Davina Clarisa tidak tahu, bagaimana hidupnya setelah memilih berpisah dengan suaminya Rio.Rio orang keras kepala, egois dan ingin menang sendiri membuat Davina merasa lelah secara mental, sehingga ia memutuskan untuk berpisah adalah jalan terbaiknya.Davina merasa rio bukan tempat rumah ia pulang.
setelah berpisah Davina memutuskan kembali ke kampung halamannya, dan menetap disana dengan putri kecilnya.Akankah davina bisa melupakan mantan suaminya dan bisa kembali menata hidup layak seperti perempuan lain pada umumnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meiithandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Yang Tidak Pernah Sembuh
Sore itu, hujan rintik-rintik membasahi jalanan Kota C. Davina duduk di sudut restoran cafe kecil yang hangat, menyesap matcha latte-nya, yang mulai dingin. Ia menunggu sahabatnya yang sudah lama tidak ia temui.
Pintu kaca restoran terbuka, dan seorang wanita cantik dengan rambut sebahu berlari kecil menghampirinya.
"Dav! Maaf aku telat, macet banget di jalan!" seru wanita itu sambil melepaskan jas hujannya.
"Rania!" Davina tersenyum, berdiri untuk memeluk sahabatnya lalu mencium kedua pipi sahabatnya. "Nggak apa-apa, aku juga baru sampai." Ucap Davina.
Rania adalah sahabat Davina sejak kuliah. Mereka satu kos, satu kelas, bahkan sama - sama mengerjakan skripsi bareng. Rania tahu segalanya tentang Davina, termasuk luka terdalam yang pernah menghancurkan sahabatnya itu tujuh tahun lalu.
Rania duduk di hadapan Davina, memesan sebelum menatap lekat ke manik mata sahabatnya itu. "Kamu kelihatan lebih segar, Dav. Terakhir kita VC kamu keliatan murung sekali"
"Maksudmu itu karena Ku memutuskan pisah dengan Rio ?" Davina menyelesaikan kalimat Rania dengan senyum tipis. "Sudahlah, Ran. Aku sudah mulai move on. Fokusku sekarang Zahra."
Rania mengangguk, wajahnya penuh simpati. "Aku senang mendengarnya. Zahra pasti bangga punya mamah sekuat kamu."
Mereka memesan makanan, mengobrol ringan tentang pekerjaan Rania sebagai desainer interior, tentang anak-anak mereka.
Tentang hal-hal biasa yang mengisi kehidupan sehari-hari. Namun, saat piring mereka sudah setengah kosong, Rania tiba-tiba terdiam. Ia memainkan sedotannya dengan gelisah.
"Dav... ada sesuatu yang harus aku ceritakan padamu," ucap Rania pelan.
Davina mengangkat alis. "Apa? Kamu bikin aku penasaran." Ucap Davina.
Rania menelan ludah, menatap Davina lekat-lekat. "Tentang... Adit." Ucap Rania.
Nama itu.
Jantung Davina berhenti berdetak sesaat. Cangkir matcha latte di tangannya bergetar, matcha hijaunya di dalamnya bergoyang-goyang.
Ia meletakkan cangkir itu dengan hati-hati, berusaha terlihat tenang meski dadanya tiba-tiba terasa sesak.
"Adit?" ulang Davina, suaranya terdengar datar. "Kenapa kamu tiba-tiba ngomongin dia?"
"Dav, aku tahu ini berat buat kamu. Tapi kamu harus tahu," Rania menggenggam tangan Davina. "Adit... dia kembali ke Kota C."
Davina terkejut. "Maksudmu... dia kembali ke sini? Ke Kota C?"
Rania mengangguk pelan. "Iya. Aku dengar dari teman-teman lama kita. Setelah kamu pergi dari Kota C tujuh tahun lalu, Adit tiba-tiba kembali ke sini. Dia menetap di sini. Katanya dia jadi pengusaha sukses, tapi aku nggak tahu detailnya."
Dunia Davina terasa berputar. Ia bersandar di kursinya, napasnya memburu. Tangannya gemetar.
Adit.
