Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Rantai Bumi yang Terputus
Arena Bintang Jatuh adalah mahakarya arsitektur Sekte Daun Angin. Berbentuk seperti kawah raksasa yang terbuat dari Giok Bintang, arena ini dilapisi oleh ribuan ukiran formasi pelindung tingkat tinggi. Di tribun yang mengelilingi arena, puluhan ribu Murid Luar, Murid Dalam, dan para Tetua telah berkumpul.
Hari ini adalah Ujian Puncak Bintang. Sebuah panggung pembuktian bagi para Murid Langsung untuk menunjukkan hasil kultivasi mereka di hadapan seluruh sekte.
Suasana di tribun sangat riuh. Beberapa Murid Langsung dari tetua lain telah menyelesaikan ujian mereka dengan gemilang, mengalahkan ilusi siluman tingkat Fondasi Roh dengan sihir-sihir yang memukau mata.
Namun, semua orang tahu, puncak acara hari ini bukanlah untuk melihat pertunjukan sihir yang indah. Mereka hadir untuk melihat eksekusi mati.
Di kursi kehormatan, Tetua Wu dan Tetua Zhao duduk dengan senyum tipis yang tak bisa disembunyikan. Di sudut lain, Penatua Kuang duduk bersila sambil memejamkan mata, wajahnya setenang permukaan danau.
"Selanjutnya! Murid Langsung dari Puncak Daun Gugur... Awan!" Suara Tetua Formasi yang bertugas sebagai wasit menggema ke seluruh arena.
Dari lorong gelap di bawah tribun, terdengar suara langkah kaki yang berat.
Tap... Tap... Tap...
Setiap kali langkah itu memijak lantai batu lorong, getaran pelan terasa hingga ke dinding arena. Sosok Awan perlahan muncul di bawah siraman sinar matahari. Ia mengenakan jubah tanpa lengan yang sederhana, memperlihatkan otot-otot perunggunya. Di punggungnya, terikat pedang berkarat Bumi Pijar seberat tiga ratus kilogram.
Dan di kedua pergelangan tangan serta kakinya, masih terpasang empat buah gelang logam berwarna abu-abu kusam. Tidak ada yang tahu apa fungsi gelang itu; mereka hanya mengira itu adalah artefak pemberat biasa untuk latihan dasar.
"Itu dia si pelayan fana!" cemooh salah satu murid di tribun.
"Lihat jalannya yang berat! Pasti nyalinya sudah ciut karena tahu dia akan mati di dalam sana!"
"Aku berani bertaruh sepuluh Batu Roh, dia tidak akan bertahan lebih dari tiga menit!"
Awan mengabaikan ribuan tatapan merendahkan itu. Ia melangkah perlahan ke tengah Arena Bintang Jatuh.
Begitu ia mencapai titik tengah, Tetua Formasi yang berada di anjungan langsung membentuk segel tangan dengan kecepatan kilat. Sebuah seringai licik tersungging di bibir tetua tersebut saat ia melirik ke arah Tetua Wu. Keduanya bertukar pandangan rahasia.
BZZZT!
Cahaya merah darah meledak dari lantai Giok Bintang. Ukiran formasi yang sebelumnya berwarna biru terang, mendadak berubah menjadi merah pekat. Energi alam di sekitar arena tersedot dengan brutal, menciptakan distorsi ruang di depan Awan.
Dari dalam distorsi itu, terdengar auman yang membuat gendang telinga puluhan ribu murid nyaris pecah.
GROOAAAR!
Sesosok makhluk raksasa mewujudkan dirinya. Itu bukan ilusi siluman tingkat Fondasi Roh seperti yang dihadapi murid-murid sebelumnya. Itu adalah Singa Manticore Api Neraka, seekor ilusi siluman tingkat Inti Emas Semu! Makhluk itu memiliki sayap kelelawar raksasa yang terbakar api, ekor kalajengking berduri, dan tubuh setinggi lima meter yang memancarkan gelombang panas yang melelehkan udara.
Kepanikan meledak di tribun penonton.
"Gila! Itu Singa Manticore Api Neraka! Mengapa formasi ujiannya memanggil monster tingkat itu?!"
"Bahkan ahli Fondasi Roh Puncak akan mati dibakar olehnya! Tetua Formasi pasti sengaja menaikkan kesulitannya hingga batas maksimal!"
Tetua Formasi berbicara dengan nada dibuat-buat melalui pengeras suara spiritual. "Oh, tampaknya terjadi malfungsi acak pada formasi kuno kita. Tapi karena ujian telah dimulai, interupsi tidak diperbolehkan. Bertahanlah, Murid Awan!"
