NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / One Night Stand / Menikahi tentara
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*

Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:

> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3

Kereta ke Malang

Jaket Bram masih berada di bahu Laras ketika kereta meninggalkan Stasiun Surabaya Gubeng.

Kainnya menyimpan aroma sabun dan sedikit bau tembakau yang bukan berasal dari pemiliknya, mungkin sisa kamar penginapan. Laras duduk di sisi jendela, memandangi bangunan kota yang berlari mundur. Setiap kali pintu antargerbong terbuka, bahunya menegang.

Bram duduk di sampingnya tanpa mengomentari itu.

Ia hanya memindahkan tas kecil ke bawah kaki, menyisakan lorong di depan Laras tetap kosong. Jalan keluar tidak terhalang. Entah kebetulan atau lelaki itu sengaja melakukannya.

"Perjalanan sekitar dua jam," kata Bram. "Kalau pusing, bilang."

"Aku tidak selemah itu."

"Semalam kamu hampir pingsan lagi saat berdiri."

"Itu semalam."

"Tadi pagi kamu hampir jatuh di tangga."

Laras menoleh tajam. Bram sudah membuka botol air, wajahnya datar seolah tidak baru saja meruntuhkan harga dirinya dengan dua kalimat.

"Kamu suka mencatat kesalahan orang?"

"Saya suka fakta."

"Fakta bahwa aku masih hidup juga bisa dicatat."

Kali ini Laras yakin sudut bibir lelaki itu bergerak.

Kereta semakin ramai setelah berhenti di stasiun berikutnya. Seorang pedagang mendorong troli minuman. Dua mahasiswa tertawa sambil berbagi earphone. Di seberang lorong, seorang perempuan berkardigan cokelat duduk bersama bocah laki-laki yang diperkirakan berusia lima tahun.

Awalnya tidak ada yang aneh.

Perempuan itu menyandarkan kepala si bocah ke lengannya. Sebuah tas besar diletakkan di pangkuan. Wajahnya tampak lelah seperti orang tua lain yang bepergian dengan anak kecil.

Laras hendak memalingkan mata ketika kereta bergoyang.

Kepala bocah itu terayun terlalu lemas.

Perempuan tersebut buru-buru menahannya, lalu menoleh ke kanan-kiri. Bukan tatapan malu karena anaknya tertidur. Tatapannya mencari siapa yang memperhatikan.

Laras mengamati lebih teliti.

Celana pendek si bocah basah di bagian depan. Kakinya memakai sandal biru yang terlalu besar. Kukunya kotor, tetapi kaus bergambar mobil yang dikenakannya masih terlihat baru. Ada bekas tekanan kemerahan di salah satu pergelangan tangan.

"Jangan menatap terlalu lama," bisik Bram.

Laras tidak menoleh. "Kamu juga melihat?"

"Melihat apa?"

Ia sengaja bertanya begitu. Laras paham, Bram ingin mendengar penilaiannya tanpa memberi arah.

"Anak itu dibiarkan mengompol, tapi perempuan itu tidak memeriksa atau mengganti pakaiannya. Sandalnya salah ukuran. Dia tidak membawa tas anak, cuma tas besar yang terus dipeluk."

"Bisa saja mereka terburu-buru."

"Bisa."

"Kamu tidak percaya."

"Tidak."

Bram memandang pantulan mereka di kaca jendela. "Apa yang mau kamu lakukan?"

"Memastikan dulu."

Laras berdiri sebelum Bram sempat melarang. Lututnya masih sedikit nyeri, tetapi langkahnya cukup stabil. Ia berhenti di depan kursi seberang dan tersenyum kepada perempuan berkardigan cokelat.

"Bu, maaf. Anak Ibu kelihatannya kurang sehat."

Perempuan itu menarik tubuh si bocah lebih rapat. "Cuma tidur."

"Tidurnya lemas sekali. Mau saya panggil petugas?"

"Tidak perlu. Dia memang susah bangun kalau sudah tidur."

Laras berjongkok agar sejajar dengan wajah anak tersebut. Bau samar yang pahit mengusik hidungnya. Bukan bau obat gosok atau minyak telon. Bau itu sama dengan endapan di dasar gelas kamar 302.

Jantungnya memukul keras.

Seketika ia kembali menjadi gadis belasan tahun di terminal antarkota. Seorang lelaki memegang lengannya, sementara Pak Rusdi berdebat soal harga dengan orang di belakang kios. Laras masih ingat suara koin jatuh, bau solar, dan kalimat, beri sedikit saja biar anaknya tenang.

Ia lolos hari itu dengan menggigit tangan si calo sampai berdarah.

