Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GUNUNG SEMERU (2)
Di tengah pembantaian berdarah itu, tanah istana mendadak bergetar hebat.
DUM! DUM! DUM!*
Sesosok makhluk bertubuh raksasa dengan empat lengan, memakai zirah tembaga berukir tengkorak dan memegang pedang raksasa, melangkah keluar dari Balairung Agung. Dialah "Raja Siluman Semeru".
tangannya melambaikan perintah agar sisa-sisa pasukannya mundur. Dengan mata merah membara, sang Raja Siluman menatapku yang berdiri santai di antara tumpukan bangkai dan debu gaib pasukannya.
"Siapa kau, Manusia serakah?!" guruh Raja Siluman Semeru dengan suara yang menggetarkan fondasi gunung. "Untuk apa kau merusak kerajaanku dan membantai rakyatku?!"
Aku menyandarkan Bharadasura di pundakku, menyapu darah ghaib di pipiku dengan ujung lengan baju.
"Cuma mau mengambil anak-anak warga yang kalian tangkap malam ini," jawabku datar.
Raja Siluman itu menggeram murka, taringnya mengatup rapat. "Anak-anak itu sudah menjadi persembahan bagi kedudukanku! Tidak ada satu pun manusia yang bisa keluar dari sini hidup-hidup setelah merusak kerajaanku!"
"Banyak cakap," gumamku.
Raja Siluman itu meraung, mengangkat keempat pedang raksasanya sekaligus, lalu memacu langkahnya menghantam bumi. Ia melompat tinggi ke udara, menimbun seluruh berat tubuhnya dan menghantamkan empat pedangnya ke arahku bagaikan meteor jatuh.
*BOOOMMMM!*
Tanah pelataran istana hancur berkeping-keping, menciptakan kawah raksasa dan menerbangkan debu batu setinggi puluhan meter. Tapi gumpalan empat pedangnya tidak menyentuh dagingku.
Aku berdiri tegak tepat di tengah kawah, menahan keempat mata pedang raksasa itu hanya dengan satu tangan kiri yang terbalut aura petir "Ajian Benteng Gaib", sementara tangan kananku masih santai memegang Bharadasura.
Raja Siluman membelalakkan matanya yang merah, tak percaya serangannya yang sanggup meratakan bukit ditahan begitu saja oleh sebelah tangan manusia biasa.
"Sekarang," bisikku tepat di depan wajahnya, senyum dingin terukir di bibirku. "Biar ku ajarkan cara bersikap manis di depan tamumu."
Pertarungan sengit kembali pecah. Karena sejak awal aku tidak bermaksud membunuhnya dan hanya ingin memanfaatkannya, aku bertarung setengah hati. Ketidakseriusan ku ini sempat membuat Raja Siluman dengan empat lengannya di atas angin. Pedang-pedang raksasanya berayun cepat, menekan posisiku hingga membuat ubin-ubin batu di sekeliling kami hancur lebur.
Namun, bermain-mainnya sudah cukup.
Aku menarik napas dalam-dalam, menyalurkan aliran energi murni dalam jumlah raksasa langsung ke dalam inti pedang Bharadasura. Bilah pedang keemasan itu mendadak menyala terang, memancarkan aura panas yang membakar udara sekitar.
*CRAAANGGG*
Aku mengayunkan Bharadasura sekuat tenaga. Raja Siluman refleks menyilangkan dua pedang besarnya untuk menahan tebasanku. Namun begitu kedua senjata kami beradu, aku menyalurkan sedikit dorongan kekuatan dahsyat yang membuat lutut raksasa itu langsung menghantam tanah. Matanya membelalak kaget mendapati tekanan fisikku mendadak melonjak ratusan kali lipat.
Tanpa memberi jeda bernapas, aku melancarkan serangan beruntun.
*SLAASH! SLAASH! BZZZZT! SLAASH!*
Tebasan demi tebasan Bharadasura menghantamnya bertubi-tubi. Baju zirah tembaganya hancur berkeping-keping, dua dari empat pedang besarnya patah terbelah, dan tubuh raksasanya dipenuhi luka tebasan membara. Sebelum aku mendaratkan tebasan fatal di lehernya, Sang Raja Siluman menjatuhkan sisa senjatanya dan berlutut memohon.
"Ampun! Cukup! Aku menyerah, Manusia!" teriaknya parau dan terengah-engah. "Aku akan membebaskan anak-anak itu sekarang juga! Ambil mereka!"
Aku menghentikan ujung Bharadasura tepat satu milimeter di depan tenggorokannya. Aku menatapnya dingin, lalu menggelengkan kepala.
