Di Benua Shenzhou yang dipenuhi oleh energi spiritual (Qi), hukum rimba berlaku: yang kuat dihormati, yang lemah diinjak-injak. Ye Chen, seorang pemuda dari Klan Ye, terlahir dengan meridian yang cacat sehingga ia tidak bisa menyerap Qi. Selama enam belas tahun, ia hidup sebagai lelucon dan bahan hinaan klannya.
Namun, takdirnya berubah drastis di suatu malam yang berdarah. Saat ia dipukuli dan dibuang ke dasar Jurang Kematian oleh sepupunya sendiri, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah liontin batu giok hitam peninggalan ibunya. Liontin itu ternyata menyimpan jiwa seorang Kaisar Naga Kuno yang telah tersegel selama puluhan ribu tahun. Dengan bimbingan sang Kaisar Naga, Ye Chen memulai jalan kultivasi yang menentang langit untuk membalas dendam dan mencari kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekte Api Sejati
Lima hari berturut-turut Ye Chen menembus kabut berdarah di Lembah Darah Merah. Tempat ini benar-benar pantas disebut sebagai neraka di bumi. Kabut merah yang mengambang di udara memiliki efek halusinasi ringan, dan setiap beberapa mil, ia harus menghadapi serangan mendadak dari monster-monster yang bermutasi menjadi lebih buas dan gila.
Namun, bagi Ye Chen, ini adalah surga pelatihan. Setiap kali ia menebas monster dengan Pedang Besi Hitamnya, otot-ototnya semakin terbiasa dengan beban ekstrem, dan Qi di dalam meridiannya semakin padat.
"Hawa panasnya semakin menyengat," gumam Ye Chen.
Ia menyeka keringat yang menetes di pelipisnya. Peta perkamen di dalam sakunya terasa semakin panas, seolah-olah beresonansi dengan sesuatu di dekatnya. Pohon-pohon mati di sekitarnya kini telah digantikan oleh bebatuan vulkanik berwarna hitam legam. Di depannya, daratan tiba-tiba terbelah, membentuk sebuah ngarai raksasa yang curam.
Dari dasar ngarai tersebut, cahaya merah jingga berpendar terang, diiringi gelembung-gelembung lava kental yang meletup. Suhu di tepi ngarai ini cukup untuk melelehkan besi biasa.
Ye Chen baru saja hendak melangkah maju ketika telinganya yang tajam menangkap suara samar gesekan logam dan percakapan manusia dari arah bawah ngarai.
"Sst! Sembunyikan auramu, Bocah. Ada sekumpulan manusia di bawah sana, dan kultivasi mereka tidak bisa dianggap remeh," peringatan Ao Tian muncul dengan cepat. Energi dingin seketika menyelimuti tubuh Ye Chen, menekan fluktuasi Qi-nya hingga titik terendah.
Ye Chen mengangguk pelan. Ia merangkak di balik sebuah batu vulkanik raksasa di tepi tebing, mengintip ke arah dasar ngarai.
Di atas sebuah pulau batu yang dikelilingi sungai lava, berdiri sekelompok orang berpakaian jubah merah cerah dengan sulaman api emas di dada mereka. Ada sekitar sepuluh orang. Delapan di antaranya adalah pemuda bersenjata pedang yang memancarkan fluktuasi Qi di tingkat kelima dan keenam.
Namun, yang membuat mata Ye Chen menyipit tajam adalah dua sosok yang memimpin kelompok itu.
Sosok pertama adalah seorang pemuda tampan dengan wajah arogan, memegang sebuah kompas giok yang terus berputar menunjuk ke tengah pulau batu. Pemuda ini berada di Tahap Pengumpul Qi tingkat ketujuh awal!
Sosok kedua jauh lebih berbahaya. Ia adalah seorang pria tua kurus dengan janggut putih, matanya tertutup separuh layaknya orang mengantuk. Namun, fluktuasi napasnya menyatu dengan lingkungan sekitarnya—ini adalah tanda dari Tahap Pengumpul Qi tingkat kesembilan puncak, hanya setengah langkah dari Tahap Pembentukan Fondasi!
"Tuan Muda Yan, kompas pencari harta karun bereaksi sangat kuat. Benda itu pasti ada di dalam gua lava di depan kita," ucap pria tua itu dengan suara serak.
Pemuda arogan bernama Yan Ting itu tertawa puas. "Bagus sekali, Tetua Huo! Tidak sia-sia kita dari Sekte Api Sejati melakukan perjalanan jauh dari Kota Matahari Terbenam ke tempat kotor ini. Selama kita bisa mendapatkan Api Roh Emas Ungu, aku pasti bisa menerobos ke tingkat kedelapan dan memenangkan Turnamen Sekte bulan depan!"
"Semua ini juga berkat keberuntungan Tuan Muda yang berhasil mencegat wakil ketua Bandit Gagak Hitam bulan lalu dan merebut setengah dari peta harta karun ini," puji salah satu murid sekte dengan nada menjilat.
