NovelToon NovelToon
Transmigrasi Sofia : Phantom Of The Opera

Transmigrasi Sofia : Phantom Of The Opera

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:935
Nilai: 5
Nama Author: Ricca Rosmalinda26

Sofia tidak pernah menyangka akan terbangun di dalam dunia novel yang ia kenal dan lebih buruknya lagi, ia kini menjadi Christine Daaé.

Mengetahui kisah tragis yang menantinya, Sofia bertekad mengubah takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan di Balik Cermin

Aku sebenarnya merasa senang karena Raoul telah mengundangku.

Namun, entah mengapa, hatiku tidak memiliki sedikit pun keinginan untuk menghadiri pesta dansa.

Aku menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya membuka mulut.

“Maaf, aku…”

Raoul seketika tampak mengerti ke mana arah pembicaraanku.

Senyum yang semula menghiasi wajahnya perlahan membeku. Ada sedikit kekecewaan yang tidak berhasil ia sembunyikan.

“Tolong jangan langsung menolakku, Christine.”

Suaranya terdengar lebih lembut dari sebelumnya.

“Mungkin sulit bagimu untuk menerima undangan ini sekarang, tetapi setidaknya beri tahu aku alasanmu.”

Aku menarik napas panjang.

“Ada terlalu banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini.” Aku menundukkan pandangan. “Semua orang di gedung opera hidup dalam ketakutan.”

Raoul tidak menyela.

“Pria misterius itu pernah mengatakan bahwa Phantom tertarik kepadaku. Dia bahkan memperingatkanku bahwa keberadaanku mungkin akan membawa masalah bagi orang-orang di sekitarku.”

Aku mengepalkan jemari, “Aku tidak ingin kau berada dalam bahaya hanya karena aku, Raoul.”

Untuk beberapa saat, Raoul hanya menatapku.

Kemudian, dengan tenang, ia berkata, “Bagaimana mungkin kau menyebabkan masalah bagi siapa pun?”

Aku mengangkat wajah.

“Aku bersedia membantumu menghadapi semua ini, Christine.”

Nada suaranya terdengar begitu yakin hingga membuat dadaku terasa sesak.

“Aku mungkin tidak memahami seluruh ketakutanmu, tetapi aku bisa menebak sebagian darinya. Kita hidup dalam cahaya, sementara Phantom memilih untuk bersembunyi dalam kegelapan.”

Ia berhenti sejenak, “Masalah seperti ini tidak akan selesai dalam satu malam.”

Aku diam.

“Jika kau terus membiarkan ketakutan terhadap Phantom menguasai hidupmu, bukankah itu berarti kau sudah membiarkannya memenangkan pertempuran?”

Kata-katanya membuatku terdiam lebih lama.

Raoul benar. Tetapi kemudian pikiranku kembali kepada seseorang yang lain.

Malaikat Musik.

Sudah begitu lama dia tidak datang kepadaku. Aku bahkan tidak tahu apakah dia masih mengawasiku dari tempat yang tidak dapat kulihat.

Raoul tampaknya menyadari bahwa keraguanku belum sepenuhnya hilang. Namun, ia tidak berusaha memaksaku.

“Kau tidak perlu memberikan jawaban sekarang.”

Senyumnya kembali muncul, meskipun kali ini lebih lembut.

“Aku hanya berharap kau bersedia menghadiri pesta dansa. Singkirkan semua masalahmu untuk sementara waktu. Nikmati malam tahun baru seperti orang lain.”

Ia kemudian tertawa kecil, “Tentu saja, jika pada akhirnya kau memutuskan untuk menolakku, aku tidak akan memaksamu.”

Raoul menatapku lurus-lurus, “Aku hanya ingin kau tahu satu hal.”

“Apa?”

“Aku tidak menginginkan pasangan dansa selain dirimu.”

Jantungku berdegup sedikit lebih cepat.

Aku tersenyum kecil, berusaha menyembunyikan perasaan aneh yang muncul di dada.

“Terima kasih, Raoul. Kau selalu begitu baik kepadaku.”

Aku menarik napas, “Aku akan mempertimbangkannya dengan sungguh-sungguh.”

“Baiklah.”

Raoul tersenyum lega, “Kalau begitu, aku akan menunggu jawabanmu.”