Penatua Kuang membuka matanya perlahan. Ia tidak marah, ia tidak berteriak protes. Ia hanya menatap murid fananya yang kini berhadapan dengan monster raksasa berlapis api tersebut.
Di tengah arena, Awan harus mendongak untuk menatap mata makhluk itu. Hawa panas dari sang singa membakar ujung rambutnya.
WUSSS!
Tanpa basa-basi, Singa Manticore itu mengepakkan sayap apinya dan terbang melayang sejauh sepuluh meter di atas arena. Ekor kalajengkingnya meliuk, menembakkan tiga pilar api raksasa yang langsung menghantam posisi Awan.
BOOOM!
Ledakan api menelan Awan. Asap hitam mengepul tebal, menghancurkan pandangan.
Tetua Wu tertawa terbahak-bahak di kursinya. "Hahaha! Hanya ini batasnya! Terbakar menjadi abu tanpa sempat—"
Swush!
Tawa Tetua Wu terpotong. Dari dalam kepulan asap dan api, Awan melesat mundur sejauh belasan meter. Tubuhnya masih utuh, meski jubahnya kini hangus. Ia telah menggunakan pedang Bumi Pijar untuk membelah sebagian api tersebut, namun tekanan ledakannya memaksanya mundur.
Awan menatap gelang di tangan dan kakinya. Napasnya sedikit terengah, bukan karena serangan monster itu, melainkan karena ia baru saja melompat mundur sambil menanggung beban delapan ton di tubuhnya.
"Menghindar dengan beban dua gajah raksasa... membuat lututku sedikit kaku," keluh Awan pelan.
Melihat mangsanya masih hidup, Singa Manticore itu kembali mengaum marah. Ia tidak turun ke tanah. Menggunakan kecerdasan tempurnya, ia bersiap melepaskan Sihir Inti-nya dari udara. Sebuah bola api raksasa sebesar bukit mulai memadat di mulutnya, menyedot seluruh oksigen di arena.
"Habisi dia dari langit! Bakar fana itu!" sorak murid-murid dari faksi Klan Wu.
Awan menancapkan pedang Bumi Pijar ke lantai giok di sebelahnya. Ia lalu berjongkok.
Semua orang bingung. Mengapa ia membuang senjatanya? Apakah ia menyerah?
Tangan Awan bergerak menuju gelang logam kusam di pergelangan kaki kirinya. Ia menekan slot kecil di gelang tersebut.
KLIK.
Batu Roh yang menjadi tenaga penggerak medan gravitasi itu terlepas. Awan melepaskan kuncian gelang tersebut, lalu menjatuhkannya ke lantai.
KRAAAAAAK! BOOOM!
Suara yang dihasilkan saat gelang kecil itu menyentuh lantai Giok Bintang membuat seluruh arena terdiam. Bukannya berbunyi klinting seperti logam jatuh, gelang itu menghasilkan debuman yang menggetarkan seluruh tribun, seolah sebuah gunung baru saja dijatuhkan. Ubin giok yang terkenal tak bisa dihancurkan di bawahnya hancur berantakan, membentuk jaring laba-laba raksasa.
Mata Tetua Wu dan Tetua Formasi nyaris melompat dari rongganya. Benda apa itu?!
Awan melepaskan gelang kedua dari kaki kanannya.
BOOOM! Ubin di sisi kanannya meledak.
Ia melepaskan gelang ketiga dari lengan kirinya.
BOOOM!
Dan terakhir, gelang keempat di lengan kanannya.
BOOOM!
Empat buah gelang tergeletak di lantai, masing-masing menciptakan kawah dangkal pada lantai formasi giok terkuat di sekte. Total delapan ton gaya tarik bumi akhirnya terputus dari raga manusia fana itu.
Di kursi kehormatan, Penatua Kuang tidak bisa menahan senyumnya lagi. "Rantai sang dewa perang telah dilepas."
Awan berdiri tegak. Ia menggerakkan lehernya, membunyikan persendiannya ke kiri dan ke kanan. Sensasi yang ia rasakan saat ini... sulit dijelaskan. Tanpa beban delapan ton yang telah menindihnya selama enam bulan terakhir, tubuhnya terasa begitu ringan, seringan sehelai bulu, namun otot-ototnya tetap memiliki kepadatan besi bintang.
Ia bernapas, dan merasa paru-parunya bisa menyedot seluruh udara di dunia. Ia mengepalkan tangannya, dan merasa udara di telapak tangannya meledak terkompresi.
Singa Manticore Api Neraka di udara menyelesaikan mantranya. Bola api raksasa bersuhu ribuan derajat itu meluncur turun, siap meratakan seluruh arena.
