Chloe Weiss, pewaris tunggal di keluarga Weiss tapi nasibnya tidak seindah yang dibayangkan, Chloe dengan kondisinya yang sehat harus menelan pil pahit, saat ibu kandungnya meninggal dunia.
Ayah dan ibu tirinya bersekongkol memasukkannya ke rumah sakit jiwa, dan menguasai seluruh harta kekayaan yang di tinggalkan oleh ibunya.
Tapi setelah lima tahun kemudian, Chloe kembali dengan jiwa yang berbeda untuk merenggut apa yang menjadi miliknya.
Bukan hanya itu saja, Chloe juga mengambil calon suami saudara tirinya, dan apa yang di lakukannya itu membuat Ayah dan ibu tirinya sangat murka.?
Siapakah sosok jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss, gadis yang di kenal sangat lamah dan bodoh?
Apakah jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss itu juga mempunyai dendam dengan seseorang di kehidupan sebelumnya sehingga Alam dan semesta memberikannya kehidupan kedua.?
Yang penasaran, ikuti terus ceritanya sampai akhir 🤗🤗🥰.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kasmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukti
WEISS GROUP TOWER - LANTAI 50.
DING
Lift khusus berhenti. Suasananya dingin.
Pintunya terbuka.
Chloe melangkah keluar. Rambut panjangnya tergerai. Makeup tipis tapi tajam. High heels 10cm-nya terdengar jelas di lantai marmer. Tak.... Tak.... Tak....
Di belakangnya ada Elsa dan dua pengacara dari kantor hukum Tuan Maximilian, membawa map hitam tebal.
Seluruh karyawan di luar ruang rapat langsung berdiri dan berbisik-bisik.
"Apa ini Nona Muda Weiss yang asli?"
"Aku dengar-dengar dia kabur dari rumah sakit jiwa."
"Jadi dia gila dong? Lalu kenapa dia ada di sini?"
"Entahlah! Dan katanya dia tidak punya saham apa-apa di sini."
"Orang gila memang tidak pantas dapat saham, walaupun itu anak kandung."
"Aku dengar dia juga merebut calon suami Nona Vivian."
Chloe tidak menoleh. Tatapannya lurus ke depan. Pintu kaca ruang rapat tertutup.
Di dalam, Alexander duduk di kursi direktur utama. Di sebelahnya ada Serena dan juga Levin. Di hadapan mereka para direktur tua duduk dengan tenang.
KRETAK
Pintu didorong.
Semua yang ada di dalam ruangan itu menoleh.
Alexander mengerutkan kening. "Siapa yang izinkan kau masuk tanpa mengetuk pintu?"
Chloe melangkah masuk. Berhenti tepat di depan meja rapat panjang.
Tersenyum tipis. Dingin.
"Selamat pagi, para direktur," ucapnya. Suaranya tenang, tapi menggema. "Maaf terlambat dua menit. Macet."
Hening.
Serena langsung berdiri. Matanya melot. "KAU?! Berani sekali kau datang ke mari?! Ini rapat direksi! Bukan rumah sakit jiwa!"
Chloe mengabaikannya. Ia menarik kursi di ujung meja. Kursi yang kosong. Kursi pemegang saham utama.
SERET
Ia duduk. Menyilangkan kaki. Meletakkan map hitam di atas meja.
"Kebetulan," kata Chloe pelan. "Aku juga mau rapat."
Alexander tertawa sinis. Begitu pun dengan Levin. "Rapat? Dengan status apa? Menantu keluarga Reinhard? Kau memang tidak punya malu," ucap Levin.
Chloe membuka map itu. Mengeluarkan satu map lagi. Warna merah. Ada logo notaris Geneva di atasnya.
Ia melemparnya ke tengah meja. BUK
"Lah, kau lupa ya, Kak? Aku datang ke sini dengan status ini," ucap Chloe sambil menatap Levin sekilas.
Alexander mengambilnya. Membuka. Tangannya gemetar saat membuka halaman pertama.