"Hmph, sayang sekali ketua bandit botak itu berhasil kabur membawa sisa petanya," dengus Yan Ting. "Tapi tidak masalah. Dengan kompas sekte kita, kita tetap menemukannya lebih dulu."
Di atas tebing, Ye Chen yang menguping percakapan itu tersenyum tipis. Pantas saja peta yang ia dapatkan dari pria botak di kedai tempo hari tampak terpotong di bagian pinggirnya.
"Api Roh Emas Ungu?!" Ao Tian tiba-tiba berseru kegirangan di dalam benak Ye Chen. "Bocah, ini adalah rezeki nomplok dari Surga! Itu adalah Api Roh Alam tingkat tiga! Ia lahir dari esensi matahari yang terserap ke dalam inti bumi selama ribuan tahun. Jika kau berhasil menyerapnya, Qi di dalam Meridian Nagamu tidak hanya akan berlipat ganda, tapi juga akan memiliki atribut pembakaran yang bisa melelehkan senjata musuhmu!"
Napas Ye Chen sedikit memberat mendengar penjelasan itu, namun matanya tetap sedingin es. "Barang itu memang bagus, Senior. Tapi penjagaannya sangat ketat. Seorang tingkat ketujuh dan seorang tingkat kesembilan puncak, ditambah delapan murid tingkat menengah. Jika aku menerobos masuk sekarang, aku hanya akan menjadi daging panggang."
"Tentu saja kau tidak boleh menyerang langsung, Dasar Bodoh. Harta karun alami tingkat tiga tidak mungkin dibiarkan tergeletak begitu saja. Pasti ada monster kuat yang menjaganya. Biarkan mereka yang menjadi kuli pembuka jalan," kekeh Ao Tian penuh kelicikan.
Ye Chen mengangguk setuju. Pepatah lama mengatakan: Mantis menangkap jangkrik, namun burung kepodang mengintai dari belakang. Ia dengan sabar menempelkan tubuhnya pada batu panas, mengamati setiap pergerakan Sekte Api Sejati.
Di dasar ngarai, Tetua Huo melangkah ke depan mulut gua yang memancarkan cahaya ungu samar. Wajahnya yang tadinya santai kini berubah serius.
"Semuanya, bentuk Formasi Jaring Api! Gua ini dijaga oleh monster tipe lava. Bersiaplah!" perintah Tetua Huo.
Kedelapan murid itu segera menyebar, mencabut pedang mereka, dan mengalirkan Qi elemen api ke udara, menciptakan sebuah jaring energi merah yang menyegel mulut gua.
BLUMMM!!!
Bumi bergetar hebat. Sungai lava di sekitar pulau batu meletup tinggi. Dari dalam gua, terdengar auman marah yang memekakkan telinga.
Sesosok monster raksasa melangkah keluar, menghancurkan pintu gua. Bentuknya menyerupai gorila raksasa, namun seluruh tubuhnya terbuat dari magma kental yang menetes-netes, memancarkan panas yang luar biasa. Matanya menyala seperti sepasang matahari kecil.
Itu adalah Kera Magma Lengan Besi—monster tingkat enam tahap puncak, yang kekuatannya di lingkungan lava bahkan bisa menandingi kultivator tingkat delapan!
"Berani sekali manusia fana mengusik tempat tidurku!" raung Kera Magma itu, suaranya terdengar seperti dua buah batu giling yang bergesekan. Ia mengayunkan lengan raksasanya dan menghantam Formasi Jaring Api.
KRAK!
Tiga murid Sekte Api Sejati langsung memuntahkan darah saat formasi mereka bergetar hebat.
"Jangan panik! Tahan dia!" teriak Yan Ting sambil mengeluarkan pedang api merah dari sarungnya. "Tetua Huo, serang matanya!"
Pertarungan sengit seketika pecah di dasar ngarai. Ledakan api, auman monster, dan kilatan pedang memantul di dinding tebing. Kera Magma itu sangat tangguh; setiap luka goresan di tubuhnya langsung tertutup kembali oleh lava kental di sekitarnya.
Namun, Tetua Huo memang seorang veteran. Dengan pengalamannya, ia terus menggunakan kelincahannya untuk memancing serangan kera itu, membiarkan para murid dan Yan Ting menyerang titik butanya.
Di atas tebing, mata Ye Chen tidak tertuju pada pertarungan itu, melainkan menembus ke dalam mulut gua yang kini tak terjaga. Di kedalaman gua itu, ia bisa melihat sekuntum api kecil seukuran kepalan tangan, melayang di udara, memancarkan gradasi warna ungu dan emas yang sangat memikat.
"Sekarang," bisik Ye Chen.
Memanfaatkan kekacauan dan suara auman yang memekakkan telinga, Ye Chen meluncur menuruni dinding tebing curam itu bagaikan tokek hitam. Ia menggunakan jubahnya yang kusam untuk menyatu dengan bayangan bebatuan.