Setelah mengucapkan selamat tinggal, ia meninggalkan ruang latihan.

Aku berdiri beberapa saat, memandang punggungnya yang perlahan menghilang di balik pintu.

Entah mengapa, kepergiannya membuat ruangan terasa jauh lebih sunyi.

Aku kemudian kembali ke ruang gantiku.

Baru saja aku menutup pintu ketika suara yang sangat kukenal terdengar dari balik keheningan.

“Sudah lama tidak berjumpa, Christine.”

Aku membeku.

“Malaikat Musik?”

Suaranya terdengar lembut.

Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Tidak ada lagi nada dingin yang membuatku takut beberapa waktu lalu. Suaranya terdengar hangat, hampir bahagia, seolah segala siksaan yang pernah memenuhi percakapan kami telah menghilang begitu saja.

“Malaikat Musik…”

Aku tersenyum tanpa sadar, “Kau telah kembali.”

“Aku mendengar hatimu memanggilku.”

Suara itu terdengar begitu dekat, seolah seseorang berdiri tepat di belakangku.

“Kau telah menungguku kembali.”

Aku menelan ludah.

“Kerinduanmu dan keyakinanmu telah menyembuhkanku.”

Nada suaranya merendah, “Untukmu, aku telah terbangun dari kegelapan.”

Aku terdiam, “Apakah… apakah itu benar?”

Namun, sebelum kegembiraan itu sempat menguasai hatiku sepenuhnya, aku kembali mengingat perkataannya sebelumnya.

Kegelapan.

Kata itu kembali menghantui pikiranku.

“Tolong jangan tinggalkan aku tiba-tiba lagi.”

Suaraku terdengar lebih lemah daripada yang kuinginkan.

“Kau tahu betapa tidak berdayanya aku tanpamu.”

Aku menundukkan kepala.

“Begitu banyak hal buruk telah terjadi. Aku sangat membutuhkan bimbingan dan persahabatanmu.”

Beberapa detik berlalu sebelum ia menjawab.

“Bahkan dalam tidurku, aku merindukanmu.”

Nada suaranya berubah muram, “Kegelapan itu kuat dan menakutkan, Christine.”

Aku merasakan bulu kudukku berdiri.

“Semakin lama, semakin sulit bagiku menahan godaannya.”

Ia terdiam, “Aku akan bertahan demi dirimu.”

Kemudian suaranya terdengar lebih lembut.

“Tetapi kau juga harus bertahan.”

Aku menggigit bibir.

“Kau tampaknya sudah terlalu lama tidak beristirahat.”

Aku tersenyum tipis.

“Barangkali kau terlalu lelah menghadapi semua ketegangan ini.”

Ia terkekeh pelan.

“Sebentar lagi malam tahun baru. Mengapa kau tidak mencoba mempersiapkan diri untuk pesta seperti teman-teman penarimu?”

Aku tidak menjawab.

“Belajarlah menikmati hidup, Christine.”

Suara itu terdengar begitu tenang.

“Kebahagiaanmu akan menjadi sumber cahaya bagiku.”

Aku memejamkan mata.

Bahkan Malaikat Musik mengatakan hal yang sama.

Mungkin Raoul benar.

Mungkin Meg juga benar.

Hidup harus terus berjalan.

Aku tidak mungkin menghabiskan seluruh waktuku dalam ketakutan terhadap Phantom. Dan jika kebahagiaanku benar-benar dapat menjadi cahaya bagi Malaikat Musik, mungkin aku harus mencoba.

Untuk diriku sendiri dan untuknya.

“Aku akan menghadiri pesta itu.” Kata-kata itu keluar begitu saja.

“Tapi aku tidak pandai menari.”

Aku menghela napas, “Tarian di atas panggung sangat berbeda dengan tarian di pesta. Aku tidak pernah benar-benar mempelajari tarian sosial.”

“Kau akan baik-baik saja.”

“Aku tidak memiliki bakat menari.”

“Jangan terlalu cepat menilai dirimu sendiri.”

Nada suaranya terdengar sedikit geli.

“Musik dan tarian saling berhubungan. Dan kau memiliki bakat musik yang luar biasa.”

Tiba-tiba, sebuah alunan musik terdengar di udara.

Lembut.

Anggun.

