindak bullying. Terima kasih.`
Jawabannya datang singkat.
`Anak Ibu berani. Membela diri bukan berarti dia anak nakal. Pastikan dia juga tahu kapan harus cari guru.`
Wulan memandang Dika yang tidur.
Hari ini Bram tidak menyelesaikan perkara dengan satu telepon. Ia memberinya orang yang tepat, langkah yang benar, dan ruang agar Wulan sendiri berdiri membela anaknya.
Untuk pertama kalinya, Wulan melihat bahwa kekuatan paling besar Bram bukan pada siapa yang bisa ia tekan.
Melainkan pada betapa cepat ia tahu cara melindungi tanpa mengambil alih.