Awan tidak menghindar. Tangan kanannya mencabut Bumi Pijar. Pedang tiga ratus kilogram yang tadinya terasa memberati punggungnya, kini terasa seringan pedang bambu mainan anak-anak.
Ia menekuk kedua lututnya sejauh beberapa sentimeter.
Langkah Besi Jatuh: Membelah Langit.
Awan melepaskan tekanan kakinya.
BHOOOOOOOMMM!
Lantai Giok Bintang di bawah kaki Awan tidak hanya retak, melainkan benar-benar meledak layaknya terkena hantaman meteorit dari arah bawah. Kawah selebar sepuluh meter terbentuk seketika.
Suara ledakan sonik (sonic boom) memekakkan telinga meledak di tengah arena. Saking cepatnya daya tolak kaki Awan, ia tidak melompat. Ia ditembakkan menembus hukum gravitasi itu sendiri. Ratusan ribu pasang mata di tribun bahkan tidak sempat berkedip, apalagi melihat pergerakannya. Mereka hanya melihat bayangan hitam kabur yang membelah udara.
Awan melesat vertikal ke atas, menabrak langsung bola api raksasa yang sedang jatuh ke arahnya.
SRAAASH!
Tanpa menggunakan pedang, Awan menembus bola api itu murni dengan tubuh perunggunya yang melesat dengan kecepatan hipersonik. Bola api tingkat Inti Emas Semu itu terbelah dua oleh tekanan angin fana dari tubuh Awan, hancur berserakan sebelum sempat menyentuh dasar arena!
Di udara, tepat di depan wajah Singa Manticore yang kini membelalakkan matanya (jika ilusi bisa merasa ngeri, ia sedang merasakannya), Awan muncul.
Ia telah melompat setinggi tiga puluh meter ke udara dalam waktu kurang dari setengah detik.
"Jika kau berada di langit..." bisik Awan, suaranya sangat tenang meski ia melayang menentang gravitasi bumi.
Ia memutar pinggulnya di udara, mengalirkan Cikal Bakal Niat Pedang yang pekat ke seluruh bilah berkarat Bumi Pijar. Otot perunggunya berkontraksi maksimal tanpa ada sedikit pun beban gravitasi yang menahannya.
"...maka aku akan menurunkanmu kembali ke bumi."
Awan mengayunkan Bumi Pijar ke arah leher makhluk raksasa itu.
Jurus Dasar: Menebas!
ZRAAAAAAAAANG!
Udara di atas arena tidak hanya terbelah, melainkan terkompresi hingga membentuk bilah angin fisik raksasa berwarna abu-abu yang melengkung sejauh lima puluh meter.
Tebasan Awan menghantam leher Singa Manticore. Tidak ada perlawanan. Pertahanan api dan sisik dari ilusi Inti Emas Semu itu hancur layaknya kertas basah. Kepala singa raksasa itu terputus seketika.
Namun, sisa momentum dari tebasan Awan tidak berhenti. Bilah udara fana yang tercipta dari kecepatan dan massa absolut itu melesat ke bawah secara diagonal.
Gelombang kejut raksasa itu menghantam ujung arena, menabrak Kubah Formasi Pelindung yang dikendalikan oleh Tetua Formasi.
KRAAAK! PRANGGGG!
Kubah energi spiritual tingkat tinggi, yang dirancang untuk menahan ledakan kekuatan dari seratus kultivator Inti Emas, retak dan hancur berkeping-keping! Kaca energi spiritual pecah berhamburan ke udara, seperti hujan berlian yang menutupi langit alun-alun.
Angin ribut menyapu seluruh tribun. Puluhan ribu murid harus mengangkat tangan atau berlindung agar tidak terlempar dari kursi mereka akibat hempasan angin fisik murni tersebut.
Tubuh Singa Manticore meledak menjadi partikel cahaya, menandakan kehancuran total dari ilusi tersebut.
Di tengah keheningan dan hujan serpihan energi yang perlahan memudar, Awan mendarat. Kakinya memijak lantai arena dengan lembut, tanpa suara, tanpa merusak ubin baru. Ia memanggul kembali Bumi Pijar ke atas bahunya, seolah baru saja membelah sebatang kayu kering alih-alih monster tingkat bencana.
Puluhan ribu mulut ternganga. Tidak ada sorak-sorai. Tidak ada yang berani bernapas terlalu keras.
Di kursi Tetua, Pemimpin Sekte yang selama ini selalu tenang, kini berdiri dari singgasananya. Tangannya gemetar mencengkeram pegangan kursi. Tetua Wu jatuh merosot ke kursinya, wajahnya seputih kapas.