Hidup bukan sekadar berjalan mengikuti arus dunia, melainkan tentang bagaimana jiwa menemukan jalan pulang kepada Sang Pencipta.
Fazam Arjuna mengira hari-harinya hanya akan diisi dengan kesederhanaan hidup dan secangkir kopi di rumah bersama keluarga tercinta. Namun, takdir membawanya pada sebuah panggilan batin yang jauh lebih dalam—sebuah perjalanan laku spiritual yang menguji keteguhan hati, kesabaran, dan keikhlasan.
Di tengah sunyinya jalan setapak pencarian hakikat diri, langkah Fazam tidak berjalan sendirian. Ia ditemani oleh rahasia semesta yang terbentang, pengawalan batin dari sosok harimau putih, hingga bimbingan penuh kearifan dari Eyang Semar yang menuntunnya menembus tirai gaib kehidupan.
Bagaimana kisah Fazam dalam menyucikan hati dan menemukan cahaya sejati di tengah liku-liku batinnya?
Ikuti perjalanan penuh hikmah dan misteri batin dalam Perjalanan Laku Spiritual. Temukan jawabannya di setiap lembarnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Diam yang Lebih Bermakna dari Kata
Fajar baru saja menyingsing perlahan, menyisipkan cahaya pucat di balik punggung bukit. Udara pagi terasa sejuk dan menyegarkan, membawa aroma tanah basah serta dedaunan yang masih berembun. Fazam melangkah meninggalkan tepian sungai, hatinya terasa lapang dan tenang — seakan beban berat yang dipanggul sejak lama perlahan-lahan diangkat satu per satu.
Jalan setapak kini menanjak perlahan ke arah perbukitan. Di kejauhan tampak gubuk-gubuk kecil tersebar di antara kebun, dan sesekali terdengar suara ayam berkokok menyambut pagi. Fazam berjalan santai, tidak terburu-buru, karena ia paham sekarang — bukan seberapa cepat kau sampai, melainkan dengan hati seperti apa kau melangkah.
Belum jauh ia berjalan, dari arah berlawanan tampak seorang lelaki tua berjalan terhuyung-huyung menuruni bukit. Wajahnya masam, keningnya berkerut dalam, dan bibirnya komat-kamit seakan mengomel pada sesuatu yang tidak terlihat. Saat melihat Fazam, ia berhenti tepat di tengah jalan, menghalangi langkah pemuda itu.
"Hei kau! Berhenti di situ!" bentaknya kasar.
Fazam berhenti pelan, menunduk hormat, lalu tersenyum lembut. "Selamat pagi, Kek. Ada apa ya?" ucapnya ramah.
Lelaki tua itu mendengus keras, lalu menunjuk ke arah sepatu Fazam yang sedikit berdebu. "Kau lihat jalannya bersih begini? Kau lewat lalu debunya beterbangan ke kebunku! Tidak punya mata kau?" omelnya tajam.
Fazam menunduk lebih dalam, tidak membela diri. "Maafkan hamba, Kek. Hamba tidak bermaksud. Biarlah hamba bersihkan," jawabnya tenang. Ia lalu berjongkok, mengambil daun lebar, dan menyapu jejak langkahnya pelan-pelan hingga tanah itu kembali bersih.
Lelaki tua itu tidak pergi. Ia berdiri tegak, menatap Fazam dengan pandangan yang tidak ramah. "Cuma begitu? Tidak ada kata lain? Tidak marah kau?" tanyanya heran.
"Marah tidak akan membuat debu hilang, Kek. Hanya menambah panas hati saja," jawab Fazam lembut sambil berdiri kembali.
Lelaki tua itu melipat tangan di dada, masih belum puas. "Kau ini pemuda aneh. Semua orang lewat sini cepat-cepat pergi, takut aku memarahi. Kau malah diam saja," ucapnya.
"Kalau Bapak marah, berarti Bapak punya beban yang berat. Biarlah hamba tidak menambah beban itu dengan kemarahan hamba juga," sahut Fazam tulus.
