Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.
Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.
Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.
"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."
Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.
Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.
"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7: Menyelamatkan Adik Ipar
Malam berikutnya, Jessica menelepon dengan suara yang belum pernah Hendry dengar sejak ia keluar dari rumah sakit.
Panik.
"Hendry, Michelle belum pulang."
Hendry yang sedang menatap brosur perumahan elite di ponselnya langsung berdiri. Di layar, foto rumah dengan halaman luas masih terbuka. Janjinya kepada Daun belum sempat ia tindaklanjuti, tetapi krisis baru sudah mengetuk pintu.
"Terakhir di mana?"
"Dia bilang mau belajar kelompok dengan tiga temannya. Tapi salah satu ibunya baru menelepon. Mereka ternyata pergi ke HAZE Club. Sekarang Michelle mengirim pesan minta tolong, lalu ponselnya tidak bisa dihubungi."
Suara Jessica bergetar. "Aku tidak bisa keluar. Mama juga panik. Tolong..."
"Aku pergi sekarang."
"Hendry, hati-hati. Jangan sendirian."
"Bagus ikut."
Di ruang makan kecil rumah sementara, Bagus sedang memegang sendok besar. Ia baru saja akan menyuap nasi ketika mendengar namanya.
Ia menatap Hendry. Lalu menatap nasi.
Hendry mengambil kunci mobil. "Michelle dalam bahaya."
Bagus meletakkan sendok dengan ekspresi seperti prajurit meninggalkan medan paling berat dalam hidupnya. "Saya ikut."
HAZE Club berada di distrik hiburan Kota Biru. Dari luar, tempat itu terlihat legal dan modern: papan neon biru, live music, lounge kopi, ruang karaoke privat, dan beberapa area VIP untuk acara perusahaan.
Tidak ada perjudian terbuka atau minuman keras yang dipamerkan di depan. Di permukaan bersih, di belakang penuh kontrak abu-abu.
Ketika Hendry dan Bagus masuk, musik bass rendah mengguncang lantai.
Seorang resepsionis mencoba menghentikan mereka. "Maaf, Pak, area VIP hanya untuk member."
Hendry menunjukkan layar ponsel: pesan terakhir Michelle.
`Mas Hendry, tolong. Kami disuruh tanda tangan. Mereka bilang kalau pulang harus bayar. Aku takut.`
"Ruangan mana?"
Resepsionis itu pucat, tetapi tetap mencoba tersenyum. "Saya tidak mengerti, Pak."
Bagus mencondongkan tubuh sedikit. Bayangannya menutup meja resepsionis.
"Mbak, saya lapar dan sedang terburu-buru. Jangan bikin lama."
Senyum resepsionis runtuh. "VIP tiga. Lantai dua."
Di lantai dua, dua pria berbadan besar menjaga pintu. Salah satu mengangkat tangan.
"Stop. Acara privat."
Hendry tidak berhenti. "Buka pintu."
"Kau siapa?"
Bagus maju satu langkah. "Orang yang disuruh membuka pintu."
Penjaga itu mencibir dan mendorong dada Bagus.
Kesalahan besar.
Dalam satu tarikan napas, Bagus menangkap pergelangan tangannya, memutarnya sedikit, lalu menekan bahunya ke dinding. Penjaga itu jatuh berlutut dengan wajah pucat. Penjaga kedua mencoba menarik baton dari pinggang, tetapi Bagus menepuk pergelangan tangannya. Baton jatuh. Siku Bagus menyentuh dadanya pelan.
Pelan bagi Bagus.
Pria itu terlempar ke sofa koridor.
Pintu VIP tiga terbuka dari dalam.
Michelle Mahendra berdiri di sudut ruangan bersama tiga siswi lain. Wajahnya pucat, matanya merah.
Di atas meja ada beberapa lembar kontrak, gelas jus yang belum disentuh, dan kamera kecil untuk dokumentasi acara. Di seberang mereka duduk Bayu Wibowo, pria berusia tiga puluhan dengan kemeja hitam dan senyum orang yang terbiasa membuat orang takut tanpa perlu berteriak.