"Belum cukup. Kau sudah membuang banyak waktuku, aku mau kompensasi."
Raja Siluman itu sontak membelalakkan matanya, "Kompensasi apa?! Kau sudah membunuh banyak anak buahku, merusak kerajaanku, dan sekarang kau mau kompensasi?! Dasar manusia sialan!"
"Ya sudah kalau kau tidak mau," balasku santai sambil mengangkat Bharadasura tinggi-tinggi. "Mungkin tubuhmu sendiri bisa dijadikan kompensasi. Beberapa hari kemudian paling ada siluman lain yang mengisi posisimu di sini, lalu semua yang kau miliki diambil alih olehnya."
Aura membunuh yang pekat kembali membakar udara saat aku bersiap mengayunkan pedangku untuk memenggal kepalanya.
"Tu... Tunggu! Tunggu!" teriak Raja Siluman itu panik dengan keringat dingin mengucur deras. "Mari bicara! Kompensasi apa yang kau inginkan, Manusia?!"
Aku menurunkan pedangku, menyunggingkan senyum kemenangan.
"Aku ingin senjata dan zirah. Buatkan ribuan senjata dan zirah yang kuat dalam waktu 6 hari dari sekarang. Kalau kalian tidak bisa menyanggupinya, aku kembali dan ku ratakan kerajaan kalian sampai tak tersisa."
Raja Siluman itu meratapi nasibnya, namun melihat ancaman nyata di mataku, ia tak punya pilihan lain selain mengangguk pasrah. "Baiklah... Baiklah, aku setuju! Tapi setelah ini, kau harus berjanji untuk tidak pernah mengacau di sini lagi!"
"Kita lihat saja nanti," balasku singkat tanpa memberi jaminan.
Sesuai kesepakatan, anak-anak desa yang sempat disekap di dalam sarang ghaib itu dikeluarkan dalam keadaan utuh tanpa lecet sedikit pun. Aku menuntun mereka melangkah keluar menerobos selubung kabut gelap Semeru, kembali ke alam nyata tempat para orang tua mereka sedang menangis histeris membawa obor.
Isak tangis haru pecah ketika anak-anak itu berlarian menuju pelukan keluarga mereka. Di tengah riuhnya ucapan terima kasih warga yang menganggap ku sebagai pahlawan penolong, aku hanya tersenyum tipis di balik kegelapan malam. Mereka tidak tahu saja, di balik misi penyelamatan ini, sebuah pabrik tempa senjata gaib kelas raksasa sedang bekerja rodi demi mewujudkan rencanaku di Ujung Medini.
Setelah menyelesaikan semua urusan rumit di Semeru dan Dharmasraya, rasa lelah yang pekat akhirnya mulai menggerogoti tubuhku. Menggunakan "Ajian Saipi Angin", aku membelah kegelapan malam menuju Singhasari.
Suasana istana sudah sangat sepi saat aku melangkahkan kaki memasuki gerbang luar. Hanya ada dentang lonceng penanda tengah malam dan beberapa penjaga ronda yang berjaga. Begitu melihat sosokku muncul dari kegelapan, para penjaga itu buru-buru menunduk hormat dan membukakan pintu gerbang tanpa banyak tanya.
"Selamat malam, Gusti Sena," bisik salah satu penjaga pelan, tak berani mengusik heningnya malam.
Aku hanya mengangguk tipis sebagai balasan. Melangkah pelan menelusuri lorong-lorong kediaman yang tenang, aku akhirnya tiba di depan pintu kamar. Ketika kubuka perlahan, terlihat Dinda Rimbu sudah tertidur lelap di atas peraduan, diselimuti kain sutra halus dengan napas yang teratur.
Melihat wajah tenang istriku, rasa tegang dan lelah akibat bertarung dengan kawanan siluman Semeru perlahan luntur.
Tanpa menimbulkan suara, aku menuju kamar mandi untuk membersihkan badan dari sisa debu perjalanan jauh. Guyuran air dingin terasa begitu menyegarkan, membuang semua sisa hawa gaib yang sempat melekat. Setelah mengeringkan diri dan mengganti pakaian yang bersih, aku merayap pelan menyusup ke samping Rimbu.
Begitu merebahkan diri di atas kasur empuk, Rimbu sedikit bergumam dalam tidurnya, membalikkan badan dan secara refleks mendekat, menyandarkan kepalanya di dadaku. Aku tersenyum tipis, mengelus rambutnya perlahan, lalu memejamkan mata.