Tujuh tahun lalu, nama itu adalah segalanya bagi Davina. Adit adalah pria yang pertama kali membuatnya jatuh cinta, yang pertama kali menciumnya di bawah hujan, yang pertama kali berjanji akan selalu ada untuknya.
Dan kemudian, pria itu menghancurkannya.
"Ran..." suara Davina bergetar. "Kenapa kamu baru ngomong sekarang?"
"Aku... aku nggak tahu harus bilang gimana, Dav. Aku takut kamu sakit hati lagi," Ucap Rania air matanya davina mulai menggenang. "Tapi aku pikir kamu harus tahu. Kamu berhak tahu kalau dia ada di kota ini."
Davina menatap keluar jendela, hujan semakin deras. Pikirannya melayang ke tujuh tahun yang lalu.
Flashback: 7 Tahun Lalu
Davina yang berusia 22 tahun duduk di kamarnya, menatap layar ponselnya dengan cemas. Sudah lima hari ia mengirim chat pada Adit, tapi tidak ada satupun yang dibalas.
"Sayang, kamu di mana? Kok nggak kabar?"
"Dit, aku kangen. Kamu sibuk ya?"
"Adit, tolong balas. Aku khawatir."
"Dit, please... aku butuh kamu."
Tidak ada jawaban. Tidak ada satupun.
Davina mencoba menelepon, tapi ponsel Adit selalu mati. Ia pergi ke kampus, mencari Adit di tempat-tempat biasa mereka berkumpul, tapi pria itu tidak ada di mana-mana.
"Adit pasti sibuk," gumam Davina pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan hatinya. "Dia pasti akan balas nanti."
Namun, hari berganti hari, dan Adit tetap tidak muncul. Lima hari berubah menjadi seminggu. Seminggu menjadi dua minggu. Dan Davina mulai merasa ada yang salah.Sudah terasa sebulan.
Sampai suatu sore, saat Davina sedang duduk di kantin kampus, seorang pria muda menghampirinya. Pria itu adalah Dimas, teman sekelas Adit.
"Dav, boleh aku bicara sebentar?" tanya Dimas ragu-ragu.
Davina mengangkat kepalanya. Wajahnya pucat karena kurang tidur dan terlalu banyak menangis. "Ada apa, Dim? Kamu tahu di mana Adit?" Ucap Davina.
Dimas menunduk, tampak tidak enak hati. "Dav... aku nggak tahu harus bilang ini atau nggak. Tapi... aku pikir kamu berhak tahu."
Jantung Davina berdegup kencang. "Katakan, Dim. Apa yang terjadi sama Adit?"
Dimas menelan ludah, tampak ragu. "Dav... Adit... dia balikan sama mantannya."
Dunia Davina berhenti berputar.
"Apa... apa maksudmu?" suara Davina bergetar.
Dimas menatap Davina dengan iba. "Mantan pacarnya yang dulu, sebelum dia sama kamu. Namanya... aku lupa, tapi yang jelas mereka udah balikan. Aku lihat sendiri mereka jalan bareng di mall kemarin. Mereka... mereka kelihatan bahagia, Dav."
Air mata Davina langsung mengalir deras. "Nggak... nggak mungkin. Adit nggak mungkin—"
"Aku tahu ini berat, Dav. Tapi aku pikir kamu harus tahu," Dimas menunduk. "Makanya dia nggak pernah balas chat kamu. Dia... dia udah nggak sama kamu, Dav. Dia udah pilih mantannya."
Davina menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Hatinya hancur berkeping-keping. Pria yang ia cintai, pria yang selalu berjanji akan selalu ada untuknya, ternyata kembali ke mantan kekasihnya. Dan yang paling menyakitkan.Adit tidak pernah memberitahunya. Adit hanya menghilang, ghosting, tanpa penjelasan sama sekali.
"Kenapa dia nggak bilang langsung ke aku?" isak Davina. "Kenapa dia harus ghosting? Apa aku seburuk itu?" Ucap davina sedih.
Dimas hanya bisa diam, tidak tahu harus mengatakan apa.