Berputar seperti angin musim dingin yang menyentuh tirai.

Aku menoleh ke sekeliling.

Tidak ada seorang pun.

Tidak ada alat musik.

Namun, melodi itu terus mengalun.

Sebuah waltz.

“Malaikat…”

“Apakah kau percaya padaku, Christine?”

Aku tersenyum, “Tentu saja.”

Aku menatap pantulan diriku di cermin.

“Kau adalah Malaikat Musikku.”

“Kalau begitu, fokuslah pada musik.”

Nada suaranya terdengar puas.

“Aku berjanji akan mengajarimu segala sesuatu yang perlu kau ketahui.”

Aku mengangguk.

Kemudian aku mulai mengikuti irama.

Satu langkah.

Geser.

Putar.

Miringkan tubuh.

Tarik kaki.

Berbalik.

“Jangan terburu-buru.”

Aku mengikuti arahannya.

“Langkahkan kaki kirimu.”

Aku menurut.

“Sekarang kaki kanan.”

Aku kembali mengikuti.

“Bagus. Putar perlahan.”

Aku mengulang langkah-langkah itu berkali-kali hingga tubuhku mulai terbiasa. Namun, semakin lama berlatih, semakin jelas satu masalah.

Aku membutuhkan pasangan.

Aku berhenti dan menghela napas.

“Aku rasa aku benar-benar membutuhkan partner dansa.”

Tidak ada jawaban.

“Aku perlu seseorang untuk berlatih bersamaku.”

Aku memandang sekeliling.

“Tidak mungkin bagiku melakukan semua ini sendirian.”

Aku tertawa kecil.

“Kalau saja kau…”

Aku terdiam, “Tidak. Lupakan saja.”

“Christine…” Ia memanggil namaku dengan lembut.

Suara itu terdengar seperti sebuah desahan.

Namun, setelah itu, tidak ada lagi yang dikatakannya.

Aku menunggu.

Satu detik.

Dua detik.

Lima detik.

Keheningan semakin panjang.

Perasaan kecewa perlahan merayap ke dalam hatiku. Mungkin aku terlalu berharap.

Aku menarik napas dan memaksakan senyum.

“Ya, benar.”

Aku berusaha terdengar ceria.

“Aku masih bisa belajar sendiri.”

Aku mengambil sepotong kain panjang dari atas meja dan mengangkatnya seolah-olah itu adalah pasangan dansaku.

“Mungkin aku akan memahaminya secara alami ketika pesta berlangsung.”

Aku mulai bergerak mengikuti musik.

Satu putaran.

Dua langkah.

Kemudian aku mencoba berputar lebih cepat.

Namun, tanpa seseorang yang menopang dan mengarahkan gerakanku, keseimbanganku segera goyah.

“Ah!”

Aku hampir menabrak cermin.

“Hati-hati, Christine.”

Aku berhasil menahan tubuhku tepat pada waktunya.

Aku menghela napas lega.

Namun, ketika aku mengangkat kepala…

Aku melihat sesuatu di dalam cermin.

Sosok gelap.

Aku membeku.

Matanya?

Atau mungkin hanya bayangan?

Aku berkedip.

Sosok itu lenyap.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya bayanganku sendiri.

Cermin tua itu memantulkan ruangan yang kosong, meja rias, pakaian-pakaian yang tergantung, dan cahaya lampu yang bergoyang pelan.

Aku menatap cermin itu lama.

“Aku…”

Jantungku berdetak keras.

“Aku yakin tadi melihat seseorang.”

Aku melangkah mendekati cermin.

Tidak ada apa-apa.

Aku menoleh ke belakang.

Kosong.

Perlahan, detak jantungku mulai kembali normal.

Namun, ada sesuatu yang lebih menggangguku.

Malaikat Musik tidak mengatakan apa-apa.

“Malaikat Musik?”

Tidak ada jawaban.

Aku menelan ludah.

“Sudahkah kau pergi?”

Keheningan.

Aku memandang cermin sekali lagi.

“Sosok yang kulihat tadi…”

Suaraku mengecil.

“Apakah itu kau?”

Tidak ada jawaban.

Aku merasa bahwa musik yang tadi terdengar begitu indah justru meninggalkan kesunyian yang jauh lebih menakutkan.

Aku berdiri sendirian di depan cermin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!