Di belakang Bayu, enam anak buah berdiri.
"Mas Hendry!" Michelle hampir menangis.
Hendry melihatnya dari kepala sampai kaki. Tidak ada luka. Tidak ada tanda-tanda pelecehan. Hanya ketakutan dan rasa malu.
Amarahnya tetap naik.
"Bawa teman-temanmu ke belakangku."
Michelle langsung menarik tiga temannya melewati sisi ruangan. Salah satu anak buah Bayu bergerak hendak menghalangi.
Bagus menoleh.
Orang itu berhenti.
Bayu menepuk tangan pelan. "Wah. Drama keluarga. Mas Hendry, ya? Saya dengar nama itu kemarin."
Hendry menatap kontrak di meja. "Apa ini?"
"Kontrak talent event." Bayu tersenyum. "Mereka datang melamar untuk acara promosi. Kami siapkan ruang, dokumentasi, pelatihan singkat. Lalu tiba-tiba mau pulang. Kalau batal, ada penalti."
Michelle menggeleng cepat. "Kami tidak melamar! Teman sekolah bilang ada audisi MC event remaja. Kami cuma disuruh isi data. Mereka bilang kalau tidak tanda tangan, foto KTP pelajar kami akan disebar dan orang tua ditagih."
Bayu mengangkat bahu. "Anak muda sering salah paham."
Hendry mengambil kontrak itu. Usia Michelle tertulis jelas masih di bawah delapan belas. Klausul penalti: Rp 1 Miliar per orang.
Empat gadis. Empat miliar.
Angka itu dibuat agar keluarga korban berlutut sebelum sempat melawan.
"Kontrak dengan anak di bawah umur tanpa wali," kata Hendry. "Ancaman penyebaran data pribadi. Pemaksaan. Ini bukan bisnis, Bayu."
Mata Bayu menyipit. "Hati-hati bicara. Di tempat ini, saya yang menentukan aturan."
"Mulai malam ini tidak lagi."
Ruangan mendadak hening.
Bayu tertawa. "Kau percaya diri karena membawa satu orang besar?"
Ia menjentikkan jari.
Enam anak buahnya bergerak.
Michelle menjerit kecil. Tiga temannya berpelukan. Hendry bahkan tidak menoleh.
Bagus menghela napas. "Pak Hendry, enam orang. Mungkin sedikit lebih lama."
"Berapa lama?"
"Dua puluh detik kalau tidak ada yang lari."
Orang pertama menerjang dengan kursi. Bagus menendang kaki kursi itu, membuatnya berputar dan menghantam pemiliknya sendiri. Orang kedua dan ketiga datang dari kiri-kanan. Bagus menurunkan bahu, masuk di antara mereka, lalu kedua tubuh itu saling bertabrakan dengan suara keras.
Anak buah keempat mengayunkan botol kaca. Bagus menangkap pergelangan tangannya dan mengetuk siku lawan. Botol jatuh ke karpet tanpa pecah.
"Jangan pakai botol," kata Bagus. "Nanti berantakan."
Dua sisanya mulai ragu. Salah satu tetap maju. Bagus menepuk dadanya dengan telapak terbuka. Ia mundur tiga langkah lalu jatuh duduk, napasnya hilang.
Yang terakhir mengangkat kedua tangan.
"Saya tidak ikut."
"Pintar," kata Bagus, untuk kedua kalinya dalam dua hari.
Bayu tidak tersenyum lagi.
Hendry duduk di sofa seberang Bayu. Ia meletakkan kontrak itu di meja.
"Ada dua pilihan. Pertama, aku panggil polisi, pengacara, dan media. Tempat ini ditutup malam ini juga. Kau masuk berita sebagai orang yang menjebak siswi sekolah."
Wajah Bayu berubah keras.
"Kedua," lanjut Hendry, "aku beli HAZE Club."