"Kemarin aku sudah mengatakannya kepada kalian, kan... Tapi sepertinya kalian masih ingin menantangku," Chloe tersenyum tipis.
Wajah Alexander pucat. Serena merampas map itu. Matanya melebar. "TIDAK MUNGKIN! INI SURAT PALSU! KAU PASTI MENYOGOK NOTARIS!"
Chloe bersedekap. "Silakan cek ke notaris langsung, Ibu Tiri. Atau mau aku panggilkan sekarang?"
Para direktur saling pandang. Keringat dingin.
Salah satu direktur senior, Pak Hendra, berdehem. "Nona Muda... ini... ini benar tanda tangan almarhum Nyonya Irina Weiss."
Chloe menatap tajam. "Ya. Ibu kandung saya. Yang lima tahun lalu dibunuh oleh mereka." Chloe menunjuk Serena, lalu menunjuk Alexander.
"BOHONG! DIA HANYA WANITA GILA! JANGAN ADA YANG MENDENGAR UCAPANNYA!" teriak Serena.
Chloe berdiri. Ia berjalan ke ujung meja. Berhenti tepat di belakang kursi Alexander.
Ia mencondongkan tubuh, berbisik di telinga Alexander. Hanya mereka berdua yang mendengar.
"Kemarin aku sudah memberi kalian waktu dua hari untuk pergi dengan cara yang baik-baik. Tapi ternyata kesempatan itu kau anggap sepele... Jangan salahkan aku jika hari ini aku melakukan hal di luar batas."
Alexander mengepalkan tangannya di bawah meja.
"ELSA!" panggil Chloe.
Elsa yang berada di luar langsung masuk. "Iya, Nyonya?" ucapnya membungkuk.
"Minta polisi untuk masuk dan menangkap mereka," suara Chloe terdengar datar, tapi menusuk.
DUG
Serena langsung berdiri. Kursinya sampai jatuh. "APA?! KAU GILA?! AKU TIDAK MAU DIPENJARA!"
BRAK
Pintu ruang rapat terbuka lebar.
Empat orang polisi berseragam masuk. Di belakangnya ada dua pengacara dan wartawan yang sudah Chloe undang diam-diam.
Petugas maju. "Tuan Alexander Weiss, Nyonya Serena Weiss, Tuan Levin Weiss. Kalian ditahan atas tuduhan penggelapan dana perusahaan, pemalsuan surat wasiat, dan pembunuhan berencana atas nama Nyonya Irina Weiss lima tahun lalu."
Levin langsung berdiri dan mendorong kursi. "TUDUHAN INI PALSU! JANGAN ADA YANG PERCAYA KEPADANYA!"
Alexander hanya bisa menunduk pasrah. Saat ini pria itu sudah mengaku kalah. Jika bukan karena desakan Serena dan Levin, pagi ini memang ia tidak ingin datang ke perusahaan untuk menghadiri rapat direksi.
Karena ia sudah tahu konsekuensinya melawan Chloe. Tapi ia juga tidak bisa melawan desakan istrinya.
"FITNAH! INI FITNAH!" Serena kembali berteriak.
Chloe melangkah pelan menghampiri wanita paruh baya itu. "Apa perlu aku putar buktinya sekarang, Ibu Tiri?" ucap Chloe dengan suara datar.
Serena justru menatap tajam Chloe.
Chloe memberi kode ke Elsa lewat gerakan mata.
Elsa mengangguk lalu memutar layar proyektor.
PUTAR
Terdengar suara tawa Serena yang menggema di dalam mansion. "Hahaha... Mati kau."
DOR
Ruangan langsung riuh.
"Ya Tuhan..."
"Jadi selama ini kita bekerja untuk pembunuh."
"Gila... Tega sekali hanya karena kekuasaan."
Wajah Serena langsung pucat pasi. Ia mundur beberapa langkah. "ITU... ITU BUKAN SUARAKU! ITU AI! DIA PAKAI AI!"
Chloe mendekat. Berhenti tepat di depan Serena. Senyumnya tipis. Dingin.