Malam itu, Davina menangis sampai matanya bengkak. Ia mencoba menghubungi Adit sekali lagi, tapi tetap tidak ada jawaban. Ia pergi ke kos Adit, tapi kamarnya sudah kosong. Tetangga kamarnya bilang Adit sudah pindah dua minggu yang lalu.
Adit benar-benar menghilang. Tanpa penjelasan. Tanpa alasan. Tanpa salam perpisahan.
Dan yang paling menyakitkan, Adit kembali ke wanita yang pernah ia tinggalkan dulu, wanita yang Davina pikir sudah tidak ada dalam hidup Adit.Ternyata Adit masih belum bisa melupakan mantan dia waktu SMP.Sehingga membuat davina frustasi dan menyalahkan dirinya sendiri.
Kembali ke Masa Kini
Air mata Davina mengalir tanpa ia sadari. Rania segera menyodorkan tisu.
"Dav, maaf... aku tahu ini berat—"
"Berat?" Davina tertawa pahit. "Ran, kamu tahu apa yang aku lakukan setelah Adit pergi? Kamu tahu betapa hancurnya aku?"
Rania mengangguk, mencoba menenangkan sahabatnya itu. "Aku tahu, Dav. Aku di sana untuk kamu. Aku lihat kamu nggak makan berhari-hari. Aku lihat kamu nangis setiap malam. Aku lihat kamu—"
"Aku meninggalkan Kota C, Ran," potong Davina, suaranya tajam. "Aku nggak bisa tinggal di sini lagi. Setiap sudut kota ini mengingatkanku pada Adit. Aku harus pergi. Aku harus melanjutkan hidupku."
"Iya, Dav. Aku mengerti. Kamu butuh jarak untuk move on," Rania menunduk.
"Dan di tempat baru itu, aku bertemu Rio," lanjut Davina, suaranya melembut, matanya menerawang. "Rio... Rio berbeda, Ran. Rio sabar. Rio selalu ada untuk aku. Rio yang pelan-pelan bikin aku percaya lagi sama cinta."
Rania tersenyum tipis. "Aku ingat waktu kamu cerita tentang Rio. Kamu bilang dia baik, dia sabar..."
"Iya," Davina mengangguk, air matanya menetes. "Rio adalah tempat pulang buat aku, Ran. Setelah hancur karena Adit, Rio yang ngumpulin kepingan hati aku satu per satu. Rio yang bikin aku bisa buka lembaran baru. Rio yang bikin aku percaya bahwa aku masih layak dicintai."
"Dan kamu benar-benar mencintai Rio," Rania menggenggam tangan Davina.
"Iya, Ran. Aku benar-benar mencintai Rio," suara Davina pecah. "Aku menikah dengannya karena aku mencintainya. Bukan karena aku ingin melupakan Adit. Adit sudah aku kubur dalam -dalam. Rio adalah masa depan aku. Rio adalah keluarga aku."
Rania terdiam, menunggu Davina melanjutkan.
"Tapi..." suara Davina bergetar, "tapi setelah menikah... Rio berubah."
"Berubah?" Rania mengangkat alis.
"Iya," Davina tertawa getir. "Rio yang dulu sabar, berubah jadi kasar. Rio yang dulu selalu ada untuk aku, berubah jadi sering menghilang. Rio yang dulu bilang aku segalanya, berubah jadi... entah apa."
Air mata Davina mengalir deras. "Rio menyakitiku, Ran. Bukan cuma sekali, tapi berkali-kali. Dia bilang aku nggak cukup baik buat dia. Dia bilang aku masih mikirin mantan aku.padahal nggak! Aku sudah move on! Aku sudah lupa sama Adit!"
Rania memeluk Davina erat. "Dav... maaf... aku nggak tahu Rio seburuk itu..."
"Dan yang paling menyakitkan," Davina terisak, "Rio tidak peduli dengan aku dan Zahra. Dia acuh samaku ran , tanpa penjelasan dia tidak pernah pulang berhari - hari, tanpa rasa bersalah. Dia meninggalkan anaknya, Ran bahkan ulang tahun zahra ketiga tahun dia tidak datang sama sekali. Dia membuatku merasa tidak ada sama sekali di hidupnya.