Tiba-tiba suasana hening sejenak. Wajah lelaki tua yang tadinya tegang perlahan melunak. Ia menghela napas panjang, lalu duduk di atas batu besar di pinggir jalan, menepuk tempat di sebelahnya.
"Duduklah, Le. Aku bukan orang pemarah begitu saja," ucapnya pelan, suaranya kini berubah lembut.
Fazam duduk dengan sopan, menjaga jarak sedikit. "Hamba tahu, Kek. Di balik kemarahan Bapak pasti ada sesuatu yang menyakiti hati," jawabnya tenang.
Lelaki tua itu menatap ke arah lembah di bawah sana, matanya berkaca-kaca. "Istriku sudah tiada setahun lalu. Sejak itu aku hidup sendirian. Kadang kesepian itu berubah jadi amarah — kepada siapa saja yang lewat, kepada apa saja yang ada di depan mata. Padahal aku tahu — tidak ada yang salah dengan mereka. Yang salah hatiku yang sepi," ucapnya lirih.
Fazam meletakkan tangannya pelan di bahu lelaki tua itu. "Sepi itu sakit sekali, Kek. Tapi sepi mengajarkan kita satu hal — bahwa yang benar-benar menemani kita selalu ada di dalam diri. Dia tidak pergi, tidak berubah, tidak meninggalkan," ucapnya lembut.
"Siapa itu?" tanya lelaki tua itu menoleh.
"Gusti Allah. Dia ada di sepi, di ramai, di sedih, di gembira. Hanya saja saat hati ramai dengan kemarahan dan kesedihan — suaranya tertutup. Diam dan tenanglah sedikit — nanti terdengar," jawab Fazam pelan namun tegas.
Lelaki tua itu tersenyum tipis, senyum yang tulus dan lega. "Terima kasih, Le. Kau datang tanpa banyak bicara, tapi kau menyembuhkan luka yang sudah lama tertutup rapat. Namaku Mbah Sukma. Dan kau?" ucapnya.
"Fazam, Kek. Hamba sedang berjalan mencari jalan pulang," jawab Fazam hormat.
Mbah Sukma mengangguk pelan. "Kau sudah menemukannya, Le. Bukan di puncak bukit, bukan di makam jauh. Di sini — di hati yang tahu diam, di hati yang tidak membalas kejahatan, di hati yang tetap lembut saat diperlakukan kasar. Itulah jalan pulang yang sebenarnya," ucapnya dalam.
Saat Fazam berpamitan dan melanjutkan perjalanannya, suara Mbah Tunggal terdengar lembut dan hangat di sanubarinya — selalu ada, tak pernah pergi.
"Lihat kan, Le? Tadi kau diuji — dimaki, dituduh, diperlakukan tidak adil. Dan kau lulus bukan dengan membela diri, bukan dengan berdebat — tapi dengan diam dan lembut. Dunia bilang harus bicara untuk membuktikan diri — tapi akal yang sudah ditarik Gusti Allah tahu — diam yang tulus jauh lebih kuat dari ribuan kata," ucap Mbah Tunggal.
"Apakah diam itu zikir juga, Mbah?" tanya Fazam di dalam hati.
"Diam yang hati tetap ingat kepada-Nya — itu zikir yang paling murni. Karena mulut bisa berhenti bicara, tapi hati tidak pernah berhenti mengingat. Itulah zikir yang tidak putus — di mana pun kau, apa pun yang kau lakukan," sahut Mbah Tunggal meneduhkan.
Matahari mulai naik tinggi, menyinari jalan setapak yang berkelok ke arah bukit berikutnya. Fazam melangkah ringan, hatinya penuh dengan rasa syukur. Ia paham sekarang — setiap pertemuan adalah pelajaran, setiap ujian adalah jalan menuju pulang. Dan ia tidak perlu menjadi siapa-siapa yang hebat. Ia hanya perlu menjadi dirinya yang tulus — lembut, rendah hati, dan selalu ingat kepada-Nya.
Dan di dalam sanubarinya, di antara langkah kaki yang perlahan dan mantap di bawah sinar matahari pagi yang hangat, zikir lembut terus mengalir — tanpa suara, tanpa putus, sepenuh hati: