Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.
Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.
Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 015: Borong Besar, Pindah Diam-diam
Besok, ia kembali menimbun.
Kalimat itu bukan niat.
Itu jadwal.
Dua hari setelah rekaman Rusli mengguncang media sosial, Hendra sudah berada lagi di Bandung. Berita masih panas. Nama Handoko masih naik turun di kolom komentar. AKP Darma mungkin masih memutar ulang video itu di kantornya.
Tapi di lahan pinggiran timur Bandung, suara yang lebih penting bagi Hendra adalah mesin bor tanah.
GRRRR.
Tiang pancang kecil masuk. Truk molen berbaris. Pekerja CV Karya Graha bergerak tiga shift. Dari kejauhan, lahan yang dulu hanya rumput dan tanah basah mulai berubah menjadi luka besar di bukit.
Luka yang akan menjadi benteng.
Manajer Bonar berdiri di samping Hendra dengan helm proyek putih.
"Pak Hendra, pengerjaan bawah tanah sudah masuk tahap galian utama. Kalau semua material datang tepat waktu, struktur awal bisa lebih cepat dari jadwal."
"Lebih cepat berapa?"
"Tujuh sampai sepuluh hari."
"Potong lagi."
Bonar tertawa hati-hati. "Itu berarti lembur lebih gila, Pak. Beton, baja, panel insulasi, pintu mekanis, semua harus didorong."
"Dorong."
"Biayanya..."
"Kirim angka."
Bonar berhenti bicara.
Ia sudah mulai memahami pola Hendra. Orang lain menawar karena ingin murah. Hendra menawar waktu dengan uang.
Dan bagi kontraktor tamak, itu lebih harum daripada parfum mahal.
"Baik, Pak. Saya atur."
Hendra menatap lubang besar di tanah.
Dalam tiga bulan, udara akan membunuh orang di luar ruangan. Setelah itu hujan akan menghancurkan kota pesisir. Setelah itu dingin akan datang seperti hukuman yang tidak mengenal pintu.
Bunker ini belum cukup.
Gudang belum cukup.
Uang belum cukup.
Ia perlu mengubah angka di bank menjadi benda yang bisa dimakan, diminum, dibakar, dipakai, dan dipertahankan.
Siang itu, Rudi Halim datang dari Jakarta membawa dua tas dokumen.
"Bang Hendra, semua daftar pemasok sudah saya rapikan," katanya. "Beras, mi, tepung, minyak, gula, garam, makanan kaleng, obat dasar, baterai, genset kecil, panel surya portabel. Kalau kita bayar prabayar, mereka mau kirim rutin."
Hendra menerima map.
"Bagus."
Rudi menurunkan suara. "Tapi volumenya besar sekali. Orang mulai tanya kita mau buka jaringan toko baru atau apa."
"Jawab saja iya."
"Nama tokonya?"
"Pakai nama distributor kita. Cabang Bandung."
Rudi mengangguk cepat, lalu menahan ragu. "Bang, gudang yang di Bandung ini cukup?"
"Ada gudang lain."
Jawaban itu sama seperti sebelumnya.
Rudi tidak bertanya lagi.
Itulah alasan Hendra menyukainya. Rudi pintar, tapi tidak sok tahu. Setia, tapi tidak bodoh. Orang seperti itu bisa hidup lama kalau diberi kesempatan.
Mereka menghabiskan sore di kantor distributor besar dekat kawasan industri.
Pemilik distributor, seorang pria tua bermata tajam, semula masih tersenyum biasa. Lalu Hendra meletakkan angka prabayar di meja.
Miliaran rupiah.
Senyum itu berubah menjadi hormat.
Kontrak ditandatangani.
Beras dan tepung dikirim per gelombang.
Makanan kaleng, air mineral, minyak goreng, gula, garam, kopi, susu bubuk, obat demam, antibiotik dasar, perban, alkohol medis, selimut termal, sepatu bot, jas hujan, masker, sarung tangan, tali, baterai, lampu darurat, power station, panel surya, kabel, pompa air, filter, dan suku cadang genset masuk daftar.
Hendra tidak membaca daftar itu sebagai barang.
Ia membacanya sebagai hari hidup.
Seratus kardus makanan kaleng berarti waktu.
Satu drum solar berarti malam yang masih punya listrik.
Satu kotak obat berarti orang yang tidak mati karena demam kecil.
Rudi menandai jadwal pengiriman dengan pulpen.
"Bang, untuk makanan matang beku, saya juga sudah hubungi RM Tiga Rasa. Koki mereka, Bu Endang, sanggup bikin ribuan porsi per minggu kalau dibayar di depan. Nasi, lauk daging, sup, bubur, roti."
"Ambil."
"Semua?"
"Semua yang bisa dibuat."
Rudi menatapnya sebentar, lalu menulis lagi.
"Untuk kendaraan, sales dealer bernama Fikri memberi penawaran dua SUV Rimba V8, satu pikap tertutup, dan ban cadangan banyak. Saya belum setujui."
"Setujui."
"Bang..."
"Rudi."
Rudi langsung diam.
Hendra menatapnya. "Tugasmu bukan mengerti kenapa. Tugasmu memastikan barang datang, dokumen rapi, dan orang dibayar."
Rudi menarik napas, lalu mengangguk lebih mantap.
"Siap, Bang Hendra."
Setelah itu telepon tidak berhenti.
Bu Endang dari RM Tiga Rasa terdengar gugup ketika Hendra meminta pesanan makanan matang beku dalam jumlah yang biasanya hanya muncul untuk acara pemerintah atau pabrik besar. Ia menyebut kapasitas dapur, pekerja tambahan, mesin vacuum sealer, dan kebutuhan freezer.
"Bayar pekerja dua kali lipat," kata Hendra. "Beli freezer tambahan. Semua biaya masuk tagihan saya."
Di telepon lain, Fikri dari dealer mobil nyaris tidak percaya ketika Hendra menyetujui dua SUV Rimba V8, satu pikap tertutup, ban cadangan, oli, aki, dongkrak hidrolik, kabel derek, dan kotak alat lengkap.
"Pengiriman ke Bandung semua, Pak?"
"Ya. Dokumen bersih. Nomor rangka jelas. Jangan banyak tanya."
"Siap, Pak Hendra."
Rudi menatap daftar yang makin panjang, lalu menelan ludah.
"Bang, ini bukan lagi buka cabang. Ini seperti mau membangun kota kecil."
Hendra menandatangani satu lembar lagi.
"Kalau suatu hari kota benar-benar mati, orang yang punya kota kecil sendiri akan hidup lebih lama."
Rudi mengira itu lelucon gelap.
Ia tertawa pendek.
Hendra tidak ikut tertawa.
Malamnya, gudang sementara di Bandung penuh.
Palet kayu berdiri berlapis. Kardus menumpuk sampai hampir menyentuh lampu. Drum solar ditaruh di sudut berventilasi. Genset baru masih terbungkus plastik. Bau karton, minyak, karet ban, dan bahan bakar memenuhi udara.
Rudi sudah pulang ke penginapan.
Penjaga gudang diberi uang lembur dan disuruh makan di warung depan.
Hendra sendirian.
Ia mengunci pintu dari dalam.
Cincin di jari manis kanan terasa hangat.
Sebelum Bab 10, gudang sebesar ini akan membuatnya harus bekerja lebih lama, lebih hati-hati, lebih sering menghitung kapasitas. Setelah emas Hotel Mahkota ditempa menjadi Unsur Logam, Ruang Penyimpanan sedikit melebar.
Belum cukup untuk dunia.
Tapi cukup untuk malam ini.
Hendra menyentuh palet pertama.
Lenyap.
Palet kedua.
Lenyap.
Kardus makanan kaleng, karung beras, dus obat, gulungan kabel, panel surya, lampu darurat, tumpukan selimut termal.
Satu per satu masuk ke ruang waktu beku.
Tidak ada suara besar.
Tidak ada cahaya mencolok.
Hanya gudang yang perlahan menjadi kosong.
Di dalam Ruang Penyimpanan, barang-barang tersusun diam. Nasi beku tidak mencair. Obat tidak lembap. Solar tidak menguap. Semua menunggu hari ketika dunia luar mulai gagal.
Hendra berdiri di tengah gudang yang tinggal menyisakan debu dan bekas palet di lantai.
Inilah rasa aman yang paling mahal: rak yang penuh sebelum orang lain sadar mereka butuh rak.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari pemilik distributor masuk.
Pak Hendra, untuk solar volume besar dan barang khusus, jalur resmi agak susah. Kalau Bapak berani pakai jalur laut, ada orang Surabaya yang bisa bicara. Orang-orang panggil dia Bang Macan.
Di bawahnya ada satu nomor.
Hendra membaca nama itu dua kali.
Bang Macan.
Jalur laut.
BBM besar.
Barang khusus.
Ia melihat gudang kosong di sekelilingnya, lalu melihat Ruang Penyimpanan yang baru saja bertambah penuh.
Pangan sudah mulai menggunung.
Tapi perang masa depan tidak dimenangkan dengan beras saja.
Hendra menyimpan nomor itu.
Besok, ia kembali ke Surabaya.
Kali ini bukan untuk menjual aset.
Kali ini untuk membuka pintu laut.