"Namanya siapa, Bu?" tanya Laras.

"Rian."

"Umurnya?"

"Enam tahun."

Laras menatap sandal biru si bocah. Di bagian talinya, nama `Daffa` ditulis dengan spidol hitam.

"Rian sekolah di mana?"

"Kamu siapa, sih?" Perempuan itu mulai meninggikan suara. "Suka sekali ikut campur urusan orang."

Beberapa penumpang menoleh. Bram belum bergerak dari kursinya, tetapi matanya tidak lepas dari tangan perempuan tersebut.

Laras tetap tersenyum. "Saya cuma kasihan. Celananya basah."

"Anak saya, terserah saya."

"Tentu. Anak Ibu pasti biasa memanggil Ibu dengan apa? Mama? Bunda? Ibu?"

Wajah perempuan itu menegang. "Ya Ibu."

"Kalau begitu bangunkan saja. Biar dia bilang sendiri tidak apa-apa."

"Jangan sentuh dia!"

Perempuan itu menepis tangan Laras sebelum tangannya benar-benar mendekati si bocah. Gerakannya begitu keras hingga kepala anak tersebut terkulai ke sisi lain. Kerah kausnya bergeser, memperlihatkan lebam kecil di bawah telinga.

Suara Bram terdengar dari belakang.

"Bu, turunkan nada suara."

Perempuan itu melihat tubuh tinggi Bram dan langsung pucat. "Ini anak saya. Kalian mau apa?"

"Kalau benar anak Ibu, petugas akan memastikannya dalam lima menit," jawab Bram.

"Tidak perlu petugas!"

Ia berdiri mendadak sambil mengangkat si bocah. Tas besar di pangkuannya hampir jatuh. Dengan satu tangan menopang anak, ia mencoba menyelinap ke lorong.

Bram bergeser setengah langkah, cukup untuk menutup jalan tanpa menyentuhnya.

"Duduk kembali."

"Minggir! Saya mau turun di stasiun depan."

"Kereta belum berhenti."

"Saya mau ke toilet."

"Toilet ada di arah sebaliknya," kata Laras.

Bisik-bisik mulai memenuhi gerbong. Seorang bapak tua berdiri dan menawarkan memanggil kondektur. Mahasiswa yang tadi memakai earphone menyalakan kamera ponselnya, tetapi Bram mengangkat telapak tangan.

"Jangan rekam wajah anaknya. Panggil petugas saja."

Mahasiswa itu langsung menurunkan ponsel dan berlari menuju gerbong depan.

Perempuan berkardigan makin panik. Tangannya masuk ke saku luar tas.

Bram menangkap pergelangannya sebelum ia mengeluarkan sesuatu. Tidak kasar, tetapi cengkeramannya membuat perempuan itu tak bisa bergerak.

"Lepaskan!"

"Keluarkan tangan pelan-pelan."

"Kamu polisi?"

"Bukan. Tapi saya tahu orang yang mau ke toilet tidak perlu menggenggam gunting."

Wajah Laras mengeras. Ia mengambil tubuh si bocah ketika pegangan perempuan itu melonggar. Anak tersebut ringan, terlalu ringan. Napasnya ada, pelan dan berbau pahit.

"Bram, dia diberi obat."

"Saya tahu. Pegang kepalanya. Jangan beri minum sebelum petugas medis memeriksa."

Perempuan itu meronta. "Kalian menculik anak saya! Tolong!"

Ia berteriak lebih keras, berharap keributan mengubah orang-orang menjadi pembelanya. Namun para penumpang kini justru berdiri mengelilingi lorong. Mereka sudah melihat sandal bertuliskan nama berbeda, lebam di leher, dan cara si bocah tak bereaksi meski suara begitu gaduh.

Laras menyerahkan anak itu kepada seorang ibu yang duduk paling dekat, lalu berdiri di depan perempuan tersebut.

"Kalau dia anakmu, sebutkan tanggal lahirnya."

"Saya tidak perlu menjawab kamu."

"Alerginya apa?"

"Diam!"

"Nama lengkapnya Rian siapa?"

Perempuan itu menendang tas Laras, lalu mencoba menarik diri dari Bram. Cengkeraman Bram tidak bergeser sedikit pun.

Suara pintu gerbong terbuka terdengar dari ujung lorong. Petugas sedang datang.

Laras melihat kepanikan telanjang di mata perempuan itu. Semua keraguan terakhirnya lenyap.

Ia mencengkeram lengan kardigan cokelat tersebut dan menatapnya lurus-lurus.

"Anak ini bukan anak Ibu, kan?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!