Keheningan menyelimuti mereka. Hanya suara hujan yang terdengar.
"Ran..." Davina menatap sahabatnya, matanya penuh pertanyaan. "Kenapa hidupku seperti ini ,Kenapa laki - laki menyakitiku dengan kejam. Apa aku seburuk itu?"
Rania menggeleng pelan. "Aku nggak tahu, Dav. Sampai sekarang aku nggak tahu. Kamu nggak pernah seburuk itu. Tapi... mungkin suatu hari nanti kamu akan dapat jawabannya."
Davina menunduk, air matanya menetes ke meja. "Aku nggak mau jawabannya, Ran. Aku cuma mau... aku cuma mau lupa. Tapi kenapa harus kembali ke Kota C ? Kenapa dia harus ada di kota yang sama denganku?"
"kenapa dia tidak kekota lain saja, kenapa mereka harus datang dalam hidupku dan pergi begitu saja dengan seenaknya !" ucap davina
Rania menggenggam tangan Davina erat. "Kuat ya, Dav. Apapun yang terjadi, aku di sini untuk kamu. Dan... mungkin ini bukan kebetulan. Mungkin Tuhan ingin kamu bertemu dia lagi, untuk mendapatkan penutupan yang belum pernah kamu dapat."
Davina menggeleng pelan. "Aku nggak siap, Ran. Aku nggak siap bertemu dia. Aku nggak tahu apa yang harus kukatakan."
"Kamu nggak perlu siap, Dav. Kalau memang waktunya tiba, kamu akan tahu apa yang harus dilakukan," Rania tersenyum tipis, mencoba menguatkan sahabatnya.
Davina mengangguk pelan, meski hatinya hancur berkeping-keping.
Sementara di kota A
Sementara itu, di Kota A...
Malam itu, hujan turun deras membasahi jalanan Kota A—kota tempat Davina dan Rio tinggal sebelum Davina memutuskan kembali ke Kota C bersama Zahra.
Di sebuah klub malam eksklusif di pusat kota, pintu kaca terbuka dan seorang pria keluar dengan langkah sempoyongan.
Pria itu adalah Rio.
Bajunya berantakan, dasinya longgar, dan matanya sayu karena alkohol. Ia berjalan tertatih-tatih, bersandar pada dinding bangunan untuk menjaga keseimbangannya.
" maaf kan aku ,belum bisa jadi terbaik buat mu " ucap Rio lirih.
Ia berhenti sejenak, menatap langit yang gelap, hujan membasahi wajahnya bercampur air mata.
"Maafkan aku... belum bisa jadi yang terbaik buatmu..." bisiknya lagi, suaranya nyaris tenggelam oleh suara hujan.
"Aduh, Bapak ini! Lagi-lagi membuatku jengkel!" suara seorang pria muda terdengar kesal dari belakangnya.
Pria muda itu, asisten pribadi Rio,berlari kecil memapah tubuh atasannya yang hampir roboh.
"Bos mari saya bantu, Kalau tidak, sudah saya tinggalkan kamu di sana," gerutunya sambil berusaha menahan berat tubuh Rio.
Dengan susah payah, asisten itu membuka pintu mobil dan memasukkan Rio ke kursi belakang. Rio hanya bisa terdiam, matanya menatap kosong ke luar jendela, sementara air mata masih mengalir di pipinya.
"Kalau tidak, saya butuh pekerjaan ini sudah dah saya tinggalkan kamu, Bos saya resign ucap asisten itu sekali lagi, lalu menutup pintu mobil dengan keras.
Ia masuk ke sisi pengemudi, menghela napas panjang, lalu menyalakan mesin. Mobil melaju perlahan menembus hujan, meninggalkan klub malam yang gemerlap di belakang mereka.
Di kursi belakang, Rio memejamkan matanya. Dalam mabuknya, hanya satu nama yang terus berputar di kepalanya.
Davina...
"siapa sih davina ! " ucap asistennya menggerutu di dalam mobil.