Bayu menatapnya seolah mendengar lelucon. "Kau mau beli?"
"Rp 20 Miliar. Tunai melalui escrow. Notaris datang besok pagi. Semua kontrak ilegal dengan anak-anak ini dibatalkan malam ini. Data mereka dihapus di depan mereka. Kau tetap bekerja, tapi bukan sebagai pemilik. Sebagai orangku."
Michelle membelalak. "Mas Hendry..."
Bayu tertawa pendek, tetapi tawanya kering. "Kau pikir HAZE Club bisa dibeli seperti beli gorengan?"
Hendry mengirim satu pesan kepada Budiman.
Kurang dari satu menit, ponsel Bayu berdering.
Ia melihat nama di layar. Wajahnya langsung berubah.
"Pak Budiman?"
Bayu mendengar selama beberapa detik. Punggungnya yang tadi santai perlahan tegak. Matanya melirik Hendry, lalu Bagus, lalu kontrak di meja. Keringat muncul di pelipisnya.
"Iya, Pak. Saya mengerti. Notaris besok pagi. Ya, Pak. Saya akan bereskan malam ini."
Telepon terputus.
Kali ini, Bayu berdiri.
Ia menunduk kepada Hendry.
"Pak Hendry, saya salah menilai Anda."
"Jangan minta maaf padaku."
Bayu menoleh pada Michelle dan tiga temannya. Untuk pertama kalinya, suaranya tidak lagi licin.
"Maaf. Semua data kalian akan dihapus sekarang. Tidak ada tagihan. Tidak ada penalti."
Ia memerintahkan staf membawa laptop. Di depan Michelle, semua scan kartu pelajar, formulir, dan rekaman audisi dihapus dari sistem serta backup lokal. Hendry meminta Michelle mengecek satu per satu. Gadis itu masih gemetar, tetapi ia mengangguk setelah semuanya bersih.
"Kontraknya," kata Hendry.
Bayu menyerahkan semua lembar. Hendry merobeknya di depan mereka.
Suara kertas robek terasa lebih lega daripada musik apa pun di tempat itu.
Michelle akhirnya menangis. Ia memeluk lengan Hendry.
"Mas Hendry, maaf... aku bodoh..."
"Kamu bukan bodoh. Kamu ditipu."
"Aku takut Mbak Jessica marah."
"Dia memang akan marah. Tapi karena dia sayang kamu."
Bayu berdiri di samping meja, masih pucat. Salah satu anak buahnya yang tidak ikut berkelahi mendekat dan berbisik di telinganya. Bisikan itu membuat wajah Bayu semakin kaku.
"Bos... Hendry ini yang kemarin datang ke tempat Raka. Yang bawa nama Pak Budiman. Yang bikin Raka bayar balik semua berkas Golianto."
Bayu menatap Hendry lagi.
Kali ini rasa hormat di ruangan itu menebal.
Ada takut.
Ia akhirnya mengerti. Orang di depannya bukan pelanggan marah yang kebetulan punya uang. Ini orang yang dalam dua hari sudah menyentuh rumah sakit, perusahaan desain, rentenir gelap, dan sekarang HAZE Club.
Hendry berdiri. "Mulai malam ini, Bayu, kalau ada anak sekolah masuk tempatmu tanpa wali, pulangkan. Kalau ada orangmu memaksa kontrak seperti ini lagi, aku tidak akan membeli apa pun."
Bayu menelan ludah. "Apa yang akan Anda lakukan?"
Hendry menatapnya datar.
"Aku akan meratakan tempatnya."
Bayu menunduk lebih dalam. "Saya mengerti, Pak Hendry."
Michelle memandang Hendry dengan mata basah dan terang sekaligus. Ketakutan masih ada, tetapi di baliknya muncul sesuatu yang lebih kuat.
Kekaguman.
Malam itu, untuk kedua kalinya, ia bertanya dalam hati.
Mas Hendry sebenarnya siapa?