"AI?" Chloe mengangkat alis. "Sayangnya... rekaman ini diambil dari CCTV lama di gudang belakang mansion. Yang hanya bisa diakses oleh tiga orang. Kau, Papa, dan Levin."
Ia menoleh ke Levin. "Mau aku putar juga rekaman kau, yang mengatakan, Bawa ke kamar. Pastikan kematiannya terlihat seperti bunuh diri?"
Levin langsung diam. Keringat dingin mengucur.
Lalu Chloe menatap ke Alexander. "Dan kau... kau hanya berdiri diam melihat istri pertamamu menghabisi istri keduamu. Itu semua demi apa? Demi harta, demi marga, dan demi kedudukan yang tinggi."
Kamera wartawan menyorot mereka. Berita yang terjadi saat ini akan menjadi perbincangan besar di kota Geneva maupun di luar kota.
Polisi maju dan memborgol tangan mereka. KLIK.
Borgol dipasang di pergelangan tangan Serena terlebih dahulu. Wanita paruh baya itu menjerit.
"LEPASKAN AKU! CHLOE KAU IBLIS! KAU ANAK DURHAKA!"
Chloe tidak bergeming. Ia menatap Serena sampai borgol itu mengunci sempurna.
Lalu giliran Alexander. Pria itu tidak melawan. Hanya menatap Chloe dengan mata kosong.
"Kau memang hebat," bisik Alexander. "Tapi kau ingat... dunia bisnis itu kejam. Kau tidak akan bertahan lama."
Chloe mencondongkan tubuh. Berbisik balik. "Aku sudah mati sekali, Pa. Dan tidak ada yang lebih kejam dari itu."
Terakhir giliran Levin. Pria itu memberontak.
BUG
Levin menendang polisi yang ingin memborgol tangannya, hingga membuat polisi itu mundur ke belakang.
Suasana langsung tegang. "Kau tidak bisa menangkapku semudah itu!" ucap Levin.
Elsa ingin maju, tapi Chloe menggelengkan kepalanya.
Salah satu polisi kembali maju, tapi Levin dengan cepat menarik pistol dari sarung polisi itu.
Hening.
Semua orang menahan napas.
Levin mengarahkan pistol itu ke arah Chloe. Tangannya gemetar. "JANGAN ADA YANG BERGERAK! KALAU TIDAK AKU TEMBAK!"
DUG
Jantung semua orang berhenti.
Chloe tetap berdiri di tempatnya. Tidak mundur selangkah pun. Ia menatap mata Levin lurus.
"Tembak," ucap Chloe pelan. "Kalau kau berani."
"KAU GILA?!" teriak Levin.
Chloe tersenyum. "Kau tidak ingin dipenjara, kan? Maka pergilah. Aku memberimu kesempatan untuk pergi. Tapi jika kau berani muncul di hadapanku lagi... maka kau akan tahu sendiri akibatnya."
Levin terdiam. Peluh membasahi pelipisnya. Jarinya di pelatuk bergetar.
"Jangan dengarkan dia!" teriak Serena dari belakang. "Tembak dia! Habisi dia!"
----
Jangan lupa dukungannya ya guys 🙏 Like, komen dan Vote 🥰🤗.
dan skraang queen ad ddsnaa ,, d tubuh Chloe weiss
baru berkarya lgiii ,,
tenang aq gx kmn2 tetap mantengin NT buat nunggu kelanjutan cerita kk ,,
🤭🤭🤭🫣🫣🫣😂😂😂😂😂
tp apa gx kaget tuh nanti pa mertua dr Zurich dtg ke geneva ,,🤔🤔🤔🤔😂😂😂
sebagai penebus dy dlu menyakiti queen daisy tanpa sadar ,,
menguasai harta yg bukan hak ny ,,
membuang pewaris ,, tp tenang karma mereka sdang otw menghampiri 😏😏😏😏😏
dtggu kelanjutan ny yx kak
semakiiiiin memanaaas ,,